Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Pernikahan


__ADS_3

Kenan memang tak pernah main-main akan ucapannya. Waktu satu minggu benar-benar ia gunakan dengan sebaik mungkin, untuk mengurus semua berkas pernikahan.


Kini tibalah pada hari yang sudah dinanti. Pernikahan digelar di kediaman Arka dengan sederhana. Hanya dihadiri orang-orang terdekat, tentunya atas permintaan Anastasya yang menolak adanya pesta mewah. Cukup pernikahan sederhana nan Sakral lah yang gadis itu inginkan.


"Bagaimana para saksi?" ucap penghulu yang masih menjabat tangan Kenan sebagai mempelai pria selepas mengucap ijab kabul dengan satu tarikan nafas.


"Sah," jawab beberapa saksi dengan suara lantang.


"Alhamdulilah." Puji dan syukur terucap dari seluruh keluarga dekat yang menyaksikan proses sakral tersebut.


Sementara itu dari arah tangga, muncullah sesosok gadis berkebaya putih yang terlihat sangat cantik dan anggun. Siapa lagi jika bukan Anastasya, sang mempelai perempuan. Dia berjalan menuruni anak tangga dengan di gandeng oleh sang bibi yang tampak tersenyum bahagia.


Ken mengangkat pandangan, hingga sepasang netranya menangkap seraut wajah cantik yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Anastasya yang setengah tertunduk malu itu pun mendaratkan tubuh di sisi suaminya. Ken tersenyum lembut, dan mulai membuka kotak berwarna merah dengan bentuk hati, di mana ada sepasang cincin pernikahan yang tersimpan di dalamnya.


Anastasya mengulurkan jemari lentiknya. Ken pun memasangkan cincin bertahta berlian pada jari manis istrinya itu. Begitu pun sebaliknya, hingga senyum bahagia jelas tercetak nyata di wajah sepasang pengantin baru itu.


Anastasya lekas meraih tangan besar sang suami, kemudian mencium punggung tangannya. Ken pung mengusap lembut bahu sang istri dan mencium keningnya sembari memejamkan netranya. Begitu menikmati dan meresapinya.


Seluruh mata yang menjadi saksi seperti terhipnotis dan terbuai. Aura kebahagiaan tampak menyelimuti seisi rumah. Hingga acara sakral tersebut berjalan hikmad dan lancar tanpa hambatan.


Seusai acara ijab kabul, Kenan meminta pada beberapa fotografer untuk mengabadikan gambar mereka dengan keluarga dekat. Ken sendiri yang sudah tak memiliki orang tua, hanya bisa mengandeng Sumi sebagai seseorang yang berpengaruh penting atas kehidupannya. Baik saat pria itu merasakan sukses, ataupun jatuh terpuruk.


Sementara Anastasya, menggandeng paman, bibi serta beberapa keponakannya. Semua terlihat bahagia, meskipun sesekali Anastasya tampak meneteskan buliran bening di sudut netra.


Ini memang keputusan mereka untuk merengkuh masa depan. Akan tetapi, saat lembaran baru itu mulai dipijak, terkadang bayang-bayang masalalu turut serta menyapa.


Anastasya pasti masih teringat dengan Arka dan juga putranya, Abigail. Begitupun Kenan yang pastinya belum mampu melupakan Almarhumah istri dan juga putrinya. Akan tetapi, inilah fase kehidupan. Di mana ada satu jalan tertutup, pasti akan ada jalan lain yang terbuka. Mereka harus mampu melangkah, saling menggengam erat. Untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.


Seusai sesi foto, semua tamu tampak menikmati berbagai kudapan yang sudah disiapkan oleh sang empunya rumah. Tak terkecuali sepasang pengantin baru yang ikut bergabung untuk mengisi perut yang lapar.


Mungkin pernikahan ini bukanlah yang pertama untuk keduanya, tetapi rasa cemas dan gugup itu pasti ada. Sedari kemarin keduanya memang dipisah dan diminta tak bertemu meski berada di dalam rumah yang sama. Keduanya pun tak enak makan atau pun minum, akibat dilanda kegugupan yang spontan menghilangkan nafsu makan keduanya.


"Pelan-pelan, kau bisa tersedak jika makan seperti itu, sayang." Ken menyeka sudut bibir Anastasya yang sedikit terkena saus dengan ibu jarinya. Gadis itu pun tersenyum malu, lalu menundukan pandangan.


Ken menatap Anastasya lekat untuk beberapa saat. Ia masih tak mengira jika pertemuan tak sengaja itu justru membawanya pada suatu hubungan pernikahan dengan salah satu karyawan teman dekatnya itu.


