
Tak ada lagi yang Anastasya lakukan selain menghindar dan menyendiri. Gadis tinggi semampai itu kembali mengunjungi Villa seorang diri. Hanya ada beberapa pelayan tetap di tempat itu yang bertugas untuk menjaga dan membersihkan area sekitar Villa.
Sesekali dirinya masih menyempatkan diri untuk pulang, sekedar untuk mengurus perceraian yang sudah mulai memasuki proses persidangan. Anastasya tetap kekeh pada keputusannya. Bahkan tahap mediasi pun tak membuat gadis itu berubah fikiran dan tetap mengingkan perceraiannya dengan sang suami.
Toko bunga pun sudah ia titipkan pada Zara. Anastasya memang engan secara langsung mengucap keinginannya untuk memberikan usahanya tersebut pada Zara, mengingat jika gadis mungil itu sudah pasti akan menolaknya. Ia ingin keluar dari hidup Arka tanpa membawa apa pun. Termasuk uang atau segala macam benda yang pernah suaminya itu berikan.
Anastasya yang baru muncul dari kamar mandi itu mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. Ia mengosok surai basahnya dengan handuk kering. Netranya menatap benda pipih di atas meja nakas yang berkedip. Diraihnya benda bernama ponsel itu dengan jemari lentiknya.
Beberapa panggilan masuk dan pesan tertera di layar ponsel berwarna silver itu. Akan tetapi kontak yang tertulis takt tersimpan dalam daftar kontak.
Gadis itu berfikir sejenak, kiranya siapa pemilik nomor yang beberapa kali berusaha menghubunginya. Hingga dengan cepat ia membuka pesan yang masuk keponselnya.
Masih dengan tanpa nama pengirim pesan. tetapi, wajah Anastasya mulai berubah saat membaca isi pesan dari sang pengirim.
Asalamualaikum Tasya..
Bagaimana kabarmu. Aku berharap semoga kau selalu dalam lindungannya.
Gadis itu pun menegang selepas membaca isi pesan. Dirinya mampu menebak siapa sosok si pengirim pesan meski tanpa menyebut nama.
Ta-tasya, dia memanggilku dengan sebutan Tasya.
Anastasya lekas melemparkan ponselnya keatas ranjang begitu saja.
Tidak. Ini tidak mungkin.
Seketika tubuhnya lunglai dan terduduk di lantai. Dia mengacak surainya kasar, merasakan frustrasi. Nyatanya, seseorang yang memangilnya dengan sebutan Tasya, tak lain ialah Rangga.
Tasya adalah panggilan kesayang Rangga untuk Anastasya. Bahkan Arka pun tak pernah memangilnya dengan nama itu.
"Tidak!!" teriak Anastasya sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Bagaimana pun, sosok sandi yang kembali datang seperti mengobrak abrik luka lama yang mulai tersembuhkan. Akan tetapi, kenapa dirinya justru hadir kembali.
Ponsel itu kembali meraung menandakan panggilan masuk. Anastasya engan bangkit dari posisinya. Dirinya tau, siapa seseorang yang tengah menghubunginya.
Bertubi-tubi dering pangilan masuk, tak membuat Anastasya goyah. Kembalinya Rangga, hanya mengingatkan Anastasya pada pengkhianatan dan sakit hati.
Jangan coba-coba kembali jika hanya untuk menyakitiku kembali, Rangga. Aku bahkan ingin memulai rencana hidup, yang sudah kususun dengan matang. Aku harap, kau tidak akan datang dan menghancurkan hidupku kembali.
Anastasya mengepalkan kedua tangan. Berusaha meyakinkan diri untuk bisa menata hidupnya kembali. Setelah ini, Arka ataupun Rangga hanyalah masalalu, yang tanpa sengaja datang dikehidupannya.
******
Hari yang terasa melelahkan bagi Zara. Selepas seluruh karyawan pulang, gadis itu masih berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang menunggunya. Ia pun hanya bisa menghela nafas dalam, saat menatap ruang kerja kosong di sampingnya. Kursi dan meja itu telah di tinggalkan Anastasya kurang lebih satu minggu yang lalu. Zara pun tak tau pasti apa alasannya, Anastasya hanya meminta Zara untuk mengantikan tugasnya selama dirinya tak ada.
Satu persatu pekerjaan, mulai Zara selesaikan. Arka sebenarnya melarang sang istri untuk beraktivitas di luar rumah sementara waktu untuk menjaga kehamilan mudanya. Akan tetapi, pekerjaan ini tak bisa ia tinggalkan begitu saja.
"Huuuhh." Helaan nafas terdengar. Gadis mungil itu menyandarkan punggungnya pada kepala kursi. "Alhamdulilah, selesai juga." Tubuh lelah itu mulai bangkit. Meregangkan otot tubuh yang kaku dan mengemas barang-barangnya untuk kembali pulang.
