
"Aku yakin, jika putri kita tidak akan mungkin melakukan hal serendah itu." ucap Rumi dengan menatap kedua netra sayu sang suami yang duduk di tepi ranjang dengan tangan saling menggengam.
"Aku juga berfikir seperti itu, istriku. Namun, kita juga tak tahu seperti apa kehidupan putri kita di kota selama ini. Zara hanya sering mengirim uang dan menelfon sesekalii. Tetapi tak pernah sekali pun ia mengatakan jika dirinya sudah menikah kepada kita." Bukan hanya Rumi, jamil pun merasa demikian. Dirinya masih sulit menerima ucapan Sandy yang terkesan memojokkan sang putri.
Perempuan paruh baya yang mengenakan atasan rajut berwarna ungu itu menghela nafas dalam, kemudian tangannya terangkat untuk mengusap wajah kusam sang suami.
"Tidurlah, Ayah. Hari sudah malam," pinta Rumi dan menarik satu bantal untuk menopang kepala sang suami kemudian membantu membaringkan tubuh renta itu dan menyelimutinya.
"Tapi Bu, Ayah masih teringat akan putri kita." Jamil berusaha menolak. Netranya pun masih engan merapat.
"Ayah bisa sakit jika terus menolak untuk istirahat," ujar Rumi memperingatkan.
"Baiklah." Tak bisa lagi menolak, Jamil mulai mengubah posisi tidurnya senyaman mungkin sebelum mengatupkan kedua netranya.
Rumi menghela nafas dalam, menatap wajah kusam sang suami. Ia pun bangkit dari ranjang, kemudian melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
Malam kian larut, namun perempuan paruh baya itu sama sekali tak merasakan kantuk. Menatap meja usang di ruang tamu, ia pun menarik satu kursi kemudian mendaratkan tubuh senjanya.
Kedua tangannya terulur guna menarik laci meja, di mana beberapa lembar foto tertata dengan rapi. Lengkuh tipisnya merekah, namun kedua netra berkaca-kaca. Membuka lembar perlembar album foto yang selama ini ia simpan sebagai kenangan.
Sebuah foto usang ia padang secara mendalam. Foto yang baginya teramat sangat berharga. Bertahun-tahun ia menyimpannya agar suatu saat bisa menguatkannya.
"Tak terasa, kau sudah semakin tumbuh besar dan menjadi dewasa, nak." Rumi mengusap sebuah foto, bergambar kedua bayi perempuan cantik yang baru ia lahirkan beberapa belas tahun yang lalu.
Ya, Zara terlahir kembar. Dia memiliki saudara kembar bernama Azzira Biannita yang lahir lima menit lebih awal darinya. Akan tetapi, usia sang Kakak hanya mampu bertahan delapan hari selepas dilahirkan kedunia.
Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu pemicu. Kedua bayi perempuan tersebut membutuhka asi yang cukup untuk bisa bertahan hidup. Seringkali keduanya saling berebut asupan makanan dan menyusu tanpa henti hingga sang ibu kewalahan.
Letak perkampungan yang cukup jauh dari kota serta akses jalan yang masih kurang memadai membuat Jamil pun teramat kesulitan untuk hanya sekedar membeli sekotak susu formula untuk membantu asi sang istri demi kedua bayi kembarnya.
Jamil dan Rumi hanya bisa pasrah, saat salah satu putrinya tak mampu untuk bertahan hidup lebih lama lagi. Hal itu merupakan sebuah pukulan keras bagi Jamil dan Rumi. Akan tetapi, mereka sadar jika tak dapat terus berkubang dalam keterpurukan. Mereka masih mempunyai Zara untuk dibesarkan dan butuh kasih sayang.
Rumi masih mengingat jelas, bagaimana Zara kecil tumbuh. Bayi cantik nan menggemaskan itu bertumbuh dengan pesat. Tubuhnya yang gembul, kerap kali menarik pandangan banyak orang untuk bisa menyentuh kedua pipinya gemas.
