Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Pencarian


__ADS_3

Ini adalah rasa paling menyakitkan dari segala rasa.


Zara hanya mampu menatap kedua orang tuanya dari kejauhan. Rumahnya dan milik Ratih yang hanya terhalang oleh jalan, membuat gadis itu dengan leluasa menatap Ibu dan Ayahnya dari dalam rumah melalui jendela kaca.


Ingin rasanya bersua dan memeluk tubuh renta mereka, akan tetapi dirinya masih tak memiliki cukup keberanian untuk bisa melakukan itu semua.


Ratih muncul kemudian berdiri di belakang tubuhnya.


"Nak, kau tidak ingin menemui kedua orang tuamu secara langsung?" Perempuan paruh baya itu mengusap punggung Zara dan menatap kearah rumah milik sang kakak yang berada di seberang jalan.


Gadis itu pun menghela nafas dalam. Sesungguhnya ia sangat ingin, hanya saja saat ini kondisinya masih belum tepat.


"Zara masih belum mempunyai keberanian untuk melakukannya, Bi." Berucap lirih, gadis bersurai lurus sepinggang itu merasakan kekosongan pada hidupnya kini. Merasa hilang arah, dan tujuan hidup.


"Kau bisa menjelaskan kebenarannya. Lagi pula, Bibi yakin jika ibumu tak sejahat itu. Beliau ibu yang baik, hanya saja sudah termakan oleh hasutan pihak yang tak bertanggung jawab." Seperti halnya Zara, Ratih pun cukup mengenal pribadi sang kakak ipar. Beliau wanita baik dan bijak, setra berpegang teguh pada kejujuran.


Zara mengusap uapan embun di kaca, dan mengukir sebuah gambar abstrak dengan jari telunjuknya.


"Ini tidak akan semudah yang difikirkan. Jika aku yang datang seorang diri tanpa adanya siapa pun untuk berniat membela diri, maka yakinlah, Ibu pasti hanya akan semakin membenciku lebih dari saat ini."


Ratih terdiam sesaat, menelaah ucapan sang keponakan. Memang ada benarnya, posisi Zara tengah tak menguntungkan. Jika hanya sendiri dan coba membela diri, kemungkinan semua itu akan sia-sia. Tak mudah untuk meluruhkan hati kakak ipar yang merasa dikecewakan.


Zara merasakan seisi perutnya bergejolak. Tetapi kenapa, ia bahkan belum makan barang sebutir nasi pun.


Lekas berlari kearah kamar mandi, gadis dengan pakaian longgar semata kaki itu pun memuntahkan isi perutnya. Tak ada yang keluar, yang ada hanya rasa pahit di tenggorokan.


Ratih memijat tengkuk gadis itu pelan. Merasa iba, mengingat saat seperti justru sang keponakan jauh dari suaminya.


Peluh dingin menitik, Zara merasakan seluruh tubuhnya lemah tak berdaya. Pusing pun melanda, Ratih memapahnya untuk duduk di sebuah kursi plastik dengan punggung menyandar di dinding.


"Ini mungkin karna pengaruh dari kehamilanmu. Apa kau juga sering mual seperti ini?" Ratih menyeka peluh di dahi Zara dengan handuk kecil di tangan.

__ADS_1


Masih mengatupkan kedua netra, gadis itu pun mengangguk. Dalam kondisi terpeam, gadis itu membayangkan bagaimana Arka memperhatikan dan penuh kasih sayang memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Tak ayal, karna itulah selama ini Zara cukup bergantung pada sang suami semenjak masa kehamilan.


Disela netra yang terpejam, bulir bening pun mengalir. Belaian tangan kokoh itu tanpa sadar membuatnya merasakan kenyaman. Perhatian dan kasih sayang, memang Arka berikan dengan melimpah ruah.


Maaf, sayang. Tanpa belas kasih aku sudah meninggalkanmu. Semoga engkau tidak murka, dan bisa memaafkanku atas kesalahan ini.


*******


Seorang pria berkemeja abu-abu bermotif garis menatap pantulan tubuhnya di cermin. Wajahnya terlihat pucat dengan lingkaran hitam di kedua netra. Pria itu tampak lelah dan kurang tidur. Menarik satu buah laci berisi arloji, Arka melingkarkan brnda tersebut di pergelangan tangan.


Tak ada jas yang melapisi kemejanya, ia enggan memakainya. Memadu padankannya dengan celana bahan berwarna senada, pria berjambang itu kian terlihat tampan meski suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Puluhan pengawal dan lainya pun sudah menunggu di lantai dasar. Selepas sarapan, mereka akan langsung bergerak melakukan pencarian. Seseorang tampak muncul dari pintu rumah utama, siapa lagi jika bukan Rangga. Bukan hanya memiliki misi untuk ikut melakukan pencarian Zara, tetapi juga misi untuk kembali merebut perhatian Anastasya.


Beberapa orang terlihat berkumpul di meja makan. Terlihat Arka, Rangga, Sam dan disusul Anastasya yang baru saja muncul dari arah kamarnya. Hanya denting piring dan sendok yang terdengar. Tak ada sepatah kata pun terucap saat mereka mulai menghabiskan makanan yang tersaji di piring masing-masing.


