Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Dua Malaikat __ Visual Anastasya


__ADS_3

Kesunyian membentang. Hawa dingin serasa menusuk hingga ketulang. Di ranjang operasi seorang gadis berbaring pasrah menanti takdir.


Zara menatap kearah lampu yang menyala terang. Tak mampu dipungkiri jika dirinya tengah dilanda ketakutan yang luar biasa. Terlebih saat beberapa tenaga medis sibuk berlalu lalang dengan berbagai macam alat yang menciptakan kegaduhan.


Zara mengigit bibir bawahnya. Tak lupa ia memanjatkan begitu banyak doa demi kelancaran proses persalinan dan kedua bayinya selamat tanpa satu kendala apa pun yang berarti.


Gadis itu mendongak, begitu sadar dengan kehadiran sang suami. Keduanya saling tersenyum lembut saat pandangan mereka bertemu.


Arka duduk di sebuah kursi. Memposisikan tubuhnya untuk bisa sedekat mungkin dengan sang istri. Digengamnya jemari mungil Zara, seolah ingin menyalurkan kekuatan dan juga ketenangan.


Kini proses operasi sedang berjalan. Keduanya saling menggengam dan menguatkan. Dengan lembut Arka membicarakan mimpi-mimpi mereka di masa depan. Sebuah keluarga kecil bahagia, dengan sebuah rumah yang dipenuhi celoteh dan tawa kedua bayi mereka. Terasa begitu hangat. Seolah rasa cemas yang kini bersarang didiri Zara, perlahan berkurang.


Untaian doa dan kata cinta pun terus mengalir dari bibir pria yang kini tengah sekuat tenaga berusaha untuk tetap tenang. Ya, hal seperti ini mungkin bukan pertama kalinya bagi Arka, mengingat Anastasya pun pernah merasakan dinginnya meja operasi saat melahirkan Abigail. Dan Arka pun dengan siap siaga pula menemaninya.


Akan tetapi, saat ini dirasa sangat berbeda. Sekuat tenaga Arka coba menahan derai air mata yang mendesak meminta hendak keluar. Meski melalui proses operasi, tetapi pria itu sadar jika efek sakit yang ditimbulkan pun tak jauh berbeda dengan proses melahirkan dengan proses normal, serta memiliki kadar resiko yang cukup besar pula.


Dengan lembut ia membisikkan untaian doa beserta kata-kata cinta, yang mana membuat istri mungilnya itu terlihat mengembangkan senyuman.


Beberapa tenaga medis yang tanpa sengaja melihat interaksi sepasang orang tua muda itu hanya tersenyum tipis. Bram yang ada diruangan tersebut pun tersenyum haru. Ia tak menyangka jika Arka akan setenang ini pada saat menyaksikan proses persalinan istrinya.


Dokter Bram sudah menyentuh satu bayi di tangannya. Mengangkatnya, kemudian menyerahkannya pada petugas medis lain. Tagis bayi itu pecah seketika. Mengelegar hingga memenuhi seisi ruangan.


Zara dan Arka spontan menegang. Tangisan bayi mereka bagaikan lantunan irama merdu yang mampu mengobrak-abrik seluruh perasaan dan jiwa. Gadis itu pun menitikkan bulir bening seketika. Terharu, dengan luapan perasaan yang tak mampu digambarkan oleh apa pun.


Pandangan keduanya pun tertuju pada sumber suara tangisan. Namun pandangan Zara justru terhalang kain tebal, yang menutup bagian perut, hingga bayinya pun tak terlihat.


"Sayang, bagaimana keadannya?"

__ADS_1


Pandangan Arka tertuju pada petugas medis yang tengah menjalankan berbagai prosedur untuk bayinya. Di mana bayi mungil tersebut tengah di bersihkan sebelum kemudian dibalut dengan kain berwarna biru yang hangat di tubuhnya.


Tak berselang lama, disusul tangisan yang tak kalah memekakkan telingga. Bayi kedua mereka telah terangkat dan mendapatkan perawatan seperti saudaranya yang lahir terlebih dulu.


"Tentu sayang, mereka baik-baik saja dan sangat tampan."


Terdengar helaan nafas lega dari bibir keduanya. Zara tersadar, rupanya kedua bayinya berjenis kelamin laki-laki.


Tak perlu menunggu lama bagi sepasang orang tua muda itu dilanda ketidaksabaran. Dengan sigap para petugas medis menyerahkan kedua bayi mungil tersebut kepada orang tuanya.


Untuk sejenak keduanya terpaku menatap bayi mungil berbalut kain biru di hadapan mereka. Ada sesuatu tak kasat mata yang seolah membuat mereka terkagum atas karunia sang pencipta yang tergabung dari buah cinta mereka berdua.


Dengan sangat hati-hati petugas medis tersebut menyerahkan bayi mungil itu pada sang ibu untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD).


Zara menatap bayi-bayinya dengan perasaan campur aduk. Mereka sangatlah kecil, jauh dari ukuran bayi normal lainnya. Tetapi gadis itu sadar, jika bayi-bayinya adalah bayi kembar yang cenderung terlahir dengan ukuran lebih kecil dibanding bayi pada umumnya.


Bayi itu terpejam, dengan isak tangis namun tak sekecang beberapa saat lalu. Zara menyingkap pakaiaanya dan meletakkan bayi mungil itu di dadanya, membiarkan rasa hangat tubuhnya mengalir di tubuh sang putra. Bibir mungil itu tampak bekerja keras dan dengan refleks mencari keberadaan puncak payudara sebagai sumber air kehidupan baginya.


Arka dan Zara dengan penuh debar menunggu detik demi detik, hingga puncak payudara itu berhasil di gapai oleh bibir mungil yang spontan menghentikan tangis dan dengan lahapnya menyusu.


Keduanya saling berpandangan. Arka bangkit dari posisinya kemudian bergerak mencium puncak kepala sang istri penuh kasih.


"Terimakasih sayang. Kau sudah melahirkan buah hati kita dengan selamat."


Zara tersenyum hangat sebagai jawaban.


"Terimakasih juga, karna sudah bersedia menemaniku dalam berjuang, sayang. Percayalah, aku tidak akan bisa seperti ini, jika tanpa dirimu di sisiku."

__ADS_1


Arka pun memeluk Zara beserta kedua bayinya. Hingga kini pandangannya tertuju pada dua bayi mungil nan tampan dalam buaian sang istri.


Aku sungguh tak percaya ini. Mereka bayi-bayiku. Aku sudah menjadi seorang ayah saat ini.


Pria itu mencium kedua putranya bergantian. Mengusap ubun-ubun dan membaca untaian doa di sana.


Putra-putraku, semoga ayah bisa menjadi ayah terbaik untuk kalian dan suami terbaik untuk bunda kalian. Ayah akan terus berjuang untuk melihat kalian semua tetap tersenyum menjalani hari-hari yang terasa berat ini.


Kini Kehidupan Arka, sempurnalah sudah.


Tetapi sayangnya, semua itu tak berselang lama. Selepas kedua bayi mungil tersebut menyusu hingga kenyang, para petugas medis segera membawanya keruang NICU supaya bayi tersebut masuk kedalam inkubator dengan mendapatkan perawatan intensif hingga kedua bayi tersebut dinyatakan baik tanpa adanya gangguan kesehatan.


Bersambung..


Kasih Visualnya Anastasya dulu sama Author.


Semoga sesuai yaa☺☺


Anastasya





__ADS_1


__ADS_2