
Jika ada yang bertanya, siapakah sosok pria yang paling berbahagia, maka Sam-lah jawabnya. Pria itu dengan penuh semangat mengurus semua persiapan pernikahan. Mulai dari gedung, hotel, desainer, bahkan ketring pun ia sendiri yang turun tangan untuk mengurusnya langsung.
Bukan tanpa alasan Sam melakukannya. Baginya, momen sakral ini akan menjadi yang pertama dan terakhir untuknya. Cukup sekali terjadi di dalam hidupnya. Maka dari itu, ia terjun langsung guna mempastikan semua persiapan berjalan sesuai dengan impiannya.
"Apa aku boleh ikut," ucap Kiara memelas saat gadis itu merengek ingin melihat langsung gendung di mana resepsi akan digelar.
"Tidak boleh, sayang. Jika kau melihatnya sekarang, maka bukan kejutan namanya." Sam menatap sang kekasih yang menekuk wajah. Refleks pria tampan itu mencubit gemas pipi berisi sang kekasih hingga gadis itu mengaduh.
"Sakit, kak," ucap Kiara lirih.
Sam tergelak, kemudian mengusap pipi Kiara yang memerah bekas cubitannya.
"Maaf sayang."
Sam menatap sekeliling ruangan toko bunga. Tempat itu masih ramai seperti biasanya.
"Aku sudah meminta izin pada nona, dan hari ini adalah hari terakhirmu bekerja di toko bunga ini." Sam menatap sang kekasih lekat, terlihat gurat kesedihan di wajah gadis manis itu. Sam memang memiliki permintaan khusus pada Kiara selepas mereka menikah. Kiara tak boleh lagi bekerja, dan hanya melayaninya sebagai seorang istri di rumah. Meski cukup berat, akan tetapi gadis itu menyanggupinya. Baginya, selepas menikah maka perempuan wajib melayani dan menjalani kodratnya sebagai seorang istri dan ibu bagi putra putrinya kelak.
"Iya, kak."
"Apa kau sudah makan?" Sam menyelipkan sulur anak rambut kebelakang telinga Kiara.
Gadis itu menggeleng.
"Ayo Kita cari makan di luar, sekalian mengantarmu pulang."
__ADS_1
Kiara mengangguk, ia memasuki toko lebih dulu untuk mengambil tas dan juga berpamitan pada rekan-rekannya. Rasanya cukup berat, mengingat di tempat inilah satu-satunya tempat kerja yang menerimanya dengan hanya berbekal ijaza SMA.
Kiara lebih dulu memandang seluruh ruangan toko bunga sebelum meninggalkannya. Hanya helaan nafas yang terdengar. Tempat ini begitu memiliki banyak kenangan yang tak terlupakan. Tidak mudah baginya untuk melupakannya begitu saja.
"Sayang, ayo," panggil Sam saat Kiara masih tak jua bergerak. Tangan pria itu bahkan sudah terulur kearah sang kekasih.
Kiara melangkah mantap kedepan, meraih tangan besar Sam yang terulur kearahnya. Sam dengan penuh sayang menggengam tangan sang kekasih dan membawanya untuk memasuki kendaraan.
"Kau ingon makan apa?" tanya Sam beberapa saat setelah mengemudikan kendaraannya.
"Apa ya? Aku bingung."
Sam tersenyum simpul.
"Bagaimana jika memesannya lewat jasa online dan mengantarnya kekosan. Kita akan makan bersama. Dengan ayah, ibu dan juga adik-adik."
*****
Dengan beralaskan karpet, kini Sam bersama keluarga calon istrinya duduk melingkar sembari menikmati makan malam. Begitu banyak makanan yang pria itu pesan. Mulai dari makanan berat hingga camilan.
Canda tawa mengiringi makan malam yang tak terencana sebelumnya. Suasana hangat benar-benar terasa. Senyum kebahagian terhambar jelas di wajah mereka tanpa terkecuali.
Kiara berulang kali mengucap puja dan syukur dalam hati pada sang pencipta. Dengan melihat orang-orang yang ia sayang tersenyum senang, sungguh sudah menjadi kebahagian tersendiri untuknya. Terlebih kini sudah ada Sam, pria yang cintai, yang sudah mulai masuk kedalam keluarganya dan juga hatinya.
"Bagaimana makanannya, enak? Apa kalian suka?" tanya Sam pada adik-adik Kiara. Sesekali ia mengusap puncak kepala bocah-bocah itu secara bergantian.
__ADS_1
"Enak sekali Kak," jawab salah seorang adik Kiara dengan mulut penuh tersumpal makanan. Beberapa bocah lainnya pun serempak mengangguk, sebagai jawaban jika rasa makanan itu sangatlah nikmat.
"Nah, kalau begitu, habiskan semua. Jangan sampai ada yang tersisa," titah Sam.
"Baik Kak."
Orang tua Kiara menikmati pemandangan di hadapannya dengan penuh suka cita. Tak menyangka jika sang putri mendapatkan jodoh seorang pria berhati malaikat.
Sang ibu mencondongkan tubuhnya, untuk lebih mendekati Kiara.
"Nak, jagalah Nak Sam dengan sepenuh hatimu. Sayangi dan cintailah dia. Dia pria luar biasa baik yang bisa menerima semua kekurangan yang ada pada dirimu. Jangan pernah menyakitinya, karna surga istri ada di telapak kaki suami." Sang ibu berbisik lirih tepat di telinga putrinya. Sejejak ketulusan terpancar di wajah senjanya. Sebuah kalimat pesan yang akan mengiringi perjalanan biduk rumah tangga putrinya.
Kiara mengangguk mantap. Meski usianya tergolong muda, tetapi cara berfikirnya sudah dewasa. Dirinya tentu mampu memilah mana yang terbaik untuk hidupnya.
"Pasti bu, dan aku pun sangat mencintai Ka Sam."
Suasana malam hangat itu terus tercipta, hingga Sam memilih undur diri selepas selesai menyantap hidangan dan malam yang kian larut.
Dari pintu kosan, semua berbaris dan melambai kearah Sam yang tersenyum dan mulai menyusuri jalanan menuju keluar gang.
Aku benar-benar bahagia bersamamu, kak Sam.
Bersambung...
Maaf kakak-kakak, part ini cukup pendek. Dikarenakan ada kehidupan pribadi dari autor yang tak bisa ditinggalkan, maka sementara waktu novel ' Terjerat dua cincin sang CEO' akan jarang update.
__ADS_1
Terimakasih...
Salam peluk dan sayang bagi pembaca setia ' Terjerat dua cincin sang CEO' 😍😍😍😍