
Hati pria mana yang tak terasa perih, saat mendapati seseorang yang sangat ia cintai, menitikkan air mata.
Arka menatap nanar, seseorang yang tengah tertidur di atas ranjang dengan selimut menutupi hinga keleher. Meski netranya terpejam, namun sisa-sisa bulir bening itu masih terlihat. Dibarengi wajahnya yang sembab.
Pria itu menghela nafas dalam. Ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak ada pergerakan dari tubuh yang terlelap di bawah selimut itu, hingga Arka menyelesaikan rutinitas bersih-bersihnya. Pria itu pun mendekat, menjatuhkan tubuh lelahnya diranjang dan bergelung di bawah selimut yang sama.
"Maafkan aku sayang," ucap Arka lirih dengan menciumi seluruh bagian wajah istrinya yang masih setengah basah.
"Jangan pernah berfikir jika aku jahat. Aku sungguh-sungguh mencintaimu." Meski masih tak ada pergerakan, namun tanpa ragu Arka meraih dagu sang istri hingga bibir yang semula terkatup itu mulai terbuka. Dirauplah bibir mungil nan menggoda itu dengan rakusnya. Tak perlu jika seseorang gadis di bawahnya itu mulai mengerjap dan sedikit terkejut.
Ciuman dalam itu terkesan menuntut. Hingga Zara hanya bisa membalas sebisanya dan mengikuti permainan sang suami. Saat mendapat pukulan kecil di dada, pria itu sadar jika istri mungilnya mulai kehabisan nafas.
"Maafkan aku, sayang." Pertautan bibir itu terlepas. Dengan ibu jari Arka mengusap lembut bibir Zara yang lembab dan sedikit bengkak bekas gigitan.
Gadis itu tersenyum tipis, kemudian mengeleng samar. Seolah berkata, jika pria yang ia cintai itu sama sekali tak bersalah.
Arka membuka gaun tidur tipis istrinya, hingga perut buncit gadis itu terpampang nyata di hadapan.
"Anak-anak pintar, bagaimana kabar kalian? Maaf, beberapa hari ini kalian terabaikan. Ayah harap, kalian tak membenci Ayah yang terlalu sibuk bekerja ini. Apakah kalian tau? Di dunia ini tak ada yang lebih berharga dari Ibu Zara dan kalian berdua."
Seolah mendengar ucapan sang Ayah, kedua janin itu menunjukan pergerakan. Saling menendang dan bergerak dengan riangnya.
"Sayang, lihatlah. Anak-anak kita bisa mendengar ucapanku." Sepasang netra pria itu berbinar takjub, begitu pun dengan Zara. Keduanya diliputi rasa haru nan menghangatkan.
Mungkin bayi kembar mereka tak lama lagi akan terlahir kedunia. Dan sepasang suami istru itu, sudah tak sabar menunggunya.
*****
Rasanya begitu nyaman.
Zara tetap bertahan pada posisinya. Ia berusaha abai, meski sinar mentari sudah terlihat dari sela-sela jendela kaca yang tirainya tersibak.
Sepanjang malam mereka habiskan dengan berkasih sayang. Berpelukan erat, diselingi ciuman mesra bertubi-tubi.
Tangan kokoh Arka masih senantiasa memeluk pinggang Zara. Rasanya begitu hangat dan nyaman, hingga Zara tak ingin melewatkan momen indah seperti ini.
"Sayang." Jemari lentik Zara mulai berulah. Ia bermain-main dengan jambang suaminya yang mulai tumbuh sedikit lebat. "Kau tidak ingin bekerja?"
"Heem." Pria itu tampaknya mulai terusik. Netranya kini mulai mengerjap. Diraihnya jemari yang sudah berbuat nakal, lantas ia ciumi dan juga ia gigit sedikit keras hingga Zara dibuat terkejut. "Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu satu hari ini. Kita akan bersenang-senang dan pergi ketempat mana pun yang kau inginkan." Mungkin ini salah satu cara untuk menebus kesalahan, selama beberapa hari mengabaikan istrinya.
Gadis itu pun mengangguk antusias. Bagaimanapun, tawaran semacam ini sangat sulit ia dapatkan. Semenjak mengandung, Arka memang terbilang sangat posesif dan meminimalisir pergerakannya. Kalau pun untuk sekedar keluar atau pun jalan-jalan, tentulah ada Arka yang menemani. Selebihnya, Zara hanya berada di dalam rumah, dan sekitar area rumah.
******
Sungguh teramat sederhana jawaban yang terucap dari bibir Zara, saat Arka menanyakan di mana tujuan mereka untuk berjalan-jalan dan menghabiskan waktu seharian ini.
Taman kota.
Ya, taman kota. Di sinilah akhirnya pasangan muda itu memilih untuk menghabiskan waktu bersama.
