
Sofyan memandang rumah megahnya yang dulu diselimuti dengan cinta, kini terlihat rapuh dan usang seiring kesehatan sang istri yang kian memburuk. Menghela nafas dalam untuk meninggalkan ruang tamu yang dulunya selalu dipenuhi dengan canda tawa, ayah dari Rangga itu menuju kamar di mana sang istri tengah terbaring melawan rasa sakitnya.
Melihat sang tuan yang datang, pelayan dan perawat yang berjaga pun lekas berlalu pergi meninggalkan ruangan.
"Selamat pagi, sayang," ucap Sofyan sembari mendekat kemudian menarik sebuah kursi untuk ia duduki di samping tubuh terbaring sang istri. Dengan penuh cinta, pria paruh baya itu mencium kening sang istri. Meski ia tau jika perempuan itu tak bisa membalas, tapi ia yakin jika istrinya itu bisa merasakan sebuah ciuman hangat darinya.
Hening. Pria itu sejenak terdiam. Hanya ada suara yang berasal dari alat penunjang kehidupan, yang menandakan jika Siska masih bernyawa.
"Sayang, sampai kapan kau akan seperti ini? Bangunlah, buka kedua matamu untuk bisa melihat kami seperti dulu lagi."
Hidup Sofyan, tak lagi bermakna saat Siska tak lagi bisa merasakan seperti apa kehidupan. Semua ini terjadi pun bukan tanpa sebab. Bermula dari rasa kecewa putra semata wayangnya, hingga Siska menghukum diri hingga akhirnya terpuruk seperti ini.
Kini putra yang ia sayangi telah kembali, namun istrinya masih setiap terlelap dalam komanya. Hingga batin pria paruh baya itu meringis pilu, tak tau seperti apa lagi untuk bisa mengubah kondisi istrinya menjadi lebih baik.
"Kau jangan khawatir, sayang. Aku akan menemui putra kita dan menyampaikan keinginan yang belum sempat kau penuhi." Sofyan mencium puncak kepala sang istri sebelum kembali bangkit dan meninggalkan ruangan.
Kali ini, ia melangkah menuju kamar sang putra. Tampak ragu ia mengetuk pintu. Akan tetapi, keinginan sang istri harus ia utarakan pada putranya, dan berharap bisa lekas terpenuhi.
"Rangga," pangil sofyan dari luar pintu. "Bolehkah ayah masuk?" sambung pria paruh baya itu lagi.
Terdengar langkah mendekat, kemudian pintu kamar terbuka.
"Ayah, ada apa?"
"Ada hal penting yang ingin ayah sampaikan padamu. Bolehkah ayah masuk," pinta Sofyan pada sang putra.
Rangga pun mengganguk kemudian mempersilahkan ayahnya untuk masuk. Berjalan kearah sofa, Sofyan yang tubuhnya kini terlihat lebih kurus itu memilih duduk dan menyandarkan punggungnya. Wajah pria paruh baya itu terlihat lelah, seiring usianya yang terus bertambah.
__ADS_1
Sang putra pun duduk, namun di sofa yang berbeda.
"Hal penting apa, yang ingin ayah katakan?" Rangga menatap wajah senja ayahnya lekat. Pria garang yang dulu disegani banyak orang, kini perlahan mulai hilang kewibawaan. Berganti dengan wajah kusam dan kondisi tubuh sakit-sakitan.
Sofyan menghela nafas dalam.
"Ini menyangkut masalah ibumu, dan juga diriku."
Rangga menyipitkan netra, mencari tau arah tujuan dari ucapan ayahnya.
"Maksud ayah?"
"Nak, maafkan perlakuan kami beberapa tahun yang lalu. Kami sadar, sebelum ibumu koma seperti saat ini, dia sempat menginginkan untuk bertemu dengan Anastasya, hanya saja tidak pernah terwujudkan. Maka dari itu, ayah meminta kepadamu, bawalah dia kerumah ini dan pertemukan dengan Ayah dan ibumu." Sofyan merendahkan diri serendah-rendahnya pada sang putra. Mengiba seiba-ibanya hingga putranya bisa mengabulkan keinginannya.
Rangga menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.
Sofyan tertegun, bagaimana bisa putranya itu mengucap hal demikian.
"Apa maksudmu, Nak?"
"Apa ayah kira membawa Anastasya kembali masih merupakan hal mudah setelah apa yang ayah dan ibu sudah lakukan padanya. Aku rasa ayah masih bisa mengingat dengan jelas, bagai caci maki dan penghinaan itu ayah dan ibu lemparkan pada Anastasya, padahal jelas kalian tau jika gadis itu tidak bersalah. Akulah yang bersalah karna sudah menghamilinya, tetapi dengan mudahnya kalian berkilah dan mengatakan jika Anastasya tak pantas untuk menjadi bagian dati keluarga ini," geram Rangga mencoba membuka tabir luka beberapa tahun lalu yang membuatnya selalu mengingat tingkah keji itu dan tidak akan mudah bisa melupakannya.