Limpahan kasih sayang tak hentinya tercurah dari pasangan suami istri itu. Zara pun tak memiliki saudara kandung lain, hingga semua rasa cinta Jamil dan Rumi hanya tercurah pada dirinya seorang.
Tak ingin sang putri kelak salah langkah, baik Rumi atau pun jamil membekalinya dengan budi pekerti dan tatakrama sejak dini. Pendidikan pun selalu mereka kedepankan meski hidup dalam kekurangan.
Menginjak usia Dua belas tahun, Zara menempuh pendidikan di salah satu sekolah di kampungnya. Jamil yang memang memiliki tingkat kesehatan jauh di bawah pria lain seusianya, mulai merasakan sakit di beberapa bagian tubuh hingga membuatnya kesulitan untuk berjalan atau pun mencari nafkah.
__ADS_1
Sebagai imbas, kini Rumi harus berjuang menggantikan posisi sang suami sebagai tulang punggung keluarga sebagai petani yang memanfaatkan sepetak tanah di pekarangan rumah untik menyambung hidup.
Sadar akan kondisi perekonomian keluarga, Zara belia harus bisa memutar otak dan tak bisa berdiam diri dengan hanya mengandalkan keterbatasan ibunya. Tangan dan kakinya mulai bergerak lincah, mencoba segala jenis usaha yang mampu ia kelola dengan hanya bermodalkan sedikit biaya, namun bisa dinikmati setiap kalangan.
Atas saran sang ibu, Zara beliau mulai belajar mengolah kue untuk ia jual atau pun titipkan di kantin sekolah. Memang tak seberapa hasil yang ia dapatkan, namun ia bersyukur dari setiap rupiah uang yang dihasilkan, bisa membantu perekonomian keluarga sekaligus membayar biaya sekolah.
Menginjak Sekolah menengah atas, Zara yang memiliki tinggi badan tak lebih dari 155 sentimeter itu, tetap menjajakan kue buatanya di area sekolah. Malu atau pun minder, sama sekali tak pernah terlihat dari dirinya. Gadis cantik nan periang itu justru merasa bangga, akan usaha kecil yang bisa ia rintis meski masih di bangku sekolah.
Kali ini Rumi dan Jamil bisa bernafas lega, berkat prestasi sang putri, pihak sekolah memberikan bea siswa pendidikan hingga gadis itu lulus SMA.
"Ibu masih tak menyangka jika dirimu berbuat seperti ini, nak." Rumi terisak dengan mendekap lembaran foto di dada.
Bayangan wajah sang putri kembali menyapa, mana kala gadis mungil itu meminta izin untuk bisa bekerja di kota dan kembali untuk melanjutkan kualiah dengan hasil jerih payah yang ia dapatkan.
Perempuan paruh baya itu menyeka sisa buliran bening yang menetes di pipi, sebelum menuju kekamar untuk beristirahat.
******
"Apa ibu yakin untuk ikut Nak Sandy pulang kekota?" Jamil menatap punggung sang istri yang masih sibuk memasukan beberapa barang kedalam tas jinjingnya.
Rumi pun mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan Ayah?"
Rumi menatap wajah sang suami. Sungguh tak mungkin membawa sang suami saat kondisi tubuhnya seperti ini. Ia mendekat, dan berjongkok di hadapan sang suami yang duduk di atas kursi roda.
"Ibu sudah meminta pada Ratih untuk menemani Ayah selama Ibu pergi. Ibu berjanji untuk tidak pergi lama. Jika sudah bertemu dengan putri kita dan menanyakan kebenarannya, maka Ibu akan pulang."
Serupa dengannya, Jamil pun merasakan kegundahan yang teramat sangat. Akan tetapi, pria itu tetap berusaha untuk terlihat tegar.
Klakson mobil terdengar. Rumi lekas berpamitan dan meminta doa pada sang suami setelah memastikan jika seseorang yang datang adalah Sandy.
