Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Jangan pernah meragukanku


__ADS_3

"Tadi siang, Nona Anastasya datang untuk menemuiku." Selepas lama terdiam, kini Zara berterus terang. Disela aktifitasnya memilih pakaian rumahan yang akan dikenakan Arka selepas mandi.


"Anastasya datang? Untuk apa?" Tersirat banyak pertanyaan yang bermunculan di benak Arka akan tujuan Anastasya untuk menemui Istrinya.


Gadis itu pun berbalik dengan memegang dua potong pakaian yang masih terlipat rapi kemudian memberikannya pada sang suami.


"Tidak ada apa-apa. Dia hanya mengatakan jika ingin pergi dari kota ini, dan..." Ucapan gadis mungil itu teputus, manakala sepasang netranya bersitatap dengan netra elang milik suaminya.


"Dan apa?" Selepas bertanya Arka mulai mengenakan pakaian yang sempat dipilihkan oleh istrinya. Sementara pandangannya tetap mengarah pada istrinya.


"Dan dia juga mengatakan jika mencintaimu," ucap Zara lirih sembari menundukan pandangan. "Tapi itu dulu, sebelum kau menikah denganku," sambung gadis itu lagi.


Arka yang sempat menegang itu, kini menghela nafas dalam. Terlebih mendapati wajah istrinya yang tertunduk lesu, membuatnya gemas namun sekuat tenaga untuk menahan tawa.


"Apa kau cemburu?" goda Arka. "Katakanlah." Pria itu terus mendesak dan mendongakkan dagu sang istri untuk bisa melihat wajahnya yang tertunduk.


"Bu-bukan begitu maksudku," jawab Zara gelagapan.


Pria itu tergelak, kemudian menarik tangan istrinya untuk keluar ruang pakaian menuju kamar.


"Aku ingin kita makan malam di balkon dengan menikmati sinar bulan purnama beserta taburan bintang di langit luas." Tatapan pria itu melembut sementara tangannya tetap menggengam tangan sang istri dan mengarahkan langkahnya menuju area balkon.

__ADS_1


Zara tercengang tak percaya. Tanpa ia duga sebuah meja dipenuhi aneka hidangan berdekorasi bunga-bunga segar dengan tiga buah lilin sebagai pelengkap yang kian menambah suasana makan malam semakin terasa romantis. Untuk sejenak Zara masih terpaku pada tempatnya sebelum remasan lembut dikedua bahu menyadarkannya.


"Nikmatilah makan malam ini. Hargailah kerja keras Bi Surti yang sudah mempersiapkan makan malam ini, sesuai dengan keinginanku."


Zara mengulas senyum tipis saat sang suami dengan lembut menekan tubuhnya untuk duduk di sebuah kursi. Sementara pria itu sendiri duduk di kursi seberanggnya hingga keduanya saling berhadapan.


Tak dapat dipungkiri, terdapat rona kebahagiaan tak terkira saat menatap beraneka makanan yang keseluruhan adalah makanan kesukaanya. Zara tersenyum haru, memandang suami dan makanan di depannya bergantian.


"Sayang," ucap Zara lirih tak mampu menutupi rasa haru.


"Kenapa? Kau ingin mengatakan jika semua makanan ini, adalah makanan kesukaanmu?" tebak Arja dengan senyum tipis terulas di bibir seksinya.


"Jika makanan kesukaanmu saja dengan mudah bisa aku ketahui, apalagi dengan isi hatimu."


Zara menyipitkan netra, sejenak mengurai akan maksud ucapan suaminya.


"Pikirkan itu nanti saja, selepas makan malam romantis kita." Pria tampan berjambang itu mulai mengisi piringnya dengan makanan. Seolah ingin menambah sussana semakin romantis, Arka memilih untuk makan sepiring berdua. Satu suapan untuknya, dan satu suapan lagi untuk istrinya. Begitu pun seterusnya hingga perut keduanya benar-benar kenyang terisi makanan.


