Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Trauma?


__ADS_3

Ketukan di pintu membuat seseorang yang sedang terlelap itu mulai menunjukan pergerakan kecil. Indra pendengarannya masih belum terpasang dengan sempurna, begitu pun dengan kesadarannya.


"Nona, bolehkah saya masuk." Terdengar suara dari balik pintu di iringi ketukan.


Anastasya mengeliat dengan sepasang netra yang masih terkatup rapat. Tubuhnya terasa nyaman, terlebih kasur empuk yang membuatnya bisa tidur sepulas ini.


Hah, kasur empuk?


Anastasya spontan terbangun, kemudian menatap pandangan di sekitarnya.


Apa?


Gadis itu menepuk keningnya berulang. Bodoh! Kenapa ia sampai tidur senyenyak ini sampai tak menyadari jika sedang tak di rumahnya sendiri.


"Ya tuhan, jam berapa sekarang?" gumam Anastasya seraya bangkit dari ranjang, kemudian membuka pintu kamar sesegera mungkin.


"Bi Sumi," ucap Anastasya setelah pintu terbuka dan mendapati pelayan itu tengah berdiri di balik pintu tersebut.


"Selamat pagi, nona," sapa Sumi dengan ramahnya.


"Selamat pagi, Bi Sumi," jawab Anastasya sembari meringis dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sungguh ia malu sebab bangun sesiang ini.


" Tuan meminta saya untuk menyuruh nona turun untuk sarapan, jika sudah bangun dan membersihkan diri." Sumi sempat menatap Anastasya yang sepertinya masih bangun tidur, hingga membuat perempuan paruh baya itu tersenyum tipis.


"Bi, tolong katakan jika aku akan turun sebentar lagi. Aku usahakan untuk mandi secepat mungkin."


Belum sempat Sumi menjawab, Anastasya sudah berlari menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


****


"Aku harus memakai yang mana?"


Anastasya kebingungan saat membuka lemari pakaian.


"Pakai piyama lagi? Ah, tidak mungkin. Aku kan tidak ingin tidur lagi."


Menghela nafas dalam, dengan terpaksa Amastasya meraih satu potong gaun, yang entah milik siapa itu untuk ia gunakan.


Lagi-lagi gadis itu tercengang, menatap pantulan tubuhnya di depan cermin.


"Kenapa terasa pas sekali di tubuhku? Sebenarnya pakaian ini milik siapa?" Fikir Anastasya berkecamuk. Rasanya begitu penasaran akan sosok pemilik pakaian yang saat ini ia gunakan.


"Aku harus cepat-cepak ke bawah. Tuan misterius itu pasti sudah lama menungguku."


Sehabis menyisir Surai dan mengikatnya tinggi, Anastasya begegas keluar kamar untuk menemui Kenan di lantai dasar.


Tak butuh waktu lama untuk menemukan keberadaan pria yang kini duduk memangku satu kakinya dengan menikmati secangkir kopi di tangan. Saat Anastasya mendekat, pria itu mendongak sejenak, berdehem, kemudian meletakkan kembali secangkir kopimya di atas meja.

__ADS_1


"Apakah semalam tidurmu nyenyak?" tanya Ken tanpa menatap kearah lawan bicaranya.


Anastasya tersenyum kikuk. Bagaimana tidak nyenyak, fikirnya. Jika dirinya sampai terbangun sesiang ini.


"Maaf tuan. Saya cukup lelah kemarin, hingga tertidur pulas sampai bangun sesiang ini." Ingin rasanya bersembuyi di bawah kolong. Malu, dan teramat malulah yang kini gadis itu rasakan.


Salah siapa membawaku diam-diam kerumahmu. Ketahuankan sekarang, kalau aku hobi molor.


"Duduklah," titah Ken. "Kau ingin minum kopi? Biar Bi Sumi membuatkannya untukmu."


"Tidak usah tuan! Jika ingin, saya bisa membuatnya sendiri. Tidak usah meminta pada Bi sumi."


Tuan, aku hanya tamu di rumah ini. Tetapi kenapa aku sudah terlihat seperti majikan. Aku sungguh tak nyaman. Lagi pula aku sadar akan posisiku.


"Baiklah jika kau menolak." Ken kini bangkit dari sofa, bahkan sebelum Anastasya duduk di sofa itu. " Ayo kita sarapan," ucapnya kemudian.


Apa sarapan? Apa aktifitasku di rumah ini hanya makan dan tidur?


Gadis itu pun pasrah mengekori langkah Ken menuju meja makan. Sumi sudah berdiri di sudut ruangan dengan senyum mengembang di bibir keriputnya.


"Makanlah." Ken mengambil beberapa potong roti isi pada piring Anastasya.


"Terimakasih banyak, tuan."


