
Teriknya sang mentari menyinari seisi bumi. Udara panas yang tercipta mengiring manusia berperang denah peluh dan rasa lelah di badan selepas beraktifitas. Di sebuah gedung pencakar langit milik Atmadja group, para Karyawan terlihat berkejaran dengan waktu dalam merampungkan pekerjaan di qq masing-masing.
Bertempat sebagai kantor pusat, perusahaan yang bergerak dalam berbagai bidang itu terbilang cukup berkembang pesat di bawah kekuasaan Arkana Surya Atmadja selama beberapa tahun belakangan ini dan sudah mulai membah pasar internasional, memasuki beberapa negara tetangga.
Pria tampan berjas gelap itu mengoreskan penanya pada berkas terakhir yang berada di atas mejanya untuk ditanda tangani. Arka menyandarkan pungguhnya pada kursi kebesaranya. Ia sangat merasakan lelah hari ini. Bersedekap dada dan mendongak, menatap kosong langit-langit ruangan.
Seseorak membuka pintu ruangan CEO dari luar, yang tak lain ialah Sam, pengawal sekaligus asisten pribadinya. Pria itu mendekat dan menundukan kepala.
"Selamat siang, Tuan. Apakah anda menginginkan sesuatu. Makan siang sudah Koki siapkan di ruang sebelah."
Arka yang sedang menikmati posisi nyamanya, lekas menggeser pandang kearah sumber suara.
"Tidak ada. Kita akan makan siang lebih dulu." Sebelum melangkah dan meninggalkan ruangan, Arka menyempatkan diri menatap dan mengusap bingkai foto Zara yang berada di meja kerjanya. Tak ayal, gadis muda itu memiliki peran penting dalam merubah suasana hatinya.
Jika dulu ia sering menghabiskan waktunya dari pagi hingga tengah malam untuk mengurus semua pekerjaanya, tetapi tidak belakangan ini. Wajah dan senyum malu-malu sang istri, membuatnya tak tahan ingin segera pulang dan menghabiskan waktu bersamanya.
Arka beserta Sam melangkahkan kaki menuju ruangan sebelah yang biasa ia gunakan untuk makan siang atau pun malam disaat pekerjaanya tengah padat.
Dua orang koki menyediakan beberapa menu makanan yang mereka sajikan dengan sepenuh hati bagi pewaris Atmadja group itu.
Para koki yang dipekerjakan pun terbilang tak mengecewakan. Rasa dan penyajian makanan pun tak diragukan lagi untuk dapat menyajikan ribuan porsi makanan bagi seluruh pekerja dari berbagai divisi dan para petinggi perusahaan.
Kedua koki itu berdiri di sudut ruangan selepas memastikan hidangan dan beberapa pelengkap lainya sudah benar tersajai dan siap disantap oleh kedua atasannya itu.
Arka mulai menyuapkan sesendok makan kedalam mulutnya. Menikmati rasa makanan dari tangan koki yang beberapa tahun ini menyediakan sajian nikmat untuknya selama di kantor.
Pada suapan berikutnya, pria tampan itu tampak tak begitu menikmati seperti hari-hari biasanya. Hal tersebut tak lepas dari pandangan sang koki, kemudian membuatnya bertanya-tanya dalam diam.
Arka menyudahi makan siangnya. Menyeka sudut bibirnya dengan tisu dan meneguk segelas air putih dingin sebagai penutup. Bahkan Sam yang masih menikmati makanan pun seketika menghentikan suapanya dan berniat untuk menyudahinya meskipun perutnya belum benar-benar kenyang.
"Habiskan makananmu," titah Arka saat Sam hendak menarik selembar tisu.
"Tapi Tuan. Anda bahkan sudah selesai makan."
Arka mengulum senyum tipis di bibirnya. "Aku sedang tak berselera makan. Jadi aku hanya memakannya sedikit saja. Teruskan makanmu, dan aku akan menunggu."
Pria tampan itu memandang kembali pada hidangan yang terlihat mengiurkan di atas meja. Akan tetapi kenapa ia justru tak menikmati hidangan itu. Wajah kedua koki pun tampak kecewa, mungkin setelah menatap piring sang Tuan yang masih banyak menyisakan makanan.
__ADS_1
Kenapa aku tiba-tiba aku kehilangan selera makan.
Arka justru menginginkan makanan yang disajikan oleh Zara. Dari kemampuan, mungkin istrinya kalah jauh dari skil dan kemampuan koki yang bekerja kepadanya, namun setiap masakan yang diolah dari tangan Zara terasa begitu nikmat seolah tiada koki lain yang mampu menandingi rasa masakannya.
Haruskah aku membawa bekal yang dimasak langsung oleh Zara pada saat di kantor. Lalu apa kata para koki nanti, pasti mereka mengira jika aku tak menyukai hidangan yang mereka sajikan.
Arka terdiam sementara menunggu Sam menghabiskan makan siangnya. Hingga pria itu teringat akan sesuatu dan bergerak merogoh benda pipi di salah satu saku jasnya. Senyumnya mengembang saat ponsel sudah dalam gengaman. Mengusap layar dan menekan satu nomor kontak di dalamnya.
Sembari menunggu pangilanya terjawab, senyum di bibir pria tampan tak pernah pudar. Wajahnya pun tampak bersinar mengalahkan cahaya mentari.
