
Selama beberapa hari, Sandy menghabiskan waktu hanya mengurung diri di dalam rumahnya. Luka lebam dan memar di bagian wajah membuatnya enggan bertatapan dengan siapa pun. Akan tetapi beberapa hari ini ia juga telah banyak mengirim pesan pada Kiara, kekasih atau bahkan selingkuhannya. Mengingat Sandy bukan hanya memiliki satu kekasih, namun masih banyak gadis lain yang pria itu klaim sebagai kekasih.
Dirinya begitu genjar mengorek kehidupan Zara dari Kiara. Selepas pertemuan mereka disebuah resto, Sandy yakin jika hubungan kedua gadis tersebut cukup dekat.
"Aku harus secepatnya mendapatkan Zara, jika tidak, maka rentenir sialan itu bisa membunuhku."
Di dalam kamar berukuran tak terlalu luas ini, sandy tampak berjalan kesana kembali sembari mengatur strategi. Kiara akan ia gunakan sebagai pion, yang bisa ia kendalikan sesuka hati. Tidaklah sulit untuk menaklukan gadis itu, cukup rayuan maut sudah mampu membuat hatinya luluh lantah.
Serigai iblis terukir di bibir Sandy, dengan cepat ia meraih sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja di atas ranjang.
"Aku harus membuat janji untuk bertemu dengan Kiara secepatnya. Aku yakin, rencanaku akan berjalan dengan mulus."
Pria yang mengenakan kaos oblong dan celana kain selutut itu mulai menggerakkan jemarinya. Mengetik pesan yang ia kirim untuk Kiara.
"Lalu bagaimana jika dia menanyakan tentang luka di wajahku ini." Sandy menatap wajahnya dalam pantulan cermin. Lebam dan memar itu mulai memudar. "Ah, rupanya sudah lebih baik. Gampang saja, jika Kiara menanyakannya, aku hanya perlu bilang jika sekawanan preman berusaha mencopetku dan dompetku hilang. Maka, gadis bodoh itu akan merasa iba dan mengasihani diriku, atau bahkan memberiku uang untuk biaya pengobatan."
Tawa membahana terdengar dari bibir Sandy saat pesan yang ia tulis terkirim kemudian mendapat balasan. Pria itu terlihat sangat mengagumi kelihaiannya dalam berekting. Menipu banyak gadis dengan wajah sok polosnya. Seakan semua ulah yang nyata-nyata salah, ia anggap benar.
*****
"Maaf, aku terlambat. Sudah menunggu lama ya?" Kiara lekas mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi yang menghadap langsung dengan Sandy. Gadis itu pun terbelalak ketika mendongak dan menatap wajah Sandy yang terdapat banyak bekas luka memar.
"Hei, ada apa dengan wajahmu. Kenapa seperti itu," ucap Kiara sembara meraba bagian wajah Sandy.
Pria itu hanya tersenyum tipis. Menyentuh tangan ramping Kiara, lantas mengengamnya.
"Beberapa hari lalu aku bertemu dengan segerombolan premam. Mereka menghajar dan mencopetku hingga seperti ini."
"Ya Tuhan. Kenapa tidak lapor pada polisi saja?" Kiara masih menatap wajah itu dengan iba.
"Sudahlah, tidak menjadi masalah. yang penting nyawaku selamat." Ucapan Sandy seketika membuat gadis yang tengah bersamanya itu merasa tak tega.
"Apa kau sudah membawanya kedokter? Jika belum, ayo pergi bersamaku. Kita akan mencari dokter untuk membuat luka-lukamu cepat sembuh," tawar Kiara.
Sandy tergelak dalam hati. Dasar gadis bodoh.
__ADS_1
"Tidak usah, sayang. Lagi pula, lukaku sudah terlihat mengering dan rasa sakitnya pun berkurang. Aku sudah merasa lebih baik.
Kiara sedikit kecewa, mendengar penolakan dari Sandy.
"Sayang, kau datang sendiri? Aku kira akan mengajak teman perempuanmu itu?" Sandy mulai mengganti topik pembicaraan.
Gadis itu pun menautkan kedua alisnya kemudian bertanya, "Siapa? Maksudmu Zara?"
Sandy menggangguk. Disaat bersamaan seorang pelayan resto datang kemudian keduanya memesan makananan yang diinginkan. Setelah pelayan itu menjauh, mulailah Sandy melancarkan aksi.
"Hubungan kalian terlihat dekat, apa dia juga tinggal dikontrakan yang sama denganmu?"
Gadis bersurai sebahu itu menatap netra sang kekasih lekat.
"Tidak. Aku jadi heran kepadamu, dari beberapa hari yang lalu kau juga menanyakan Zara padaku. Apa jangan-jangan kau menyukainya?" Sandy gelagapan, bingung mencari jawaban yang tepat.
Sialan. Jangan sampai gadis bodoh ini curiga.
"Aku tau jika Zara jauh lebih cantik dariku, tapi kau juga kekasihku," rajuk Kiara dengan bibir mengerucut.