"Aku mampu melihat jika masih ada sejejak keraguan dari dirimu padaku, sayang. Aku yakin jika kau masih meragukan tentang perasaanku padamu. Tapi aku memakluminya, sebab itu adalah hal yang lumrah. Aku adalah pria beristri saat memutuskan untuk menikahimu. Dan kau tahu benar itu."


Zara tertunduk lesu. Arka memang dengan teliti mampu membaca ekspresi wajahnya. Hingga tak ada kesempatan lagi baginya untuk menutupi isi hatinya saat ini.

__ADS_1


"Dulu, aku pun sempat memiliki perasaan pada Anastasya. Tapi itu dulu, sebelum aku mengenalmu, dan perasaan yang kumiliki untuk Anastasya adalah perasaan sebatas sayang, layaknya seorang kakak pada adiknya. Berusaha untuk melindungi dan menjaga hingga ia tak kehilangan arah dan menuju jalan yang benar." Memang, dibalik semua rasa yang dimiliki Arka pada Anastasya. Itu tak lebih dari hanya sekedar untuk melindunginya.


"Maaf, bukan maksudku untuk memiliki prasangka seperti itu. Tetapi aku sadar, dulu kita menikah pada awalnya memang atas permintaan Nona Anastasya dan--" Zara tak mampu melanjutkan ucapannya saat telunjuk Arka mulai menyentuh bibirnya.


"Jangan katakan itu lagi. Aku bahkan sudah menyukaimu sebelum Anastasya meminta kuta untuk menikah. Kau lihat sendiri betapa aku tak menolak permintaan istriku sendiri untuk menikahimu. Tentunya kau sadar, tidak mungkin aku bisa melakukannya, jika diriku sendiri tak memiliki rasa apa pun pada dirimu, sayang." Jemari Arka tampak mengusap bibir mungil sang istri dengan lembutnya. Seolah ingin menunjukan, betapa dirinya saangat mendambakan seorang gadis yang ada di hadapannya kini.


"Apakah kau tau sayang, kau adalah perempuan pertama bagiku." Usapan pada bibir itu kini mengarah pada pipi, mengusapnya lembut sementara Arka berucap dengan suara parau penuh gairah.


"Aku tidak pernah meniduri Anastasya, walau dia berstatuskan istri sahku. Dan malam di mana merasakan sensasi malam pertama bagimu, percayalah, itu juga merupakan moment malam pertama bagiku juga." Arka mulai bangkit dari posisinya, dan menarik lengan sang istri hingga keduanya berdiri dengan saling berhadapan.


"Aku mohon, jangan pernah meragukan perasaanku padamu. Aku hanya mencintaimu." Arka menunduk dengan kedua tangan menangkup pipi sang istri.


Gadis itu pun mengangguk sebagai jawaban.


"Nona Anastasya mengatakan jika ingin pergi, lalu bagaimana hubungannya dengan Tuan Rangga?"


"Entahlah. Biarkan ini menjadi urusan mereka. Tetapi aku tidak yakin, jika keduanya bisa merajut hubungan seperti dulu lagi." Berusaha abai, Arka memilih untuk tak lagi mencampuri urusan pribada sahabat karibnya. Baginya saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan sang istri dan bayi-bayi yang dikandungnya. Ia tak ingin jika pikiran negatif yang bersarang di benak istrinya dapat mempengaruhi proses kehamilannya hingga membahayakan janin yang dikandungnya.


Malam ini, ditemani sinar bulan purnama dan gemerlapnya bintang, sepasang suami istri yang berbahagia itu menghabiskan waktunya untuk duduk dan menikmati angin malam dengan saling berpelukan.


Arka tak hentinya mengusap perut sang istri sementara bibirnya sibuk menyusuri area leher jenjang dan wajah cantik istrinya. Zara sama sekali tak menolak, ia justru terlihat menikmati. Gelayar rasa nikmat ini justru membuatnya melayang dan ketagihan untuk meminta disentuh lagi dan lagi.

__ADS_1


__ADS_2