
Aku sudah mengira jika akan seperti ini jadinya.
Zara bergumam sembari melangkah menuju kamar selepas mengisi perut dan berbincang cukup lama dengan Surti. Mentari masih belum terbit dan langit pun masih terbilang gelap. Gadis itu sempat pergi begitu saja dari kamar tanpa meminta ijin pada sang suami.
Aku bahkan mengendap-endap saat keluar dari kamar karna tak ingin suamiku tau jika perutku sangat lapar.
Ia pun mendorong pintu bercat putih gading itu dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara.
Aman.
Zara mengusap dadanya pelan kala mendapati sang suami yang masih berbaring di ranjang dengan netra terpejam. Gadis itu pun mendekat dan mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang, sementara pandangannya tertuju pada pria tampan yang tengah terlelap dalam damai.
Wajahnya benar-benar tampan.
Lengkung tipis merah jambu itu mengulas senyum tipis. Begitu terlihat mengagumi ciptaan sang maha kuasa yang nyaris sempurna. Garis wajah, hidung macung, alis tebal dan bibir seksi merupakan kombinasi pas yang kian menambah aura ketampanan pria berusia matang tersebut.
Tangan mungilnya sudah terangkat, dan ingin menyentuh rahang berbingkaikan jambang tipis yang seringkali menciptakan rasa geli saat menyentuh pipinya. Meski sedikit gemetar, namun tetap ia lakukan mengingat rasa keinginannya yang lebih besar.
Ujung jemarinya mulai menyentuh bulu tipis yang terasa menusuk. Satu jari, dua jari hingga lima jari mendarat di rahang pria yang masih terlelap itu, namun tiba-tiba timbul gejolak di dalam perutnya yang tak mampu ditahan.
"Huumpp." Zara membekap mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang sedang asik meraba jambang justru mencengkram rahang tersebut, saat menahan rasa mualnya.
"Huumpp."
Bekapan mulutnya semakin kuat begitu pun cengkraman di wajah Arka hingga pria itu pun terkejut dan terbangun dari tidurnya.
Merasa tak tahan, Zara tergopoh menuju kamar mandi meninggalkan sang suami yang masih setengah sadar dan kebingungan.
"Sayang, kenapa? Apa yang terjadi?" Arka membangunkan setengah tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang.
Zara tak menjawab. Akan tetapi gemercik air dari westafel membuat Arka bergegas mengikutinya. Netranya yang masih setengah mengantuk pun membulat sempurna mendapati istrinya tengah tertunduk lesu menghadap wastafel sembari memuntahkan isi perutnya.
"Sayang, kenapa? Apakah masih tidak enak badan?" Arka memijat lembut tengkuk gadis mungil yang sudang setengah lemas itu. "Sudah kukatakan jika kau sakit dan membutuhkan seorang dokter, tapi kau bilang baik-baik saja." Tak hentinya Arka berceloteh sementara kedua tangannya memijat dan mengusap punggung Zara yang terguncang dengan lembut.
Zara mendudukan tubuhnya di atas toilet selepas memastikan makanan di perutnya sudah terkuras habis. Ia hanya mampu memejamkan netra dan mengatur nafas. Arka yang tak tega tengah sibuk mengusap peluh yang menitik di wajah pucat sang istri. Tanpa babibu, pria itupun segera merengkuh tubuh mungil sang istri dan merebahkannya di ranjang.
"Tunggu sebentar, aku ingin memanggil Dokter Bram," ucap Arka hendak menarik laci nakas di mana ponselnya tersimpan.
"Sayang, aku tidak apa-apa. Hanya saja, aku terlalu banyak makan. Mungkin itulah penyebabnya," kilah Zara dan berusaha keras mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
Arka yang sudah cukup sabar itu mulai sedikit geram. Ia sendiri tak tega jika melihat sang istri dalam kondisi seperti ini. Akan tetapi gadis itu tetap kekeh untuk tak ingin diobati.
"Zara, jangan coba-coba membuatku kesal. Kondisi tubuhmu saja bahkan seperti ini dan kau masih bisa mengatakan baik-baik saja!" seru Arka dengan meninggikan sedikit nada bicaranya.
"Kau tadi bilang makan banyak? Apa saja yang kau makan sepagi ini, sayang?" telisik Arka dengan menyipitkan netranya.
Zara tertunduk takut dan menelan ludahnya kasar.
Harusnya aku biarkan saja rasa laparku hingga waktu sarapan tiba jika berujung seperti ini.
"Empat buah roti isi danging cincang dan keju juga segelas susu hangat," jawab Zara lirih tak mampu menatap wajah sang suami.
