Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Aku Sudah Tau Semua


__ADS_3

Selepas obrolan hangat di ruang tengah yang membuat Kiara serasa tak berdaya, kini mereka kembali berkumpul untuk makan siang bersama dengan hidangan beraneka ragam yang tersaji di atas meja.


Berbeda dari ketiga orang lainnya yang tampaknya sudah terbiasa, Kiara hanya bisa terkagum dan berdecak dalam hati saat begitu banyak makanan nikmat yang disajikan hanya untuk mereka berempat.


Memindai keseluruh makananan, Kiara bahkan tak pernah menemukan hidangan semacam ini sebelumnya. Pada saat menjalin hubungan dengan Sandy dulu, ia tak pernah menyantap menu kalangan atas mengingat pria itu selalu memintanya membayar semua modal kencan. Sungguh mengenaskan.


Kiara sempat menatap kearah Zara yang tengah sibuk melayani suaminya. Mengambil ini dan itu sesuai dengan keinginan Arka dengan wajah ceria.


Sepertinya hidup Zara benar-benar bahagia sekarang.


Berbeda jauh dengan dulu, pada saat Ia dan Zara berjuang bersama untuk tetap bertahan hidup di kota dengan mengandalkan gajinya dari toko bunga Anastasya, kini hidup Zara sudah terbilang sangat nyaman dengan fasilitas hidup yang ada, serta seorang suami yang mencintainya dengan tulus.


"Kiara, ayo makan. Apa kau tidak ingin mengambilkan makanan untuk kekasihmu itu?" goda Zara pada Kiara seperti sebelum-sebelumnya.


Gadis itu tersenyum kikuk, dan bingung hendak melakukan apa. Tetapi saat melirik ekspresi wajah pria di sampingnya yang tersenyum tipis dengan tangan sama sekali tak bergerak, mengisyaratkan jika ia menyetujui ucapan Zara.


Kiara menghela nafas dalam, menegakkan badan dan mulai menciduk nasi putih untuk diberikan kepada Sam.


"Tuan, anda ingin yang mana?" tanya Kiara pada Sam. Beruntung ia sempat melihat Zara pada saat melayani suaminya, hingga ia hanya perlu untuk mencontohnya.


Sam pun menunjuk beberapa lauk dan sayur yang menjadi keinginannya pada Kiara, dan dengan cekatan gadis itu pun melakukannya.


"Ini, tuan." Satu piring komplit makan siang sudah tersaji di hadapan mata.


"Terimakasih, Kia," ucap Sam lembut, yang mana membuat Kiara merona malu dibuatnya.


"Manisnya." Zara seolah menyaksikan pemandangan yang membuatnya meleleh.


"Sayang." Ucapan Arka seketika membuat Zara tersadar. Ia pun tertunduk malu saat pandangan keduanya bertemu.


Hubungan mereka terjalin bahkan lebih manis dari pada diriku.


Zara terkikik dalam hati coba mengingat awal mula kisah percintaanya dulu. Jauh sekali dari kata manis, yang ada justru air mata. Gadis itu pun menunduk, kemudian mengerakkan telapak tangannya untuk mengusap perutnya yang bucit penuh sayang.


Tetapi dengan adanya kalian di rahim ibu, sudah cukup membuktikan seberapa besar ikatan cinta yang terjalin di antara ibu dan Ayah. Semoga dikedepannya, tak akan ada lagi kepedihan dan air mata duka. Berganti dengan kebahagian serta air mata suka cita.


*******


Satu hari ini benar-benar dimanfaatkan Sam untuk membuka jati diri dan kesehariannya pada Kiara. Mengelilingi rumah megah Arka dan rumah sebelah yang menjadi tempat tinggalnya beserta para pengawal lain.

__ADS_1


Kiara yang menyaksikan itu semua, semakin tak percaya diri dan merasa kerdil di hadapan pria yang kini berstatus sebagai pacarnya.


Sam membawanya kesebuah kursi panjang yang berada di area taman, di bawah pohon nan rindang.


"Sekarang kau sudah tau siapa aku. Aku tumbuh di panti asuhan kemudian tuan besar mengadopsiku dan membawaku kerumah ini. Bi Surti sudah seperti ibu bagiku, sama seperti nyonya." Sam menatap nanar kedepan. Terdengar ia menghela nafas dalam.


"Selama ini aku hanya mengabdikan hidup pada keluarga tuan besar sebagai ucapan terimakasih. Tak pernah sekalipun aku dekat dengan seorang gadis, sebelum mengenal dirimu." Menggeser pandang kesamping, Sam menatap Kiara yang juga sedang menatapnya.


"Kuharap kau bersedia untuk menjadi teman bicara sekaligus menyandarkan pundak, saat menjalani hidup yang semakin berat ini." Sam meraih jemari lentik Kiara dan menggengamnya lembut.


"Tuan." Kini Kiaralah yang mulai bersuara.


"Hemm."


"Sekarang saya sudah mengetahui tentang siapa anda. Tetapi, tuan masih belum tentang siapa saya, keluarga saya, dan kehidupan saya di masa lalu." Gadis itu tertunduk. "Saya justru takut, jika tuan terkejut dan kecewa saat mengetahui siapa saya," sambung Kiara dengan tatapan sendu.


