Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Berjanjilah Padaku


__ADS_3

Memilih untuk sejenak menikmati suasana malam di balkon kamar menjadi pilihan Arka saat ini. Semilir angin membuatnya merasakan kesejukan. Setidaknya, sejenak ia melupakan beban hidup di pundaknya.


Arka mengingat beberapa kali ia sudah mengirimkan pesan atau pun email kepada Rangga. Akan tetapi, tak ada satu pun pesan yang ia kirim terbalaskan. Ia hanya sekedar ingin mengabarkan jika hubungan pernikahannya dengan Anastasya, sepertinya sudah tak mampu diselamatkan lagi.


Sedangkan Rangga sendiri tak bisa memastikan kapan dirinya akan kembali.


Arka mengusap wajahnya kasar. Kini dirinya serasa terhimpit. Untuk bergerak pun kesulitan, apalagi untuk bisa lepas begitu saja dari perkara yang ada.


Di tengah rasa gundah Arka sembari menatap bintang di langit yang seketika berkedip. Lakah kaki, terdengar mendekat. Pria itu pun seketika membalikkan badan untuk memastikan siapa yang datang.


Bibir seksinya pun tersenyum hangat manakala mendapati wajah sang istri yang tengah berjalan mendekatinya.


Gadis mungil yang terlihat sangat cantik dengan gaun malam berwarna marun selutut dan surainya yang tergerai indah. Tak ayal membuat Arka nyaris tak berkedip


"Sayang, udara di luar sangat dingin. Anda bisa sakit," ucap Zara sembari membentangkan selembar kain hangat dan kemudian melabuhkannya di bahu sang suami. Gadis itu terlihat khawatir, ia mengusap lembut bagian atas tubuh Arka yang tertutup kain supaya lebih hangat.


Tak ada alasan sedikit pun bagi Arka untuk tidak memiliki perasaan pada Zara. Justru rasa cinta itu, kian hari semakin bertambah. Ketulusan dan rasa perduli gadis tersebut tak pernah berubah. Memang tak secara langsung ia tunjukan, mengingat rasa malu yang masih kerap melandanya. Akan tetapi, dari sorot dan tatapan hangat sang gadis, mampu mencerminkan sesuatu yang ada di dalam hatinya.


"Aku akan selalu baik-baik saja jika bersamamu, sayang." Satu ciuman hangat mendarat di puncak kepala dan juga usapan lembut di pipi sang istri.


Gadis itu pun tertunduk menahan malu.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Arka mendaratkan tubuh disebuah kursi yang terletak di balkon. "Kemarilah, dan duduk bersamaku." Tangan pria itu terangkat, meminta sang istri untuk lebih mendekat.


Tanpa ragu gadis itu mendekat dan menyambut uluran tangan suaminya. Bukanya membiarkan Zara duduk di samping, Arka justru menarik tubuh mungil itu hingga terduduk di pangkuannya. Bukan tanpa alasan, momen seperti inilah yang paling pria itu selalu rindukan. Saat keduanya tengah bermanja dan saling mendekap.


"Kau pasti juga kedinginan," bisik Arka lembut di telinga Zara dan merengkuh tubuh mungil itu dengan lengan kokohnya. Kain yang semula hanya menghangatkan Arka, kini mampu menghangatkan keduanya saat tubuh mungil itu tenggelam dalam dekapan tangan besar Arka.


Zara tak menolak. Ia justru mendapatkan kehangatan dan rasa nyaman dari dekapan itu. Tatapannya mengadah, menatap rahang tegas suami juga wajah tampannya.


Pria itu pun tertunduk hingga membuat keduanya saling beradu pandang.

__ADS_1


"Anastasya meminta bercerai dariku. Aku yakin kau pasti sempat mendengarnya sebelum pingsan waktu itu."


Zara mengannguk, namun bibir mungilnya masih terkatup.


"Mungkin keputusannya sudah bulat untuk meminta berpisah. Aku pun sudah tak mampu lagi untuk mencegahnya. Beberapa pengacara sudah mulai mengurus semua berkas perceraian kami."


Zara berusaha menjadi pendengar yang baik. Kini ia menyadarkan kepalanya di dada bidang Arka sementara wajahnya menatap wajah sang suami yang nampak mendung.


"Aku dan Anastasya akan benar-benar berpisah."


"Jika tidak ada aku, maka perpisahan itu tidak akan pernah terjadi," potong Zara disela ucapan Arka.


"Suttt.." Arka mengarahkan jari telunjuknya untuk membungkam bibir sang istri. "Jangan pernah mengucapkan kalimat itu, aku mohon. Semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu," sambung Arka kembali.


Zara hanya tersenyum tipis. "Saya tidak pernah menyangkal sesuatu hal yang sudah saya perbuat. Saya adalah seorang perempuan yang sudah terang-terangan hadir di tengah kehidupan pernikahan anda dan Nona Anastasya."


