
Selepas menemui kedua orang tuanya di kampung sekaligus meminta restu pada mereka, kini Zara terlihat lebih lepas dan ceria, jauh dari hari-hari sebelumnya. Baginya doa restu yang didapat, bagai suntikan energi yang membuat hari-harinya menjadi lebih bersemangat.
Berjalan menuruni anak tangga dengan ceria sebagai ciri khasnya, Zara tampak menyibak pandangan segala penjuru untuk mencari seseorang.
Surti pun datang dan menghampiri nonanya.
"Nona, anda sedang membutuhkan sesuatu? Mari saya bantu carikan?" ucap Surti.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, mendekati Surti dan bergelanyut manja di lengannya. Hal seperti itu memang sudah biasa dilakukan oleh Zara, pasalnya ia mengingat Surti bukanlah sebagai pelayannya melainkan seperti orang tuanya sendiri.
"Nona, saya mohon. Jangan seperti ini, Tuan bisa marah jika melihatnya." Surti coba melepaskan gengaman tangan Zara dari lengannya, akan tetapi gadis itu segera memberinya tatapan tajam.
"Kata siapa? Tuan pasti tidak akan marah. Bukankah Suamiku juga menganggap bibi seperti ibunya sendiri?" Sebuah fakta yang diucap oleh Zara. Meski Arka memiliki ibu kandung, namun pria itu pun mengangap dan memperlakukan surti selayaknya orangtua baginya sendiri. Semenjak kecil hingga berada di puncak karir, Surti selalu mengurus keperluannya hingga perempuan itu diangkat menjadi kepala pelayan.
Surti hanya menanggapi ucapan nonannya dengan senyum tipis. Ia sama sekali tak membagakan diri pada orang lain atas perlakuan Arka padanya, di depan orang lain.
"Nona, bukankah anda sedang mencari sesuatu?"
Gadis itu mengangguk dan sesekali masih menyibak pandangannya kesekeliling.
"Aku sedang mencari Nona Anastasya. Bukanka semalam dia pulang bersama bibi? Apa nona sedang berada di kamar, hingga aku tak melihatnya?"
"Nona, Nona Anastasya memang sudah tidak tinggal di rumah ini lagi?"
"Apa, kenapa? Apa semenjak perceraian itu?" tanya Zara dibuat penasaran.
Surti pun mengangguk. "Semenjak vonis dijatuhkan, Nona Anastasya memang sudah membawa semua barang miliknya ketempat lain."
"Ketempat lain? Di mana, apa di Villa tepi pantai?" Kemungkinan besar sedang berada di sana, begitulah isi fikiran Zara.
__ADS_1
"Tidak, nona."
"Lalu di mana?" Kini raut wajah gadis itu berubah panik. Lalu kemana Anastasya tinggal saat ini. Apa suaminya itu tega menelantarkan mantan istrinya dan tidak memberikannya tempat untuk berlindung.
"Jangan khawatir, nona. Nona Anastasya akan baik-baik saja. Beliau ada disebuah Apartemen milik tuan. Meski awalnya sempat menolak dan ingin kembali kekampung halaman, mamun setelah mempertimbangkan semua, akhirnya beliau mau tinggal di sana untuk sementara waktu," jelas Surti.
Apa. Sebuah apartemen. Apa suamiku mempunyai tempat semacam itu juga? Aku penasaran, sekaya apa beliau hingga memiliki bangunan-bangunan yang seumur hidup belum pernah memasukinya.
Zara menggaruk sendiri tengkuknya,membayangkan semua harta milik sang suami, seketika membuanya bergidik ngeri.
"Aku yakin, jika hidup di kampung dengan harta seperti ini, sudah pasti banyak maling dan rampok yang akan terus menerus mengincar rumahnya," gumam Zara lirih yang hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.
"Apakah nona mengatakan sesuatu," tanya Surti selepas melihat adanya pergerakan dari bibir mungil nonannya.
Zara tersenyum kikuk dan lekas menggelengkan kepala.