Arka menyeka sudut bibirnya dengan selembar tisu. Ia hanya mengambil sedikit makanan, namun juga tak bisa menghabiskanya. Semua makanan terasa hambar, jika tak ada Zara di sisinya.


"Kita akan memulainya dengan mengunjungi kontrakan yang sempat di tempati nona beberapa bulan lalu. Meskipun tipis harapan, mengingat nona tak banyak membawa uang. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan jika nona kembali berada di tempat itu."


"Jika tidak ada?" tanya Arka sekali lagi.


"Kita akan langsung menuju desa kelahiran nona. Saya pun akan membawa pengawal yang sempat saya kirim untuk memantau dan menjaga kedua orang tua nona tempo hari."


Arka pun menganguk kemudian berucap, " Baiklah. Setidaknya jika Zara tak ditemukan di sana, aku masih bisa bersua sekaligus meminta maaf pada kedua orang tua Zara, dan aku tidak ingin kita kesana dengan tangan kosong."


Seakan mengerti akan keinginan sang Tuan. Sam pun langsung meminta pada beberapa pengawal dan juga pelayan untuk mempersiapkan semuanya.


Hanya ada beberapa mobil yang ikut dalam misi pencarian awal. Kontrakan di gang kumuh yang menjadi tujuan. Jalan masuk yang sempit, memaksa semua orang untuk berjalan kaki mengikuti langkah Anastasya yang memimpin di barisan depan.


Anastasya masih mengingat dengan jelas jalan becek ini. Arka menelan ludahnya getir, mendapati kehidupan mengenaskan sang istri sebelum menikah dengannya. Dalam hati pria itu menyesal, yang mana mengetahui semua ini setelah gadis itu pergi.

__ADS_1


Sungguh tepat, saat langkah Anastasya dan yang lainya terhenti tepat di depan sebuah kontrakan yang dulu di tempati Zara, seseorang berbadan tambun yang tak lain adalah pemilik bangunan tersebut muncul dari arah pintu yang terbuka.


Perempuan paruh baya itu pun terkesiap, mulutnya mengangga mendapati segerembolan orang kaya berdiri di hadapannya.


"Ada apa ini? Apa Tuan dan Nyonya akan mengontak di tempat ini?" tanya perempuan itu dengan tubuh gemetar ketakutan.


"Tidak," balas Anastasya sekenanya. Dia masih mengingat saat perempuan tua itu mengusir Zara dari kontrakannya. "Saya hanya mencari seseorang. Apa gadis ini, berada di kontrakan anda?" Anastasya menunjukan satu lembar foto pada pemilik kontrakan itu. Penampilan Zara di dalam foto sangat jauh berbeda dari saat pertama gadis itu mengontrak di tempat ini. Hingga perempuan tua itu tak lagi mengenalinya.


Menautkan kedua alis, nampak berfikir dalam, setelah beberapa saat perempuan tua itu pun menggeleng.


"Sepertinya tidak, nyonya. Gadis ini terlihat sangat cantik dan berkelas. Gadis ini pasti tidak akan sudi untuk tinggal di tempat kumuh seperti ini."


"Apa kau yakin?" ucap Anastasya ragu.


"Tentu nyonya. Sudah beberapa bulan ini saya tidak menerima penghuni kontrakan baru, dan saya yakin itu." tegas pemilik kontrakan itu.


"Tapi maaf sebelumnya, dengan terpaksa kami harus melakukan ini." Tanpa menunggu persetujuan, Sam menggerakkan beberapa pengawal untuk menyisir seluruh area kontrakan. Baik di luar atau pun di dalam ruangan.


Perempuan tambun itu gelagapan, namun juga tak mampu mencegah pergerajan mereka. Dirinya hanya seorang diri, sementara mereka ada lebih dari sepuluh orang dan keseluruhan berpostur tinggi besar.


Selepas beberapa menit mencari kesegala penjuru dan tak menemukan hasil, para pengawal itu kembali berkumpul dan melaporkan hasilnya.


"Bagaimana?"


"Maaf tuan, sepertinya nona memang tak berada di tempat ini," jawab salah seorang pengawal.


Arka menarik nafas dalam. "Baiklah, kita akan lanjutkan dengan tempat tujuan kedua."


Mereka pun menundukan kepala. Sebelum meninggalkan tempat, Sam meraih satu amplop dari saku jas dan memberikannya pada pemilik kontrakan.


"Ambillah, maaf sudah merepotkan anda." Selepas berucap, Sam memutar tumit dan berlalu pergi. Mengekor langkah di belakang tuan dan nonanya yang berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Sementara itu, perempuan tua bertubuh tambun yang menerima sebuah amplop, masih belum bisa menghilangkan keterkejutanya. Sembari menggengam selembar amplop tebal itu, bibirnya komat kamit tak karuan. Bukan hanya takut, tapi ia juga senang. Dari ketebalannya saja, ia meyakini jika amplop berwarna putih tersebut berisikan banyak uang.


__ADS_2