
Tiada yang memenuhi fikiran Arka selain kehamilan, dan kehadiran bayi mungil dalam keluarga kecilnya. Hatinya sungguh berbunga-bunga. Segala macam urusan di kantor pun lancar tanpa kendala seiring kegembiraan yang tengah ia rasakan.
Aku ingin lebih memastikan kehamilan Zara pada Ka Bram. Aku sudah tak sabar menunggu saat Zara melakukan tes kehamilan. Tapi bagaimana jika hasilnya negatif? Ah tidak masalah, aku akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa membuat Zara mengandung.
"Sam," panggil Arka, yang membuat pria yang tengah memeriksa berkas itu mendekat.
"Iya, tuan."
"Apakah ada jadwal meting malam ini?"
Sam mengingat agenda harian tuannya. Selain sekertaris pribadi, Sam juga memiliki peranan penting dalam mengatur jadwal Arka meskipun hanya Asisten pribadi.
"Ada tuan."
"Apakah bisa diwakilkan," tawar Arka pada Sam.
"Bisa tuan. Mengingat meting tersebut hanyalah membahas proyek pembangunan pusat perbelanjaan dengan para arsitek dan desain interior," jelas Sam.
"Baiklah. Sebelum pulang, kita akan mengunjungi Ka Bram di rumasakit."
"Baik, tuan." Tanpa ingin mengetahui alasan sang Tuan, Sam bergerak cepat mengemasi semua berkas dan membersihkan semua bekas pekerjaanya sebelum meninggalkan kantor.
******
Arka dan Sam memasuki area rumasakit saat langit sudah mulai gelap. Tak ingin membuang waktu, kedua pria tampan itu pun bergegas menuju ruang kerja Dokter Bram. Nasib berkata baik, saat pintu ruangan terbuka, rupanya dokter Bram pun sudah bersiap untuk pulang kerumah.
"Kau datang disaat yang tepat. Terlambat lima menit saja, maka kau harus mengejarku sampai kerumah," goda Dokter Bram yang sudah berdiri di ambang pintu.
Arka hanya tersenyum tipis, melewati Dokter Bram begitu saja dan mendaratkan tubuhnya di sofa. Sam tetap berdiri di depan ruangan selepas menutup kembali pintu tanpa suara. Dirinya tak ingin menggangu atau pun berusaha mencuri dengar dari percakapan tuannya dan Dokter Bram. Mengingat, sudah pasti jika ini menyangkut masalah pribadi tuannya yang tak seharusnya ia campuri.
Dokter Bram yang sudah hendak meninggalkan rumasakit, mengurungkan niatnya dan duduk di sofa mendekati Arka.
"Ada apa? Apakah ini masih menyangkut tentang istrimu?" todong Bram layaknya peramal yang mampu membaca fikiran pria tampan yang tengah bersamanya.
Arka pun tergelak, sungguh hebat Dokter Bram. Mampu membaca isi kepala bahkan sebelum ia mengutarakannya.
"Kakak benar. Aku masih teringat akan ucapan kemarin, jika kemungkinan istriku hamil. Lalu kapan kita akan melakukan tes. Aku rasa, lebih cepat akan semakin baik."
Bram menyandarkan punggungnya di kepala sofa. Terlihat pria itu menghela nafas dalam.
__ADS_1
"Kau terlihat begitu peduli padanya."
Arka menautkan kedua alisnya, merasa tak percaya jika Dokter Bram mengatakan hal yang seharusnya tak perlu ia tanyakan.
"Tentu saja, dia istriku," jawab Arka tak terima.
"Lalu bagaimana dengan Anastasya, apa kau memperlakukan keduanya dengan adil?" Kata-kata telak yang mampu membuat Arka terbelalak seketika.
"Kenapa harus Kak Bram tanyakan, tentu saja. Aku memperlakukan kedua istriku dengan adil."
"Ini bukan perkara fasilitas, uang, atau pun kemewahan saja yang harus kau bagi rata. Tapi juga perhatian, cinta dan kasih sayang. Apakah kau memberikan Anastasya sama rata pada apa yang sudah kau berikan pada Zara?"
Bibir seksi Arka bergetar, ia seketika mengalihkan pandangan dan enggan menatap kedua netra Bram yang serasa mengintimidasi.
"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya, Kak."
"Kenapa? Kau takut jika aku mengetahui kebenaran yang ada?"
"Kak, aku datang bukan ingin membahas masalah ini!" Arka meninggikan nada bicaranya, dia enggan menjawab pertanyaan yang baginya teramat pribadi untuk orang lain tau.
"Kau tak perlu menyanggahnya. Anastasya bahkan sudah menceritakan semuanya kepadaku."
Bagaikan sambaran petir yang membuat jiwa lelaki Arka bergejolak. Dia tak habis fikir dengan Anastasya yang mengumbar masalah pribadi rumah tangga mereka.
"Apa saja yang Anastasya katakan." Netra bening itu mulai memerah seakan menahan amarah.
Bram yang sadar akan perubahan emosi Arka, mulai mendekat dan menenangkannya. Ia tak mau jika keadaan kian memburuk.
