Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Rencana


__ADS_3

Menuju akhir bulan, kantor pusat Atmadja group terlihat lebih sibuk. Ribuan karyawan terlihat hilir mudik memeriksa kembali daftar laporan. Bahkan tak jarang mendapatkan jatah lembur secara bergiliran. Namun, rasa lelah dan penatnya bekerja, sebanding dengan gaji yang mereka dapatkan.


Atmadja group terkenal dengan loyalitasnya kepada pegawai yang sudah rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja pada perusahaan tersebut. Bukan hanya gaji, bonus serta berbagai tunjangan pun layak di dapatkan bagi seluruh karyawan.


Arka dan Sam memerika dengan teliti kembali pertumbuhan perekonomian perusahaan selama satu bulan terakhir ini. Netra jeli Sam digunakan guna memeriksa semua berkas laporan yang terkumpul di meja, sedikit saja terjadi penyelewengan, maka pria itu akan mengetahuinya.


"Bagaimana?" tanya Arka pada Sam.


Pria itu mendongak sebentar kearah sang tuan. "Perkembangan untuk bulan ini cukup bagus tuan. Saya pun tidak menemukan adanya penyelewengan, baik dari perusahaan di tanah air atau pun negara xx," jawab Sam.


"Bagus. Kembangkan kembali bisnis-bisnis yang baru kita rintis. Terus gencarkan promosi beserta iklan di semua media masa," titah Arka.


"Baik, Tuan."


Arka menyandarkan pungngnya pada kepala kursi kebesarannya, pria itu terlihat berfikir dan tak lama kemudian senyum di bibirnya pun mengembang.


"Sam."


"Iya, Tuan."


"Apa kau mengamati perkampungan istriku saat kita berkunjung kesana?"


Sam pun mengangguk.


"Tanahnya terlihat begitu subur dan masih banyak sekali lahan yang di biarkan begitu saja tanpa ditanami apa pun."

__ADS_1


Sam pun coba menelaah ucapan tuannya. "Lalu, apakah Tuan berniat untuk membangun usaha di perkampungan itu?"


Arka menyeringai tipis. "Jika memungkinkan dan tanah itu bisa kita beli dari penduduk, maka aku ingin membuat kebun buah, kemudian harganya bisa kita jual di sekitar kampung dengan harga terjangkau. Bagaimana?"


Sam, asisten pribadi Arka tampak berfikir sejenak. "Rencana yang bagus tuan. Lagi pula kita juga bisa membangun kebun buah itu sebagai tempat hiburan dengan menambahkan berbagai permainan anak-anak atau danau buatan sebagai sarana rekreasi," usul Sam dengan netra berbinar.


Tak jauh berbeda dengan sang Asisten, Arka pun terlihat sumringah saat hanya membayangkan saja rencananya.


"Dengan begitu, kampung itu menjadi tujuan kampung lain untuk berwisata. Sekaligus membuatnya lebih ramai dan tak terlihat seperti perkampungan tanpa penduduk."


"Tapi," ucap Sam menggantung. "Saya rasa akses jalanlah yang akan menjadi kendala."


Arka hanya menanggapi ucapan Sam dengan tawa ringan.


"Aku akan memikirkannya nanti. Yang terpenting sekarang adalah, aku ingin cepat-cepat pulang untuk bisa melihat istri dan calon bayi di rumah." Pria itu bangkit dari kursinya dan berjalan pelan menuju pintu, sementara Sam hanya mengelengkan kepala dan mengekori langkah sang tuan.


****


"Sayang, aku pulang." Menemukan sosok yang tengah ia cari tengah menyiapkan hidangan di meja makan membuat pria itu pun mendekat. Melepaskan jas dan memberikanya pada pelayan.


"Sudah pulang, sayang?" Zara pun mendekat meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya.


Pria itu hanya tersenyum kemudian mengusap perut sang istri dengan lembutnya. Gaun selutut berwarna coklat yang melekat pas di badan membuat perut yang sedikit menonjol itu terlihat. Tubuh mungol dengan perut mulai membuncit itu membuat siapa pun yang melihat akan merasa gemas. Tak terkecuali Arka yang tiada henti mengusap dan menciumi perut Zara, kapan pun dan dan dimana pun dirinya berada.


"Selamat malam kesayangan Ayah. Apa anak ayah senang di dalam perut sana," celoteh Arka pada calon buah hatinya. "Pasti senang bukan, kau bahkan bisa memeluk dan mencium ibumu kapan saja melebihi ayah," sambungnya lagi, yang manaembuat sang istri hanya bisa tergelak geli.

__ADS_1


"Sayang, sudah. Ayo makan dulu," pinta Zara pada Arka.


Pria itu pun menatap hidangan di depannya.


"Aromanya harum sekali. Hem kali ini, apa yang kau masak, sayang?"


Zara terlebih dahulu menarik satu buah kursi sebagai tempat duduk untuk suaminya.


" Olahan daging, salad, dan tim ikan. Ingin yang mana?"


Arka menunjuk beberapa hidangan yang sesuai dengan keinginannya. Zara pun dengan cekatan mengikuti kehendak suaminya dan tak lupa menambahkan beberapa sendok nasi merah sebagai sumber karbohidrat.


"Sayang, biasakan makan buah lebih dulu saat perut kita kosong. Karna ada begitu banyak manfaat di dalamnya."


Zara yang sudah hendak menyuapksn makanan kemulutnya itu, mengurungkan niatnya dan meraih satu buah apel yang tersaji kemudian menggigitnya.


"Sayang!" ucap Arka seketika, tangannya bahkan sudah terangkat untuk merebut buah apel dari istrinya.


"Kulitnya bahkan masih belum terkupas, kenapa kau memakannya? Nanti kau akan sakit."


Mendengar ucapan sang suami, Zara hanya menanggapinya dengan tawa renyah. Hingga sang suami mengarahkan tatapan tajam sebagai peringatan.


"Sayang, buah apel ini tentunya sudah dicucui bersih oleh bibi pelayan sebelum tersaji di meja ini. Lagi pula, kulit buah apel mengandung serat dan memiliki banyak sekali manfaat untuk kesehatan. Jadi, tidak ada salahnya jika memakan buah apel beserta kulitnya, sebab memiliki banyak manfaat," jawab Zara dengan mengigit kembali buah apel berwarna merah dalam gengamannya sembari menatap nakal kearah sang suami.


Bukanya berkomentar atau setidaknya menjawab ucapan sang istri, Arka justru terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu, diiringi dengan sebuah serigai penuh makana dari bibir seksinya.

__ADS_1


Sekarang aku tau, buah yang paling tepat untuk ditanam di perkebunan kelak.


__ADS_2