
Usapan dan pijatan lembut tak terasa membuat sosok mungil dengan batal di atas paha sang suami membuatnya terlelap dalam. Arka pun hanya bisa memandangnya dan terlelepap seraya mendekapnya erat. Seolah tak ingin terpisahkan.
Beberapa jam kemudian gadis itu pun mulai terjaga. Menggeliat pelan dan berusaha melepaskan diri dari rengkuhan lengan kokoh yang membelenggunya. Gemuruh lirih menjadi pertanda jika perutnya tengah kelaparan.
Aku lapar.
Pandangan gadis itu pun tertuju pada mejakaca yang di mana letak minuman hsngat dan camilan pemberian surti beberapa waktu lalu.
Apa! Sudah tidak ada.
Akan tetapi tak ada apa pun yang tersisa di meja itu. Netranya pun bergerak memandang jam yang tertempel di dinding. Gadis itu pun hanya menghela nafas dalam, menemui fakta jika waktu sudah menunjukan pukul 04:00 pagi. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menatap nanar langit-langit kamar dan tentunya wajah tampan sang suami yang tengah terlelap damai.
Dekapan Arka membuatnya sulit untuk bergerak, namun juga terasa menghangatkan. Zara menatap wajah suaminya lekat secara lebih dekat. Kini berakhir pada tangan kokoh milik pria itu. Tangan mungilnya bergerak dan mengusap tonjolan otot di punggung tangganya. Gadis itu pun tergelak lirih saat membandingkan pungguh tanggan Arka dan miliknya. Ukuran tangannya begitu mungil, sedangkan milik sang suami cukup besar.
Zara berusaha melepaskan tautan tangan Arka satu sama lain. Ingin mengganti salah satunya. Menjadikan tangin mungil dan tangan besar itu terpaut menjadi satu. Akan tetapi, belum rencananya terwujud justru pria di sampingnya itu bergerak hingga membuka netranya.
"Kenapa sayang," ucap Arka dengan suara parau dan masih dalam keadaan setengah sadar.
Zara pun terbelalak dan melepaskan tangan yang sudah hampir terpaut.
"Ti-tidak, hanya ingin kekamar mandi sebentar." Zara berusaha mengatur wajahnya sesantai mungkin. Mungkin saja suaminya itu belum sempat melihat apa yang hendak ia lakukan tadi.
"Ingin aku bantu," tawar Arka yang sudah setengah bangkit dari rebahannya.
Zara pun lekas menahannya. "Tidak usah, sayang. Saya bisa sendiri. Anda tidurlah kembali."
Gadis yang masih mengenakan piyama handuk itu bergegas turun dari ranjang. Sementara Arka tak henti menatap hingga menghilang di balik pintu kamar mandi. Pria itu menguap beberapa kali, ia masih sangat mengantuk. Gemercik air mulai terdengar. Akan tetapi gadis itu tak menunjukan batang hidungnya hingga tiga puluh menit berselang.
Kenapa dia lama sekali.
Arka pun tak tahan menahan rasa kantuknya. Tubuhnya kembali berbaring, namun sekuat tenaga menahan netranya agar tetap terbuka. Usahanya pun sia-sia, netranya kini benar-benar terkatup rapat dan dengkuran halus pun mulai terdengar.
Zara yang sudah berpakaian itu keluar dari walk in closet dengan mengendap. Ia sengaja menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi untuk mengecoh sang sang suami. Jika dia keluar lebih cepat dan mendapati prianya masih terjaga, maka ia tak akan semudah itu bisa lepas. Arka sudah pasti akan kembali memeluknya hingga pagi menyapa.
Tetapi, kali ini situasinya berbeda. Gadis itu kelaparan dan melangkah tanpa suara menuju dapur. Seluruh ruangan masih gelap gulita dan belum satu pelayan pun tampak bekerja kecuali penjaga sift malam.
Zara dengan riang gembira membuka ruangan penyimpanan bahan makanan dengan suhu ruangan yang diatur sebaik mungkin. Netranya berbinar mendapati banyak sayuran dan daging segar tertata di sana. Maklumlah, Arka kini membatasi waktu dan pergerakannya di dapur. Tak seperti awal dirinya memasuki rumah megah ini.
Pekerjaanya yang cukup menyita waktu dan rasa lelah membuat pria itu faham benar. Hingga mengizinkan sang istri menyiapkan makanan untuknya untuk menu sarapan saja. Selebihnya, para pelayanlah yang mengambil alih.
__ADS_1
Aku pun hanya bisa menyajikan menu-menu ringan.
Begitu kiranya isi hati Zara. Dia hanya diperbolehkan memasak menu ringan seperti Sandwich, omelet, pasta atau sejenis menu ringan lainya untuk sarapan.
"Ini dia." Zara mengambil beberapa bahan untuk menu makannya. Dia menginginkan roti isi bertabur keju yang melimpah.
Tangangan mungilnya pun bergerak meraih beberapa peralatan dapur hingga menciptakan suara benturan yang membuat Surti seketika terjaga. Perempuan paruh baya itu pun tergopoh menuju arah dapur tanpa lebih dulu membasuh muka.
"Nona, biar saya saja yang menyiapkan." Surti sudah hendak mengambil alih teflon dari tangan Zara.