Arka yang dengan jelas mampu mendengarkan jawaban sang istri itu pun terbelalak tak percaya.
"Apa! Kau sudah makan sebanyak itu dan," gumam Arka kemudian menatap jam di dinding. "Diwaktu sepagi ini?" Arka menghela nafas dalam, ia teringat jika istri mungilnya itu bahkan tak sempat makan malam dan justru terlelap dalam pangkuannya.
"Kau masak sendiri? Kenapa tidak membangunkan suamimu ini saja jika kau lapar, sayang." Ucapan Arka seketika melembut mendapati wajah istrinya yang tampak ketakutan selepas ia melontarkan kalimat dengan suara cukup tinggi.
"Saya tindak ingin mengganggu istirahat anda, sayang."
Arka berdecak. "Kau bukan orang lain, sayang. Kau istriku. Aku tidak pernah merasa kau ganggu dan bahkan sebaliknya, aku sangat senang jika memiliki inisiatif untuk membangunkanku." Terselip seulas senyum di bibir pria itu yang entah apa maknanya.
Gadis itu pun tak menolak dan menganggukinya.
"Sekarang beristirahatlah dan jangan keluar dari kamar. Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, tekan saja ini." Arka memberikan benda berbentuk remote pada Zara dan menunjukan cara kerja dan pada siapa saja alat itu terhubung.
"Tapi, bagaimana dengan toko bunga?"
"Jangan difikirkan, aku akan meminta Anastasya untuk segera pulang," jawab Arka penuh keyakinan.
"Baiklah." Zara hanya bisa pasrah dan mengikuti kehendak sang suami.
*******
Anastasya kembali kekediaman megah Arka selepas liburan, tentunya atas permintaan suaminya itu.
Zara sakit? Sakit apa dia, atau jangan-jangan...
Anastasya hanya bisa menerka perihal sakitnya Zara di dalam fikirnya saja.
__ADS_1
"Mungkin ini waktu yang tepat untuk aku mengatakannya." Anaatasya berdebat dengan batinnya sendiri. Tampak berjalan hilir mudik di dalam kamar dengan pintu yang sengaja ia tutup rapat.
Arka juga sedang ada di ruang kerjanya. Ini kesempatan besar. Di tempat itu aku bisa mengatakan semua keinginanku tanpa ada orang lain yang mendengarnya.
Setelah berfikir cukup lama, dengan mantap Anastasya melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang suami, lantas mengetuknya.
"Masuklah" Terdengar sahutan dari dalam.
Anastasya muncul dari pintu yang terbuka.
"Ada apa?" Arka mengarahkan pandangan kearah istei pertamanya itu hingga keduanya bersitatap.
"Maaf mengganggu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
"Duduklah, dan katakan." Arka menunjuk satu buah kursi di depannya untuk Anastasya duduki.
Anastasya yang sudah memiliki tekad bulat itu pun mendaratkan tubuh dan mulai mengatur kalimat yang sudah ia catat dalam fikiran.
"Anastasya, katakanlah. Apakah ada sesuatu yang kau inginkan?" Arka bertutur lembut. Pria tampan itu tak pernah membedakan kedua istrinya dalam hal apa pun kecuali ranjang. Baginya, keduanya sama-sama berharga.
Anastasya mengatur nafas dan keberaniannya.
"Aku ingin kita bercerai," ucap Anastasya lantang dengan menatap wajah Arka lekat.
"Apa!" jawab Arka tak percaya.
Sementara itu dari arah pintu.
Prank....
Seorang gadis menjatuhkan gelas berisi menimun segar dari tanggannya.
Rupannya, bukan hanya Arka yang mendengarkan permintaan cerai Anastastaya, tapi ada orang lain yang tanpa sengaja mendengarnya.
Kedua orang yang tengah duduk saling berhadapan itu pun tak kalah terkejut dari gadis yang berdiri di ambang pintu dengan wajah syok. Anastasya bahkan mengutuk kebodohannya yang tak lebih dulu memastikan situasi.
Apa? Cerai? Nona Anastasya menginginkan perceraian. Sejahat itukah diriku.
Tubuh Zara melemas dan bersimpuh di lantai yang dipenuhi pecahan gelas. Hatinya tersayat perih, bahkan pecahan yang menacap di telapak tangan hingga mengeluarkan cairan berwarna merah pekat itu tak lagi ia rasa. Suara teriakan juga panggilan bagaikan bayangan semu bergentayang, sebelum akhirnya tubuh mungil itu tumbang dan kedua netra pun terkatup rapat, tak sadarkan diri.
__ADS_1