Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Obat Rasa Sakit


__ADS_3

Gadis yang terlelap dalam dekapan itu mulai menggeliat pelan. Berusaha meregangkan otot tubuh yang terasa kaku, dengan netra yang masih tertutup rapat. Dirinya tak merasakan keanehan jika tubuhnya dihimpit dan terasa sesak. Pelukan sang suami sudah menjadi suguhan setiap hari hingga membuatnya terbiasa.


Sepasang netra bening itu mulai mengerjap, menyesuaikan sinar cahaya yang muncul dari sela tirai yang sedikit terbuka.


"Sepertinya ada yang aneh dengan diriku," gumam Zara sembari berfikir. "Tapi apa?" sambung gadis itu lagi.


Dirinya sangat kesulitan bergerak. Terlebih sepasang tangan kokoh yang tengah mendekap pinggulnya erat.


"Huft..., bukankah Ac diruangan ini sudah bekerja dengan baik, tapi kenapa terasa panas sekali pagi ini?" Zara berusaha untuk bangkut dan sekuat tenaga melepas dekapan tangan Arka di tubuhnya.


Setelah beberapa lama berjuang, akhirnya sepasang tangan itu pun berhasil terlepas. Gadis cantik itu menghela nafas lega, dan beringsut untuk turun dari ranjang. Akan tetapi, sedetik kemudian ia menepuk dahinya cukup keras, akibat menyesali kecerobohannya.


"Apa? Aku bahkan tertidur semalam dan tak sempat berganti pakaian apa lagi mandi." Gadis itu merasa bersalah. Terlebih saat menatap sang suami yang tidur dengan masih menggenakan jubah mandi, membuatnya kian merasa bersalah.


"Tidak, seharusnya aku tertidur semalam." Zara mendekat ke bibir ranjang. Berusaha untuk membangunkan Arka mengingat hari sudah beranjak siang.


"Sayang, bangun. Ini sudah siang," ucap gadis itu sembari mengusap wajah sang suami pelan.


Tak ada reaksi apa pun dari Arka, yang terdenhar hanyalah dengkuran halus pertanda pria itu masih terlelap dalam damai.


"Sayang,bangunlah. Bukankah kita akan pulang?" Jika usapan di wajah tak mempan, maka kali ini Zara memilih untuk mengguncang tubuh suaminya cukup kuat supaya pria itu lekas terbangun.


"Hemm."


"Ayo bangun!"


"Beri aku ciuman lebih dulu, maka aku pun akan bangun," gam Arka dengan netra masih terpejam.

__ADS_1


Zara pun menunduk, kemudian mencium pipi dan bibir suaminya singkat.


"Terimakasih." Arka kini mulai mengerjap kemudian meregangkan otot tubuhnya. "Jahat, semalam tidur lebih dulu dan juga sempat menamparku," sambung pria itu diiringi gelengan kepala.


"Apa?" Zara berfikir sejenak, coba mengingat kembali kejadian tadi malam. Namun naas, ia sama sekali tak mengingat apa pun setelah diserang rasa kantuknya.


"Kenapa, kau tak mengingatnya? Kau bahkan melakukannya tanpa sadar. Apa sekarang kau masih tak merasa bersalah dan tak ingin meminta maaf padaku?"


Benarkah.


Gadis itu menunduk, kemudian menatap kedua tangannya sendiri.


Tanganku yang hina. Kenapa kau benar-benar tak tau diri. Kau bahkan sudah berani menampar suamimu sendiri.


"Sa-sayang. Minta maaf, aku minta maaf. Maafkan tanganku yang hina ini karna sudah melakukan hal tak terpuji." Zara mengengam kedua tangan suaminya. Dan mengucap permintaan maaf dengan penuh harap, agar pria itu berbaik hati dan memaafkan kesalahannya.


"Kau menamparku di bagian sini," menunjuk bagian pipi yang tertampar. "Dan kau tau, setiap rasa sakit itu akan menimbulkan luka, dan apa kau tau jika setiap luka juga memerlukan obat untuk proses penyembuhan?"


Zara spontan mengangguk, meski pun tak tau apa maksudnya.


"Baiklah, obat dari rasa sakitku ini hanya dirimulah yang memiliki, dan tidak diperjual belikan di apotik mana pun dimuka bumi ini." Masih dibubuhi serigai licik.


Gadis itu berfikir sejenak, kiranya obat semacam apa yang bisa ia buat. Apakah itu jamu? tetapi sepertinya tidak mungkin orang seperti suaminya gemar minum jamu.


"Apakah itu jamu?"


Arka spontan terbahak, ia pun mengeleng tak percaya akan kepolosan yang masih dimiliki oleh istrinya.

__ADS_1


"Mendekatlah, maka akan aku katakan apa obatnya." Arka menjentikan jari. Zara pun spontan mendekat. Tanpa aba-aba, tampan itu pun langsung menarik lembut tangan sang istri hingga tepat menimpa tubuhnya.


Zara terkesiap. Berulang kali ai menghela nafas lega, mengira jika ia akan terjatuh namun nyatanya ia terjatuh di atas tubuh sang suami.


"Aku merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu." Arka mengusap bibir kemerahan sang istri yang tepat berada di hadapannya. Beberapa hari ini ia sempat menahan hasrat untuk tak mengempur sang istri mengingat kondisi kehamilannya yang masih rentan.


"Sayang, tapi aku masih belum mandi."


Arka tersenyum lembut, kemudian mengusap pipi sang istri yang mulai merona merah.


"Itu bukan masalah, sayang." Tanpa aba-aba, Arka membalikkan keadaan di mana tubuh Zara kini berada dalam kungkungannya.


"Bersiaplah sayang. Aku sudah tidak mampu untuk menundanya lagi."


Gadis itu pun mengangguk. Memasrahkan seluruh jiwa dan raganya untuk sang suami tercinta.


Arka tersenyum lembut, tangannya mulai bergerak aktif untuk menanggalkan gaun yang masih dikenakan Zara. Dengan penuh kelembutan ia menyentuh dan memanjakan setiap jengkal tubuh istri mungilnya. Rasa cinta dan kasihnya yang begitu besar, membuatnya enggan untuk menyakiti tubuh apa lagi sampai membuat gadis itu menangis.


Disela aktifitas keduanya, Arka tak hentinya menyebut nama sang istri dengan mesra. Begitupun sebaliknya. Bukan hanya ingin menerima, keduanya bahkan saling memberi, sehingga tercipta sebuah rasa yang tak mungkin bisa keduanya lupakan.


Bersambung..


Maaf babnya pendek. Author akan usahakan up pada malam hari selama memasuki bulan Suci Ramadhan. Tetapi tidak bisa menjanjikan untuk bisa update setiap hari mengingat banyaknya kesibukan di dunia nyata. Mohon Kakak sekalian dapat memakluminya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜


Terimakasih


Salam sayang By_Adzana Raisha

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadan puasa ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2