Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Bertemu Kembali


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Zara semakin menikmati perannya sebagai istri dari Arkana Surya Atmadja. Bukan karna harta serta hidupnya yang berkecukupan, namun gadis mungil itu merasakan menjadi seorang istri yang benar-benar dicintai.


Akan tetapi, ada terlihat berbeda dari Anastasya. Perempuan itu terlihat menjauh dan jarang mengurus toko bunga miliknya. Hanya dengan alasan sibuk, Anastasya kerap meminta Zara untuk mengantikan peran utamanya dalam mengelola toko bunga. Yang jujur saja, itu semua kian membuat gadis tersebut semakin tidak nyaman.


Terlebih para karyawan dan penjaga keamanan mulai berbisik di belakang punggungnya, sebab nampak beberapa kali Arka mengantar dan menjemputnya tanpa Anastasya. Jelas fakta yang ada menimbulkan banyak tanda tanya, mengingat hubungan pernikahan mereka masih tertutup rapat. Akan tetapi, Arka tetaplah seorang Arka. Pria yang ingin selalu mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada sang istri tanpa mengenal situasi dan kondisi.


Zara menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Wajahnya terlihat pucat dan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Beberapa pekerjaan yang dilimpahkan Anastasya padanya, cukup membuat tenaga dan fikiranya terkurat. Terlebih kini dirinya kerap merasakan pusing dan cepat lelah.


Kiara memasuki ruangan dengan membawa lembaran kertas ditangannya.


"Zara, kiriman barang sudah datang, dan semua jenis dan kualitasnya ada di kertas ini." Kiara menyodorkan lembar data pengiriman dari para pemasok.


Zara pun menerimanya, namun terlihat beberapa kali ia menguap dan masih memijat bagian kepalanya yang berdenyut. Lantas berusaha memeriksa lembaran tersebut lebih detail.


Kiara duduk di kursi yang menghadap dengan Zara langsung. Wajah pucat Zara pun tak luput dari pandangan sang sahabat. Membuat gadis itu pun mendekat dan menyentuh dahi Zara yang mulai menitikan keringat dingin.


"Zara, kau sakit? Wajahmu pun terlihat sangat pucat." Kiara masih menempelkan punggung tangannya di dahi Zara.


Perlahan Zara menurunkan tangan Kiara dari dahinya. "Tidak, aku sedang baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit kelelahan," elak Zara sebab tak ingin membuat sahabatnya itu khawatir.


"Apa benar kau baik-baik saja? Jika lelah, istirahat. Jangan memaksakan diri. Kau bisa sakit jika terlalu kelelahan." Kiara sadar, semenjak Anastasya tak muncul. Otomatis pekerjaan Zara menjadi dua kali lipat lebih berat.


Zara tersenyum senang. Selama berada di toko, hanya Kiaralah yang benar-benar tulus berteman dengannya. Sedangkan para karyawan lain, mereka mengangap Zara seorang atasan hanya karna formalitas. Selebihnya, mereka kerap kali menggunjing dan mengecap buruk gadis itu di belakang.


"Aku baik-baik saja, Kiara. Kau bisa melihatnya sendiri." Lengkung tipis itu membentuk sebuah senyuman manis. Berusaha meyakinkan Kiara jika dirinya tengah baik-baik saja.

__ADS_1


Kiara pun membalas senyuman itu. "Baiklah, aku percaya padamu."


Zara bangkit dan melangkahkan kaki menuju kulkas di dapur. Meraih dua botol jus kemasan dan membawanya. Satu untuknya dan satu lagi ia berikan pada Kiara. Keduanya menikmati sensasi manis dan segar dari minuman tersebut.


"Zara, apa sore hari nanti kau ada acara?" Kiara meneguk kembali minumannya dan sesekali menatap wajah Zara yang juga tengah menikmati jus buah miliknya.


"Sepertinya tidak ada. Aku akan pula setelah pekerjaan di toko selesai," jawab Zara.


Wajah Kiara berbinar seketika. "Kalau begitu, aku akan mengenalkanmu pada seseorang."


"Siapa?" Zara mencondongkan wajahnya kedepan, dirinya mulai penasaran.


Gadis manis berkulit putih itu tersipu mslu dan memilin jemarinya yang saling bertautan.


"Kekasihku." Kiara menutup wajahnya dengan kedua tangan selepas berucap.


