Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Janji


__ADS_3

Ada yang tak biasa, sudah sekitar satu minggu ini Anastasya tak kedatangan pelanggan misteriusnya. Entah di mana Ken, namun yang pasti ia tak mengunjungi restoran seperti biasanya.


Gadis itu masih terpaku, dan beberapa kali menatap kearah jam dinding yang berdetak.


"Tasya, apa yang sedang kau lakukan? Kau maih ingin tetap berdiri di tempat itu dan tak ingin pulang?" Seorang koki bahkan sudah menggendong tas ranselnya dan bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut untuk kembali kerumah berkumpul dengan istri dan anak-anaknya.


"I-iya kak, selesai berkemas aku pun akan pulang."


Mungkin malam ini dia tidak akan datang lagi.


Sedikit kecewa, Anastasya mulai mengemasi barang miliknya dan ikut pulang bersama teman lainnya. Akan tetapi rasa ragu itu masih ada, hilang hanya motor miliknya yang masih tersisa di area parkir.


Aneh, lagi pula kenapa aku harus memikirkannya. Memangnya siapa dia? Hanya pria misterius yang susah diajak bicara.


Gumam-guman tak jelas sementara kakinya berjalan menuju area parkir dengan santai. Meski malam sudah larut, tetapi Anastasya yang sudah terbiasa dengan kesendirian dan kesunyian itu tak merasa takut.


Helm berwarna merah muda sudah terpasang di kepala, dan mesin motorpun menyala, bersiap untuk memecah jalanan malam. Namun tiba-tiba,


"Maaf, apakah restoran sudah benar-benar tutup?"


Gadis itu pun menoleh, saat mendengar sebuah suara yang tak lagi asing baginya. Entah mengapa, jantungnya serasa berdegup kencang kala mengetahui jika Ken-lah pemilik suara itu.


"T-tuan."


"Maaf, aku datang larut malam dan bahkan restoran sudah tutup," ucap Ken lirih sembari menatap kearah restoran yang sebagian lampunya telah padam.


"Iya, tuan. Restoran mungkin sudah benar-benar tutup sekitar lima belas menit yang lalu."


"Baiklah." Pria itu terlihat kecewa, terlihat jelas dari gurat di wajahnya. Ia pun berbalik arah untuk segera pergi.


Anastasya yang merasa tidak nyaman itu spontan turun dari kendaraan dan melepas helm yang sudah dipakai.


"Tunggu tuan!"


Ken pun menghentikan langkah dan berbalik menatap Anastasya.


"Apakah anda lapar?" tanya Anastasya sedikit ragu.


Pria itu menghela nafas dalam, dan membuangnya perlahan.


"Tentu saja. Bukankah setiap kemari tujuanku hanya ingin makan."


Benar juga.


"Bagaimana jika tuan makan di kedai itu saja. Di sana masih buka. Andai tuan berkenan." Menunjuk kearah seberang, Anastasya mengarahkan pandangan Ken kesebuah kedai Mie yang berada di pinggiran jalan.


Pria itu bergidik, mungkin penampilan tempatnya yang berada di pinggiran jalan.


"Tuan tidak perlu khawatir. Saya bisa menjamin kesehatan dan kebersihan makanan atau pun tempat makan itu. Bagaimana?"

__ADS_1


Meski cukup ragu, tapi pria itu mengangguk. Mau bagaimana lagi, perutnya bahkan sudah sangat melilit kelaparan, dan di mana lagi dirinya harus mendapatkan makanan ditengah malam seperti ini.


"Baiklah, kau ikut denganku. Jika semua tak sesuai dengan ucapanmu, maka kaulah yang akan membayar semua biayanya." Tanpa menunggu persetujuan, Ken membalikan badan dan mulai melangkah menuju kedai mie tersebut, tanpa memperdulikan wajah geram Anastasya yang ingin menelannya hidup-hidup karna celotehannya.


Sialan.


*****


Lindungi aku tuhan. Aku bahkan tak membawa banyak uang untuk membayar biaya makan tuan ini jika ucapanku tadi hanyalah hisapan jempol belaka.


Tubuh Anastasya bahkan sudah terlihat gemetar sesaat setelah memasuki kedai mie. Entah apa yang gadis itu fikirkan, hanya saja dirinya kini benar-benar ketakutan.


Keduanya duduk berhadapan dan berbaur dengan pelanggan lainnya. Meski malam sudah larut, tetapi nyatanya kedai itu masih ramai oleh pengunjung. Gadis itu lebih memilih diam, saat Ken memesan makanan. Hingga tak berselang lama, dua mangkuk mie dengan aroma gurih dan kepulan asap di atasnya mendarat tepat di hadapan.


Kenapa hanya memesan dua mangkok. Biasanya dia akan meminta tiga mangkok untuk dirinya sendiri, dan kini ditambah denganku, bukankah seharusnya menjadi empat mangkok.


