
Berkat negosiasi yang cukup alot, akhirnya Zara bisa bergerak dengan bebas dan kembali merasakan ranjang empuk dikediaman suaminya. Meski awalnya Arka yang super overprotektif itu menolak keinginannya dan tetap memintanya untuk berada di rumasakit, namun berkat desakan dan rengekan dari gadis mungil itu, membuat Arka tak tega kemudian mengabulkannya.
Zara hanya bisa berguling kesana dan kemari di atas ranjang. Perutnya pun sudah kenyang, tetapi netranya engan untuk terpejam. Arka pun tengah berada di kantor untuk mengurus pekerjaan yang terbengkalai selama menunggunya di rumasakit.
"Aku bosan," keluh Zara dan berusaha bangkit dari ranjang. Beberapa luka yang dibalut perban memang masih menyisakan sakit, hanya saja tak seberapa.
Ia pun melangkah menuju balkon kamar di mana keindahan taman bunga terlihat jelas dari sana. Zara menatap sekawanan burung yang tengah berlalu.
"Mungkin sangat senang bisa terbang bebas kemana pun seperti mereka dari pada harus hidup terpenjara meskipun berada dalam sangkar emas."
Aku ingin hidup bebas seperti dulu lagi.
"Bagaimana kabar ibu dan ayah, aku sangat merindukan mereka."
Terbesit niatan untuk menjenguk kedua orang tuanya di kampung dan menceritakan semua yang sudah terjadi, hanya saja ia masih tak memiliki nyali untuk mengungkapkannya pada sang suami.
Semilir angin serasa membelai kulit dan menerbangkan surai indahnya. Kejadian beberapa hari ini membuatnya ingin mencari udara segar guna melepas rasa penat. Mengabaikan perintah sang suami untuk tak keluar dari kamar, Zara nekat berjalan keluar menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Tanpa diduga, Zara justru bertemu dengan Anastasya yang baru saja memasuki rumah utama.
"Nona."
"Zara."
Keduanya menghentikan langkah, hingga keduanya saling berhadapan.
"Nona, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."
Anastasya sudah mengetahui arah pertanyaan Zara. Dia hanya mencoba tersenyum dan berusaha sesantai mungkin.
"Ikut aku kekamar," titah Anastasya dan mulai melangkah menuju lantai teratas di mana kamar pribadinya berada, disusul Zara yang mengekor di belakangnya.
Begitu pintu terbuka, Zara menatap dengan seksama sebuah ruangan berukuran luas dengan segala interior mewah yang sepadan dengan kamar pribadinya. Ruangan yang didominasi warna pastel lembut ini kian menonjolkan sisi feminin pada sosok Anastasya. Membuat pemilik dan ruangan tersebut menjadi sebuah kombinasi yang pas. Lembut dan feminin.
Zara masih terkagum dengan pemandangan di depannya. Membuat Anastasya yang melihatnya mengerutkan kening.
__ADS_1
"Kau kenapa? Duduklah." Anastasya mendaratkan tubuhnya di sofa yang berwarna senada dengan cat dindingnya.
Zara hanya tersenyum kikuk, kemudian ikut duduk di sofa yang sama.
"Kemarilah, aku ingin melihat luka di tubuhmu."
Zara mendekatkan tubuhnya dan mengulurkan kedua tangannya yang masih berbalut perban.
"Tidak apa-apa nona, lukanya sudah mengering dan juga tidak terasa sakit."
Anastasya memegang satu persatu lengan Zara dan mengamati luka yang tertutup itu.
"Apa kau sudah mengganti perbannya?"
Zara pun mengangguk. "Sudah, nona. Para pelayan yang sudah membantu saya menggantinya."
"Kau bilang, ingin menanyakan sesuatu kepadaku. Tentang apa?" Tanya Anastasya pura-pura tak tau.
Gadis mungil itu terdiam sebentar, dia berusaha menatap netra seseorang yang tengah bersamanya itu lekat.
Anastasya yang berusaha tegar itu pun coba mengulas senyum palsu untuk membuktikan pada Zara jika dirinya tetap akan baik-baik saja.
"Zara, itu sudah menjadi keputusanku dan mungkin memang inilah yang terbaik untuk kami."
Zara mengeleng samar mendengar ucapan Anastasya yang menurutnya tidaklah benar.
"Nona bilang ini yang terbaik? Tidak nona, saya rasa Tuan Arka pun tidak menginginkan perceraian itu sendiri. Lalu bagaimana Nona bisa mengatakan jika itu yang terbaik?"
Sebagai seseorang yang cukup dekat, Anastasya cukup faham dengan apa yang Zara rasakan kini. Dirinya bukanlah seorang iblis yang ingin menendangnya keluar dari kehidupan Arka setelah berhasil menaklukan hati suaminya itu. Justru dirinya yang terlihat paling terbebani, jika perceraian itu benar-benar terjadi.
