Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Ketahuan __ Visual Kiara


__ADS_3

"Secepatnya? Benarkah seperti itu?" gumam-gumam Kiara saat menyusuri lobi rumasakit. Ia menatap sekilas pada seorang pria yang berjalan mensejajarinya.


Senyum gadis itu pun terulas tipis.


Aku tidak boleh terlalu berharap.


Ia pun menghela nafas dalam, kemudian menatap pandangannya kedepan.


"Bagaimana jika sebelum pulang, kita makan malam dulu?" Pria itu pun tergelak samar. "Perutku sangat lapar." sambungnya kemudian.


Kiara mengangguk sebagai jawaban.


Sam mulai melajukan kuda besinya. Memecah jalanan malam ibu kota yang penuh sesak kendaraan bermotor dan para pejalan kaki.


"Kita akan makan apa?" Sam menatap gadis di sampingnya. Berharap jika bibir mungil gadis itu akan menjawabnya.


"Terserah Kak Sam saja."


Satu kalimat yang membuat Sam menghela nafas dalam.


Sudah kuduga. Pasti seperti itu jawabannya.


Sam sendiri faham. Kiara bukanlah gadis matre atau pun banyak kemauan seperti gadis masa kini pada umumnya. Kesederhanaan yang menjadi gaya hidupnya, selalu gadis itu junjung tinggi.


Disaat Sam sibuk dengan fikirannya sendiri. Tanpa sadar mereka tengah melalui sebuah jalan yang dipenuhi para pedagang makanan yang berjaja di pinggir jalan.


Aroma bakar menyeruak. Tanpa sadar Sam menoleh kearah gadis di sampingnya. Tetapi apa yang ia dapat? Pandangan gadis itu kini tengah tertuju pada para pedangang makanan itu dengan netra berbinar.


Seketika itu pula Sam menepikan kuda besinya hingga membuat Kiara terperanjat.


"Kau ingin makan di tempat ini?" tanya Sam penuh selidik.


Gadis itu pun lekas menunduk. Antara takut dan juga malu.


"Maaf kak," lirihnya.


"Kau bahkan tidak bersalah, kenapa harus minta maaf?" Pria tampan itu tergelak, kemudian refleks mengusap lengan gadis di sampingnya lembut.


"Ayo, turun," titahnya. "Bukankah kau juga lapar?" Tanpa menunggu jawaban, Sam lebih dulu membuka pintu, dan keluar dari kuda besi tersebut.


Gadis itu mengerjap. Memandang sesosok pria yang sudah berdiri sembari menunggunya.


Ya tuhan. Benarkah ini nyata?

__ADS_1


Kiara masih menetralkan fikirannya, walau pun keduanya sudah duduk saling berhadapan dengan makanan yang terhidang di meja.


"Ayo makan, tunggu apa lagi?"


"I-iya Kak."


Untuk sejenak Kiara menatap pria tampan di depannya yang makan dengan lahap. Sam bahkan tak menggunakan sendok atau pun garpu, ia lebih memilih menggunakan tanggan seperti pengunjung tempat makan lainnya. Lengan kemeja yang ia lipat hingga kesiku, membuat pria yang memang sudah tampan itu, terlihat kian mempesona.


Kiara masih terpaku, dan sesekali menutup matanya dengan kedua tapak tangan. Meski sebenarnya ia tetap mengintip dari sela-sela jari yang terbuka. Ia masih sulit untuk mengendalikan perasaanya sendiri.


"Kia. Kau kenapa?"


Kiara refleks menurunkan kedua tangannya. Kemudian tersenyum hambar saat mata elang itu tengah menatapnya penuh tanda tannya.


"Em... Tidak apa-apa kak. Hanya kelilipan," jawab Kiara asal.


"Oo.. Ayo dimakan. Jika makanannya sudah dingin, pasti kurang terasa nikmat."


Kiara pun mengangguk antusias. Terlebih menatap hidangan yang tersaji di depan mata.


Ya tuhan. Sudah lama aku ingin makan-makanan seperti ini.


Ia liur gadis itu nyaris menetes. Aroma bakar dari beberapa hidangan laut itu benar-benar menggoda imannya.


