Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Firasat


__ADS_3

Arka yang masih dipenuhi rona kebahagiaan itu, nyatanya tak menyadari wajah pucat dan kecemasan yang tengah dirasakan istrinya. Hingga sampai keduanya selesai berbelanja dan beranjak pulang pun, Arka masih tetap tak menyadarinya.


"Sayang, apa kau tau? Hari ini aku merasakan luapan kebahagiaan yang tak terkira. Aku bahkan hampir melupakan kondisi tubuhmu dan kedua bayi yang kau kandung." Pria itu pun menatap tak percaya pada sebuah mobil box yang dipersiapkan khusus untuk mengangkut barang belanjaan mereka. Bukan hanya Arka, justru Zaralah yang merasakan terkejut luar biasa.


"Aku tau, sayang. Tetapi, apakah semua barang yang kau beli tidak terlalu banyak? Calon bayi kita hanya dua, sedangkan kau---" Zara ragu untuk menyambung kalimatnya kembali. Takut-takut jika ucapannya akan menyakiti hati sang suami yang sudah terlanjur seantusias ini.


Arka tergelak, ia memang terlalu antusias hingga tak menyadari jika barang yang dipilihnya terbilang terlalu banyak untuk kedua bayi kembarnya.


"Maaf, sayang. Semua barang yang kulihat, seperti melambai dan seolah mengatakan jika calon bayi kita akan sangat lucu jika menggunakannya." Baru saja berucap dengan nada menggoda, Arka justru teralihkan saat pandangan keduanya bertemu.


"Sayang, kau sakit?" Tangan pria itu bergerak untuk menangkup wajah istrinya dan menyentuhkan punggung tangannnya tepat di kening, untuk mengetahui suhu tubuhnya. "Kenapa wajahmu terlihat sepucat ini?" ucapnya dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak apa sayang, aku hanya sedikit lelah."


"Sam, cepat jalankan mobil. Kita akan langsung kerumasakit," titah Arka pada Sam.


"Baik, Tuan." Sam bergerak cepat melajukan kuda besinya menuju rumasakit milik keluarga Atmadja.


*****


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Istrimu dan kedua bayinya dalam keadaan baik-baik saja." Dokter Bram memaparkan hasil pemeriksaannya.


"Tapi istriku terlihat sangat pucat, Ka." Arka tetap bersikeras. Berusaha mengatakan jika sang istri sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Mungkin istrimu hanya kelelahan. Wajar saja, kau terlihat sangat bersemangat dalam hal apa pun. Hingga istrimu pasti dibuat kewalahan olehmu," goda Dokter Bram diiringi serigai tipis nan penuh arti.


Arka hanya berdehem, dan berusaha abai akan ucapan Bram yang berniat untuk menggodanya, sementara tangannya masih sibuk menyentuh kening sang istri yang terbaring di atas ranjang pemeriksaan.


"Sayang, bukankah sudah aku bilang jika hanya sedikit kelelahan. Kau tidak perlu berwajah secemas itu." Zara justru terlihat lebih santai dan berusaha meredam kecemasan yang tergambar jelas di wajah suaminya.


"Baiklah, jika kau merasa baik-baik saja," ucap Arka dengan menghela nafas dalam. "Kita akan segera pulang, agar kau bisa cepat beristirahat," sambungnya lagi dengan penuh perhatian.


Dokter Bram begitu menikmati pemandangan yang tersaji di depan matanya. Meski pasangan itu terbilang memiliki jarak usia yang jauh berbeda, namun dengan sikap dewasa yang dimiliki keduanya, jejak perbedaan usia tersebut sama sekali tak terlihat. Seolah pasangan muda itu ditakdirkan untuk memiliki dan saling menjaga satu sama lain.


Bram yang sudah berusia cukup matang pun merasa mendapatkan sebuah pukulan telak jika menatap pasangan di depannya itu saat tengah saling berkasih sayang. Sebagai pria yang belum memiliki pasangan, sejujurnya dirinya merasa iri. Namun apalah daya, hingga sampai saat ini pun, masih belum ada seorang gadis pun yang bisa menyentuh lubuk hati terdalamnya. Hingga ia hanya bisa berpasrah, dan menunggu takdir. Entah sampai kapan tuhan akan berbelas kasih padanya, dan sudi mempertemukannya dengan gadis yang selama ini sudah ia tunggu kehadirannya.


****


Arka memperhatikan dengan seksama setiap asupan makanan yang disajikan para koki untuk istrinya. Setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya haruslah memenuhi setandar ahli gizi, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan nutrisi untuk istri dan kedua calon bayinya.


"Makanlah yang banyak sayang, kau harus tetap sehat." Dengan telaten Arka menyuapkan makanan ke mulut istrinya, dan tak lupa diiringi dengan berbagai wejangan yang intinya tak ingin melihat istri dan anaknya kelaparan.


