Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Waspada


__ADS_3

Lengkung tipis pria tampan itu tersenyum samar. Hari-harinya, kini berjalan tak seperti biasanya. Bagaikan pelangi yang muncul setelah hujan, memberi warna dan keindahan pada sosok langit yang semula menggelap.


Kenan merasakan adanya perubahan pada dirinya. Bagai remaja yang tengah mengalami puber kedua, pria dewasa itu kerap kali tersenyum seorang diri tanpa tau apa sebabnya.


Mungkinkah itu karna Anastasya?


Entahlah.


Akan tetapi, pria itu pun tak munafik, apalagi menampik. Semenjak kejadian pingsannya Anastasya pada waktu itu, membuat Kenan memiliki ketertarikan khusus pada janda beranak satu itu.


Terlebih saat ia mengetahui jika Gadis itu sendiri tak memiliki suami atau pun ikatan dengan pria mana pun, membuat naluri kelelakiannya secara ilmiah bangkit. Bukan hanya karna nafsu, tetapi juga ingin melindungi gadis tersebut.


Kenan meraih bingkai foto yang berada di atas nakas. Senyumnya terkembang. Tangannya bergerak mengusap sebuah foto itu dengan lembutnya.


"Manda, maaf jika aku mulai melupakanmu. Jangan pernah berfikir jika aku jahat. Kau akan selalu ada di dalam hatiku, walau sampai kapan pun." Di dekapnya foto tersebut di dada. Bayang-bayang Amanda yang sudah tenang di surga kembali hadir di pelupuk mata.


Kenan memang selalu mengganggap jika perempuan itu masih bersamanya, meski di alam yang berbeda. Sampai halnya dengan makanan yang ia pesan dengan porsi berlebih di restoran milik Wisnu, semua hanya untuk membuktikan rasa cintanya pada sang istri, bahwasanya nama Amanda dan putri mereka tetap terukir di hati.


Tetapi kini, semenjak kehadiran Anastasya yang tanpa disadari mulai sedikit demi sedikit merubah kebiasaannya.


Pria tampan itu menghela nafas dalam. Ia meletakakan album foto itu kembali ketempatnya.


Melangkah untuk menuruni anak tangga, Kenan kini menuju arah meja makan di mana ada seorang pelayan paruh baya berdiri di sana. Saat pandangan keduanya bertemu, pelayan itu spontan menunduk ketakutan. Dilihatnya kedua tangan keriput itu yang meremas tepi pakaiannya sendiri.


Apakah wajah sebegitu menyeramkan sampai dia ketakutan melihatku?


Perempuan paruh baya itu bukanlah pelayan baru. Ia sudah bekerja bahkan saat Kenan memasuki rumah tersebut bersama Amanda saat menjadi pengantin baru.


Semua terasa hangat hingga pada saat Amanda dan putrinya dinyatakan meninggal. Pada saat itulah Kenan mulai menggila. Sifat hangatnya berubah menjadi dingin dan mudah tersulut emosi walau bermula dari masalah yang tak jelas.


Beberapa pelayan yang mengabdi pada Kenan memilih mundur. Bahkan sopir dan tukang kebun yang notabennya adalah laki-laki pun tak kuat menghadapi sikap dingin Kenan, hingga memilih untuk undur diri. Kini hanya tertinggal Sumi. Perempuan paruh baya, menjadi satu-satunya pelayan yang bertahan untuk tetap mengurus sang tuan. Walau seperti apa pun keadaannya.


Kenan mendaratkan tubuhnya di kursi. Ia menatap hidangan yang tersaji. Sesuai dengan permintaannya, Sumi selalu memasak banyak makanan yang cukup untuk tiga orang. Tetapi apa, Setiap hari Kenan hanya memakan sebagian kecilnya saja. Setelah itu, Sumi diminta untuk membuang makanan itu begitu saja. Dengan alasan jika makanan tersebut sudah dimakan oleh istri dan juga putrinya.


Bertahun-tahun itu terjadi, Sumi hanya bisa patuh atas perintah sang tuan tanpa berniat membantah sekali pun.


"Bi, mulai besok tidak usah lagi memasak makanan sebanyak ini. Buatkan cukup untukku saja. Mubazir jika kita terus membuang-buang makanan," titah Ken sembari melahap sarapannya.


Sumi yang tertunduk itu mendongak perlahan. Meyakinkan jika indra pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Ma-maksud Tuan?" tanyanya setengah tergagap.


