
Untuk sejenak perempuan paruh baya yang sudah menginjak usia kepala lima itu menghentikan kisah masa lalu yang coba ia buka kembali pada salah satu menantunya. Jika menilik dari kepribadian Zara yang apa adanya dan dewasa, Mirah meyakini jika gadis tersebut mampu menerima masa lalu sang suami dan tetap akan mencintainya hingga maut memisahkan.
Tatapan netra sayu itu kini tertuju pada bingkai foto keluarga, dimana suami dan kedua putra putrinya tengah tersenyum bahagia.
"Zara, apa kau lihat," ucap Mirah meminta gadis mungil yang duduk di sisinya untuk menatap kembali sebuah foto di dinding. "Bukankah keluarga kami terlihat bahagia dan sempurna?" Menggeser pandang, memasang ekspresi wajah memohon pada sang menantu untuk sudi mengiyakan ucapacannya.
Spontan gadis bernetra bulat itu menganguk kuat. Berusaha untuk tak mengecewakan sang Ibu mertuan. Akan tetapi begitulah adanya, keluarga suaminya begitu terlihat bahagia dan sempurna.
Mirah tersenyum tipis, yang kemudian berubah sendu. Wajah yang sempat terlihat cerah, kini mendung seketika.
"Tapi itu dulu, sebelum yang maha kuasa memberikan cobaan terberat untuk keluarga kami?" ucap Mirah dengan netra berkaca-kaca.
"Maksud Ibu?" Zara berpura-pura tak mengetahui apa pun, walau dirinya sempat mendengar dari Bi Surti jika suami dan putri mertuanya itu telah meninggal.
"Arina, putriku atau adik iparmu sudah meninggal tiga tahun silam. Disusul suamiku, atau Ayah mertuamu beberapa bulan kemudian." Isak lirih mulai terdengar dari bibir perempuan paruh baya yang terlihat tegar itu.
Zara yang bisa merasakan kesedihan mendalam itu hanya bisa mengusap pungung Mirah lembut. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi Bu?" Keingin tahuan Zara kian tak terbendung. Sebenarnya seperti apa kisah masa lalu keluarga sang suami yang sudah terjadi beberapa tahun lalu. Adakah tragedi besar yang sempat memporak porandakan keluarga bahagia ini?
Mirah menghela nafas dalam. Berusaha kuat dan menyeka sisa-sisa bulir bening yang membasahi wajahnya.
"Jika melihat dirimu, aku seperti melihat sosok putriku hidup kembali. Kepolosan, tutur kata, dan wajah manismu mengingatkan semua pada Arina."
Mirah menatap nanar bingkai foto keluarga, di mana wajah ceria sang putri tergambar jelas. "Dia gadis yang sangat penurut, manja, namun juga cerdas. Setelah Arka, dia menjadi kebanggaan dan harapan terbesar kami. Semua yang Arin inginkan, sebisa mungkin kami penuhi. Tanpa sadar, semua itulah yang menjadi bumerang bagi kami karna sudah terlalu memanjakannya."
__ADS_1
Mirah menatap sejenak gadis mungil di sampingnya. Gadis itu terlihat antusias mendengar curahan hati yang tak pada sembarang orang bisa ia ungkapkan.
"Lalu," tanya Zara kemudian.
"Kami memang memanjakannya, namun kami juga sangat membatasinya untuk keluar rumah dan bergaul dengan sembarang orang termasuk teman sebayanya. Arin memang Ibu bebaskan untuk mengenyam pendidikan di sebuah sekolah internasional dan tanpa metode home scholing. Berharap, ia tak terlalu bosan dan memiliki teman di lingkungan sekolah. Akan tetapi, tanpa sepengetahuan, Arin justru menyalahgunakan sedikit kebebasan yang kami berikan. Arin yang jujur dan polos, semakin pintar berbohong dan berkilah." Mirah terlihat meluap-luap mencurahkan semua kekecewaan dan penyesalannya.
"Pada usia berapa tahun, Arina meninggal Bu?"
Sembari menghela nafas dalam dan masih sesegukan, Mirah melanjutkan kembali kisah yang sempat terputus.
"Delapan belas tahun, sama seperti usiamu sekarang, Zara. Dia semakin pintar mencuri waktu dan menyelinap dari para pengawal dengan berbagai alasan hanya untuk menemui seorang pria yang ia sukai. Aku sadar putriku sudah tumbuh besar, dan mulai memiliki ketertarikan dengan lawan jenisnya. Tapi aku menolak tegas keinginan dan tak mengizinkannya memiliki hubungan dengan pria manapun sebelum dia lulus kuliah. Karna apa, karna kami juga memiliki harapan besar padanya untuk bisa mewarisi usaha Ayahnya seperti sang Kakak."
Tuntutan, dan tanggung jawab besar. Mungkin itu yang menjadi beban bagi gadis yang masih menginginkan kebebasan seperti Arina yang mulai menginjak dewasa. Begitu yang difikirkan Zara. Tak seperti dirinya yang hanya berasal dari keluarga petani. Bebas berjalan kemana pun sesuai keinginannya selama tak menyalahi aturan.