"Zara, aku tau seperti apa posisimu saat. Tapi maaf, sepertinya aku sudah menyerah kalah dan merelakan pernikahanku hancur berantakan di tengah jalan."
Bibir mungil itu bergetar, netra bulat beningnya mulai berkaca-kaca.
"Andai aku tidak pernah datang, mungkin perceraian ini tidak akan pernah ada." Zara mulai terisak. Bagaimanapun, kehadiranyalah yang menjadi ujung pangkal keretakan rumah tangga Anastasya dan Arka.
__ADS_1
"Aku mohon batalkan keinginan anda, nona. Dan biarkan saya yang akan pergi dan menghilang dari kehiduan Tuan."
"Zara," ucap Anastasya setengah berteriak. "Kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan?"
Gadis itu pun mengangguk samar. "Aku sadar, nona."
"Aku yang sudah memintamu untuk menikah dengan suamiku dan itu semua bukannya tanpa alasan."
Zara tidak bisa menerimanya begitu saja, selama dirinya masih bisa merubah keputusan Anastasya, maka ia pun akan berusaha mengupayakannya meski bagaimanapun caranya.
"Tidak, nona. Tetap andalah yang lebih berhak mendampingi Tuan Arka dari segi apa pun jika dibandingkan dengan saya."
"Tapi kemungkinan kau sedang mengandung Zara, dan itu adalah hasil buah cintamu dengan Arka." Sungguh kata-kata telak yang seketika membuat Zara menegang.
Mengandung
"Saya mengandung?" ulang Zara atas ucapan Anastasya. "Dari mana nona bisa mengetahuinya?" selidik Zara dengan menyipitkan netranya. Pasalnya, dirinya sendiri bahkan tak mengetahui akan kehamilannya itu, dan kenapa justru Anastasya yang lebih dulu mengetahuinya andaikan dirinya memang tengah mengandung.
"Maaf, aku tak sengaja mendengar pembicaraan antara Arka dan Dokter Bram." Anastasya yang masih ingin berkeluh kesah pada Bram, berusaha mencari dokter itu keseluruh penjuru selepas kedua minum kopi kemudian terpisah. Saat hendak memasuki ruang kerja Dokter Bram, Anastasya tak sengaja mendengar semua pembicaraan Arka tentang apa yang dialami Zara belakangan ini.
"Aku juga pernah mengandung sebelumnya. Jadi, sedikit banyak aku tau."
Zara kembali mengongat kapan terakhir dirinya datang bulan. Memang ini sudah lebih dari tanggal, tapi belum ada tanda-tanda jika dirinya akan datang bulan kembali, namun belum tentu jika dirinya tengah mengandung.
"Tapi, itu belum tentu terjadi nona."
Anastasya mencondongkan tubuh dan kedua netranya untuk lebih dalam menyibak hati dan perasaan Zara. Kedua tangannya mencengkeram lembut kedua lengan gadis mungil itu.
"Dengarkan aku. Apa semua cinta dan perhatiaan yang Arka tunjukan masih belum mampu membuatmu yakin jika Arka benar-benar menyayangiku. Singkirkan jauh-jauh fikiranmu untuk berani meninggalkannya. Dia mencintaimu Zara, dan bukan aku!" tegas Anastasya. "Maka biarkanlah aku pergi dan gantikan tempatku untuk menjadi pendamping Arka hingga maut memisahkan."
"Tapi, nona." Bulir bening mulai menganak sungai membasahi kedua pipinya.
"Jangan cegah aku. Seperti halnya kau, memiliki seorang yang sangat mencintaimu, begitu pun aku, menginginkan seseorang yang juga mencintaiku dan bukan hanya aku yang mencintainya." Anastasya mengeratkan cengkeraman dan berharap membuat gadis mungil itu faham akan apa yang dirasanya.
"Jangan pernah menjadi matahari, untuk seseorang yang enggan membuka mata. Karna semua akan percuma." Anastasya tersenyum penuh ironi, menangis meratapi takdir hidupnya sendiri."
__ADS_1
Anda bisa mengatakan semua perasaan yang tengah anda rasakan, nona. Akan tetapi anda melupakan satu hal, pernahkan anda bertanya dengan bagaimana perasaan saya. Apakah saya bahagia? Apakah saya menerima semuanya? Ketahuilah nona, selama hidup saya tidak ingin menjadi benalu dalam rumah tangga seseorang. Bahkan bermimpi pun tidak. Jika memang saya benar-benar mengandung, maka inilah takdir saya. Terjerat dalam hubungan yang sejujujurnya tak saya inginkan.