Anastasya tersenyum masam.


Bodoh. Kenapa aku berharap jika tuan ini akan memesankan mie untukku juga.


Anastasya pun bangkit dari posisinya, namun seketika tangan gadis itu ditahan oleh Ken, dan memintanya untuk duduk kembali.


"Kau mau kemana?"


Kemana lagi kalau bukan memesan makanan.


"Memesan makanan, tuan. Akan terlihat tidak sopan jika saya duduk di tempat ini, tetapi tidak memesan makanan atau minuman sedikit pun." Amastasya mepis tangan Ken yang masih menyentuh lengannya.


Gadis itu masih kebingungan. "Loh, bukankah----" Gadis itu tak mampu meneruskan ucapannya saat tangan kokoh Ken menarik lengannya untuk kembali duduk, diiringi sorot mata tajam yang membuat Anastasya spontan membungkam.


Dasar pria aneh.


Anastasya terus menatap Ken yang lahap menyantap mie pesanannya.


Dia terlihat lahap, apa iya dia menyukai makanannya.


Sadar jika diperhatikan, Ken pun berdehem, yang mana membuat gadis di depannya itu spontan menunduk dan mulai memakan makananannya.


*****


"Terimakasih, tuan."


"Untuk apa?"


"Untuk traktirannya," ucap Anastasya lirih.


Ken tergelak. "Kenapa? Apa wajah pucat yang kau tunjukan tadi, sebagai ekspresi kekhawatiran jika aku benar-benar memintamu untuk mentraktirku?"


Gadis itu tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


"Apa kau berfikir jika diriku masuk dalam katagori pria yang suka memanfaatkan keadaan?"


"Bukan begitu maksudku tuan."


"Wajar saja jika kau berfikiran demikian, sebab kita masih belum mengenal." Secara tiba-tiba Ken mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, aku Ken. Kenan Pratama."


Anastasya menatap sebuah tangan yang terulur di hadapan. Tanpa ragu, ia pun menyambutnya.


"Saya Anastasya, tuan."


"Aku sudah tau namamu. Pada malam itu, kau pernah menyebutkannya."


Anastasya menghela nafas dalam. Mengapa kata-kata yang keluar dari bibirnya sungguh tak ada manis-manisnya.


"Lalu statusmu, apakah sudah berkeluarga ataukah masih singel?"


Sebenarnya gadis itu engan untuk menjawab. Masih begitu sakit untuk mengingat kembali tentang kehidupan masalalunya.


"Yang pasti, saya tidak berkeluarga," jawab Anastasya datar.


"Oh, baiklah. Maaf jika pertanyaanku membuatmu tidak nyaman." Keduanya pun terdiam beberapa saat, sama-sama berperang dengan fikir masing-masing.


Mereka duduk disebuah kursi panjang di area parkir restoran, selepas kenyang menyantap hidangan mie di kedai pinggir jalan.


"Tuan, ada satu hal yang ingin saya tanyakan." Ragu gadis itu mengucapnya.


"Tentang apa?"


"Mengapa pada saat di kedai tadi, tuan tidak memesan tiga porsi makanan seperti biasanya?" Anastasya menatap sekilas kearah Ken yang tiba-tiba berwajah sendu. Entah apa yang pria itu tengah rasakan, tetapi bisa dipastikan jika ia dalam kondisi tak baik-baik saja.


"Jangan dijawab Tuan, jika anda tidak ingin menjawabnya," Anastasya meralat kembali pertanyaanya. Sadar jika pertanyaan itu membuat mood Ken berubah.


"Besok akhir pekan. Apakah kau bekerja seperti hari biasanya?"


"Iya tuan. Tetapi saya masuk sift malam."


Pria itu menghela nafas dalam, namun tak menatap kearah Anastasya.


"Jika kau ingin jawaban dari pertanyanmu itu, maka besok temui aku di taman kota jam delapan pagi. Bagaimana?"


Hah, untuk apa.


"Datanglah tepat waktu. Aku akan menunggumu." Selepas berucap, Ken melangkah menuju mobilnya yang terparkir, menghidupkan mesin dan mulai menjalankannya.


Anastasya yang masih membisu itu, menatap punggung Ken yang menjauh meninggalkannya. Hingga mobil yang dikendarai pria itu pun menghilang ditelan pekatnya malam.


Memangnya aku sebegitu penasaran denganmu? Lagi pula kenapa juga aku menanyakan hal semacam itu kepadanya. Dasar otak bodoh. Kenapa aku begitu penasaran dengan pria misterius itu.


Anastasya tak henti memaki dirinya sendiri. Bahkan saat motor yang ia kendarai melaju di jalanan pun ia masih belum berhenti mengucap caci dan maki yang ia tujukan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2