"Stop, sayang. Aku mohon jangan katakan itu lagi. Demi tuhan, kau bukanlah gadis seperti itu." Arka semakin mengeratkan dekapan, ia tak ingin jika istrinya itu salah paham dan justru menyalahkan dirinya sendiri atas perpisahannya dengan Anastasya. Apalagi kedua netra bening itu mulai berkaca-kaca.


Bagaikan bom yang seketika meledakkan perasaan Arka. Bukan inilah yang ia harapkan. Zara hadir sebab Anastasya yang meminta, dan ia pun juga memiliki perasaan lebih pada gadis tersebut.


"Sayang, ada sesuatu hal yang belum kau tau, bahkan Anastasya pun belum mengetahuinya."


Kening sang gadis berkerut hingga nampak beberapa lapisan. "Tentang apa?"


"Aku menikahi Anastasya bukan karna cinta. Apa kau tau itu?"


Aku harus jawab apa.


Zara menggeleng. Meski ia tau, tetapi ia ingin mendengarnya langsung dari bibir sang suami.


"Ini sangat rumit. Ketika kekasih Anastasya datang kepadaku, dia memohon dan berlutut di kakiku, meminta padaku untuk melindungi Anastasya bagaimana pun caranya." Arka terdiam.

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku menikahinya. Mungkin tak ada orang lain yang percaya jika kita tidak pernah tidur seranjang, apalagi sampai bercinta."


Memang Zara pernah mendengarnya dari bibir Anastasya, dan sekarang Arka sendiri justru mengatakannya. Ini tak boleh terlewatkan, begitulah kiranya isi fikiran Zara.


"Kenapa?"


"Tidak mungkin aku tega menghoanati kepercayaan sahabatku sendiri. Meski sempat terfikir untuk memiliki Anastasya, namun secepat kilat aku musnahkan semua fikiran kotor di kepalaku. Aku tidak ingin merusak kepercayaan Rangga begitu saja."


Lengkung tipis merah muda itu mengulas senyum, namun hatinya tergores perih mendengar pengakuan sang suami yang beberapa detik lalu ia dengar. Arka sejujurnya juga menginginkan Anastasya, namun dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap tak menyentuhnya.


"Apakah itu alasan Anda untuk tak pernah menyentuh nona, meskipun menginginkannya?"


Arka menangkap sejejak kekecewaan dari wajah sang istri, dan dia teramat tak menyukai hal itu.


"Tidak, sayang. Bukan begitu maksudku. Hanya saja pernikahan kami sah di mata negara dan agama. Anastasya sendiri tak pernah mengetahui alasanku apa untuk tidak pernah ingin menyentuhnya. Sebagai pria normal, tentunya aku tak mampu membohongi naluriku sendiri. Seperti saat bersamamu seperti ini." Tangan pria yang semula tertutup kain hangat itu, kini mulai bergerak nakal meraba paha sang istri dan menyingkap sedikit gaun malam yang dipakai.


"Saya tau," jawab Zara lirih dengan menikmati sentuhan tangan Arka yang membuat tubuhnya bergetar.


"Tapi perlu kau ketahui sayang. Tidak ada wanita manapun yang membuatku gila seperti ini, selain dirimu seorang."


Zara masih terdiam, seakan aktivitas tangan Arka membuat tubuhnya seketika mematung.


"Berjanjilah padaku sayang, untuk tetap berada di sisiku walau seberat apa pun cobaan menghadang. Aku tak tau akan seperti apa jadinya diriku, tanpamu di sisiku."


Dari usapan, kini bibir Arka berusaha mencari kehangatan di ceruk leher sang istri yang cukup terbuka. Bagian leher gaun malam yang Zara gunakan, rupanya memberi keuntungan bagi Arka untuk sesuka hati menciumi bagian tersebut.


Tak ingin berdusta. Mendengar pernyataan Arka yang sejujurnya menginginkan Anastasya. Tak terasa membuat darah di tubuh gadis itu mulai memanas. Zara pun mulai membiarkan tangan dan bibir Arka mulai bergerilya. Ia pun terlihat menikmatinya. Saat bibir mereka saling berpagut, tanpa sungkan gadis mungil itu pun berusaha membalasnya meski minim pengalaman. Ia ingin menyenangkan sang suami dan bisa membalas apa yang sudah pria itu berikan padanya.


Meski ia hanya istri kedua, tetapi dari lubuk hatinya yang terdalam, ia pun tak ingin jika hati suaminya diisi atau bahkan dipenuhi oleh perempuan lain. Entah itu perasaan apa, hanya saja gadis itu mengharapkam jika Arka hanya menginginkannya seorang.

__ADS_1


__ADS_2