Bukannya terkejut, pria itu justru tersenyum lembut dan mengengam pertautan jemari keduanya menjadi lebih erat.


"Kenapa? Apa kau ingin mengatakan jika dirimu dilahirkan di sebuah perkampungan dengan memiliki ayah sebagai buruh serabutan dan juga beberapa adik laki-laki dan perempuan," jawab Sam ringan.


Apa? Darimana dia tau.


Kiara terbelalak seketika. Bagaimana mungkin pria yang sedang bersamanya itu bisa mengetahui semua bahkan sebelum ia mengatakannya.


"Rahasia." Sam bahkan tersenyum miring.


Huh menyebalkan.


Kiara spontan memasang raut wajah kesal.


"Kenapa? Tak perlu memasang ekspresi seterkejut itu. Sebelum diriku berani mengungkapkan perasaan padamu, tentunya aku sendiri sudah mengantongi identitas dirimu dengan lengkap."


Pada saat kasus yang membelit Sandy mulai dipersidangan, rupanya Sam begitu penasaran pada seorang gadis yang juga pernah dimanfaatkan oleh pria bejat itu. Mengira jika Kiara berasal dari keluarga kaya atau seorang putri konglomerat yang sengaja diperas oleh Sandy, namun kenyataanya sungguh di luar pemikirannya.


Saat identitas lengkap gadis itu sudah Sam kantongi, Ia terbelalak tak percaya. Kiara bahkan dari keluarga kurang mampu yang berusaha mengais rezeki di ibukota dengan hanya mengandalkan ijaza SMA sebagai pendidikan terakhirnya.


Tentulah hati Sam tergelitik untuk terus menulusi Kiara. Ia sempat berfikir jika Kiara gadis bodoh yang dibutakan oleh cinta. Akan tetapi kenyataanya berbeda.


Sama seperti Zara yang di iming-imingi pekerjaan nyaman di kota oleh Sandy, Kiara pun demikian. Namun cukup berbeda sebab keduanya bertemu pada Saat Kiara mulai mencari tempat untuk bekerja. Sandy yang memang tertarik dengan Kiara itu, menawarkan sebuah pekerjaan di toko bunga yang kebetulan tengah mencari karyawan baru.

__ADS_1


Dari sanalah hubungan keduanya terajut. Kiara yang polos dan Sandy yang playboy. Tetapi kepolosan Kiara tak mudah dimanfaatkan begitu saja oleh Sandy. Ia memang membiarkan Sandy untuk memeras sebagian uangnya, tetapi tak pernah mengizinkan pria itu untuk menyentuhnya melebihi bergandengan tangan.


"Ingat Kiara, aku bukanlah pria brengsek yang pernah menyakitimu itu. Aku tulus mencintaimu, dan kau harus tau itu."


Kiara tertegun. Sepasang netranya mulai berkaca-kaca. Ia sungguh sulit untuk bisa mempercayai ini.


"Jadi tuan tidak mempermasalahkan latar belakang keluarga saya?"


Sang menggeleng kuat.


"Kenapa? Kau bahkan memiliki keluarga yang utuh. Jadi untuk apa aku mempermasalahkannya. Jika itu menyangkut kasta, aku bahkan berasal dari panti asuhan. Jika Tuan besar tak mengadopsiku waktu itu. Maka bisa jadi, hari ini hidupku justru bernasib lebih buruk dari dirimu."


"Benarkah?" Tanya kiara untuk lebih memastikan.


"Tentu saja."


Kiara tersenyum senang, seiring bulir bening yang mengalir di sudut netra.


"Tidak usah menangis. Air matamu sungguh sangat berharga. Jangan kau tumpahkan hanya untuk menangisi hal-hal yang tak penting," goda Sam disela isak tangis Kiara.


Sementara itu, sepasang suami istri yang tengah berpelukan, berdiri di depan jendela kaca yang menghadap kearah taman. Dari tempat itu, dengan jelas Zara dan Arka, memandang kearah Sam dan Kiara yang sepertinya tengah berbicara.


"Sayang, apa kau bahagia melihatnya?" tanya Zara pada Arka yang mendekapnya dari belakang dan tengah sibuk menyusuri lekuk leher sang istri dengan bibirnya.


"Tentu saja, sayang," jawab Sam yang masih tak bisa menghentikan aktifitas nakalnya.


"Sayang, aku sungguh-sungguh bertanya sekarang," sungut Zara setengah kesal.


"Aku juga sungguh-sungguh menjawabnya, sayang." Dengan kekeh pria itu berucap.


Tak mampu menahan kekesalan, Zara pun lekas berbalik badan hingga keduanya saling berhadapan.


Zara menatap wajah pria tinggi menjulang di hadapannya itu lekat, kemudian mengarahkan tangannya untuk mampu menarik tengkuk sang suami. Kemudian tanpa aba-aba, ia mengarahkan bibir mungilnya untuk mencium bibir seksi suaminya dalam, dan bahkan menjadi ******* panas.


Arka terbelalak tak percaya disela aktifitas istrinya. Namun bibirnya tersungging penuh kebahagiaan. Tak mau kalah, ia pun membalas ciuman istri mungilnya itu lebih panas. *******, dan menyesap bibir manis itu dengan kuat seolah tak ada lagi hari esok.


Bersambung...


Like

__ADS_1


Komen


Vote seiklasnya


__ADS_2