Memang beberapa penjaga keamanan selalu bersiaga, namun ia tak ingin terus bergantung selama masih bisa melakukannya tanpa bantuan orang lain.
Di luar sudah nampak gelap, senja sudah kembali keperaduan. Zara menarik pintu kaca depan toko dan dibantu beberapa penjaga. Setelah memastikan terkunci rapat. Gadis itu meminta penjaga kembali untuk menaeik roling door supaya lebih aman.
Zara menatap arloji yang melingkar ditangan, ini sudah menjelang malam, tetapi baik Sam atau pun Arka tak terlihat menjemputnya. Gadis itu mulai meninggalkan area toko bunga dengan berjalan. Perutnya pun terasa lapar. Beberapa pedagang makanan di pinggir jalan telihat berjajar menjajakan berbagai macam makanan. Aroma semerbak menyebar kemana-mana.
Gadis penyuka makan itu tak mampu lagi menahan godaan. Semua makanan seolah melambai kearahnya. Meminta satu persatu untuk gadis itu makan.
Zara pun mendekat., Tidak ada salahnya jika mengisi perut sembari menunggu sang suami datang menjemput. Akan tetapi, baru berjalan beberapa langkah, lengannya justru di gengam seseorang dan menariknya secara paksa.
Sebelum Zara berteriak, seseorang tersebut lebih dulu membekap mulutnya. Gadis itu terkesiap saat tubuh mungilnya perlahan ditarik kesebuah tempat sepi dan sempit. Ingin rasanya berontak, namun tubuh mungilnya kala telak dari seseorang yang sedang menahannya.
Zara hanya mampu berteriak dalam bekapan. Kemudian berhasil menggigit tangan seseorang itu hingga bekapan di mulutnya pun terlepas.
__ADS_1
"Aaawwww," pekik seseorang yang berhasil menarik Zara.
"Siapa kau, apa maumu?" Meski dalam keadaan remang-remang, Zara memberanikan diri untuk mengetahui wajah sang pelaku. Mungkin seseorang tersebut telah mengatur semua dengan sebaik mungkin. Masker dan jaket dengan penutup kepala, membuat wajah orang itu tak terlihat.
"Hahaha.." Gelak tawa membahana di ujung gang sempit nan sepi. Seseorang itu mulai membuka masker dan penutup kepala hingga terlihat seluruh bagian wajahnya.
"Mauku, adalah kamu," ucap seseorang itu masih dengan diselipi tawa.
Ka Sandy
Tubuh Zara menegang. Peluh dingin mulai bercucuran. Ia mulai mundur dan memilih jalan untuk kabur. Akan tetapi, keadaan gelap dan gank sempit membuatnya kesulitan.
"Jangan berfikir untuk bisa kabur lagi dari hadapanku Zara. Kau miliku, selamanya tetap miliku. Tidak ada siapa pun yang boleh memilikimu selain aku." Sandy mulai mendekat.
"Jangan mendekat!" Tolak Zara. "Berhentilah mengincarku kak. Buang semua obsesimu itu. Kak Sandy bahkan sudah memiliki Kiara." Zara terus berusaha mundur, namun punggungnya kini sudah membentur dinding hingga tak mampu lagi bergerak.
Melihat Zara sudah sangat terhimpit, membuat Sandy semakin terbahak. Dia teramat senang.
"Aku tak perduli akan obsesiku. Aku juga tak perduli jika kau tak mencintaiku. Yang aku inginkan hanyalah menjamah tubuhmu." Sandy mulai mendekat dan semakin dekat.
"Stooop.., berhenti." Zara menggunakan kedua tangannya untuk menghalau Sandy yang kian mendekat. Bahkan tangan Sandy mulai menyentuh kulitnya.
"Menyentuhmu seperti ini, sayang." Tangan Sandy mulai bergerak. Meraba kedua tangan Zara meski gadis itu berusaha melawan.
"Berhenti Kak. Aku mohon, menjauhlah dariku. Tolongggg...."
Zara berteriak sekencang mungkin dengan sisa tenaga yang ia punya. Berharap akan ada seseorang yang membantunya.
"Hahahaha.... berteriaklah sekencangmu Zara, tapi sayangnya itu akan sia-sia. Sebab tak akan ada seseorang pun yang mau menolongmu."
Sandy kian merapatkan tubuh. Berusaha untuk mencium wajah Zara. Zara yang sudah naik pitam itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meloloskan diri. Berusaha memukul, atau pun menendang. Akan tetapi, semuanya percuma. Zara hanya bisa pasrah saat seluruh tenaganya terkuras habis dan tak ada seseorang yang menolongnya.
__ADS_1