Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Tentang Rasa


__ADS_3

Mentari mulai menampakkan sinar keemasan bertemankan langit cerah menghiasi cakrawala. Tirai yang sedikit terbuka, dimana tempat cahaya mentari mengintip, sesosok tubuh yang tengah tertidur itu mulai mengerjapkan netra. Tubuh kekarnya berguling kekanan dan kiri. Mendekap erat lagi bantal guling yang sempat terlepas dari pelukan. Bahkan tak sungkan pria itu mencium benda empuk itu layaknya gadis yang ia cintai. Tidur terpisah dengan sang istri membuatnya cukup tersiksa.


Arka pun tak sadar jika pintu kamarnya terbuka tanpa suara. Sesosok tubuh mungil muncul dari balik pintu tersebut. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun selutut berwarna merah muda yang pas melekat di tubuh mungilnya. Surai yang di ikat ekor kuda dan pipi putih yang berisi itu kian membuatnya semakin menggemaskan.


Zara berniat mengendap dan kemudian mengejutkan suaminya, namun melihat pria itu yang masih berbaring dan sama sekali tak menyadari kehadirannya, gadis itu pun mengurungkan niat.


Gadis itu pun mendekat dan duduk di tepi ranjang. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang untuk mensejajarkan tubuhnya pada kepala sang suami. Mengusap lembut surai hitam legam Arka penuh sayang.


Pria itu pun berjingkat, kemudian menghembuskan nafas lega saat mendapati tangan mungil sang istri yang tengah memanjakaanya.


"Kenapa kau mengejutkanku," gumam Arka sembari meraih pinggang Zara dan membenamkan wajah dipanggang sang istri.


Zara menegang, namun tiada celah baginya untuk melepaskan diri. Rengkuhan tangan Arka di pinggannya teramat kuat.


"Sa-saya hanya berniat membangunkan Tuan untuk bekerja, bukankan ini sudah siang?"


Pria itu mendongak, netra beningnya mengerjap menyesuaikan sinar mentari yang menyelinap masuk lewat celah kecil jendela kamar.


"Tapi aku masih ingin memelukmu." Menghela nafas dalam dan membenamkan lagi wajahnya di perut tertutup sang istri yang tengah sekuat tenaga menahan rasa geli. "Lagi pula, kau tak tidur denganmu semalam, dan sekarang aku masih merindukanmu," sambungnya lagi.


"Tapi, Ibu akan kembali esok Tuan. Tidak mungkin jika saya menolak keinginan Ibu untuk menemaninya tidur."


Arka terbelalak, netranya yang masih terpejam itu membulat seketika.


"Benarkah? Kenapa secepat itu?" tanyanya setelah melepaskan dekapannya di tubuh sang istri. Arka mulai bangkin dan punggungnya ikut bersandar di kepala ranjang.


"Ibu bilang, beliau sudah merindukan suasana rumah dan tak bisa berlama-lama tinggal di rumah ini."


Arka pun menganguk faham. Bisa dikatakan jika Mirah tak pernah lebih dari dua hari untuk mengunjungi, itu pun untuk mempastikan jika sang putra baik-baik saja. Jika sudah merasa puas, Mirah akan memilih pulang dan kembali kerumahnya yang berada di sekitar pegunungan.


********


"Zara, kau temani Ibu seharian ini. Anastasya, apa kau tidak ingin berada di rumah menemani Ibu dan juga Zara?" tanya Arka selepas menghabiskan sarapannya di meja makan. Pria itu sudah terlihat rapi dengan stelan jas lengkap berwarna gelap dan cocok di kulit bersihnya.


"Tapi aku masih memiliki banyak pekerjaan di toko," jawab Anastasya ragu. "Sementara para karyawan pasti kewalahan mengurus suplai bunga yang keluar masuk setiap hari." Sejujurnya Anastasya tengah berusaha menghidar dari Mirah. Semenjak menjadi seorang menantu, Anastasya tak terlalu dekat dengan Mirah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa jika Anastasya sedang sibuk mengurus tokonya, ada Zara yang akan menemani Ibu seharian ini." Mirah berusaha menjadi penengah. Meski pun ia tau jika putranya merasa kecewa dengan Anastasya namun ia ingin tetap membuat keduanya tak bersitegang.


Zara dan Mirah melepas kepergian Arka dan Anastasya di halaman rumah. Keduanya menuju tempat tujuan dengan kendaraan berbeda. Selepas mobil yang Arka menghilang di balik gerbang utama, Mirah mengandeng tangan Zara dan membawanya duduk di kursi panjang yang terletak di antara taman bunga.


Wangi segar bunga dan semilir angin menyapa dua kaum hawa dengan usia jauh berbeda itu. Mirah tersenyum senang dan menghirup udara pagi dengan rasa syukur.


Menatap keseluruhan bangunan mengah rumah putranya dari arah taman, seketika membuat raut wajahnya berubah sendu. Zara yang menyadari perubaha ekspresi wajah Mirah, tak kuasa untuk melempar tanya.