"Tidak perlu Bi. Aku ingin memasaknya sendiri." Zara menolak kemudian mendorong pelan tubuh surti dan memintanya untuk duduk. "Bibi cukup temani aku saja di sini."
Surti hanya bisa membiarkan nonanya melakukan apa yang diinginkan. Ia hanya menatap punggung mungil dengan tangan bergerak mengupas dan memotong bahan masakan.
Zara memasukan bawang putih di dalam minyak panas hingga keemasan kemudian mencampurkan telur beserta daging cincang dan beberapa saus untuk menabah cita rasa. Aroma sedap menyeruak. Zara semakin tak sabar untuk menyantapnya.
"Kita panggang rotinya." Di dalam pan yang lain Zara memangang roti yang sudah terlebih dulu dilumuri dengan adonan telur kocok. Tak tanggung-tanggung, melihat Surti yang tengah menemaninya membuatnya bersemangat dan mengolah makanan yang cukup untuk disantap bersama.
Roti panggang berlumur telur dengan isian daging cincang dan parutan keju tersaji dalam dua piring makan. Zara dengan senyum mengembang mengulurkan satu piring lainya pada Surti.
"Bibi, ayo makan. Temani aku." Zara duduk di dehan Surti dengan meja makan sebagai pembatas.
"Terimakasih, nona. Bukan maksud untuk menolak, hanya saja saya sedang tidak lapar."
Surti lagi-lagi menggeleng. "Maaf, nona. Saya sudah bisa merasakan betapa nikmatnya masakan yang anda buat hanya dari aromannya. Hanya saja, saya memang tidak bisa makan sepagi ini." Meski merasa bersalah namun Surti tidak ingin berdusta. Ia memang tidak pernah bisa mengisi perutnya dengan makanan berat sepagi ini.
"Baiklah, aku mengerti. Temani aku saja di sini." Zara mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya dengan lahap.
"Anda ingin minum sesuatu?" tawar Surti.
"Buatkan susu hangat saja."
Surti bangkit dari duduk dan dengan cekatan meracik susu hangat untuk nonanya. Kemudian menaruhnya di hadapan gadis yang tampak menikmati hasil masakannya.
"Hem, enak sekali," puji Zara pada roti isi buatannya sendiri. Hingga roti di piring itu pun tandas tak tersisa.
Hah, rotinya sudah habis sementara aku masih lapar.
Zara menghela nafas dalam dan menatap nanar piringnya yang kosong. Kemudian melirik piring bagian Surti yang tak tersentuh. Secara kebetulan Surti pun tengah menatapnya.
__ADS_1
"Nona bisa memakannya jika masih lapar." Surti menggeser piring tersebut hingga kehadapan Zara.
"Benarkah?"
"Tentu saja, Nona."
Zara tampak berbinar dan malu-malu mengambil sepotong roti isi kemudian menggigitnya. Terus hingga piring kedua pun tandas tanpa sisa.
Gadis itu pun tergelak dan merasa tak percaya sudah mampu menghabiskan begitu banyak makanan untuk tubuhnya yang mungil.
"Aku kenyang sekali." Zara mengusap perut ratanya yang sedikit melar setelah diisi.
"Bibi, ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan."
"Tentang apa nona?" Seketika ketidak nyamanan tampak menyergap Surti. Ia yakin, setiap pertanyaan yang nona lontarkan padanya bukanlah sesuatu yang main-main.
"Di mana Nona Anastasya? Sudah beberapa hari aku tidak melihatnya," tanya Zara sembari menatap lekat Surti.
Surti menelan ludahnya kasar, inilah yang sebenarnya ia takutkan.
"Saya tidak tau nona."
"Bibi pasti berbohong jika mengatakan tidak mengetahui di mana keberadaan Nona Anastasya saat ini. Karna setauku, di rumah ini hanya bibi lah orang yang paling dekat dengannya."
Perempuan paruh baya itu terdiam. Bingung harus menjelaskannya dari mana.
"Nona Anastasya memang sempat mengatakan pada saya jika ingin berlibur dan menenangkan diri di Villa milik Tuan yang berada di tepi pantai." Surti akhirnya membeberkan sebuah fakta sebenarnya. Berbohong pun percuma, Nonanya tentu sudah mampu menebak.
Villa di tepi pantai? Apakah Villa yang pernah kami kunjungi saat awal menikah dulu.
"Kenapa Nona tidak memberitahukannya padaku?"
Surti dengan susah payah menghilangkan ketegangannya untuk berusaha terlihat sesantai mungkin.
"Nona mungkin tidak sempat mengatakannya."
"Tidak sempat atau berusaha menghindar?" ucapan telak yang terucap dari bibir mungil Zara hingga mampu membuat Surti menegang.
"Ti-tidak, Nona. Pasti maksud Nona Anastasya tak seperti itu."
__ADS_1
"Aku lelah jika selamanya harus seperti ini, Bi." Gadis mungil itu berucap pasrah. "Aku sendiri merasa tak nyaman dengan posisiku saat ini. Andai bisa memilih, aku lebih menginginkan kembali pada orang tuaku di kampung dari pada hidup bergelimang kemewahan di atas penderitaan orang lain."
Surti merasa tenggorokannya tercekat. Bibirnya membungkam seketika. Akan tetapi batinnya ikut merasakan kesedihan, seperti apa yang tengah nonanya rasakan kini.