
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menatap wajah sang menantu lembut. Sementara yang ditatap hanya diam seribu bahasa, tengah sibuk berperang dengan batinnya sendiri.
"Ibu tau jika masih kesulitan untuk bisa mengartikan itu semua. Akan tetapi percayalah, putraku benar-benar mencintaimu." tegas Mirah tanpa keraguan.
"Ta-tapi dari mana Ibu bisa mengetahuinya?" Tidak mungkin jika Tuan Arka mengatakan seluruh isi hatinya pada Ibu Mirah.
Mirah tergelak lirih namun sarat makna. "Aku ini Ibunya, perempuan yang sudah melahirkannya. Walaupun dia hanya diam, aku bisa mengetahui perasaan putraku, hanya dari sorot matanya. Bahkan lebih dari itu, meski berjauhan, kami pun akan merasakan kehampaan jika salah satu dari kami tengah merindukan." Mirah menghela nafas sejak dan menyambung kembali kalimatnya. "Itu memang tidak, semuanya masih membutuhkan proses.
Zara hanya mengangguk, tanpa menjawab.
"Baiklah, kita lihat di sisi kanan foto pernikahanmu." Mirah menunjuk foto dengan telunjuknya. "Foto pernikahan Arka dan Anastasya."
Zara mendongak, menatap foto yang sempat ia lihat beberapa hari lalu.
"Bagaimana perasaanmu saat melihat foto pernikahan itu?"
Kenapa Ibu tiba-tiba menanyakan itu padaku. Tapi kenapa terasa ada yang aneh pada bagian dalam tubuhku. Rasa seperti...
"Apa ada bagian dari tubuhmu yang terasa tercubit?" telisik Mirah.
Ada, ginjal.
"Entahlah Bu, saya hanya merasa tidak nyaman saja," jawab gadis itu lirih.
"Jika kau merasa tidak nyaman, maka kita lewati saja." Mungkin itu akan lebih baik, fikir Mirah.
__ADS_1
"Jangan Bu!" ucap Zara setengah berteriak. "Ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan."
Perempuan paruh baya itu terkesiap, pasalnya lengkingan suara Zara cukup membuat telinganya seketika berdengung.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Zara?"
Gadis itu berfikir sejenak. Sejujurnya ia ragu, namun rasa penasaran rupanya menutupi keraguannya. Jika Surti atau pun Arka enggan menjawab, mungkin Ibu akan lebih terbuka padanya.
"Tuan Arka atau pun Bi Surti enggan menjawab pertanyaan secara rinci saat aku menanyakan perihal ini pada mereka."
"Tentang apa itu?" Mirah menautkan kedua alisnya tampak tengah berfikir.
"Seperti yang tergambar jelas di foto, perut Nona Anastasya terlihat membuncit. Apakah mereka menikah setelah Nona mengandung?"
Mirah tertegun, menelan salivanya dengan susah payah. Ia pun menatap sendu wajah sang menantu.
Apa? Pernikahan Tuan dan Nona pun digelar mendadak? Kenapa terdengar tak jauh beda dengan pernikahanku.
"Setelah pernikahan, Ibu baru tahu jika Anastasya tengah mengandung menginjak bulan ke enam. Ingin rasanya aku marah kecewa dan meluapkan kekesalanku pada Arka yang sudah menodai seorang gadis di luar pernikahan." Mirah mulai berkaca-kaca.
"Akan tetapi sebuah fakta muncul, atas pengakuan Anastasya. Jika yang menghamilinya bukanlah putraku, melainkan sahabat karib putraku, Rangga."
"Apa?"
Iya, Tuan Arka pernah bilang jika bayi itu bukan darah dagingnya.
__ADS_1
"Lalu, di mana pria yang sudah menodai Nona Anastasya?"
"Setelah mengetahui Anastasya hamil, dia menolak mentah-mentah janin yang tak berdosa itu dan menghilang entah kemana. Arka sempat mengerahkan beberapa pengawalnya, bahkan mencari sampai keluar pulau namun hasilnya nihil. Rangga menghilang tanpa jejak."
