
Rumi dan Jamil menatap rumah sederhananya yang kini tengah direnovasi dengan perasaan campur aduk. Antara sedih dan senang. Sebab rumah yang terlihat seperti gubuk itu memiliki sejuta kenangan yang sulit terlupakan.
"Ibu, maaf. Bukan maksud kami untuk menghancurkan rumah ini. Kami hanya berniat untuk memperluas, supaya jika kami datang beserta cucu ibu nanti, rumah ini akan cukup untuk menampung kami semua." Arka yang bisa merasakan kegundahan ibu mertuanya coba mendekat dan memberi pengertian agar tidak salah faham.
Rumi tersenyup tipis dan mengusap lembut punggung suaminya yang terbalut pakaian tebal.
"Tidak apa, Nak. Kami pun juga merasakan senang dengan pembangunan rumah ini, meskipun rasanya sulit mengingat terlalu banyak kenangan yang terukir di dalam gubuk sederhana itu."
Sepasang suami istri itu tak pernah sedikit pun bermimpi, jika hidupnya akan berubah total seperti saat ini. Semua berkat sang putri, kesederhanaan dan kebaikan gadis itu lah yang membuat CEO ternama itu jatuh kedalam pelukannya.
"Silahkan dinikmati tehnya," ucap Zara yang muncul dengan nampan berisi minuman dan beberapa camilan. Melabuhkannya di atas meja kayu, gadis itu pun mendaratkan tubuh di sebuah kursi bersisian dengan suaminya.
"Terimakasih, sayang," balas Arka seraya mengusap lembut puncak kepala sang istri.
__ADS_1
Rumi dan Jamil pun tersenyum penuh kebahagiaan menyaksikan kehangatan keluarga yang terjalin atara sang putri dan menantunya.
Meraih cangkir berisikan teh tanpa gula kesukaannya, Arka menyesap minuman habar nan hangat itu hingga beberapa tegukan dan meletakkanya kembali di atas meja.
"Berapa bulan usia kandunganmu sekarang nak," tanya Rumi seraya menatap lembut kearah perut putrinya yang terlihat sedikit membuncit.
Arka yang terlihat lebih antusias jika menyangkut masalah kandungan sang istri, lekas menjawab. "Kini sudah menginjak bulan ketiga, Bu. Dan kami pun sudah tak sabar untuk lekas menimangnya," jawab Arka seraya mengusap perut istrinya yang berbalut gaun berwarna merah muda.
"Tentu saja, ayah. Saya pun berjanji untuk senantiasa melindungi Zara dan bayi yang kini dikandungnya." Lagi-lagi Arka begitu cepat menjawab, hingga Zara hanya bisa tersenyum tipis dan merasakan kebahagiaan tak terkira.
Sepasang suami dan istri itu hanya tergelak dan saling beradu tatap. Sungguh mereka sangat beruntung dikarunia seorang menantu sebaik Arka. Meski ia terlahir sebagai pria mapan dengan segala kemewahan, namun nyatanya Arka sama sekali tak sombong atau pun bertindak semena-mena pada rakyat jelata yang sungguh tak ada apa-apa, jika dibanding dirinya.
"Ibu, Ayah maaf sebelumnya. Zara dan Mas Arka tidak bisa berlama-lama untuk berada di sini. Mas Arka akan kembali mengurus perusahaan keluarga, sementara Zara harus menemaninya." Zara menggengam tangan ibunya yang mulai berkeriput. Sungguh teramat berat meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah berusia lanjut di sebuah kampung tanpa adanya putra atau pun putri yang menemaninya.
__ADS_1
Rumi balas menggengam tangan sang putri dan menatap gadis yang sudah dilahirkannya itu dengan tatapan hangat.
"Tak apa nak. Lagi pula, masih ada Bi Ratih yang menemani Ayah dan Ibu setiap harinya. Sebagai istri yang baik, kau memang sudah sepantasnya untuk menemani dan melayani suamimu dalam suka dan duka. Baik kaya atau miskin, dan saat sehat maupun sakit." Rumi coba menasehati putri tercintanya. Meski usia Zara masih tergolong muda, namun Rumi yakin jika sang putri akan bisa memahami maksud ucapannya.
Zara pun mengangguk dan menunduk sembari mengusap buliran bening yang mulai menetes di pipinya. Arka yang bisa memahami kesedihan sang istri pun mengusap tangan sang istri dan ikut menyeka bagian wajah istrinya yang basah.
"Bagaimana jika Ayah dan Ibu ikut kami untuk tinggal di kota. Bukankah itu akan terasa sangat menyenangkan," tawar Arka pada mertuanya agar sang istri tak lagi khawatir akan kondisi orang tuanya.
Rumi dan Jamil menghela nafas dalam dan saling melempar pandang. Hingga beberapa detik kemudian keduanya sepakat menggelengkan kepala.
"Tidak, terimakasih banyak atas tawarannya nak. Kami berdua sangat nyaman hidup di perkampungan ini. Kami berniat untuk hidup dan menghabiskan sisa umur di tempat ini."
Zara menggigit bibir bawahnya kelu. Jika sudah seperti ini, ia pun sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi untuk bisa merubah keputusan orang tuanya dan hanya bisa mengikutinya.
__ADS_1