"Halo, sayang. Kau dimana?" Terdiam, sementara memasang indra pendengarannya untuk mendengar suara di seberang.
"Apa kau sudah makan?" Satu tanggan menggengam ponsel dan menempatkannya di telinga, sementara tangan lainnya memainkan sendok bekas makan bahkan menggigit benda keras itu sesekali.
"Sudah, tapi aku merindukan masakanmu?" Mimik Arka berubah mengiba, begitu pun nada bicaranya.
"Baiklah, teruskan pekerjaanmu dan pulang lebih cepat. Masaklah untukku untuk makan malam, apa pun itu, aku pasti akan memakannya dengan lahap."
Tak berapa lama sambungan panggilan terputus. Arka masih tetap mengulum senyuman hingga benda pipih itu berlabuh kembali di dalam saku jasnya. Menatap kearah Sam, asisten pribadinya itu pun tampak sudah menghabiskan makan siangnya.
"Sam, ikut aku," titah Arka kemudian berjalan didepan dan Sam pun mengekorinya.
Sam pun menurut, dan menempatkan dirinya untuk duduk di hadapan sang Tuan dan hanya terhalang oleh meja.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, Sam." Ucapan Arka terdengar begitu serius begitu pun tatapannya.
"Tentang," jawab Sam menggantung.
"Menurutmu, apakah Zara bahagia hidup denganku?"
Sam seketika mengernyitkan dahi. Dia bahkan sama sekali tak memperhatikan Istri Tuannya secara dekat. Menurutnya, itu bukanlah hal yang penting mengingat jauh dari tanggung jawab pekerjaanya.
"Maaf, saya tidak tau pasti, Tuan."
Arka menghela nafas dalam, sedikit kecewa dengan jawaban orang terdekatnya itu.
"Apa kau sudah pernah mempunyai kekasih?"
__ADS_1
Sam lagi-lagi mengernyitkan dahi, pertanyaan selanjutnya malah semakin mengada-ada.
"Tidak Tuan." Sam menggeleng.
Astaga, dia bahkan belum pernah memiliki kekasih. Lalu bagaimana dia akan faham dengan pertanyaanku.
"Aku tak pernah mendapati Zara tertawa dengan lepas saat bersamaku. Hingga aku merasa jika masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan dia berusaha menutupinya dariku."
Sam yang sama sekali tak mengerti akan perihal asmara itu rupaya coba menelaah ucapan Tuannya. Keduanya tampak berfikir dan berusaha mencari jawaban.
"Apa mungkin tentang masa lalu atau pun keluarga Nona." Selepas bergulat dengan fikirnya, hanya itu kiranya yang terlintas di benak Sam.
Arka terdiam, kemudian mencermati jawabsn Sam dengan saksama.
"Mungkin jawabanmu ada benarnya. Apakah Zara merindukan orang tuanya, namun tak berani mengatakannya padaku. Bahkan, pernikahan kami pun, orang tua Zara tak mengetahuinya."
Arka menghela nafas dalam dan mengusap wajahnya. Apakah dirinya masih kurang peka pada keinginan orang yang dicintainya itu.
"Lalu bagaimana keadaan orang tua Zara saat ini, tetap baik-baik saja bukan."
Sam mengangguk. "Masih, Tuan. Kami tetap membeli hasil panen dengan harga tinggi. Nona Zara pun mulai mengirimkan uang untuk orang tuanya dari kartu yang Tuan berikan."
Pria tampan itu tersenyum tipis. "Berapa jumlah yang istriku berikan pada mereka?"
"Tidak banyak, Tuan. Nona pun hanya menggunakan uangnya hanya untuk mengirimkannya pada orang tuanya dan tidak untuk keperluan lain." Sam coba menjelaskan dari hasil kerja para bawahanya kurang lebih
dua bulan ini.
"Kenapa?" Arka ingin mengetahuinya lebih jelas.
"Nona Zara terlihat tak gemar menghamburkan uang sesuatu yang tidak penting. Menurut Bi Surti, Nona menikmati fasilitas dan semua pemberian Tuan dengan penuh syukur dan tak hentinya mengucap terimakasih. Bagi Nona Zara, semua yang Tuan berikan sudah lebih dari cukup."
Arka terenyuh, begitu mendengar kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir Sam tentang sang istri membuatnya terharu. Sungguh istri mungilnya itu ialah gadis yang sederhana. Walau bergelimang harta, namun tak merubah gaya hidupnya dengan bermewah-mewah.
"Apa kau tau, alasan Zara datang dari kampung hingga sampai kekota sebesar?"
Sam menganguk dan mulai menceritakan awal mula kedatangan Zara atas ajakan seorang teman. Bertemu Surti dan akhirnya menerima bantuan dari Anastasya kemudian bekerja di toko bunga milik istri pertama Arka tersebut.
__ADS_1
Lagi-lagi pria tampan itu terenyuh dan hampir berkaca-kaca. Tak mengira jika tubuh mungil itu mampu berjuang seorang diri untuk tetap bertahan hidup di kota besar. Semakin ia tau lebih dalam, semakin pula bertambah rasa cintanya pada gadis polos yang sudah mengetarkan hatinya hingga mencurahkan semua perasaan dan kasih sayang pada gadis mungil itu seorang.