
Sudah sedari pagi wanita hamil itu merengek meminta izin untuk diperbolehkan keluar rumah. Bukankah sangat membosankan jika setiap hari hanya terkurung di dalam hati. Wanita hamil pun butuh penyegaran fikiran, begitu isi hati Zara memberontak.
"Tetapi aku harus bekerja, sayang dan tidak bisa menemanimu." Kalimat yang terucap dari bibir Arka, membuat gadis itu kehilangan semangat.
"Kenapa tidak meminta Sam saja untuk mengantarku keluar. Lagi pula aku hanya ingin ke toko bunga sebentar dan janji jika tidak akan lama." Wanita hamil itu memasang wajah sememelas mungkin, agar mampu meluluhkan hati suaminya.
Benar saja. Arka menghela nafas dalam. Memeluk sang istri dan mencium puncak kepalanya sembari berucap, "Baiklah, untuk kali ini aku tidak bisa melarangmu. Kau akan diantar oleh Sam, dan pulang pada waktu yang sudah kutentukan." Gadis itu pun tersenyum senang.
Di di sinilah kini Zara berada.
Senyum masih tak luntur di bibirnya, sesekali ia tergrlak tanpa suara, tetapi entah apa yang sedang ia fikirkan, Sam yang berada di kursi kemudi hanya sesekali mencuri pandang dengan menyimpan pertanyaan.
"Nona, kita akan kemana?" Sam memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.
"Toko bunga," jawab Zara singkat.
Apa? Toko bunga.
"Toko bunga milik Nona?"
"Tentu, memangnya milik siapa lagi." Zara pura-pura menjawabnya serius, meski dalam hati ia tergelak.
"Ti-tidak nona. Saya fikir jika anda ingin mengunjungi toko bunga milik orang lain," jawab Sam terbata. Bukan apa-apa, hanya saja jika tujuan mereka ketoko bunga, pastinya ia akan bertemu dengan Kiara, dan kenapa tiba-tiba ia merasakan gugup tanpa alasan.
Mobil memecah jalan dengan kecepatan sedang. Saat Sam sibuk menata hati dan berusaha menghilangkan rasa gugup, Zara justru memilih untuk mengatur rencana yang sudah tergambar di otaknya. Sesekali ia tersenyum senang, namun berusaha menutupinya dengan kedua telapak tangan agar tak disadari oleh Sam.
Bagaimana jika aku justru bertemu dengan Kiara? Ah tetapi tidak mungkin, pasti aku akan langsung kembali kekantor selepas mengantar nona.
Tanpa terasa mobil sudah memasuki area parkir, yang mana membuat Sam semakin gugup.
Sial. Kenapa aku segugup ini.
Sudah tak terhitung berapa kali Sam menyeka peluh di keningnya dengan sapu tangan, dan hal itu rupanya di sadari oleh Zara. Perempuan hamil itu pun menahan gelak sekuat tenaga sementara tubuhnya keluar dari dalam mobil.
Ya tuhan. Aku sampai lupa membukakan pintu untuk nona.
Sam memukul dahinya berulang. Tidak biasanya ia dilanda gugup level darurat seperti saat ini.
"Nona, maafkan saya." Sam berucap selepas dengan cepat ia membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Tak apa. Hitung-hitung berolahraga," jawab Zara diiringi tawa renyam.
Haha, kau terlihat sangat gugup Asisten Sam.
"Baik, nona. Masih adakah yang nona inginkan? Jika tidak, saya akan kembali ke kantor."
Zara yang mendengar ucapan Sam jika akan kembali ke kantor, lekas mencegahnya.
"Sebentar, asisten Sam!"
"Iya nona. Ada apa?"
"Bagaimana jika kita minum teh lebih dulu. Ya hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih karna asisten Sam sudah bersedia mengantarku."
Sam menelan salivanya berat. Sungguh, bukan inilah yang ia inginkan.
"Itu memang sudah menjadi tanggung jawab saya, nona. Bukan berniat untuk menolak, hanya saja pasti tuan di kantor membutuhkan saya." Sam berusaha menolak secara halus.
Mendengar jawaban itu, seketika Zara memasang wajah muram.
"Ayolah asisten Sam. Lagi pula aku sudah meminta izin pada suamiku, untuk meminjammu seharian ini. Jadi jangan khawatir, kau akan bebas dari tugas kantor hari ini."
"Ta-tapi, nona," rengek Sam berusaha tetap menolak.
"Ayolah. Bukankah itu terdengar menyenangkan? Kau bisa bersantai selama menungguku." Zara bahkan menangkupkan kedua tangan sebagai permohonan dan memasang wajah semengiba mungkin hingga Sam tak kuasa untuk menolak keinginannya.