Senyum lebar tercetak di wajah Sandy saat Rumi muncul di ambang pintu. Ia pun bergegas membukakan pintu mobil pada perempuan yang sudah melahirkan gadis incarannya itu. Rumi pun menurut, dan memasuki kuda besi tanpa penolakan.
Keduanya tak banyak bicara selama menempuh perjalanan panjang. Rumi tengah sibuk menerka, sementara Sandy memohon doa supaya Zara berada di toko bunga hingga ia tak akan kesulitan mengatur strategi baru lagi.
Tiga jam berlalu, mereka sudah mulai memasuki pusat kota. Debaran dada Sandy kian tak karuan, begitu pun dengan Rumi.
Semoga saja perkiraanku tidak akan meleset, atau justru aku yang akan tercebur kedalam lembah neraka yang aku gali sendiri.
__ADS_1
Sandy berucap dalam hati saat sudah mulai memasuki area parkir toko bunga. Tempat itu cukup ramai pengunjung. Para karyawan pun terlihat sibuk melayani pembeli.
"Bibi, Zara bekerja di tempat ini. Masuk dan carilah putri bibi lebih dulu. Aku akan menyusul."
Mirah mengganguk. Ia mulai menuruni mobil dengan tangan masih menggengam majalah usang pemberian Sandy. Kakinya mulai melangkah, meski terasa berat. Ia terus melangkah dan mulai membuka pintu kaca depan toko.
Netranya tersihir oleh pemandangan di dalam bangunan berlantai dua itu. Begitu dipenuhi dengan beraneka macam jenis bunga dan warna, yang mampu membuat para kaum hawa terpana. Akan tetapi, ada yang lebih penting untuk menjadi tujuannya.
Menyibak pandangan kesekeliling, Rumi masih tak menemukan wajah sang putri. Hingga seseorang karyawan datang mendekat.
"Maaf, ibu. Ingin mencari bunga jenis apa, saya akan senang hati untuk membantu," ucap perempuan muda yang merupakan salah satu karyawan toko bunga Anastasya.
"Ti-tidak nak. Ibu tidak sedang mencari bunga."
"Lalu apa yang sedang Ibu ini cari?" tanya gadis itu lagi.
"Apakah karyawan di tempat ini ada yang bernama Zara?"
Gadis muda itu berfikir sejenak.
"Zara? Apa maksud ibu Zara yang tubuhnya tak terlalu tinggi dan berambut sepinggang?" Gadis itu pun menyebutkan ciri-ciri lain yang dimiliki oleh Zara pada Rumi.
Rumi pun menggangguk.
"Bisakah Ibu bertemu dengannya?" pinta Rumi penuh harap.
"Baiklah, tak masalah. Zar sedang ada di lantai atas. Tunggu sebentar, akan saya panggilkan."
Gadis itu pun memutar tumit dan mulai menaiki tangga yang menjadi penghubung dengan lantai atas.
Rumi tersenyum haru, ia sudah tak sabar untuk melihat wajah putri yang selama ini ia rindukan. Puji dan syukurpun tak henti terucap dari bibir keriputnya. Berharap jika ini bukanlah hanya mimpi belaka.
Tatapannya hanya tertuju pada satu titik. Ia tak mengalihkan pandangan dari tangga yang dinaiki oleh seorang gadis yang sudah membantunya. Hingga tak berapa lama, muncullah dua orang gadis berjalan beriringan dan mulai menuruni anak tangga.
Rumi berkaca-kaca dan mampu membendung rasa rindunya saat wajah sang putri tersuguh di depan netra.
"Zara," ucap Rumi tanpa sadar.
Hingga gadis pemilik nama itu pun mendongak kearah sumber suara. Serupa dengan sang ibu, sang putri pun demikian.
__ADS_1
Langkah gadis itu seketika terhenti dengan tibuh menegang. Netra berkaca-kaca sebelum fikirannya kembali sadar dan berlari sekencang mungkin untuk mendekap tubuh sang Ibu.