Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Terlambat


__ADS_3

Harus seperti apa lagi perjuanganku hingga bisa mendapatkan cintamu seperti dulu lagi, Anastasya.


Seusai mengantar Anastasya menuju kediaman Arka, Rangga kembali menuju kediaman orang tuanya untuk beistirahat. Pria tampan berkulit kuning langsat itu memasuki pintu rumah yang dibukakan oleh seorang pelayan.


Pria itu menatap sekilas dan tersenyum tipis kearah sang pelayan, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar orang tuanya yang berada di lantai dua.


Rangga menarik gagang pintu dengan perlahan hingga tak menimbulkan suara. Seorang pelayan yang bertugas menjaga Ibu dari rangga itu sedikit terkejut atas kedatangan tuan mudanya yang tiba-tiba dan menundukan kepala setelah beberapa saat.


"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Rangga pada sang pelayan.


"Tetap sama, Tuan muda. Tidak ada perubahan," jawab pelayan itu lirih.


Arka menghela nafas dalam, kemudian menatap sesosok tubuh perempuan paruh baya yang terbaring di atas ranjang dengan selimut tebal menutup kakinya hingga ke dada.


Memantapkan hati, Rangga melangkah dan menarik satu buah kursi untuk mendakati tubuh ibunya, kemudian membelai wajah perempuan itu dengan penuh kasih.


"Aku sudah kembali, Ibu. Aku mohon sadarlah, dan buka kembali matamu."


Hampir dua bulan Siska terbaring koma dan menghabiskan waktunya di atas ranjang, dengan beberapa alat medis untuk membantunya tetap bertahan hidup.


Kamar mewah dengan segala pernak pernik ini, kini lebih terlihat seperti ruang perawatan dengan berbagai alat dan obat-obatan rumasakit. Sedari awal merasakan rasa sakit, Siska tak ingin menjalani perawatan di rumasakit dan memilih untuk tetap berada di rumah agar lebih dekat dengan keluarganya.


Beruntunglah rumasakit milik keluarga Atmadja tak mempermasalahkan itu semua. Akan tetapi, setelah melalui berbagai proses penyembuhan penyakit, justru kenyataan lainlah yang didapat.


Kondisi Siska semakin memburuk hingga pada puncaknya sekitar satu bulan lalu, perempuan itu mengalami koma hingga sampai detik ini.

__ADS_1


Sofyan, ayah dari Rangga pun merasa terpukul atas kondisi istri tercintanya itu. Akan tetapi, dirinya pun tak bisa menyalahkan siapa pun atas keadaan istrinya saat ini. Semua itu memang sudah menjadi catatan takdir sang pemilik kehidupan. Hingga ia hanya bisa pasrah dan berusaha menyembuhkan sang istri bagaimana caranya.


"Ibu, bangunlah. Aku mohon," ratap Rangga dengan mengengam dan menciumi tangan kurus ibunya.


"Bibi, mendekatlah. Ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu."


Mendengar ucapan tuan mudanya, pelayan itu pun melaangkah untuk lebih dekat dengan tuannya.


"Maaf, tentang apa tuan?"


"Sebenarnya, apa yang membuat ibuku menjadi sakit seperti ini. Setahuku, selama hidup ibu tidak pernah mengidap penyakit kronis apa pun yang bisa mengancam hidupnya?"


Pelayan itu menunduk sembari menghela nafas dalam. Dirinya kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Pada saat sang nyonya mulai merasa terpuruk hingga tumbang.


"Semua terjadi semenjak tuan muda menolak untuk mengelola bisnis tuan besar di negara xx dan justru memilih untuk membangun bisnis yang nyaris bangkrut di negara lain. Tuan muda pun sangat sulit untuk dihubungi, hingga nyonya merasa jika tuan muda sengaja untuk menghilang dan tak lagi membutuhkan nyonya."


"Nyonya menjadi sangat pendiam dan tak lagi bergaul dengan teman-teman sosialitannya. Engan untuk makan dan minum, dan hampir sebagian besar waktunya hanya mengunci diri di kamar dengan menangis. Satu tahun lebih, kejadian semacam itu berlangsung. Hingga membuat tuan besar pun kewalahan sebab tak mengetahui apa keinginan nyonya sebenarnya."


Pelayan itu bercerita sembari meremas jemarinya sendiri. Rumah yang dulu dipenuhi dengan kebahagiaan dan canda tawa itu, kini berubah menjadi lautan tangis saat sang nyonya hanya terbaring lemah tanpa daya.


"Semua terjadi, memang karna salahku Bi. Aku yang menyebabkan Ibu seperti ini," sesal Rangga.


"Tidak tuan muda," jawab pelayan itu lirih.


"Cinta pun perlu diperjuangkan. Saya tau jika Nona Anastasya adalah gadis yang baik. Maka dari itu, nyonya pun menyesali semua perbuatan yang pernah dilakukan pada Nona Anastasya."

__ADS_1


"Apa, menyesal? Menyesal seperti apa maksud bibi?"


Pelayan itu pun terlihat mulai berkaca-kaca, rasanya begitu pedih jika mengingat kembali peristiwa tersebut.


"Selepas tuan muda pergi, Nona Anastasya sempat beberapa kali datang kemari untuk mencari keberadaan anda. Akan tetapi selalu di cegah oleh nyonya. Tak terhitung caci dan maki yang nyonya lemparkan. Bahkan perlakuan kasar pun tak urung gadis itu dapatkan."


Rangga mengetatkan rahang, dan mengusap kasar wajahnya. Bulir bening perlahan menetes dari sudut netranya.


"Kenapa kau sebegitu kejam pada gadis yang sudah mengandung cucumu itu, ibu?" Terisak lirih, sesungguhnya Rangga ingin memaki dan mencaci balik perempuan paruh baya ini karna ulah semena-menanya, namun ia menahan semuanya mengingat sang ibu masih dalam kondisi koma.


"Hingga tak berapa lama, kabar pernikahan Nona Anastasya dan Tuan Arkana surya Atmadja santer terdengar, hingga mengejutkan seisi rumah ini. Awalnya nyonya hanya sinis menanggapinya, namun seiring berjalannya waktu begitu Tuan Arka memperlakukan Nona dengan sangat baiknya, sedikit demi sedikit membuat hati nyonya terusik."


Kini tatapan Rangga tertuju pada sang pelayan.


"Lalu?"


"Entahlah, Tuan. Saat itu, pernikahan Tuan Arka terbilang sangat harmonis sedangkan Tuan muda sendiri menghilang tanpa jejak. Nyonya mulai frustrasi, hingga mulai teelihat menyendiri."


"Apa mungkin Ibu merasa menyesali atas perbuatannya sendiri?" Rangga coba menebak sebuah kemungkinan.


Pelayan itu hanya menggeleng.


"Sebelum koma, dalam kondisi lemah nyonya juga sempat menyebutkan satu nama."


"Siapa?" tanya Rangga dibuat penasaran.

__ADS_1


"Anastasya. Nyonya bahkan beberapa kali menyebutnya hingga bisa didengar oleh Tuan, para staf medis dan para pelayan yang kebetulan tengah berada di kamar ini."


Rangga menangis pilu, ucapan pelayan itu tak urung membuat kesedihannya itu kembali bangkit. Sampai saat ini pun dirinya masih terus mengutuki kesalah diri yang sudah diperbuatnya, bahkan kedua orang tuanya pada Anastasya.


__ADS_2