"Ti-tidak tidak, bi. Aku tidak berbicara apa-apa. Hanya bernyanyi saja," jawab Zara sedikit terbata. "Kalau begitu, aku akan kembali kekamar," sambung Zara, kemudian melangkahkan kakinya kembali menaiki anak tangga menuju lantai teratas.
Gadis itu membuka pintu kamar perlahan, saat tak mendapati siapa pun di sana ia pun segera menuju keruang pakaian.
"Sayang, kau dari mana saja?" tanya Arka yang masih memakai jubah mandi dan tengah menunggu dirinya di sebuah kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Hehe.., aku hanya menemu bi Surti sebentar di bawah," jawab Zara dan mulai menggerakkan tangannya guna memilih pakaian yang akan dikenakan oleh suaminya.
"Nah, ini dia." Me emukan pakaian yang dirasa pas, gadis itu pun lekas menuju sang suami dan memberikan pakaian tersebut. Saat Arka tengah memakai pakaian, Zara pun mencari sebuah dasi yang cocok untuk dipadu padankan dengan jas yang dipakai suaminya itu.
Inilah yang sering kali membuat gadis mungil itu kesulitan untuk bisa memasangkan dasi di leher sang suami. Tinggi badan yang berbeda jauh, membuatnya kebingungan. Akan tetapi, Arka yang jenius itu tidak pernah kehilangan akalnya. Jika tidak dirinya yang akan mengalah dan duduk di kursi, maka sang istrilah yang akan berdiri dengan menginjak satu buah kursi mungil agar mampu mensejajarkan tinggi mereka.
Seperti saat ini, Arka yang enggan untuk duduk itu, menarik kursi mungil kehadapannya dan membiarkan istrinya itu untuk berdiri di atasnya.
__ADS_1
"Sayang, aku bisa terjatuh," ucap Zara dengan mengerucutkan bibirnya.
Sang suami pun tergelak, dan mencubit hidung sang istri dengan gemasnya.
"Lihatlah, kursi itu cukup luas untuk dipijika oleh kedua kakimu yang kecil itu," goda Arka seraya menghadap kearah kaki istrinya. "Aku pun akan senantiasa melingkarkan tanhanku di pinggangmu, agar kau tak terjatuh," sambung Arka lagi.
Zara tersenyum tipis menahan malu kemudian melingkarkan dasi di leher sang suami yang memiliki warna senada dengan pakaiannya.
"Sayang," panggil Zara.
"Hem.. ada apa?"
"Apakah Nona Anastasya sudah tidak tinggal bersama kita lagi?"
"Hem, kenapa kau menanyakan hal itu. Apa kau cemburu?"
"Apa?" Gadis itu menatap tajam sang suami, tak percaya akan ucapan pria itu.
Arka pun tergelak dan mengacak surai istrinya, hingga gadis itu sedikit tak terima kemudian merapikannya kembali.
"Aku hanya bercanda. Lagi pula, kita memang sudah resmi berpisah. Tidak pantas jika pria dan wanita yang bukan mukhrim tinggal di satu rumah yang sama. Takut jika akan menimbulkan fitnah, meski kami tidak melakukan hal apa pun yang dilarang oleh agama." tegas Arka memberi pengertian pada istri polosnya itu.
"Ya, aku bisa mengerti."
"Aku juga harus mempersatukan kembali Rangga dan Anastasya sebagai misi selanjutnya. Aku ingin berusaha menumbuhkan rasa cinta di antara mereka berdua yang dulu sempat hancur berantakan."
Gadis itu meautkan kedua alisnya, tampak berfikir dan menghubungkan setiap kejadian yang dilihat.
"Tuan Rangga yang datang bersama Nona Anastasya di kampung saat itu? Apa dia juga ayah dari anak Nona yang lahir kemudian meninggal itu?"
__ADS_1
"Iya," jawab Arka membenarkan. "Maka dari itu aku tetap menahan keberadaan Anastasya di kota. Jika sudah berada di kampung, maka kami pun pasti akan kehilangan jejak dan sulit untuk bisa menemukannya kembali."
Zara mengangguk faham. Benar saja jika kini Anastasya masih berada di apartemen milik suaminya. Semua pasti pria itu lakukan untuk membantu Rangga agar bisa kembali pada Anastasya.