
Sudah tak terhitung berapa kali Zara mengarahkan pandangannya pada Jam yang tertempel di dinding. Ini bahkan sudah larut malam dan Arka masih belum pulang. Kecemasan lagi-lagi melanda. Ini bahkan bukan hari pertama suaminya itu pulang menjelang pagi buta, dan ini di luar dari kebiasaan selama mereka membangun biduk rumahtangga.
Gadis mungil dengan perut membuncit itu merebahkan diri di atas ranjang, pasrah.
Pernah suatu ketika, saat malam ia sengaja menghubungi sekertaris suaminya di kantor. Bukannya tak percaya, ia hanya ingin memastikan. Ponsel suaminya dan juga Sam sangat sulit dihubungi, hingga menanyakannya pada sekertaris suaminya, mungkin akan membuat rasa cemasnya mereda.
Akan tetapi, bukanlah jawaban memuaskan yang ia dapat, melainkan rasa kecewa hingga akhirnya membuat gadis itu menangis dalam diam.
Arka dan Sam bahkan sudah tak berada di kantor sedari sore. Sedangkan sekertaris itu mengatakan jika tak ada agenda kerja atau meting diluar kantor atau pun luar kota.
'Lalu kemana perginya mereka'.
Sebagai seorang istri, Zara sendiri sejujurnya tak ingin berburuk sangka. Tetapi karna kondisi kehamilannya yang membuatnya sering kali di landa kecemasan berlebih dan juga perubahan mood yang membuatnya kerap menangis meski secara sembunyi-sembunyi.
Sudah selarut ini bahkan netranya masih sulit terpejam. Ingin rasanya keluar kamar. Tetapi bisa dipastikan jika orang seisi rumah sudah terlelap, dan Rumi sang ibu pun juga pasti sudah meringkuk dan terlelap dengan nyaman dalam di kamarnya.
Zara menghela nafas dalam. Ia bahkan tak merasakan kantuk sedikit pun. Disela kegalauan, ia hanya bisa berguling ke kanan dan kiri dengan tubuh terlilit selimut tebal.
Tak berselang lama, terdengar pintu kamar terbuka samar. Zara yang masih terjaga itu, spontan memejamkan netra, berpura-pura tidur.
Sebisa mungkin ia menetralkan detak jantung dan deru nafas, agar tak menimbulkan kecurigaan.
Lanngkah kaki terdengar mendekat, semakin mendekat kearah ranjang hingga benda kenyal mendarat di keningnya. Ya, kecupan selamat datang, yang tak pernah Arka lupakan.
Tak ada sepatah kata yang terucap. Pria itu pun bangkit, kemudian menuju ke kamar mandi. Saat memastikan jika suaminya benar-benar pergi, Zara membuka netranya.
Gadis itu menghela nafas dalam. Tidak seharusnya ia berpura-pura tidur seperti ini. Bukankah ia harus bangun dan menyambutnya?
"Sepertinya aku harus membuat minuman hangat." Bergegas menuruni ranjang, Zara lekas keluar kamar untuk menyiapkan teh hangat untuk suaminya.
Rasa cemas itu masih ada, keraguan pun juga terlihat nyata. Mungkinkah, ia kini sudah mulai terlupakan?
__ADS_1
Segelas teh hangat tersaji di atas meja kaca. Sementara Zara memilin jemarinya, menunggu suaminya muncul dari ruang pakaian.
"Sayang, kenapa kau bangun?" tanya Arka yang baru saja muncul dengan piyama tidurnya.
Gadis itu tersenyum tipis.
"Aku hanya ingin menyambut suamiku, dan membuatkan minuman hangat ini untukmu."
Arka tersenyum lebar. Ia pun mendekat dan duduk di samping istrinya.
"Maaf sudah membangunkanmu. Pekerjaan di kantor yang menumpuk begitu menyita waktuku. Yah, hingga aku harus rela pulang selarut ini." Bukan larut lagi, lebih tepatnya menjelang dini hari.
Arka mencium sekilas bibir istrinya, kemudian mengusap perut buncit itu dengan lembutnya.
Zara tersenyum samar, namun tidak dengan hatinya.
Apa? Kau bilang pekerjaan kantor yang menumpuk? Sekertarismu bahkan mengatakan jika kau pulang sejak sore dan tak ada jadwal pekerjaan apa pun di luar kota. Apa ini? Apa sekarang kau mulai tak jujur padaku?
Zara menatap sesosok pria tampan itu yang kini tengah meneguk minumannya dalam. Kini mereka bahkan jarang memiliki waktu untuk berdua.
"Sayang, kenapa menatapku seperti itu?"
Zara lekas mengalihkan pandangan, berusaha menutupi kesedihannya.
"Tidak apa-apa sayang, aku hanya mengantuk saja."
"Benarkah?" Ada sedikit keraguan dari nada bicara Arka. "Jika seperti itu, tunggu apa lagi. Ayo kita tidur," sambung Arka.
Zara merasa adanya perbedaan dari perlakuan suaminya kini.
Kau benar-benar tak peka, sayang. Apa kau benar-benar tak lagi memperdulikanku sekarang.
__ADS_1
Pria itu pun bangkit, dengan mengandeng tangan istrinya. Mereka berdua menuju kearah ranjang.
Zara masih terdiam, ia sesekali menatap sang suami yang mulai merebahkan diri dan mulai memejamkan kedua netranya.
"Sayang, tidurlah. Aku juga sangat lelah dan mengantuk."
Gadis itu pun menghela nafas dalam. Tubuh mungilnya mulai menaiki ranjang dan memposisikan tubuhnya untuk lebih mendekati suaminya.
"Kemarilah," titah Arka dengan masih memejamkan netra namun kedua tangannya meminta Zara untuk mendekat.
Tak menolak. Gadis itu pun mengeser tubuhnya untuk mendekat kemudia mendekap tubuh kekar suaminya.
Dengkuran halus mulai terdengar. Pertanda jika pria tampan itu sudah terlelap. Zara pun memberanikan diri untuk merebahkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
Ia merindukan saat-saat seperti ini. Keromantisan dan kasih sayang yang kini mulai jarang didapatkan. Tak terasa bulir bening pun menitik. Semakin lama hingga membasahi t-shirt yang dipakai Arka.
Zara tetap menyembunyikan tangisnya, namun bulir bening terus saja luruh dari sudut netranya. Gadis itu rupanya tak menyadari jika ada seseorang yang mampu merasakan hangat nya air kesedihan yang tertumpah dibadannya.
Seseorang itu menyerigai tipis. Ingin rasanya memeluk dan mengusap tangis gadis itu. Tetapi sekuat tenaga ia tahan.
Bersambung..
Like
Vote
Komen
Komen
Komenππππ
__ADS_1