"Masak cukup untukku saja. Berhentilah membuang-buang makanan."


Sumi tertegun. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. Akan tetapi, wajahnya menyimpan keharuan. Apakah ini buah dari kesabaran dan doa-doanya selama ini?


"Ba-baik tuan. Saya hanya akan memasak cukup untuk tuan saja."


Samar Sumi melihat jika sang tuan mengangguk. Perempuan paruh baya yang semula meremas ujung pakaiannya itu, kini menautkan kedua tangan dan menyimpannya di dada.


******


Kenan menatap arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan. Bibirnya tersenyum tipis. Ini terhitung masih sore, namun pekerjaanya sudah terselesaikan. Dengan melajukan kuda besinya, ia pun bergegas menuju sebuah tempat yang beberapa hari ini belum sempat ia kunjungi.


Ini sungguh di luar kebiasaannya. Perutnya bahkan masih belum terasa lapar. Tapi kenapa ia ingin sekali mengunjungi resto milik Wisnu.


Tak berapa lama, kuda besi itu menuju area parkir resto yang terlihat cukup ramai itu. Saat ia menuruni mobil dan mulai melangkah, tanpa diduga muncul seorang gadis dari pintu masuk resto yang terbuka.


Anastasya.


Ucap Kenan dalam hati. Pria itu terpaku sejenak. Sepertinya, ada yang mulai berdetak kencang di dalam tubuhnya.

__ADS_1


Di saat bersamaan, gadis itu rupanya sadar akan kehadiran seseorang di antaranya. Mendongak, begitu mendapati Ken di hadapan, gadis itu pun tersenyum simpul.


"Tuan," sapanya.


Pandangan keduanya saling berpaut. Hingga sama-sama mengalihkan pandangan, saat rasa grogi mulai merayapi diri.


"Kau ingin kemana, Anastasya?" Penampilan gadis itu terlihat rapi, dengan tas ransel di punggungnya.


Gadis itu tersenyum kemudian berucap, " Saya ingin pulang tuan. Jam kerja saya sudah habis."


Ken menatap sekitar, langit memang samar menggelap. Ia pun lantas menatap arloji di pergelangan tangannya.


Memang benar.


"Apa kau ingin langsung pulang?" tanya Ken tanpa ragu.


Gadis itu pun mengangguk.


"Bagaimana jika aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Apakah kau akan menolaknya?"


Kesuatu tempat.


"Kemana tuan?"


"Ikutlah." Kenan mulai membalikkan badan kemudian melangkah menuju kearah kuda besinya.


"Tuan! Bagaimana dengan motor saya?"


"Tinggalkan saja." Dengan enteng Kenan menjawab.


Hah baiklah. Memang kau rajanya.


Hanya pasrah. Anastasya lebih dulu menitipkan motornya pada tukang parkir sebelum menghampiri Ken yang sudah menunggunya.


Ah Arka. Kira-kira, seperti apa hidupnya sekarang. Sejak memutuskan kontak, ia bahkan tak tau seperti apa hubungan Arka dan Zara saat ini.


Kontak Surti sebagai satu-satunya pemberi informasi pun hilang saat ponselnya tiba-tiba rusak.


"Tuan, kita akan kemana?" tanya Anastasya saat cukup lama mereka menempuh perjalanan.


"Kau akan tau nanti jika sudah sampai." Jawaban menggantung yang seketika membuat gadis itu ingin menarik pertanyaannya kembali.


Selepas itu, keduanya saling diam. Hingga kuda besi itu memasuki gerbang rumah mewah nan tinggi menjulang.


Kenapa kesini? Rumah siapa ini?


Anastasya tampak begitu penasaran. Tetapi enggan untuk melempar tanya.


"Ayo, turunlan," titah Ken yang kini keluar dari kuda besi itu lebih dulu.


Perempuan itu menghela nafas dalam, sebelum menurunkan kakinya. Ia sendiri bahkan belum mandi dan berganti pakaian. Lalu kemana pria ini akan membawanya.


Seorang pelayan perempuan paruh baya tampak tergopoh menyambut. Ia sempat terbelalak saat mendapati Anastasya yang turun dari kuda besi tersebut, selain sang tuan.


"Suruh dia masuk," ucap Kenan pada Sumi.


Pelayan itu pun mengangguk, kemudia menghampiri Anastasya yang masih setengah kebingungan.


Hei kenapa dia. Bukankah dia sendiri yang mengajakku ketempat ini, tetapi kenapa meninggalkanku seperti ini.


