Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Calon Ibu


__ADS_3

Senyum terus mengembang di lengkung tipis Zara. Tak mampu dipungkiri, dirinya luar biasa senang saat mengetahui jika di dalam rahimnya kini bukan hanya ada satu bayi yang bertumbuh, melainkan dua sekaligus.


Selepas mandi, ia bergegas menuju ruang ganti dan memilih pakaian yang pantas untuk ia kenakan. Menatap tubuhnya dari sebuah cermin besar hingga memantulkan seluruh tubuhnya dari puncak kepala hingga kaki.


Bibir tipis itu, kini mengulas senyum lebar. Bagaimana tidak, tubuh mungilnya itu kini sudah terlihat sedikit berubah. Perut dan pinggangnya terlihat mulai mengembang, begitu pun dengan dadanya. Ia terlihat berisi dan montok. Ingin rasanya mencubit bagian tubuh yang mengembang itu dengan gemasnya, namun ia urungkan mengingat akan menimbulkan rasa sakit setelahnya.


"Semoga aku bisa menjalani masa kehamilanku tanpa halangan hingga persalinan nanti," gumam Zara dengan masih menatap bayangan tubuhnya di cermin.


Gaun malam tanpa lengan yang panjangnya hanya seatas lutut itu, begitu pas menempel dikulit putihnya. Wajahnya pun kian cerah dan berseri dari hari kehari. Wajah pucat dimasa kehamilan di bulan-bulan awal, kini sirna sudah.


Hingga gadis itu teringat akan sesosok perempuan paruh baya yang sudah melahirkannya.


"Terimakasih karna sudah mengandung dan melahirkanku, Ibu. Dan kita fase-fase kehamilan yang pernah ibu jalani, sudah mulai anakmu ini jalani. Aku tau, butuh perjuangan saat ibu mulai mengandungku hingga membesarkanku seperti ini. Semoga aku bisa menjadi seorang ibu yang terhebat seperti ibu."


Saat seperti inilah di mana setiap anak perempuan kembali diingatkan seperti apa rasa lelah dan perjuangan seorang ibu untuk memberikan kehidupan bagi putra putrinya sebelum akhirnya dilahirkan kedunia. Akan tetapi, semua pengorbanan yang sang ibu lakukan tak pernah sedikit pun untuk ia ingin ungkit atau pun mengharap sebuah sanjung. Baginya, dengan bisa melihat senyum dari buah hati yang sudah ia lahirkan, merupakan kebahagian tak terkira yang tak mampu tergantikan oleh hal apa pun yang ada di dunia.


Mengusap perutnya dengan lembut, Zara mengucap beberapa doa terbaik bagi kedua buah hatinya yang terus tubuh dan berkembang di rahimnya. Ia pun memilih keluar ruangan dengan senyum bahagia, untuk menemui suaminya di kamar.


Zara menengok sebentar sang suami, yang sepertinya tengah menerima sambungan telepon dari seseorang. Melihat sang suami yang sedang membelakanginya, terbesit ide nakal untuk memeluk suaminya itu dari belakang untuk mengejutkan.


Gadis itu mulai berjalan tanpa suara, mengendap-endap dan kemudian, happp...


Kedua tangan kecil itu memeluk pinggang berotot sang suami, yang mana membuat pria itu terkejut seketika.


Arka membalikkan badan dengan ponsel masih menempel di telingannya. Krterkejutan yang sempat ia tunjukan, kini berubah menjadi senyum bahagia saat istri mungilnya itulah yang kini tengah berusaha untuk memeluknya.


Tanpa berlama-lama, Arka membalas pelukan sang istri dengan ciuman bertubi-tubi di kening dan seluruh bagian wajah istri cantiknya itu. Lantas secara sepihak ia memutuskan panggilan hingga seseorang diseberang sana mengoceh tak karuan saat mengetahui jika dirinya hanya bicara seorang diri.


"Sudah mulai nakal sekarang," ucap Arka sembari mencubit puncak hidung mbangir sang istri.

__ADS_1


Gadis itu pun merasa malu, kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. setelah beberapa saat ia pun mendongak dan berucap, " Menelfon siapa?"


"Kak Bram."


"Dokter Bram, untuk apa? Bukankah tadi kita sudah menemuinya?" tanya Zara setengah berfikir.


Dengan tersenyum lembut Arka membimbing sang istri untuk duduk bersandar di atas ranjang, sementara kakinya diluruskan.


Arka pun duduk di tepi ranjang kemudian mengangkat kaki istrinya dalam pangkuan, kemudian memijatnya perlahan.


"Kau pasti lelah,bukan." Pria itu meraih minyak khusus yang berada di atas nakas, dan menuangkannya ditangan sebelum menyentuh kulit kaki istrinya.


"Sayang!" pekik Zara lirih. "Jangan seperti itu, namanya tidak sopan. Lagi pula aku tidak lelah dan baik-baik saja." Zara bahkan menarik paksa tangan Arka untuk tak memijit kakinya. Akan lebih baik jika dirinyalah ya memijat kaki Arka, dan malah bukan sebaliknya.