Anastasya memang seorang janda. Tetapi jika diperhatikan secara detail, gadis itu terlihat seperti anak kuliahan yang masih imut dan juga segar. Postur tubuhnya pun sama sekali tak terlihat seperti pernah mengandung atau pun melahirkan. Tubuhnya masih kencang dan ramping bak model, yang mampu mengecoh siapa saja.


"Beristirahatlah jika kau lelah. Selepas acara selesai, aku akan menyusulmu."


Anastasya mengangguk. Ia memang sudah terlihat lelah. Terlebih beberapa tamu sudah mulai berhambur meninggalkan rumah mengingat semua prosesi sudah terlewati.


"Ingat, kamar kita ada di atas." Sepasang netra Ken melirik kearah lantai dua kamarnya. Di mana kamar pengantin sudah ia siapkan di sana.

__ADS_1


Anastasya mengangguk sembari tertunduk menahan malu. Tanpa sepatah kata, ia pun meninggalkan Ken menuju lantai atas untuk beristirahat.


*****


Begitu pintu kamar terbuka, sesuatu yang ditangkap indra penglihatan Anastasya ialah ranjang berukuran luas berseprai putih gading dengan ribuan kelopak bunga mawar yang membentuk lambang cinta di sana. Jujur, semua itu membuat Anastasya merinding.


'Malam pertama' Sungguh ia belum pernah merasakannya. Sebagai perempuan dewasa, tentu ia tahu aktifitas para pengantin baru pada saat malam pertama pernikahan.


Anastasya menutup pintu rapat. Ia enggan menduduki ranjang dan justru mendaratkan tubuhnya pada sofa panjang yang berada di kamar.


Bayangan masalalu terbayang. Pada saat keperawanannya terengut, ia melakukannya bersama Rangga. Itu pun akibat pengaruh alkohol yang membuat keduanya melakukan tanpa sadar.


Gadis itu tak tau pasti seperti apa kejadiannya. Yang jelas, keduanya hanya melakukan sekali dan rupanya menjadi janin yang bertumbuh di rahim Anastasya.


Pada saat menikah dengan Arka pun, tak ada istilah malam pertama pada pengantin baru sebagaimana umumnya. Arka terlihat menghindar dan enggan menjamahnya. Entah apa sebabnya. Mungkinkah karna perut Anastasya yang sudah mulai membesar hingga membuat pria itu tak nyaman, ataukah tak tega jika harus meniduri kekasih sahabatnya sendiri, meskipun mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri. Selain Arka, tentu tak ada yang tau jawabnya.


Gadis itu menghela nafas dalam.


"Sudahlah Anastasya. Semuanya sudah berlalu, dan kini kau sudah punya kehidupan baru."


Anastasya bergegas bangkit. Ia membuka pakaian yang melekat di tubuh dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kamar mandi yang luas dengan guyuran air hangat membuat fikirannya kembali tenang. Cukup lama ia membersihkan diri, setelah dirasa tubuhnya kembali segar, ia pun menarik piyama mandi, dan keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil untuk mengeringkan surai panjangnya.


"Hah, kenapa tidak ada pakaianku?" Anastasya bertanya pada dirinya sendiri. Hingga teringat jika memang ia belum sempat memindahkan pakaiannya satu potong pun ke kamar ini.


ya tuhan, kenapa aku sampai sebodoh ini. Tidak mungkin kan aku turun dengan penampilan seperti ini, sementara di bawah mungkin saja masih ada tamu.


Anastasya mengusap wajahnya setengah frustrasi, hingga sepasang tangan besar merengkuh pinggang ramping miliknya dan membuat gadis itu tersentak.


Ia hendak melepas dekapan itu,namun terlalu kuat.


"Apa yang sedang kau cari, sayang?" Suara itu menyapa indra pendengaran. Bahkan dengan sengaja Ken mengarahkan bibirnya tepat di telinga Anastasya. Membuat gadis itu merinding dibuatnya.


"I-itu, anu, saya mencari pakaian." Adanya Kenan tak urung membuat Anastasya salah tingkah.


"Pakaian? Untuk apa? Bukankah untuk malam ini, kau tidak memerlukannya," goda Ken seraya mengigit kecil telinga Anastasya yang tampak memerah.


Apa. Kenapa aku tidak boleh berpakaian


"Tapi, malam ini terasa sangat dingin, lalu bagaimana jika aku tak berpakaian?" Anastasya sungguh tak peka.


"Jangan khawatir. Aku bisa menjadi selimut hatimu semalaman ini."


Ken lekas membalik tubuh Anastasya hingga menghadap dirinya. Ia pun menanggalkan jas miliknya dan juga dasi hingga menyisakan kemeja berwarna putih.