"Mari nona. Ikut bersama saya."

__ADS_1


Merasa sedikit takut, Anastasya reflek menggengam lengan Sumi sebagai pegangan. Pelayan itu pun tersentak, namun tak berani melepaskan tangannya.


Sumi pun membawa gadis itu untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Duduklah di sini, nona. Saya akan buatkan minuman dingin sebentar." Selepas berucap, Sumi pun berjalan menuju dapur. Kini hanya tertinggal Anastasya seorang diri yang duduk termenung sembari mencari keberadaaan sosok pria yang sudah membawanya ketempat ini.


Sial. Sebenarnya di mana aku, dan di mana dia? Kenapa meninggalkanku seperti ini?


Anastasya hanya bisa menggerutu dalam hati.


Akan tetapi, tak berapa lama sosok yang ia cari hadir di hadapan. Ia terlihat lebih segar dengan pakaian yang sudah berganti pula.


"Maaf jika lama menungguku."


Anastasya tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kejengkelannya.


"Ini rumahku. Dulu aku menempatinya bersama istri dan juga putriku." Sekilas pria itu menunduk, namun tetap menyembunyikan raut sedihnya. Berbeda dengan Anastasya, yang langsung mengarahkan pandangan kesekeliling rumah mewah tersebut.


Rumahnya? Untuk apa dia mengajakku kesini.


"Mengingat jika ini sudah malam, bagaimana jika kau menginap saja di sini," tawar Ken.


Anastasya jelas terkejut. Ini memang sudah malam. Tetapi Kenlah yang memaksanya untuk datang ketempat ini. Lalu tiba-tiba pria itu menyuruhnya untuk bermalam.


"Tidak tuan. Apa kata orang-orang nanti jika tau saya menginap di rumah anda. Saya takut jika akan muncul fitnah," tolak Anastasya sopan.


Ken menipiskan bibir. Pria itu bahkan tergelak samar.


"Kenapa? Lagi pula di rumah ini bukan hanya ada kita berdua. Bi Sumi pun penghuni rumah ini. Jadi jangan khawatir, atau pun takut jika aku akan melakukan hal tak senonoh padamu."


Gadis itu terdiam. Sepertinya tak ada kesempatan untuk menolak. Secara bersamaan muncul sosok Sumi yang membawa nampan berisi minuman dingin dan juga camilan.


"Silahkan dinikmati Tuan, nona."


"Terimakasih banyak bi," jawab Anastasya lirih.


"Bi sumi. Tolong siapkan kamar tamu. Anastasya akan bermalam di rumah ini untuk sementara waktu," titah Ken pada Sumi yang langsung diangguki oleh perempuan paruh baya itu.


"Baik tuan."


Apa? Sementara waktu? Apa maksudnya itu?


Keduanya saling diam, hingga Sumi kembali.


"Sudah tuan."


"Terimakasih. Siapkan juga makan malam untuk kami berdua bi."


Sumi pun mengangguk dan kembali menuju dapur.


"Anastasya, bersihkan tubuhmu. Ganti pakaianmu dengan pakaian yang sudah tersedia di kamar tamu, dan setelah itu temui aku di bawah untuk makan malam bersama." Nada bicara Ken seperti memerintah.


"Apa perlu aku antar?" ucap Ken menggoda.


"Tidak! Tidak usah tuan. Saya bisa kesana sendiri." Gemetar-gemetar Anastasya melangkahkan kaki menuju lantai dua tempat kamar tamu berada.


Saat memasuki ruangan tersebut, Anastasya dibuat tercengang. Ia kembali mengingat kamarnya dulu saat berada di rumah Arka. Ruangan berukuran cukup luas dengan ranjang King size dan furniture yang lengkap.


Gadis itu pun memilih duduk di tepi ranjang, dengan mengusap wajahnya perlahan. Sebenarnya apa maksud dari Ken dengan membawanya ke tempat ini. Sedangkan tidak ada pemberitahuan apa pun sebelumnya hingga membuat Anastasya di buat kian kebingungan.


"Apakah Tuan Ken memiliki rencana terselubung?"

__ADS_1


Hah entahlah. Dia sendiri tak ingin menebak, atau pun berfikir macam-macam. Hanya saja ia harus lebih waspada dan tak boleh lengah sedikit pun. Kalau-kalau, Pria itu memang sengaja membawanya kemari dengan memiliki tujuan tersendiri, yang intinya untuk merugikan gadis tersebut.


Bersambung...


__ADS_2