Zara tak menolak, dengan lahap gadis mungil itu menghabiskan makanan yang suami suapkan kemulutnya. Semenjak memasuki trimester kedua kehamilan, nafsu makannya terbilang sangat bertambah. Dirinya bahkan tak ragu untuk menghabiskan semua makanan yang pelayan sediakan untuknya. Bisa dibilang, Zara sama sekali tak memiliki pantangan dalam makanan, kedua bayinya justru menyukai setiap makanan tanpa terkecuali.


"Setelah kau kenyang, beristirahatlah. Itu akan membuat wajahmu lebih segar dan lelah pun hilang."

__ADS_1


Zara pun mengangguk sebagai persetujuan. Dirinya benar-benar kenyang. Sementara seluruh makanan di meja, sudah berpindah tempat ke dalam perutnya.


Pada awalnya, Arka pun sempat tak mempercayai besarnya nafsu makan sang istri. Namun saat beberapa kali dirinya coba menyuapi dan menyaksikan dengan mata kepa sendiri, barulah dirinya merasa percaya. Mungkin itu hal yang wajar, mengingat ada dua bayi yang menyerap sari-sari makanan dari apa yang dikonsumsi oleh ibunya.


Zara mengakhiri makan malamnya saat dirasa perutnya sudah terisi penuh. Ia pun meraih segelas air putih untuk menyirnakan rasa hausnya, namun belum sampai menyentuh bibir, gelas berisi air putih itu justru terlepas dari gengaman dan terhempas di meja kaca begitu saja.


Prank..


Suara benturan tercipta hingga memekakkan telinga. Zara terkesiap, begitu juga Arka.


"Sayang, maaf. Sungguh aku tidak sengaja melakukannya." Gadis mungil itu terlihat gemetar dan ketakutan. Dirinya menatap kearah sang suami seolah sedang meminta maaf.


Arka pun tersenyum lembut,meski tak dipungkiri jika dirinya masih diselimuti keterkejutan.


"Tak masalah sayang, pelayan akan segera membersihkannya. Ayo kita kekamar, dan Surti akan menyiapkan minum untukmu di kamar." Pria itu pun lekas memapah tubuh sang istri dan membawanya ke lantai atas di mana kamarnya berada.


Selama menapaki satu demi satu anak tangga, Zara lagi-lagi di buat tak nyaman. Seolah apa yang baru dirinya alami merupakan sebuah firasat. Tetapi firasat apa, entahlah. Bahkan dirinya pun tak memahaminya.


Sepasang suami istri itu tampak saling bermanja dan menggoda saat sama-sama menganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Ritual sebelum tidur seperti menggosok gigi dan mencuci wajah pun mereka lakukan bersama-sama.


"Sayang, apa kau tau?"


"Hem," jawab Zara disela aktifitasnya menggosok gigi.


"Aku sudah tak sabar menantikan, saat bukan hanya kita berdua yang melakukan rutinitas ini berdua. Tetapi ditambah dengan kedua anak kita," Arka terdiam sejenak sebelum menyambung ucapannya, "Entah mengapa, hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatku luar biasa bahagia," sambungnya lagi.


"Aku yakin, jika kedua anak kita adalah laki-laki, pasti mereka akan dianugerasi wajah luar biasa tampan sepertimu, sayang." Gadis itu berucap dengan sungguh-sungguh, sementara tatapannya tertuju pada sang suami lekat. Seolah apa yang ia ucap, merupakan sebuah doa dan harapan kelak untuk kedua buah hatinya.


Suasana syahdu pun tercipta, Arka yang sempat tertegun sejenak begitu mendengar ucapan Zara, lekas menangkupkan sepasang tangan kokohnya pada kedua sisi wajah sang istri sebelum melabuhkan satu kecupan singkat di bibir mungil nan menggoda itu.


"Tetapi jika kedua bayi kita terlahir perempuan, maka aku pun bisa memastikan jika mereka pun akan dianugerahi paras yang luar biasa cantik dan hati yang luar biasa baik seperti ibunya."


Pandangan keduanya pun bertemu. Mereka pun tak mampu menutupi binar kebahagian dari pancaran mata masing-masing. Seolah tengah merangkai paras luar biasa sempurna dari sang maha kuasa, untuk bayi kembar mereka.


"Dan jika bayi kita terlahir sepasang, satu laki-laki dan satu perempuan. Maka mereka akan mempunyai paras yang indah, hasil pengabungan dari kecantikanmu dan juga ketampanku. Bukankah begitu sayang," bisik Arka parau tepat di telinga Zara. Bahkan ia melabuhkan gigitan kecil pada telinga sang istri hingga membuatnya sedikit memerah.