"Ibu kenapa?" Zara mengusap bahu Mirah lembut kala netra perempuan paruh baya itu mulai berkaca-kaca.


Mirah mengeser pandang, menatap lekat wajah menantunya.


"Banyak kejadian yang sudah terlewatkan di rumah ini?"


"Maksud Ibu?" tanya gadis itu, masih tak mengerti.


Mirah mengatupkan netra dan menghela nafas dalam. Jemarinya terulur dan meraih tangan sang menantu.


"Ikutlah dengan Ibu."


Dengan satu kali gerakan, pintu itu terbuka lebar. Sunyi senyap menyapa keduanya. Zara masih tak mengerti akan tujuan Mirah membawanya ketempat ini.


"Zara, apa kau sudah pernam masuk ruangan ini sebelumnya?" Mirah berjalan lebih dulu mendahului Zara. Melalui rak-rak buku yang tertata rapi.


"Sudah,Ibu. Itu pun sewaktu saya merasa bosan hingga memilih buku bacaan supaya bisa sedikit terhibur."


Mirah menghentikan langkah dan berbalik menatap sang menantu.


"Lalu, apa suamimu marah kau memasuki tempat ini?"


Gadis cantik itu berfikir sejenak, selepas itu Arka tak menanyakan apa pun perihal dirinya yang pernah memasuki ruang perpustakaan, jadi jangankan untuk marah, bahkan bertanya pun tidak.


"Sepertinya tidak Ibu."


"Baguslah, sekarang ikuti langkah Ibu." Mengikuti ucapan Mirah, Zara mengokori di belakangnya menuju tempat yang mertunya itu maksud.

__ADS_1


Bukankah ini...


Mirah membawa gadis itu kesudut ruangan di mana terdapat sofa empuk di sana.


"Duduklah," titah Mirah sembari menunjuk satu sofa kosong, berharap gadis itu mengikuti keinginannya.


"Baik Ibu." Meski ragu, Zara tetap melakukannya. Duduk tenang sementaranya netranya tak beralih menatap Mirah yang berdiri sembari memandang foto yang tertempel di dinding.


Mirah tersenyum lembut memandang foto yang belum lama menghias dinding. Momen sakral pernikahan Arka dan Zara yang sempat ia lewatkan.


"Kalian terlihat serasi sekali, sayang Ibu justru tak ada disaat kalian berikrar untuk hidup bersama." Terlihat jelas gurat kesedihan di wajah perempuan paruh baya itu.


Zara terdiam, justru kini dirinyalah yang merasa bersalah.


"Maaf Ibu, sejujurnya ini bukanlah salah Tuan Arka. Sayalah yang memintanya untuk tak mengundang siapa pun pada pernikahan kami, termasuk orang tua kami sendiri," ucap Zara lirih. Menyesali semua yang sudah terjadi.


"Apa orang tuamu juga tidak mengetahui tentang pernikahan ini?" desak Mirah dengan menatap wajah Zara yang mulai menunduk.


Gadis itu menggeleng pelan dengan menundukan kepala.


"Apa?" Mirah mendekat kearah sofa dan mengusap bahu mungil Zara yang sedikit terguncang. "Apa kau masih ragu dengan pernikahan ini hingga berusaha menutupinya dari orang tuamu sendiri?"


Zara mulai terisak lirih. Buliran bebing yang mengalir menjadi luapan ketidak pastian pernikahannya selama ini.


"Entahlah Bu, hanya saja saya selalu berfikir jika Tuan Arka menikahi saya hanya berlandaskan keterpaksaan dan tidak lebih dari itu."


Mirah yang bisa menangkap arti ucapan sang menantu itu terbelalak tak percaya. Bsgaimana gadis mungil itu justru berfikir demikian menyangkut pernikahannya.


"Zara, Ibu tau usiamu masih sangat muda. Sangat jauh berbeda dengan Arka, namun Ibu yakin jika fikiranmu jauh lebih dewasa dari usiamu. Kau pasti tau bagiamana Arka memperlakukanmu, memperhatikanmu, bahkan mencurahkan sayangnya padamu. Ibu yakin kau bisa membedakan antara mana keterpaksaan dan mana cinta yang benar-benar tulus. Dari peristiwa yang sudah kalian lalui, kau pasti bisa menyimpulkan, bagaimana perasaan Arka kepadamu. Apakah terpaksa atau benar-benar tulus mencintaimu."


Zara terdiam, dengan pipi yang mulai basah. Memang dirinya tak pernah merasakan cinta sebelumnya, namun semenjak menikah, Arka terus saja memfasilitasi seluruh hidupnya dengan kemewahan serta membanjirinya kasih sayang yang berlimpah ruah yang tak mampu untuk ia tolak.


Jadi selama ini, apa Tuan Arka sudah mulai mencintaiku?


Zara membatin dalam hati, namun ia pun masih ragu untuk mempastikan kebenaran rasa itu semua.

__ADS_1


__ADS_2