Pria itu menghela nafas dalam, kemudian berucap, " Baiklah nona. Saya akan menunggu anda seharian ini." Sam berucap pasrah. Sebab sudah pasti jika nonanya itu sama sekali tak menginginkan penolakan.
*****
Zara menemukan banyak perbedaan saat memasuki toko bunga yang sudah beberapa bulan tak pernah ia datangi. Bukan hanya dari penataan, tetapi rupanya banyak karyawan yang digantikan. Entah apa alasannya, gadis itu pun tak mengetahuinya.
Sementara Sam hanya mengekori langkah nonanya dengan memfokuskan pandangan tetap kedepan. Tanpa memperdulikan beberapa gadis yang menatapnya penuh kekaguman.
Selama melangkah, Zara tampak mengedar pandangan untuk mencari keberadaan seseorang. Lengkung tipisnya pun mengembang saat menemukan sosok yang dicari.
"Kia," panggil Zara.
Gadis yang disebut namanya itu pun lantas menoleh kearah sumber suara.
"Kemarilah," pinta Zara.
Saat gadis itu mendongak, tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Sam. Lantas keduanya pun sama-sama mengalihkan pandangan kearah lain.
__ADS_1
"Ada apa," ucap gadis itu lirih.
"Tolong buatkan teh hangat untuk kami berdua, dan bawa langsung kelantai atas ya."
Kenapa harus aku.
"Baiklah, pasti akan aku buatkan." Meski sedikit ragu, namun gadis itu tetap bergerak. Dan secara kebetulan dapur pun terletak di lantai atas.
Saat tengah menyeduh teh pun, Kiara mampu mendengar obrolan Zara dengan Sam cukup jelas. Mengingat ruangan yang digunakan mereka saling berdampingan.
Dua cangkir teh hangat itusudah tersaji di meja.
"Silahkan dinikmati tehnya." Kiara berucap hanya menatap kearah Zara, dan tak berani untuk menatap Sam.
"Terimakasih," balas keduanya serempak.
"Zara, aku permisi. Masih banyak pekerjaan yang menungguku di bawah." Gadis itu hendak berbalik, tetapi dengan cepat dicegah oleh Zara.
"Kia, tunggu sebentar."
Kiara pun berbalik. "Ada apa?" tanyanya kemudian.
Zara pun tertawa tipis dengan memperlihatkan jajaran giginya yang rapi.
"Bisakah kau mengantar bunga kealamat ini." Gadis itu menyerahkan selembar kertas di mana tertera alamat rumah di sana.
Kiara pun menerimanya.
"Bukankah kita punya banyak kurir untuk mengantarkannya?" Bagi Kiara, ini di luar dari tugasnya.
"Tidakkah kau lihat jika pagi hari seperti ini kurir kita selalu kualahan mengantar pesanan." Zara bahkan menatap kearah kaca, di mana aktifitas kurir di area parkir terlihat dengan jelas.
Kiara pun menghela nafas dalam.
"Baiklah. Bunga apa yang pelanggan ini pesan?"
"Hemm, dia menginginkan bunga lily putih saja. Bahkan dia juga tidak menyebutkan keinginan apa pun, jadi pilihlah rangkaian bunga lily putih yang menurutmu paling indah."
Apa kenapa bisa begitu. Sebenarnya siapa pemesan bunga ini.
Kiara sempat melirik kearah Sam, yang duduk elegan dan sesekali menyesap teh buatannya.
Ya tuhan, kenapa dia terlihat lebih tampan hari ini.
Gadis itu lekas mengalihkan pandangan sebelum tertangkap basah.
"Asisten Sam yang akan mengantarmu. Bukan begitu asisten Sam?"
Sam yang masih menyesap tehnya itu, seketika tersedak, namun tetap menjawab ucapan nonanya dengan sebuah anggukan.
"Nah, kau lihat Kia, Sam bahkan mengantarmu dengan sukarela." Ingin rasanya Zara tertawa puas, mendapati ekspresi terkejut dari kedua insan di hadapannya itu. Entah mengapa, momen seperti justru sangat dinikmatinya.
******
Tuhan, bisakah sejenak saja aku menghilang dari muka bumi ini. Aku terlalu malu untuk berdampingan dengannya.
Kiara duduk dengan kaku dan sama sekali tak bergerak saat mobil yang dikemudikan Sam mulai berjalan.
Berbeda dengan Kiara, Sam justru terlihat lebih santai, ya meskipun tak sesantai detak jantungnya yang mulai berpacu dengan cepat.
