
Setelah sempat bermalam di hotel tempat resepsi, kini para keluarga dekat termasuk kedua mempelai, mulai berkemas dan kembali kekediaman Arka. Rona bahagia jelas tergambar di wajah mereka. Tak terkecuali Jamil dan Rumi yang sudah datang jauh-jauh untuk melihat pergelaran resepsi super mewah putrinya.
Tak ada sedikit pun rasa kecewa seperti dulu, kini yang ada hanyalah kebahagian dan rasa lega sebab sang putri telah dipersuntong oleh pria yang tepat. Bukan hanya hidup yang berkecukupan, namun baik suami atau pun mertua dari sang putri, memperlakukannya dengan sangat baik hingga perbedaan kasta sama sekali tak menjadi penghalang di antara mereka.
Rumi terlihat cantik dengan dres panjang berwarna hitam hadiah dari menantunya. Ia tersenyum sembari menatap pantulan tubuhnya di cermin. Jamil yang sempat mencuri pandang, begitu mengagumi kecantikan istrinya meski sudah memasuki usia kepala empat.
Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang mungil, begitu mirip dengan sang putri. Zara layaknya fotokopy Rumi saat usianya masih belasan tahun. Jadi, Zara seolah mewarisi kecantikan alami dari sang ibu. Mereka terbilang sangat mirip dan hanya dibedakan oleh usia.
"Ibu terlihat sangat cantik," puji Jamil dengan mengulas senyum di bibir keriputnya.
Rumi terkesiap, berbalik badan dan luar biasa malunya saat sang suami rupanya tengah menatap dirinya.
"Ah Ayah," rajuk Rumi dengan wajah memerah menahan malu. Beberapa hari hidup di kota membuat penampilannya banyak berubah. Mirah selaku ibu dari Arka selalu mengajaknya untuk merias diri dan memberikannya baju-baju mahal nan elegan yang sesuai dengan usianya. Ia sendiri nyaris tak mampu mengenali dirinya sendiri saat penampilannya dirombak total oleh seorang make up artist saat acara resepsi pernikahan sang putri.
Rumi pun berjalan untuk mendekati suaminya, kemudian berlutut untuk mensejajarkan pandangannya pada Jamil yang duduk di kursi roda.
"Ayah, tidak pernah aku merasakan kebahagiaan seperti ini. Disaat kita sudah bisa melepas Zara pada seseorang yang sudah menikahinya."
"Aku pun demikian, Bu. Kita sudah tidak perlu merasa khawatir lagi. Zara sudah bersama pria yang tepat. Hingga setelah ini, kita pun harus segera kembali."
Kedua netra Rumi berkaca-kaca. Beberapa hari bertemu, rasanya masih belum cukup untuk melepas kerinduan. Dan kini, mereka akan segera terpisah kembali.
"Apa ini tidak terlalu cepat?"
Jamil pun lekas menggeleng. "Tidak. Kita sudah melihat sendiri jika putri kita baik-baik saja. Biarkan mereka bahagia, kita pun punya kehidupan yang harus dijalani."
Rumi menghela nafas dalam. Suaminya memang tak ingin merepotkan sang putri di usia senjanya. Ia ingin tetap hidup di kampung, hingga ajal menjemput.
"Baiklah. Sebelum pulang, kita harus menemui anak dan menantu kita. Zara pasti akan sedih, jika tau kita akan kembali secepat ini."
"Ayah tau," ucap Jamil seraya mengusap wajah sang istri yang mulai dialiri buliran bening. "Tetapi bukankah putri kita sudah mengetahui, jika kita akan tetap hidup di kampung walau sampai kapan pun." Sang putri memang sudah mengetahui keinginan orang tuanya. Akan tetapi, meskipun gadis itu merasakan sedih, ia pun tak berani untuk memaksakan kehendak orang tuanya, perihal tempat tinggal.
Rumi mengangguk samar, ia pun membenarkan ucapan suaminya.
"Putri kita pasti sudah bisa memahi keinginan kita. Tapi ibu pun harus sering datang kekota, untuk menemani putri kita menjalani kehamilannya." Rumi tahu benar proses kehamilan bayi kembar yang dialami putrinya saat ini. Meski Zara sendiri terlihat begitu menikmati peran barunya, tetapi dikemudian hari jika perutnya kian membesar, pasti rasa sakit dan lelah itu mulai terasa.
"Ayah tau jika putri kita adalah gadis yang kuat. Dia pasti bisa melalui semua prosesnya, sama seperti saat ibu mengandung dan melahirkan Zara." Kamil berusaha menenangkan Rumi atas kekhawatiran yang melanda dirinya, pada sang putri.