Tak ingin kalah dengan sang kekasih. Gadis itu pun tanpa sungkan melahap makanannya dengan menggunakan tangan. Tak ada yang ditutupi atau pun dilebihkan. Zara makan seperti biasanya.


*****


"Aku akan mengantarmu sampai depan kost."


"Tidak usah kak, lagi pula ini sudah malam. Kak pasti lelah," tolak Kiara saat pria itu hendak mengantarnya.


"Aku harus lebih dulu memastikan keamananmu, baru aku bisa pulang."


Sam bergegas turun, kemudian membuka pintu mobil untuk Kiara.


"Terimakasih, kak. Tidak seharusnya kakak melakukan hal seperti ini padaku." Kiara dibuat tak nyaman dengan perlakuan Sam. Mengingat gadis itu tak pernah mendapatkan perhatian semacam ini sebelumnya.


"Kenapa, apa kau belum terbiasa?"


Kiara mengangguk samar.


"Maka terbiasalah."

__ADS_1


Dengan lancang Sam meraih jemari lentik Kiara dan menggengamnya. Menyusuri jalanan sepi memasuki gang masuk kost.


Kiara terkesiap. Dia menatap tangan mungilnya yang ada dalam gengaman tangan besar sang kekasih. Sam memfokuskan pandangannya kedepan, tetapi tidak pada Kiara yang masih sibuk menatap pertautan tangan tersebut.


Ini benar-benar nyata! Ia dia menggengam tanganku.


Meski diri berusaha untuk tak berangan tinggi. Tetapi nyatanya semuai itu bukanlah mimpi. Berusaha abai dengan perang batin dan akal sehatnya, Kiara berusaha menikmati setiap alurnya. Meski pun ini hanya sebatas hal semu yang belum tentu kemanah arah pastinya. Toh setidaknya ia bersyukur sebab menaruh hati pada pria sebaik Sam.


Gengaman tangan itu terlepas saat mendekati teras kost Kiara.


"Terimakasih banyak Kak."


"Masuk dan istirahatlah," titah Sam pada Kiara.


Gadis itu pun mengangguk kemudian berucap, "Kakak tidak ingin masuk?"


Sam spontan menggeleng.


"Tidak. Ini sudah malam."


Kiara melambaikan tangan sebelum membuka pintu dan mulai memasukinya.


Sam pun membalas lambaian tangan itu.


"Tutup pintunya. Tidurlah yang nyenyak dan selamat malam."


Kiara yang mendengar kalimat itu pun tersipu malu. Dengan perlahan ia menutup pintu tanpa menimbulkan suara. Saat memastikan jika pintu sudah tertutup rapat, gadis itu menyandarkan punggungnya pada pintu tersebut. Dirabanya daerah dada, di mana arah jantungnya berpacu tak karuan.


Jantung, oh jantung. Aku berharap jika kau masih berada pada tempatnya.


Merasa sudah cukup lama menunggu, Kiara berinisiatif untuk mengintip keberadaan Sam di luar dari kaca jendela.


"Hah, pasti dia juga sudah pergi," ucap Kiara santai lalu menyibaik tirai berwarna putih itu. Bagai tersengat listrik, Kiara justru nyaris berteriak dan kembali menutup tirai itu saat melihat sosok pria yang masih berdiri pada tempatnya semula dengan senyum simpul di bibirnya.


Ya tuhan! Kenapa aku nekat membuka tirainya. Dasar bodoh.


Kiara terus merutuki diri, sementara ia sendiri berguling-guling di lantai keramik dengan sesekali menghentakkan kaki. Gadis itu teramat malu. Berfikir jika Sam sudah pergi jauh, namun nyatanya pria itu masih berdiri tegak di tempatnya tanpa bergeser seinci pun. Namun yang lelbih Kiara sesali, pandangan pria itu pun tengah mengarah kearah jendela. Seperti mampu menebak jika gadis itu akan mengintipnya dari celah tersebut.


Bersambung...


Visual Kiara. Cem Cemanya si Babang Sam☺☺☺ Semoga cocok yaa🙏🙏


__ADS_1




__ADS_2