"Tenanglah. Waktu itu, aku tau jika Anastasya sekedar ingin berbagi sedikit masalah hidupnya denganku. Anastasya pasti tau jika hubungan kita cukup dekat, dari itu dirinya tak sungkan berbagi cerita."
"Apa dia mengatakan jika aku tak mencintainya?" Arka kini kembali menatap netra Bram lekat. Seolah mencari jawaban kebenaran.
Bram pun mengangguk.
"Sudah kuduga." Arka mengusap wajahnya kasar. "Ada alasan di balik keacuhan dan ketidak perdulianku padanya, Kak. Yang aku rasa sudah membuatnya salah faham."
Ekspresi wajah Bram kebingungan, menelaah jawaban Arka.
"Salah faham? Apa maksudmu?"
__ADS_1
Pria tampan berjambang itu menarik nafas dalam, memantapkan hati sebelum memulai ucapannya.
"Sebagai pria normal, sejujurnya aku pun tertarik pada semua yang dimiliki Anastasya. Dia gadis baik, dan ceria. Semua orang pasti mengetahui itu. Tapi di balik semua itu, aku menikahi Anastasya hanya ingin menepati janjiku pada Rangga."
Bram terkesiap. "Rangga? Putra dari keluarga Sanjaya? Bukankah dia sahabatmu?" Begitu banyak tanda tanya yang seketika bermunculan dalam fikiran Bram.
"Iya. Kakak pasti ingat jika saat menikah denganku, Anastasya sudah mengandung."
Lagi-lagi Bram mengangguk mengingat kejadian yang ada.
"Ranggalah ayah dari seorang putra yang dilahirkan Anastasya sebelum akhirnya meninggal."
Bram tersedak ludahnya sendiri. Mengapa semuanya terdengar begitu rumit.
"Lalu kenapa justru kau yang bertanggung jawab, dan di mana Rangga sekarang. Dia seperti hilang ditelan bumi dan tak ada kabar beritanya. Bahkan aku sempat mendengar jika bisnis keluarga Sanjaya sedang di ambang kebangkrutan."
"Itulah. Kedua orang tua Rangga tak menginginkan Anastasya menjadi menantu di dalam keluarga Sanjaya. Mereka justru mengirim Rangga untuk mengurus bisnis keluarga yang sempat terbengkalai diluar negeri. Dia sama sekali tak diberikan pilihan, dan dengan terpaksa meninggalkan Anastasya tanpa kabar. Akan tetapi satu hal yang aku ingat," Arka mengenang kala Rangga menangis dan bersimpuh di kakinya. "Dia memintaku untuk melindungi Anastasya, bagaimanapun caranya dan berjanji akan kembali jika sudah meraih kesuksesan."
"Dan kau menikahinya?" tebak Dokter Bram.
"Ya. Tidak mungkin aku membiarkan Anastasya begitu saja saat perutnya semakin membesar. Menikahinyalah yang paling aku rasa benar, hingga tidak berujung fitnah."
Bagai tulang belulang dalam tubuh yang serentak dipatahkan, Dokter Bram terlihat lunglai tak berdaya. Berarti selama ini yang orang lain lihat, tak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
"Aku memang tak pernah menyentuh Anastasya, apalagi menggaulinya. Aku menahan semua hasrat dari jiwa lelakiku ketika berhadapan dengan gadis sesempurna Anastasya, bahkan saat dia dengan sengaja menggodaku. Karna aku yakin, jika sewaktu saat Rangga pasti akan kembali dan mengambil Anastasya dariku." Helaan nafas terdengar, entah ekspresi senang atau pun sedih yang pria itu tunjukan.
"Tapi kau tidak pernah mengatakan apa alasanmu mengacuhkan Anastasya hingga timbul kesalah fahaman yang justru melukai gadis itu. Kau tau, itu sudah bertahun-tahun kau lakukan. Dan inilah puncaknya, di saat dia mulai menginginkan perpisahan."
Ia, itulah kata-kata yang sempat diucap Anastasya sebelum Zara pingsan dan mendapatkan perawatan.
"Tapi aku masih belum bisa melepas Anastasya, sebelum Rangga kembali. Aku tak ingin mengecewakan sahabatku, dengan membiarkan Anastasya hidup seorang diri dan entah akan tinggal di mana saat sudah tak bersamaku."
Memang benar, hanya ikatan pernikahanlah yang membuat Anastasya masih bertahan. Tapi sampai kapan.
"Ketahuilah, Kak. Kita memang menikah, tapi Anastasya hanya sebatas dititipkan kepadaku. Meski gadis itu sama sekali tak mengetahuinya, tapi Rangga tetap berjanji untuk kembali dan membawa Anastasya bersamanya."
Bram tersenyum kecut dan sesekali menggelengkan kepalanya. Ternyata memanglah sangat rumit.
Hanya dititipkan. Oh Astaga. Bahkan Arka rela menahan hasratnya untuk tak menyentuh Anastasya karna sebuah janji. Beruntung Rangga tak menitipkannya padaku. Jika menitipkanya padaku, aku yakin dia akan menyesal seumur hidup melihat berapa banyak anak yang sudah aku cetak bersama Anastasya, saat Rangga kembali.
__ADS_1
Bram tergelak kencang dalam hati. Melupakan sosok Arka yang berwajah pucat pasi.