Mentari yang muncul tak terlalu terik. Tertutupi awan yang menggumpal di langit biru. Angin pun bertiup sejuk. Sebagai penetralisir hawa panas di bumi.
Gadis itu menuruni mobil dengan wajah berbinar. Arka beserta pengawal bahkan menurunkan kursi roda, yang langsung ditolak oleh Zara.
"Sayang, jangan berlebihan. Aku masih kuat untuk berjalan." Sedikit menggerutu tak terima. Gadis itu melempar tatapan tajam kearah suaminya.
"Tapi sayang, ihat tubuhmu. Perutmu sangat besar. Apa kau benar-benar tak menginginkan kursi roda ini?"
Gadis itu dengan cepat menggeleng.
"Tidak."
Arka hanya menghela nafas dalam, kemudian menggengam tangan mungil sang istri yang sudah berjalan mendahuluinya.
__ADS_1
*****
"Heem, menyenangkan sekali."
Untuk kesekian kali kalimat tersebut terucap dari bibir Zara. Seolah sebagai luapan rasa gembiranya. Arka pun merasa luar biasa bahagia, saat mendapati senyuman tak luntur dari bibir istrinya. Sungguh, keinginan sang istri cukup sederhana. Hanya saja, jarang tersampaikan.
"Duduklah di sini," titah Arka pada sang istri. Ia pun mendudukan Zara di kursi taman yang terletak di bawah pohon rindang.
Kedua pengawal yang dibawa dengan sigap menggelar tikar dan juga menurunkan bekal yang di bawa dari bagasi mobil.
Zara terbelalak. Ia bahkan mengatakan jika ingin ketaman kota secara spontan, lalu kapan para pelayan menyiapkan semua bekal ini?
"Sayang," rengek Zara. "Aku ingin makan ice cream," tunjuknya pada pedagang es krim yang berdagang di area taman.
Arka mengikuti arah telunjuk sang istri.
"Es krim? Kau mau es krim?"
"Heem, es krim rasa vanila," jawab Zara sembari mengangguk antusias.
Pria itu terdiam sesaat. Menatap seksama pada penampilan penjual es krim serta es krim yang dijualnya dari kejauhan.
"Sayang, ayolah. Aku sangat mengonginkannya." Zara bahkan memasang wajah mengiba dan menangkupkan kedua telapak tangan sebagai permohonan.
Arka menelan ludahnya kasar. Mungkin kata higienis dan standar ahli gizi, ia abaikan untuk kesenangan sang istri hari ini.
"Baiklah, sayang. Tunggulah sebentar dan jangan kemana-mana. " Tak ingin menyuruh orang lain, Arka mulai berlari kecil mendekati penjual es krim tersebut. Bahkan ikut antri dan berbaur dengan pembeli lainnya.
Zara tersenyum senang. Ia usap perutnya yang buncit dan mulai menikmati semilir angin yang menyejukkan tubuhnya.
"Bekal apa yang kalian bawa?" tanya Zara pada kedua pengawal yang berdiri di belakangnya.
Kedua pria berbadan tegap itu saling lempar pandang. Melirik satu sama lain, kemudian sama-sama menggeleng.
"Hehehe. Maaf, aku hanya bercanda. Aku sudah bisa menebak, jika kalian berdua tak tau apa isinya." Gelak itu masih tersisa. Inilah salah satu keisengan Zara pada para pengawal yang kebetulan sedang menjaganya. Ia tak suka jika para pengawal terlalu formal di hadapannya. Sesekali dengan melempar candaan, bisa membuat mereka tak terlalu kaku.
Gadis itu pun mulai duduk di atas tikar yang membentang. Membuka satu persatu bekal yang tersusun di keranjang.
Zara menepuk keningnya pelan.
"Apa tidak ada makanan lain yang dibawa selain ini?" gumam Zara saat mendapati sandwich dan beberapa makanan sehat lain yang hampir ia konsumsi setiap hari.
"Ada apa nona, apakah nona membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu pengawal itu.
Zara menggembungkan kedua pipinya.
Aku bosan makanan seperti ini.
Tatapan gadis itu menyapu seluruh penjuru taman. Arka masih tetap di tempatnya, menunggu antrian es krim yang ia minta. Akan tetapi senyum gadis itu terkembang sempurna, mana kala menemukan satu objek yang begitu menarik perhatiannya.
"Kakak pengawal, kemarilah." Tangan gadis itu melambai, yang mana membuat kedua pengawal itu spontan mendekat.
"Ada apa nona?" tanya mereka bersamaan.
"Apakah kalian ingin makan bakso?" Zara menujuk kearah penjual bakso yang mendorong gerobaknya. Entah hanya dengan melihat penampilan dan kepulan asapnya sudah membuat perut mereka keroncongan.
Satu pengawal berbadan tambun itu langsung mengangguk. Akan tetapi satu pengawal lainnya menggeleng dan menginjak kaki rekannya yang berbadan tambun.
