Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Jalan Takdir


__ADS_3

..."Andai waktu bisa diputar, maka aku lebih memilih untuk tidak pernah meninggalkanmu."...


Saat semua tak berjalan sesuai keinginan, maka penyesalan selalu datang diakhir, berdamping dengan keterputusasaan. Seperti halnya yang dirasakan Rangga, sesal itu pasti ada. Saat gadis yang ia cintai lebih memilih untuk meninggalkan dari pada kembali merajut bahagia bersamanya.


"Aku tau, aku memang salah. Tetapi tidakkah kau memiliki sedikit saja ruang dihati, untuk kembali menerimaku dikehidupanmu." Entah untuk berapa kali Rangga mengucap kalimat yang sama pada gambar Anastasya di dalam sebuah album seakan benda mati tersebut mampu merespon ucapannya.


"Baik. Jika kau memilih untuk pergi dariku, maka aku pun akan melakukan hal yang sama." Menggeser pandang, pria muda itu menatap beberapa koper dan barang berharga yang sudah ia tata di sudut kamar. Tidak ada pilihan lain, mungkin ia akan kembali ke negara XX untuk melanjutkan hidup dan pekerjaan.


Pekerjaan yang sempat ia lepas hanya untuk kembali ke ibukota dan kembali pada gadis yang dicintainya. Akan tetapi, semua hanya tinggal bayangan seiring sang gadis yang engan kembali menggengam tangannya.


Seorang pelayan mengetuk pintu perlahaan. Saat mendapatkan sahutan, pintu itu pun terbuka.


"Ada apa?" Rangga yang sudah terlihat rapi dengan kemeja hitam bermotif garis, melempar tanya pada pelayan tersebut.


"Semua susah siap tuan."


"Baiklah. Aku akan turun sebentar lagi."


Pelayan itu pun mengangguk, lantas berbalik badan meninggalkan sang tuan. Rangga menghela nafas dalam, dengan segera ia menutup pintu kamar dan merebahkan diri di atas ranjang.


"Anastasya. Sunguh aku benar-benar belum bisa untuk melupakanmu." Menatap nanar langit-langit kamar, Rangga mengusap wajahnya dengan kasar. Terpuruk dalam keterputus asaan, rasanya ia ingin memilih untuk mati dari pada hidup tersiksa seperti ini.

__ADS_1


"Apakah Anastasya merasakan hal yang sama pada saat aku memilih untuk meninggalkannya dulu." Entah mengapa ia justru mengingat kejadian di masa lampau, saat Anastasya dalam keadaan hamil, ia justru kabur tanpa memberi kabar. Alih-alih untuk bisa mengubah keputusan orang tuanya dan menyetujui hubungan mereka. Nyatanya berbulan hingga tahun berlalu, Rangga masih asik di dalam persembunyiannya.


"Rasanya benar-benar sakit, sungguh sakit. Maafkan aku, Anastasya."


*****


Seluruh barang-barang milik Rangga sudah memenuhi bagasi mobil, bahkan dengan barang milik kedua orang tuanya. Rencananya, mereka akan menetap di negara XX untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Selain untuk mengurus pekerjaan, Rangga juga akan membawa sang ibu melakukan pengobatan disebuah rumasakit terbaik yang ada di negara tersebut.


Pria itu melangkahkan kaki menuju kamar orang tuanya. Dadanya terasa sesak saat melihat tubuh lemah ibunya mulai dipindahkan kebrankar dorong dengan beberapa alat penunjang kehidupan yang menepel di tubuhnya untuk di bawa oleh mobil khusus menuju bandara.


Beberapa bulan melakukan penyembuhan dengan berbagai cara, namun sama sekali tak membuahkan hasil. Siska tetap koma dan tak menunjukan ada perubahan sedikit pun dari tubuhnya.


"Bersabarlah. Mungkin jalan hidup kita harus seperti ini." Sofyan berjalan pelan mengikuti para tenaga medis yang membawa tubuh istrinya untuk memasuki mobil.


Bulir bening kepedihan mulai menitik di sudut netra Rangga. Sungguh, ini bukanlah jalan hidup yang ia inginkan. Tetapi ingin apa lagi selain legowo untuk menjalaninya.


Menatap seisi rumah yang sudah menjadi tempat berteduhnya semenjak lahir dengan tatapan gamang. Rangga mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Meyakini diri bahwa semua akan berjalan sementinya.


Beberapa mobil beriringan memenuhi jalan raya menuju bandara. Rangga yang berada di mobil terpisah dari kedua orang tuanya tetap berusaha untuk terlihat tegar.


Rombongan sampai di bandara khusus dengan jet pribadi milik Arka yang akan mengantar keberangkatan mereka. Beberapa pengawal dari kediaman Arka bergerak cepat membantu para medis untuk memindahkan tubuh Siska menuju jet pribadi yang akan lepas landas tak lama lagi.

__ADS_1


Rangga masih terdiam, masih ragu untuk melangkah. Keraguan yang tersirat jelas diwajah, rupanya mampu di baca oleh Sofyan.


Pria paruh baya yang sudah menaiki tangga jet pribadi itu, kembali turun dan menghampiri putranya yang seolah enggan untuk pergi.


"Nak, apa kau ragu dengan keputusan yang kau ambil?"


Rangga menghela nafas dalam, kemudian menggeleng samar.


"Tidak, ayah. Aku yakin, bahkan sangat yakin."


"Tetapi wajahmu seolah berkata sebaliknya." Ucapan telak yang dilontarkan Sofyan seakan menampar wajah Rangga.


"Sudahlah ayah. Seperti yang baru saja kukatakan, jika aku lebih dari yakin untuk meninggalkan negara ini." Merubah mimik wajah setenang mungkin, Rangga seolah ingin membuktikan pada sang ayah jika dirinya baik-baik saja.


"Baiklah jika itu memang keputusanmu. Ayah berharap jika keputusan itu murni dari lubuk hati terdalammu dan bukan atas dasar kekecewaan." Sofyan tersenyum simpul, berbalik badan dan meninggalkan putranya.


Tanpa bertanya, kau pasti tau seperti apa perasaanku, ayah. Anastasya sungguh berarti dalam hidupku. Memilih untuk meninggalkan negara ini, sama halnya dengan mellepas Anastasya untuk selamanya.


"Selamat tinggal. Mungkin kita tak ditakdirkan untuk bersama."


Menyeret langkah mengikuti jejak sang ayah. Rangga mulai menapaki anak tangga untuk bergabung dengan yang lainnya. Meninggalkan ibu kota menuju negara lain nan jauh di sana.

__ADS_1


__ADS_2