"Sayang, jangan banyak bergerak. Nikmati saja pijatanku." Arka tetap menahan kaki sang istri untuk bertumpu di pangkuannya.


"Tapi, sayang," rengek Zara terus menolak.


"Lalu?"


"Menurut Kak Bram setelah dia melihat kondisimu yang baik-baik saja, itu semua tidak masalah. Akan tetapi, kita juga tidak boleh mengundang banyak tamu dan hanya menggelar acara selama beberapa jam saja. Agar kau tidak kelelahan, sayang." Arka terus memijat kaki putih juga mungil itu. Sesekali ia selingi dengan ciuman kecil yang mana membuat gadis itu merinding menahan rasa geli.


"Oo..," ucap Zara diiringgi anggukan kepala. "Apa kita juga akan mengundang ibu dan ayah di kampung?" Tersirat keraguaan kala Zara mengucapnya. Akankah suaminya masih mengganggap kedua orangtuanya sebagai orang yang berharga. Ataukah terlupakan seiring jarak yang memisahkan mereka.


Arka menghentikan pergerakan tangan di kaki istrinya. Ia kemudian menatap wajah istrinya yang sedikit mendung.


"Tentu sayang, apa kau fikir aku melupakan mereka? Selain ibu, orang tuamu juga adalah orang tuaku. Aku menghormati dan menyayangi mereka serta selalu menganggapnya sebagai orang terpenting dalam hidupku."


"Benarkah?" Zara masih terlihat ragu.

__ADS_1


Arka hanya menghela nafas dalam. "Sayang, apa semua yang sudah kulakukan masih membuat dirimu ragu akan ketulusan cintaku kepadamu?"


Zara tergelak samar, dia menikmati wajah serius suaminya. Sebenarnya ia berniat untuk menggoda, tetapi nyatanya justru membuat Arka hilang mood seketika.


"Maaf, sayang. Aku hanya berniat menggoda. Aku sangat percaya padamu, bahkan sangat-sangat percaya. Jadi, tidak perlu menunjukan wajah sedihmu itu lagi di hadapanku," ucap Zara diselingi tawa renyah. Ia pun tak ragu untuk mendaratkan cupitan kecil di kedua pipi suaminya.


Pria itu tersenyum masam, sebab godaan sang istri sudah berhasil merusak suasana syahdu yang tercipta.


"Rupanya kau semakin berani sekarang." Arka menggeser kaki sang istri, kemudian bangkit. Zara sedikit gelagapan, melihat tingkah spontan suaminya. Apakah pria itu marah dan akan membalas perbuatannya.


"Terimalah hukumanmu."


Bergerak cepat, Arka bahkan sudah terbaring di samping tubuh sang istri dalam sekejap. Kemudian sesuka hati menciumi bagian tubuh sang istri yang ia inginkan.


Ampun.


Arka hampir kehilangan kendali sebelum ia teringat akan ucapan Bram.


Kehamilan bayi kembar memang memiliki resiko keguguran lebih besar pada trimester pertama.


Ia pun mengurungkan niat untuk menyalurkan hasratnya pada sang istri. Dengan nafas terenggah, ia membatingkan kembali tubuhnya di samping sang istri dan mengusap puncak kepalanya lembut.


"Jika pada proses pernikahan aku sudah mengabulkan konsep pernikahan yang kau inginkan, maka resepsi kali ini biarkan aku yang mengaturnya. Aku tidak ingin mendengar bantahan, apalagi penolakan darimu. Bagaimana?"


Merasa tak punya pilihan, gadis itu pun hanya bisa menyanggupi.


"Aku dan Sam yang akan mengaturnya. Mulai dari gedung, gaun, WO dan segala macamnya. Kau hanya perlu mempersiapkan mental dan menjaga kesehatanmu."


Lagi-lagi, Zara mengganguk pasrah. Tapi tak masalah, toh selama ini suaminya itu memiliki selera yang cukup tinggi hingga pilihan yang ia tunjuk tidak pernah membuat gadis itu kecewa.

__ADS_1


"Sekarang tidurlah. Hari sudah malam. Mendekatlah, dan peluk aku." Layaknya bayi besar, Zara pun mengikuti ucapan suaminya. Memeluk dan mengusap surai pria kekar itu. Hingga tak berapa lama Arka pun terlelap dalam. Zara hanya tersenyum simpul, menatap wajah tampan yang memeluk pinggangnya itu dengan netra terkatup rapat.


Beristirahatlah sayang. Kau sudah lelah seharian ini. Kau adalah super hiroku dikehidupan nyata. Aku tidak bisa membayangkan jika tuhan tidak akan pernah menyatukan kita berdua seperti ini. Pasti hidupku sudah hancur berantakan, jika tidak hanya tinggal nama.


__ADS_2