__ADS_1


Di pandangnya lekat wajah sang istri yang cantik meski sehabis mandi. Surai panjang yang madih basah itu menambah kesan seksi, di tambah bibir mungil nan ranum itu. Hah membuat Ken tak mampu berlama-lama, dan langsung menyambar benda manis nan menggemaskan itu.


Diawal, ciuman itu sungguh lembut, hingga Ken yang sudah terbawa nafsu itu seperti menguasai bibir Anastasya. Menciumnya dalam dan mengabsen seluruh isi rongga mulut perempuan yang sudah menjadi miliknya kini.


Ciuman itu terhenti saat Anastasya memukul pelan dada Ken, pertanda jika gadis itu kehabisan nafas. Ken menyerigai tipis saat melihat sang istri gelagapan dengan bibir mulai membengkak akibat kebuasannya.


"Sayang, aku ingin melakukannya. Maukah kau melayaniku?" Saat bertanya pun Ken sudah mulai melepas gesper dan juga kemejanya.


Anastasya hanya menelan salivanya susah payah. Tahu akan maksud suaminya. Membuat gadis itu mengangguk tanpa menjawab.


Ken yang memang sudah terdorong hawa nafsu itu lekas membopong tubuh Anastasya dan merebahkannya dengan hati-hati di atas ribuan kelopak bunga mawar yang bertebaran di ranjang.


Dengan satu kali tarikan, piyama mandi Anastasya terbuka. Gadis itu terbelalak saat Asetnya mulai terpampang nyata di hadapan suaminya. Gadis itu pun merasa malu dan reflek hendak menutupnya dengan tangan, akan tetapi Ken lebih dulu mencegahnya.


"Biarkan seperti ini, aku ingin menikmatinya. Bukankah kita sudah halal?"


Ucapan Ken membuat Anastasya tertegun. Benar juga, diri dan tubuhnya kini sudah menjadi hak milik suaminya.


Jari telunjuk Ken mulai menjalar di leher dan seluruh permukaan tubuh Anastasya. Menciptakan sensasi geli dan membuat gadis itu bergetar menahan gejolak rasa.


Setelah tangan, kini bibir Kenlah yang beraksi. Menciumi leher jenjang bahkan sesekali menggigit kecil hingga membuat gadis di dalam kungkungannya itu tersentak.


Diliputi gejolak yang sama, tanpa sadar Anastasya membuka kancing kemeja Ken dan melepaskannya. Begitu pun celana bahannya yang terlempar begitu saja, hingga menyisakan boxer saja. Tak mau kalah, Ken menyibak dan membuang satu-satunya kain penghalang yang melekat di tubuh sang istri. Hingga gadis di bawahnya itu kini polos tanpa sehelai benang pun.


Ken merengkuh tubuh Anastasya erat dan memberikan sentuhan yang membuat gadis itu nyaman sebelum melakukan proses penyatuan. Desahan lirih samar terdengar dari bibir mungil Anastasya. Membuat Ken kian bersemangat untuk berpacu mencari titik kenikmatan menuju nirwana.


Ken sempat dibuat terkejut dengan sempitnya mahkota milik sang istri. Sedangkan ia tau jika Anastasya sudah pernah melahirkan.


"Kau begitu sempit, sayang," ucap Ken disela penyatuan dan rasa nikmat.


Anastasya tentu bisa mendengarnya meskipun ia tengah terlena oleh permainan pria di atasnya.


Tentu saja. Aku hanya melakukannya satu kali dengan rangga. Melahirkan Abigail pun lewat operasi cecar dan bukan jalan lahir. Jadi wajar saja jika mahkotaku masih sempit.


Ken bagai tak kenal waktu dan terus berpacu. Sementara Anastasya dibuat kewalahan dan tak mampu mengimbangi permainan. Entah berapa kali pelepasan itu terjadi, hingga tubuh besar Ken ambruk di samping Anastasya yang sudah tak berdaya.


"Terimakasih sayang. Aku mencintaimu." Ken mencium puncak kepala Anastasya, memeluknya erat sebelum tertidur dengan pulasnya.


Anastasya yang sudah setengah tak sadar itu sempat melirik kearah pria tampan di sampingnya. Baru malam inilah ia bisa merasakan indahnya malam pengantin sebagaimana impian setiap perempuan.


Dicintai, disayangi, saling memberi dan juga menerima.


Bersambung...


Maaf ya, kak Autor bikin yang sedikit panas. Mengingat ini momen malam pertama yang sesungguhnya bagi Anastasya😆😆😄

__ADS_1


__ADS_2