Zara pun kini merona malu. Perlakuan Arka, benar-benar membuatnya melayang keawan.


"Aku merindukanmu, sayang. Apa kau tak keberatan untuk melakukannya malam ini?" Arka mulai menyentuh pipi sang istri dengan lembutnya. Seolah mencurahkan semua keahliaannya untuk membuat istrinya tergoda.


"Tentu saja, sayang," jawab Zara tak merasa keberatan.


Dengan lembut Arka merengkuh tubuh Zara untuk berada dalam gendongannya. Dan mendaratkannya dengan hati-hati keranjang king size miliknya.


Jemari Arka yang sudah lihai dengan dibarengi nafsu yang mulai memburu. Membuatnya tak bisa mengendalikan diri, namun tetap pria itu melakukannya dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Tak ingin bertindak gegabah dan tergesa, pria itu lebih dulu melakukan pemanasan hingga istri mungilnya itu merasakan kenyamanan dan benar-benar siap melakukannya.


Dinginnya malam, bagaikan pengantar kehagatan bagi sepasang suami istri yang saling berpaut dan menyatu untuk memperoleh kenikmatan. Setiap sentuhan yang Arka labuhkan disetiap inci tubuh sang istri, serasa menghipnotis gadis mungil itu hingga tak urung desahan lolos dari bibir mungilnya.


Pergumulan yang memakan waktu cukup lama, dengan pelepasan berulang, tak ayal membuat sang istri kelelahan. Hingga saat aktifitas mereka usai, gadis itu seketika terlelap nyaman dengan nafas yang masuh tak beraturan.


Arka lebih dulu menatap sang istri dan menutupkan selimut hingga kelehernya, agar istrinya itu tak kedinginan. Ia pun bangkit, dan menuang air dingin yang berada di atas nakas, lantas meneguknya.


Tak berselang lama, suara yang berasal dari ponselnya tanpak berdering nyaring. Tak ingin membangunkan tidur sang istri, dengan ceoat Arka menyambar ponsel tersebut dan menekan satu icon kontak didalamnya.


"Kenapa?"


"Apa! Benarkah?"


"Baiklah, tetap jaga mereka dan jangan sampai ada sedikit pun kesalahan." Arka memutuskan panggilan seketika. Dirinya kemudian menghela nafas berat dan mengusap kasatmr wajah dengan kedua telapak tanggannya.


"Bagaimana ini," gumam Arka lirih. Ia nenatap sejenak kearah istrinya yang terlelap dengan damai. Ia pun hendak melangkah maju, untuk menghampiri tubuh istrinya.


"Aku tidak tega jika harus membuatnya sedih." Mengurungkan niat, Arka mulai berbalik badan. "Tetapi dia pasti akan marah jika aku tidak langsung mengatakannya."


Akhirnya, dengan bermodal tekad. Pria itu memantapkan hati untuk membangunkan istrinya. Meski sejujurnya ia tak tega, tapi akan lebih tak tega lagi jika kabar ini ia dengar sampai menunggu esok hari dan semuanya benar-benar sudah terlambat.


"Sayang." Dengan lembut Arka mengguncangkan tubuh Zara. Hingga berulang, sebab Zara yang kelelahan seperti kesusahan untuk bisa membuka mata.


"Sayang, bangunlah," uxap Arka lagi.


"Hem." Tubuh Zara mulai menggeliat dan memberikan respon. "Ada apa, sayang. Apa kau mau lagi?" sambung Zara masih setengah sadar.


Arka menelan ludahnya kasar. Bukan itu yang ia inginkan Zara.


"Sayang, bangunlah sebentar. Pengawal yang berada di kampung mengabarkan jika--"


Zara yang masih setengah tertidur itu seketika langsung bangkit dengan netra membelalak saat suaminya membahas para pengawal di kampung. Sedangkan kampung yang dimaksud ialah tempat dimana kedua orang tuanya berada.


"Jika apa, sayang. Ada apa? Katakanlah," cecar Zara dengan berbagai pertanyaan.


Arka menarik nafasnya dalam-dalam. Dirinya luar biasa cemas. Terlebih mendapati wajah istrinya yang juga sama cemasnya.


"Mereka bilang, Jika Ayah terjatuh dan --"


"Dan apa?" Zara mulai meninggikan nada bicaranya.


"Dan saat ini Ayah dalam keadaan koma."


"Tidak!" Pekik Zara dengan menggelengkan kepalanya. "Ini tidak mungkin, sayang." Bulir bening mulai menetes dari sudut netra.

__ADS_1


Arka yang sama sedihnya pun lekas membawa sang istri dalam pelukannya. Berusaha menenangkan, meskipun rasanya akan sangat sulit.


Bersambung..


__ADS_2