"Bagiku, kaulah gadis tercantik yang ada di muka bumi ini. Sebanyak dan secantik apa pun gadis yang datang padaku, tak mampu memudarkan rasa cinta yang kumiliki, hanya untukmu." Ranyuan maut yang terucap dari bibir sandy, seketika membuat kedua pipi Kiara merona dan merasa tersanjung.
"Aku tau, jika kau bukanlah pria semacam itu."
Mereka mulai menikmati makanan yang pelayan sudah siapkan sembari berbincang.
"Jika Zara tidak tinggal di kontrakan yang sama denganmu, lalu di mana dia tinggal?"
Kiara tampak mengunyah makanan namun tetap mendengar pertanyaan kekasihnya.
"Dia tinggal di toko bunga tempat aku bekerja. Tapi beberapa belakangan ini, sepertinya dia tidak tinggal di toko lagi."
Toko bunga.
"Kenapa? Apa dia pindah?"
__ADS_1
Gadis yang tampak menikmati makanannya itu menggeleng.
"Entahlah. Aku juga tidak pernah menannyakannya. Bagiku, itu semua tidak penting. Asal bisa bertemu dengannya setiap hari di tempat kerja saja sudah membuatku senang." Kiara tak ambil pikir dan tak ingin mencampuri kehidupan Zara. Baginya persahabatan yang mereka jalin tak pernah memandang latar belakang kehidupan masing-masing.
Seperti Zara yang sama sekali tak ia ketahui asal usulnya, begitu pun sebaliknya. Zara juga tak pernah menanyakan ataupun mengungkit masalah kehidupan pribadinya saat keduanya tengah bersama.
Sandy begitu kecewa, namun berusaha tak ia tunjukkan.
"Hanya satu yang aku tau, Zara adalah karyawan yang dibawa langsung oleh pemilik toko. Dia bernama Anastasya, perempuan kaya istri dari seorang CEO ternama. Aku tau sebab saat Zara datang, aku sendiri sudah bekerja di tempat itu."
Apa dia bilang? Anastasya? Pemilik toko bunga, istri CEO ternama.
Sandy mencatat di otak beberapa poin penting yang tak boleh begitu saja ia lupakan.
Akan tetapi di balik pernyataan yang Kiara ucapkan, dia masih mampu berfikir dengan bijak untuk memilah ucapan yang terlebih dulu ia saring.
Meski sandy ialah kekasihnya, namun ia juga tak ingin membongkar identitas orang-orang yang dekat dengannya. Mengingat, belum tentu hubungan mereka akan menuju pada jenjang yang lebih serius. Terlebih Anastasya, atasanya itu sudah memberikan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar untuk membayar hasil kerjanya setiap bulan. Jadi ia pun hanya akan menjawab seperlunya saja.
Sandy perlahan sadar jika Kiara sedikit merasakaan kecurigaan pada setiap pertanyaanya.
Aku harus memilih jalan santai dan tak boleh gegabah sekarang. Aku tau jika dia mulai curiga akan setiap pertanyaan yang aku ucapkan.
Sandy menahan keinginan bibirnya untuk terus mengorek keberadaan Zara kini. Ia sadar, ini bukanlah waktu yang tepat.
Makanan yang dipesan sudah tandas tak tersisa. Kiara memangil seorang pelayan untuk menghitung jumblah biaya yang harus dikeluarkan. Gadis manis itu meraih dompet di dalam tas dan berniat untuk membayar. Akan tetapi, Sandy mencegahnya.
"Sayang, biar aku saja," ujarnya, kemudian merogoh dompet di saku belakang celanannya dan membayar semua tagihan.
Kiara terdiam, dia menghela nafas. Akan tetapi kali ini dirinya melihat sejejak keanehan dari sang kekasih. Terbilang sangat langka jika Sandy mau membayar modal kencan, jika tidak memiliki rencana terselubung.
"Sayang, ayo aku antar." Sandy beranjang dari duduknya dan menarik lembut tangan kekasihnya.
Kiara yang sudah faham, berusaha menghindar. "Tidak, sayang. Aku ingin pulang naik taksi saja. Lagi pula, masih ada satu tempat lagi yang ingin aku datangi," tolak Kiara lembut hingga Sandy tak menaruh curiga. Gadis itu pun bergegas sebelum Sandy menahannya.
Saat menuju perjalanan pulang, gadis itu terlihat tak tenang. Inilah salah salah satu yang membuatnya ragu untuk meneruskan hubungan dengan Sandy. Ia sudah terlihat tak nyaman. Sudah beberapa kali ia meminta untuk mengakhiri hubungan yang sudah terjalin, namun pria itu bersikeras menolak, dan mengatakan tak bisa hidup tanpa Kiara.
__ADS_1
Gadis mungil itu hanya bisa mengusap dada dan hidup dalam dilema. Ingin rasanya lepas dan berlalu pergi darinya. Akan tetapi, memutuskannya tanpa suatu alasan juga bulakanlah jalan yang tepat.