"Bagaimana kabarmu?" Kata-kata itu begitu saja terucap dari bibir Sam tanpa pria itu sadari.
Apa, dia menanyakan kabarku?
"Ba-baik, Tuan. Anda sendiri bagaimana?" jawaban terenteng yang pernah ada di muka bumi ini.
"Sama denganmu, aku juga baik-baik saja."
Dimulai dari obrolan basa basi itu, rupanya kembuat keduanya cukup santai, dan dapat mengusir ketegangan yang tercipta. Hingga mereka sampai di tempat tujuan. Jauhnya perjalanan disertai kemacetan membuat waktu yang mereka habiskan cukup banyak. Tetapi, sepertinya ada keanehan.
"Tuan, benarkan ini alamat tujuan kita?"
Sam mengecek ulang dengan memuka kertas pemberian nonannya. Alamatnya memang sama, tetapi kenapa rumah ini sangat sepi seperti tak berpenghuni?
"Alamatnya memang benar, tetapi rumah ini terlihat sepi dan kotor, seperti tak ada penghuninya."
"Benar tuan. Bagaimana jika saya bertanya pada penduduk setempat untuk memastikannya?" Kiara sendiri merasa tak yakin, pasalnya kompleks perumahan itu pun jarang orang berlalu lalang.
"Baiklah, tetapi sepertinya di jalanan pun jarang dilalui." Sam menatap jalanan sekitar yang memang sangat sunyi.
Akhirnya kedua insan itu memilih untuk duduk di sebuah batu besar yang berada di depan rumah, sembari menunggu seseorang yang sedang melintas.
Hingga sekitar tiga puluh menit menunggu, nampak seorang pedagang sayur keliling yang menjajakan dagangannya dengan motor. Disaat pedagang itu sudah mendekat, Sam lekas menghadangnya, yang mana membuat pedagang itu kelabakan dan spontan menginjak rem motor hingga berdecit.
__ADS_1
"Ya tuhan, apa yang sedang anda lakukan tuan. Ingat, bunuh diri itu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah." Pedagang pria paruh baya itu berucap panjang lebar dengan mengusap dada.
Sam pun menghela nafas kasar. Memang dia terlihat seperti ingin bunuh diri? Tidak mungkinkan.
Sam melirik penampilannya. Masih terlihat rapi dan cukup keren. Begitu batin Sam. Sementara Kiara, hanya bisa menutup mulut dengan telapak tanggan saat mencoba untuk menahan tawa.
"Maaf pak. Saya bukan berniat untuk bunuh diri, tetapi ada sesuatu yang ingin kami tanyakan," jawab Sam menjelaskan.
"Huh, bilang dari tadi dong. Untung saya ngak jantungan karna terkejut. Terus tuan ini ingin menanyakan soal apa?" tanya pria paruh baya itu.
Kiara pun ikut bergabung, agar bisa mendengarkan jawaban pria itu dengan jelas.
"Pak, kami ini ingin mengantarkan buket bunga pesanan seseorang yang tinggal di rumah ini. Tetapi setelah beberapa saat saya menunggu, rumah ini terlihat sepi seperti tak berpenghuni."
Pedagang itu menatap sejenak kearah bangunan sepi itu. Ia pun menghela nafas panjang.
"Ya benar saja tuan. Pemilik rumah ini sudah beberapa bulan lalu pindah, dan masih belum ditinggali oleh siapa pun. Makanya sepi."
Kiara mengelengkan kepala samar, sepertinya ini ada yang tidak beres.
"Ya sudah pak. Terimakasih atas informasinya, dan maaf sudah merepotkan bapak," ucap Kiara setengah merasa bersalah. Pedagang itu pun lekas menghidupkan mesin motornya lagi untuk kembali berdagang.
Aku harus menghubungi Zara sekarang.
Kiara merogoh ponselnya di dalam tas miliknya. Sedikit geram mengusap layar dan menekan ikon kontak di sana.
"Halo, Zara. Apa yang kau lakukan? Ini sama sekali tak lucu," Kiara setengah memaki dengan meninggikan nada bicaranya.
Kia, memangnya apa yang terjadi?
"Zara, apa kau tau? Alamat rumah yang kau tuliskan itu tak berpenghuni alias kosong. Mereka sudah pindah beberapa bulan lalu dan belum ada penghuni baru yang mendiami rumah itu. Jadi buket bunga itu pesanan siapa. Hantu penghuni rumah kosong?"
Hah, benarkah? Ternyata mereka sudah pindah? Tapi kenapa tidak memberitahukannya kepadaku? Haha, maafkan aku kia. Bukan maksudku untuk membuatmu kesal. Tetapi aku benar-benar minta maaf."