Pria itu pun menganguk samar sebagai jawaban. Ia pun juga mengambil beberapa roti isi untuk disantap.


"Bi Sumi tidak ikut sarapan?" tanya Anastasya yang masih enggan untuk mengunyah roti isinya.


Dengan disertai senyuman, Sumi menggeleng.


"Saya akan makan, setelah memastikan tuan dan nona sudah merasa kenyang." Begitulah jawaban Sumi yang membuat Anastasya terdiam seketika.


Hah, apa maksudnya.


Tanpa ingin berbicara lagi, Anastasya memilih untuk lekas menikmati sarapannya. Kehidupan Ken memanglah masih misterius baginya. Akan tetapi, itu bukanlah urusan baginya. Lagi pula, mereka hanyalah dua insan yang tanpa sengaja bertemu dan saling membantu.


"Jangan khawatir tentang pekerjaanmu. Aku sudah meminta izin pada Wisnu, jika kau tak masuk dua hari karna ada urusan."


Gadis itu terbelalak. Ken bahkan masih memikirkan nasib pekerjaannya.


"Terimakasih banyak tuan. Terimakasih."


Ken tak menjawab, dan memilih untuk menandaskan sarapannya.


*******


Di bawah pohon rindang yang berada di halaman rumah, Ken membawa Anastasya untuk duduk di sebuah kursi rotan. Semilir Angin terasa sejuk menyentuh kulit. Hari ini, Ken memilih untuk mengosongkan jadwal kerja untuk bisa memiliki waktu berdua dengan Anastasya.

__ADS_1


Sedangkan gadis itu sendiri rupanya masih kebingungan untuk menelaah maksud dan tujuan dari Ken yang bisa membawanya ketempat ini.


"Anastasya."


"Iya tuan." Kenapa tiba-tiba merinding saat dia menyebut namaku.


"Ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu." Meski terdengar biasa saja, tetapi seperti mengintimidasi bagi Anastasya.


"Tentang apa tuan?"


Mereka yang duduk saling berhadapan membuat Anastasya kini memfokuskan pandangan kearah pria tersebut. Ken memang selalu tak main-main jika menyangkut hal apa pun, walaupun itu sesuatu yang paling remeh. Dan kini Anastasya yakin jika Ken memiliki pertanyaan yang sifatnya tak main-main, dan tengah ditujukan kepadanya.


"Kita pernah berbagi kisah tentang masalalu. Kau tau tentang masalalumu, dan aku pun tau tentang masalalumu."


Anastasya mengangguk, namun masih belum memahami arah pembicaraan Ken.


"Perjalanan hidup kita hingga menuju titik saat ini, memang tak seindah hayalan. Penuh kerikil, penderitaan, bahkan luka." Jen memberi jeda pada ucapannya, sementara Anastasya terlihat fokus mendengarkan.


"Aku tau hidupmu dulu penuh dengan kepedihan saat membina rumah tangga. Lalu, yang menjadi pertanyaanku, apakah semua itu menyisakan trauma pada dirimu?"


Anastasya terdiam. 'Trauma' apakah ia merasakannya? Sejujurnya ia menjauh dari kehidupan Arka adalah untuk menghapus jejak kepedihan di masalalunya. Tetapi apakah itu bisa dinamakan Trauma.


"Entahlah tuan. Saya juga tak mampu menjabarkannya."


"Lalu bagaimana jika ada seseorang pria yang memiliki niat baik, dan meminta padamu untuk membina rumahtangga bersamanya. Apakah kau akan menerima, ataukah menolaknya?"


Glekk


Anastasya menelan salivanya berat. Semua memori masalalunya berputar dikepala. Bagaimana masa depannya hancur karna Rangga. Di mana rumahtangganya tak pernah bahagia bersama Arka. Semua itu kini terngiang di kepala.


"Maaf, saya tidak bisa menjawabnya tuan."


"Lalu bagaimana jika aku menyukaimu, dan menginginkanmu untuk menjadi pendamping hidupku. Apakah kau akan menerimanya?"


Duarr..


Bagai tersambar petir, tubuh Anastasya menegang seketika.


tidak, ini tidak mungkin.


"Apa maksud anda tuan?"


"Anastasya, jujur aku menyukaimu. Aku merasa nyaman saat bersamamu. Mungkin ini masih sangat dini untuk diungkapkan, tetapi aku juga tak ingin tersiksa jika lebih lama lagi memendamnya. Maukah kau menikah denganku, Anastasya?"


Pria itu mencondongkan tubuhnya, wajahnya bahkan mendekati wajah Anastasya dan menatap mata gadis itu lekat.


Anastasya membungkam. Dirinya juga menatap mata Kenan lekat. Berharap jika tak ada setitik kebohongan pun di sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2