"Arin, gadis polos dan sangat penurut itu kini berubah drastis. Menjadi pembangkang dan susah diatur. Aku dan mendiang Ayahmu dibuat kewalahan. Begitu pun para pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya. Mereka kalang kabut dan kerap mendapati Arina lolos dari penjagaan dan kabur entah kemana. Arka yang mengurus bisnis Ayahnya di luar pulau pun tak mampu menjaga Adiknya di tegah tugas yang sudah dilimpahkan Ayahnya. Puncaknya pada malam setelah kelulusan, Arina kabur dengan pria itu dan menginap di sebuah hotel. Hingga sesuatu yang sama sekali tak diinginkan itu terjadi." Bongkahan timah panas serasa menyiram wajah Mirah. "Putriku hamil, aku merasa gagal menjadi seorang Ibu." Menangis tersedu, Mirah memeluk dan menumpahkan buliran beningnya di pundak Zara. Tangisan pilu yang begitu menyayat hati. Gadis mungil itu pun tak kuasa dan terbawa suasana. Hingga keduanya berpelukan dengan raungan suara dalam ruang kedap suara yang tak dapat didengar oleh siapa pun terkecuali dua insan yang tengah berpelukan penuh haru itu.
"Apakah pria yang sudah menghamili Arina mengetahui semuanya dan bersedia untuk tanggung jawab?"
Mirah terdiam sejenak, berusaha mengingat kembali kejadian pada waktu itu.
"Pada awalnya kami hanya diam, dan menunggu itikat anak itu untuk meminta maaf pada kami dan bertanggung jawab atas perbuataannya. Jujur, saat mengetahui Arina hamil, Ibu sangat membenci pria yang sudah menodai putriku." Kebencian masih terpatri dengan jelas dari nada bicara Mirah.
"Zara tau Ibu, tapi--
__ADS_1
"Zara, pria sejati tidak akan pernah merusak gadis yang ia cintai. Apalagi tega menghamilinya di luar ikatan pernikahan. Jadi, aku pun tak meyakini jika anak itu benar-benar mencintai putriku."
Glek..
Zara menelan salivanya kasar.
Apa karna itu juga, sampai detik ini Tuan Arka belum pernah menyalurkan hasratnya padaku. Karna dia tidak ingin merusakku, sebelum aku benar-benar yakin dengan pernikahan ini.
"Akan tetapi keinginan kami tak sesuai harapan, anak itu dan seluruh keluarganya justru pindah kekota lain setelah beberapa jam kami mengatakan kabar kehamilan Arina. Hingga putriku frustrasi dan dilanda ketakutan luar biasa yang sulit ia terima dengan akal sehat. Kami pun berusaha tegar dan menerima semua yang terjadi dengan rasa ikhlas, berharap dapat mengurangi beban di pundak putriku. Tetapi cobaan lain justru datang kembali. Rasa bersalah, ketakutan, semakin berkacamuk didiri putriku. Dia berlari tak tentu arah, hingga sesuatu yang lagi-lagi tak kuinginkan kembali terjadi."
Zara mampu menebak ucapan Mirah selanjutnya.
"Putriku meninggal, kami menemukan tubuhnya dalam kondisi tak bernyawa. Itu lah guncangan besar dikeluarga kami yang membuat suamiku, Surya Atmadja yang merasakan dampak terbesar. Jika aku berusaha ikhlas, tegar, dan merelakan semuanya. Suamiku justru terpuruk dan membuat penyakit yang ia derita semakin memburuk. Hingga lima bulan berselang melawan segala rasa sakit dan semua duka, suamiku tutup usia dan itu menjadi guncangan terbesar yang mampu menghancur leburkan ketegaranku."
Mirah menangis, namun disela tangisnya ia tersenyum.
"Dan beberapa tahun ini, Ibu mulai menata kembali hidup yang sempat porak poranda. Arka pun demikian, bertahun-tahun ia coba menguatkanku sebagai anak sulung dan putraku satu-satunya. Walau sejujurnya ia pun merasakan hal yang sama denganku namun ia berusaha tetap terlihat tegar. Menjadi seorang anak sekaligus pengganti sosok Ayahnya di keluarga Surya Atmadja."
Wajah Mirah terlihat lega selepas menceritakan kejadian masa lalunya. Seperti meringankan sedikit beban di pundaknya.
"Keputusan Arka untuk menikahi Anastasya pun sejujurnya tak membuatku terkejut." Senyum samar muncul di bibir berpoles lipstik milik Mirah.
Zara hanya menautkan alis dan menyipitkan netranya. Gadis itu terlihat bingung.
__ADS_1
"Karna saat menemukan Anastasya, kondisinya tak jauh berbeda dengan Arina. Hamil dan putus asa. Itu sebabnya Arka menikahi Anastasya. Karna rasa penyesalan yang begitu besar pada sang adik, hingga menolong dan menikahi gadis yang bernasib sama dengan Arina, ia berharap mampu mengurangi sedikit rasa bersalahnya pada sang adik."
Mirah mengusap pipi putih Zara lembut. Mungkin dengan seperti ini, gadis mungil itu bisa merubah prasangkanya, jika Arka selama ini tak benar-benar mencintainya dan menikahinya atas dasar terpaksa.