"Hem, baiklah. Aku memaafkanmu."
Terimakasih. O ya, berikan ponselmu pada Sam, aku ingin bicara padanya.
Kiara menatap ponselnya, ragu untuk memberikannya pada Sam. Tetapi sepertinya ucapan Zara mampu didengar oleh Sam, hingga pria itu sudah bersiap mengulurkan tangan.
Akhirnya, ponsel itu berpindah tangan. Kiara hanya mendengar Sam mengucap kata 'Iya' dan 'Baik'.
Memang apa yang dikatakan Zara hingga dia menurut seperti itu.
"Hari sudah siang, kita akan makan lebih dulu sebelum pulang," ucap Sam sembari menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.
"Tapi tuan, bagaimana dengan buket bunga itu?"
"Lupakanlah. Lagi pula, nona sudah menganggapnya tak penting." Sam memilih untuk kembali memasuki mobil setelah berucap.
Apa, tak penting? Lalu apa gunanya kita mengantar benda tak penting itu hingga memakan waktu selama ini?
Kiara memberengut kesal, dan menghentakkan kaki saat hendak memasuki mobil. Zara benar-benar sudah mengerjainya kali ini.
Saat mobil melaju, Sam sesekali melirik kearah gadis di sampingnya yang terlihat cemberut. Bibirnya sedikit tebal itu mengulas senyum saat melihat rumah makan di luar ruangan yang terlihat segar dan indah. Ia pun memutar kemudi dan singgah di tempat itu untuk makan siang.
"Tidak lelah, sedari tadi kau hanya menekuk dagu seperti itu?"
Kiara tak menjawab. Ia masih benar-benar kesal.
"Kenapa diam? Apa kau tidak lapar?"
Masih tak menjawab, tetapi gadis itu bergerak menuruni mobil. Kiara terpesona dengan pemandangan sekitar rumah makan yang terlihat asri dengan tanaman yang menghijau.
Sam pun memilih tempat yang cukup tepat, disebuah gazebo yang menghadap langsung dengan air terjun buatan yang terlihat seperti asli. Diiringi kicau burung dan gemercik air, membuat suasana makan siang mereka menjadi sangat menyenangkan.
Ada rasa berbeda yang kini tengah dirasakan dua insan tersebut. Entah tanpa disadari atau tidak. Kali ini keduanya terlihat lebih dekat seperti sudah cukup lama mengenal. Disela menyantap hidangan, baik Sam atau pun Kiara saling bertukar cerita. Mulai dari kisah tak penting, hingga kisah hidup mereka yang menggelitik atau pun menyentuh hati.
Tawa lepas sesekali terdengar. Sam yang pendiam dan tertutup itu, rupanya sudah merasa nyaman dengan Kiara yang mudah bergaul dan ceria. Mereka terlihat seperti pasangan, bagi siapa pun yang melihatnya.
Sementara itu dilain tepat.
"Kenapa kau terlihat sesenang itu." Arka terus mengamati senyum di bibir Zara yang tak luntur selama satu jam ini. "Apa kau berniat untuk menjodohkan mereka?" sambung Arka lagi.
Zara tergelak riang. "Entahlah, tapi bukankah mereka terlihat serasi?"
Arka berfikir sejenak, tidak meng-iyakan tetapi juga tak menolak. Karna sejatinya ia belum mengenal Kiara lebih dekat.
"Sayang, apa kau tau?"
"Hem, tentang apa itu?" Zara mendekap pinggang suaminya dan merebahkan keoala pada dada bidang pria tampan itu. Ini benar-benar membuatnya nyaman.
"Aku cukup kualahan selama Sam kau pinjam. Selama ini aku bahkan tak sehari pun berpisah dari dia. Aku bergantung padanya." Arka menatap sendu Zara yang bersandar di dadanya. Kecupan di puncak kepala pun beberapa kali dilabuhkannya.
__ADS_1
"Aku tau jika Sam sangat berarti bagimu. Maka dari itu, aku pun ingin mempersatukannya dengan gadis yang tepat pula untuknya. Aku tau jika kau masih ragu sayang, sebab kau masih belum mengenal Kiara. Tetapi aku bisa memastikan, jika pilihanku ini tidak akan salah." Zara sendiri tak mengetahui apa dasar yang membuatnya mengebu-gebu untuk menyatukan Sam dan Kiara.
Hanya saja, selama ini Kiara sudah seperti sahabat dan keluarga baginya. Hingga gadis itu diperdaya oleh Sandy pun, Zara mengetahuinya. Mungkin itulah yang membuat Zara kian yakin. Jika kelak kedua insan itu bisa saling melengkapi satu sama lain.