"Aku sungguh penasaran pada sosok pria yang sudah membuatmu tersipu malu seperti ini. Pasti dia tampan," goda Zara sembari mencolek pipi Kiara yang merona.


"Jangan!" pekik Kiara. "Jangan penasaran. Aku justru takut jika kekasihku malah menyukaimu." Sungguh ucapan yang seketika membuat Zara tergelak kencang.


"Tidak mungkin, aku saja suda men---" Zara seketika membungkam mulutnya. Beruntung Kiara tengah dalam mode berbunga-bunga hingga tak terlalu menanggapi ucapannya. Andai jika dalam mode santai, dirinya pasti tidak akan semudah itu untuk lepas dan mempertanggung jawabkan ucapannya.


"Kau cantik, malahan lebih cantik dariku. Kau juga baik. Aku yakin, jika setelah bertemu denganmu, dia pasti akan menyukaimu," rengek Kiara dengan menggembungkan pipinya.


Zara hanya menghela nafas dalam mendengar penjelasan sang sahabat. "Kiara, apa kau tau?"

__ADS_1


Gadis itu pun menggeleng.


"Seseorang yang benar-benar mencintai kita, tentunya dia tidak akan mudah tergoda atau pun tertarik pada wanita yang lebih cantik. Sebab, semua kecantikan itu tidak harus dari paras, namun juga hati. Akan tetapi jika seseorang masih membandingkanmu dengan perempuan lain dengan alasan lebih darimu. Maka percayalah, dia tidak benar-benar mencintaimu dengan tulus."


Kiara hanya terdiam. Bagaimanapun hubunganya dengan sang kekasih masih seumur jagung. Memang tidak ada yang aneh dengan pria yang sudah membuatnya jatuh hati. Hanya saja, entah mengapa dirinya masih merasa ragu.


"Baiklah. Jadi kau benar-benar tidak ada acarakan? Selepas dari toko kita akan langsung menuju sebuah tempat."


Tanpa ragu Zara mengangguk. Berusaha untuk membuat hati sahabatnya itu senang.


Waktu yang dijanjikan pun datang. Dengan taksi online mereka menuju tempat yang sudah dipesan oleh Kiara. Senyum senantiasa tak luntur dari bibir merahnya. Hingga taksi menepi di area parkir restoran kelas menengah di pusat kota.


Mereka menuruni taksi, kemudia Kiara menyisir pandang kerah parkir di mana kendaraan bermotor tertata rapi di sana. Beberapa saat kemudian senyumnya mengembang saat menemukan sesuatu yang ia cari.


"Dia sudah datang, dan itu mobilnya." Kiara menunjuk sebuah modil yang Zara yakini milik kekasih gadis itu. Kendaraan yang sama persis ia lihat beberapa waktu yang lalu saat mengantar Kiara ketoko.


Kenapa mobilnya begitu mirip dengan..., Ah tapi sepertinya tidak mungkin. Bukankan kendaraan semacam itu banyak bertebaran di kota besat seperti ini.


Kiara menarik paksa tangan Zara yang masih terpaku di tempatnya untuk masuk kedalam resto. Jika Kiara melangkah dengan ringan, namun Zara justru sebaliknya. Langkahnya serasa berat, seolah ada sesuatu tak kasat mata yang berusaha menahannya.


Suasana di dalam resto yang cukup ramai, membuat Kiara kesulitan menemukan sosok pria yang dicarinya. Hingga gadis itu pun meraih ponsel dan menekan satu kontak di dalamnya. Tak berapa lama, sesosok pria berbadan tegap tampak bangkit dari sebuah kursi yang berada di sudut ruangan. Berbalik badan sementara netranya menyibak seisi ruangan.


Tangannya pun melambai kearah Kiara, hingga wajahnya pria itu pun mampu dilihat oleh kedua gadis yang terlihat kebingungan itu.


Kiara tersenyum senang dan memutuskan sambungan saat keduanya bersitatap. Akan tetapi, gadis di sampingnya justru gemetar dan peluh dingin mulai membanjir di keningnya. Zara bisa mempastikan siapa pemilik wajah pria yang disebut sebagai kekasih Kiara.

__ADS_1


Rupanya, dugaanya benar. Siapa pemilik mobil yang menututnya tak asing lagi itu.


Ka Sandy, benar itu memang Ka Sandy


__ADS_2