Zara hanya mampu mendengar dan coba menelaah dari setiap ucapan yang keluar dari bibir Mirah.
"Takdir terkadang menghadang tanpa memandang. Pahit, getir dan manisnya kehidupan sudah yang kuasa bagi tanpa iri. Dalam perjalan sepulang meting penting, Arka mendapati tubuh Anastasya yang tergolek lemah di tengah jalan. Beberapa saksi mengatakan jika Anastasya sengaja menghadang kendaraan yang berlalu lalang untuk mengakhiri hidup. Sungguh getir, di tengah keterputusasaannya meminta pertanggung jawaban dari pria yang sudah menabur benih dirahimnya, gadis itu menyerah kalah saat sang pria kabur dan tiba-tiba menghilang. Mungkin dia berfikir, dengan mengakhiri hidup dapat menyelesaikan semuanya."
Terlihat jelas gurat kekecewaan dari wajah paruh baya itu. Mengenang bagaimana hidup putranya setelah bertemu Anastasya.
"Arka yang penuh tangung jawab itu membawa tubuh tak berdaya Anastasya dan memasukannya kedalam rumah ini. Untuk mencegah gadis itu berbuat lebih jauh lagi, setelah pemikiran beberapa waktu dan dirasa cukup matang. Malam itu Arka memutuskan untuk menikahi Anastasya meskipun dalam kondisi sudah berbadan dua. Meski awalnya Anastasya sempat menolak, namun setelah gadis itu berfikir baik buruknya, ia pun mengiyakan dan terjadilan pernikahan mendadak itu keesokan harinya."
"Jadi, Tuan dan Nona menikah tanpa cinta? Apa begitu maksud Ibu?" Tentu Zara dapat mengambil kesimpulan dari cerita panjang lebar Mirah, bagaimana proses pernikahan itu terjadi.
Mirah mengangguk. "Mungkin sampai detik ini pun, Arka masih tidak bisa untuk mencintai Anastasya. Akan tetapi, arka sempat meminta pada gadis itu untuk tak mempermainkan sebuah ikatan pernikaha. Tetap berusaha terlihat baik tanpa adanya perceraian, itulah keinginan putraku."
Zara begitu mengagumi sosok sang suami setelah paparan kisah hidup yang dijalani pria itu selama ini. Tak seperti Sandy, keduanya bagaikan bumi dan langit.
"Putraku bahkan menganggap janin di perut Anastasya ialah putranya. Menemani kunjungan rutin setiap bulan di pusat kesehatan, memilih sendiri pakaian bayi dan segala keperluan lain, hingga nama pun Arka sendiri yang mempersiapkannya. Tapi takdir berkata lain, bayi itu justru meninggal setelah dua jam dilahirkan Anastasya. Kami semua terpukul, meski bayi itu bukan darah daging Arka, tapi ia sama sekali tak berdosa dan butuh kasih sayang dari kami." getir Mirah jika mengingat peristiwa itu kembali.
"Kami sadar jika sang pencipta lebih menyayangi Abi dan membawa bayi tak berdosa itu pada surga terindah."
"Apa bayi itu laki-laki, Ibu?" tanya Zara dengan bibir bergetar.
"Iya, dia laki-laki. Bayi yang sangat tampan," kenang Mirah dengan sudut bibir mengembang mengulas senyuman.
__ADS_1
"Zara." Mirah meraih tangan mungil menantunya dan mengusapnya lembut. "Putraku pria yang baik, dia tidak pernah ingin mempermainkan hati wanita mana pun. Ibu harap kau bisa mengerti, andai saja kau lebih dulu hadir dikehidupan putraku sebelum Anastasya muncul. Tentu semuanya tak akan serumit ini." lirih Mirah mengucapnya, namun ia berharap jika gadis itu bisa mengerti akan arti ucapannya.
Kenapa Ibu berkata seperti itu.