"Hei, kenapa malah saling injak? Kalau kakak pengawal mau, katakan saja. Bukankah itu terlihat sangat lezat. Lagi pula aku juga menginginkannya," ucap Zara diselingi senyum malu-malu.
"Tapi, nona. Tuan pasti tidak akan mengizinkannya." Pengawal yang tadi menggeleng, berusaha tetap menolak.
"Kenapa?" tanya Zara sok polos. Padahal ia sudah tau jawabannya. 'Tidak baik untuk kesehatan' Pasti kalimat semacam itulah yang akan terlontar dari mulut suaminya nanti.
"Tuan pasti mengatakan jika makanan itu tidak termasuk dalam standar ahli gizi, dan juga tempat dan penyajian yang belum bisa di pastikan tingkat kebersihannya."
__ADS_1
Zara menepuk keningnya berulang. Bahkan seorang pengawal saja hafal dengan standar makanan yang biasanya dikonsumsi oleh seluruh penghuni rumah di kediaman suaminya.
"Sayang, kau sedang apa?"
Arka datang dengan dua cup ice cream di tangannya. Ia menatap kearah Zara dan kedua pengawal itu bergantian.
"Wah, terimakasih sayang." Berusaha mengalihkan perhatian. Gadis itu meminta pada suaminya untuk duduk bergabung di atas tikar.
Arka menghela nafas dalam. Ia menyerahkan satu cup ice cream rasa vanilla itu pada sang istri dan rasa coklat untuk dirinya sendiri.
Es krim rasa Vanilla itu benar-benar nikmat dan sangat manis. Hingga tak butuh waktu lama, satu cup es krim itu tandas dalam sekejap.
"Sayang, aku lapar," rengek Zara dengan sorot mata mengiba.
Arka yang masih memakan es krim bagiannya itu langsung menarik keranjang bekal dan membukannya.
Ya tuhan. Aku tadi sudah membukanya dan kututup kembali karna tak ingin memakannnya. Tetapi kenapa dibuka kembali.
Zara menggerutu dalam hati. Terlebih saat suami tampannya itu mengeluarkan semua isi di dalamnya.
"Makanlah, kau bilang lapar." Satu potong Sandwich sudah berada dalam gengaman, dan siap meluncur ke bibir istrinya.
Zara spontan membekap mulutnya, kemudian menggelengkan kepala berulang sebagai penolakan.
Arka pun menautkan kedua alisnya. "Kenapa, bukankah kau bilang lapar?"
"Aku tidak ingin makan ini," rajuk Zara.
"Lalu?"
"Aku ingin makan itu." Telunjuknya sudah terulur mengarah pada pedagang bakso yang mendorong gerobaknya.
Wajah Arka masam seketika. Ia pun kini menatap kearah dua pengawal yang mendengar. Di detik Arka menatap mereka, didetik itu pulalah kedua pengawal itu menundukan kepala.
Apakah istriku sudah sempat berdebat dengan kedua pengawal ini sebelum aku datang tadi?
"Tapi, sayang," ucap Arka menggantung.
"Aku mohon." Bukan hanya menangkupkan kedua punggung tangan, tetapi gadis itu juga mengusap bagian perutnya yang buncit.
Arka mengusap wajahnya frustrasi. Lagi-lagi kata higienis dan standar ahli gizi ia abaikan untuk hari ini, demi sang istri.
"Baiklah."
Zara berteriak girang, namun bukan hanya gadis itu sendiri. Rupanya pengawal berbadan tambun itu juga melakukan hal yang sama. Berteriak kegirangan, hingga sukses mendapat tatapan tajam dari sang tuan dan satu rekannya.
Semangkuk bakso Zara terima dengan rasa bahagia luar biasa. Entah sudah berapa lama ia tak menyantap makanan pinggir jalan seperti.
Aroma sedap yang menguar dengan kepulan asap yang menari-nari di atasnya, sealan membuat air liur siapa pun di buat menetes karnannya.
Diawal Arka sempat menolak. Akan tetapi saat melihat betapa lahapnya sang istri dan pengawalnya menyantap bulatan daging tersebut, membuatnya ingin untuk mencicipi.
Entah apa yang merasukinya, Arka kini terlihat begitu menikmati semangkuk bakso bagiannya. Ia juga menambahkan cukup banyak sambar, hingga keningnya mengeluarkan banyak peluh.
Zara tersenyum lebar. Sepasang suami istri itu bahkan saling berlomba. Menghabiskan satu mangkuk, disusul mangkuk selanjutnya.
Ada binar kebahagiaan di sana. Kebahagiaan yang bisa diraih dengan cara sederhana. Hari ini, Arka berjanji untuk membuat istri kecilnya itu untu terus bahagian. Sejenak meninggalkan rumah, yang rupanya masih di tata para pelayan untuk kejutan nanti malam.
Bersambung....
Like
Vote
Komen☺😘
__ADS_1