Tubuh pria paruh baya itu seketika bergetar, peluh dingin mulai menitik di pelipis dan telapak tangan. Semua terjadi memang berawal dari penolakannya pada gadis bernama Anastasya yang sudah dihamili oleh putra tunggal mereka. Dirinya bersama sang istri yang merupakan pengusaha sukses waktu itu, menolak mentah-mentah gadis yang datang dengan calon cucu mereka yang sudah berkembang di dalam perut. Dengan dalih, jika gadis pilihan sang putra, tak sesuai dengan keinginan mereka.
"Nak, itu masalah lampau. Sekarang, ayah meminta padamu untuk bisa memaafkan kesalahan kami kala itu." Sofyan beralih duduk mendekati putranya. Menggengam tanganya dengan iba.
Sedikit jengah, Rangga menghempaskan tangan sang Ayah yang tengah menggengam tangannya.
__ADS_1
"Mungkin Ayah mengira jika perkara lampau itu sudah tak lagi membekas di benakku. Tapi perlu ayah tau, jika luka lampau itu bagaikan setumpuk luka terpendam yang masih bisa aku rasakan sampai saat ini."
Rangga bangkit dari posisi duduknya. Inilah waktu yang tepat baginya untuk membuka rasa luka yang dulu sempat ia pendam dan rasakan seorang diri.
"Di saat Anastasya mengandung darah dagingku, ayah dan ibu dengan kejamnya mengirimku kenegara XX untuk mengurus perusahaan yang nyaris bangkrut di sana tanpa ingin mendengar kata penolakan dariku. Anastasya harus hidup sendiri dengan menanggung rasa malu dan caci maki dari orang-orang yang mengetahui jika dia hamil tanpa suami. Dia juga hampir bunuh diri, jika tidak Arka yang menyelamatkan nyawanya. Apa ayah tau akan hal itu?"
Sang Ayah tergagap. lidahya terasa kelu untuk bisa menjawab. Akan tetapi, sepasang netra senja itu mulai berkaca-kaca.
"Ayah tidak bisa menjawabnya, bukan?" Rangga tergelak penuh ironi. Bagaimana seorang ayah yang dulunya garang dan penuh wibawa, kini tak memiliki daya hanya untuk berbicara.
"Ibu selalu mengirimkan gadis-gadis cantik untuk menggodaku, dan berharap aku bisa menikahi salah satu diantaranya. Tetapi mengertilah, Ayah. Rasa cintaku pada Anastasya tak pernah berubah meski selama apa pun dan sejauh apa pun kita berpisah. Hingga aku memohon pada sahabatku sendiri untuk menikahi gadis yang aku cintai." Rangga terisak pilu, buliran bening mulai luruh di wajahnya.
"Itu karna aku tak punya pilihan lain. Aku masih mencintai Anastasya, dan tak ingin jika ada pria lain yang merebutnya dariku."
"Nak, ayah benar-benar minta maaf," ucap Sofyan terus mengiba.
"Setelah semuanya menjadi seperti ini, apakah ayah baru mulai sadar? Setelah Anastasya pergi, ibu yang koma dan ayah yang mulai renta. Setelah semua proses itu apakah ayah mulai tersadar bahwa sudah melakan kesalahan besar?"
"Nak," rengek Sofyan. "Setidaknya fikirkan kondisi ibumu."
Rangga mengusap wajahnya yang lembab dengan kasar.
"Tetapi apakah ayah memikirkan bagaimana perasaanku saat itu? Aku hancur ayah, sama seperti ibu saat ini." Nafas Rangga yang mulai tak beraturan, memaksa dirinya untuk sejenak meredam amarah yang sempat meledak.
Wajah Sofyan sudah pucat pasi. Dirinya seolah tak mampu untuk memohon belas kasih pada putranya lagi. Semua memang kesalahannya, maka seberat apa pun dampak yang akan ia tanggung, maka dengan lapang dada akan pria itu terima.
"Aku tidak berani berjanji, aku bahkan tidak tau di mana dia tinggal saat ini. Jika memang kami bertemu dan Anastasya masih sudi untuk mengonjakkan kaki kerumah ini kembali, maka aku pun akan membawa dia kehadapan ibu dan ayah."
__ADS_1
Ucapan sang putra spontan membuat bibir terkatup itu mulai tersenyum samar. Ia benar-benar mengharap, jika ucapan putranya akan menjadi kenyataan. Hingga ia dan sang istri bisa mengucap kata maaf untuk Anastasya.