Perempuan paruh baya itu mengangguk. Setiap perempuan memang ditakdirkan untuk mengandung dan melahirkan seorang anak. Meski dengan bermacam-macam proses, dan kesulitan saat menjalaninya, namun semua rasa yang ditanggung selama proses mengandung, terbayarkan saat bayi yang bertumbuh di dalam rahim selama sembilan bulan sepuluh hari lahir di dunia. Rasa syukur dan suka cita terulur menyambut kehadirannya, yang spontan mampu membuat sirna rasa sakit di seluruh badan.
__ADS_1
******
Mirah terlihat neberapa kali memeriksa arloji di pergelangan tangannya. Ini sudah menjelang tengah hari namun anak dan menantunya masih tak terlihat. Bersama Sam, dan kedua orang tua Zara, Mirah duduk di ruang tunggu hotel dengan berteman rasa bosan.
Sedang apa sebenarnya mereka berdua? Kenapa masih belum muncul sampai siang hari seperti ini.
Mirah duduk tidak tenang. Berbeda dengan ketiga orang lainya yang terlihat menikmati keadaan. Meski pun menunggu, mereka tetap mendapatkan pelayan ala sultan, seperti dari makanan dan fasilitas lainnya.
"Sam, kenapa Arka belum terlihat. Bukankah kita akan pulang sekarang?" bisik Mirah pada Sam. Ia tidak ingin jika kedua orang tua Zara sampai mendengarnya.
"Saya tidak tau nyonya. Telfon sengaja dimatikan seketika saat sudah terhubung."
Ucapan Sam seketika membuat Mirah tak berdaya. Hari ini bahkan ia memiliki agenda khusus untuk bertemu teman-temanya. Bukan untuk foya-foya, setiap satu bulan sekali Mirah bersama rekan sosialitanya akan menggelar bakti sosial guna membantu keluarga yang tidak mampu.
"Bagaimana ini. Aku bahkan memiliki agenda rutin setengah jam lagi dan sampai detik ini anak-anakku bahkan belum menunjukan batang hidung mereka," lirih Mirah dengan menahan rasa kesal. Beruntung kedua orang tua Zara tengah saling mengobrol, hingga tak menyadari perubahan mood dirinya.
"Bersabarlah nyonya. Mungkin tidak akan lama lagi, tuan dan nona akan kemari."
Sesuai dengan ucapan Sam, Arka dan Zara muncul dari lift yang terbuka.
syukurlah.
"Ayo nak, kita pulang. Kenapa kalian lama sekali, dan..." ucapan Mirah sedikit menggantung tatkala memandang kearah Arka dan Zara. "Bahkan sudah sesiang ini, tapi rambut kalian masih basah?" Seketika Mirah membungkam mulutnya sendiri saat sadar jika kedua orang tua Zara ada bersamanya.
Arka memberi tatapan tajam kepada sang ibu, yang mana membuat perempuan paruh baya itu meringis menahan malu. Sementara Zara hanya bisa memalingkan wajah dan berpura-pura tak mendengar ucapan Mirah.
Rumi, Jamil dan Sam hanya bisa tergelak dalam hati. Akan tetapi sebisa mungkin mereka tahan sebab tak ingin membuat Mirah kian merasa malu.
"Ayo kita pulang," ucap Arka yang spontan melunakkan ketegangan yang ada. Semuanya pun mulai bergerak untuk meninggalkan ruang tunggu hotel. Disaat semua orang sudah melangkah, Mirah sepertinya masih mengingat-ingat sesuatu.
"Kenapa sepertinya ada yang kurang." Mirah masih terpaku di tempatnya. "Tapi apa?" gumam Mirah lagi.
Arka yang menyadari jika sang ibu masih tertinggal, segera berbalik badan.
"Ibu, ayo. Bukankah ibu yang meminta untuk cepat pulang dari tempat ini?" Arka berdecak dan menggelengkan kepala. Melihat begitu cepat mood sang ibu berubah-ubah.
"Iya, sebentar. Kalian tunggu sebentar di lobi. Ada sesuatu benda milik ibu yang tertinggal."
Arka dan Sam hanya bisa menghela nafas dalam. Begitulah Mirah, dia masih suka ceroboh dan pelupa. Tetapi kedua pria itu pun sudah memakluminya. Mereka pun kembali melangkah, dan meninggalkan Mirah seorang diri.
__ADS_1
Mirah kini harus benar-benar fokus dan mengasah daya ingatnya. Ia beberapa kali mondar mandir di ruang tunggu tersebut untuk bisa mengingat sesuatu. Sampai pada titik maksimal kesabaran, ia pun memilih untuk pasrah dan ingin lekas bergabung dengan keluarganya. Hingga beberapa langkah berjalan, ia pun berhentu seketika dan,
"Kunci! Iya kunci."
"Rangga, Anastasya. kunci," celoteh Mirah dengan membongkar isi tas yang dijinjingnya.
Inilah satu hal penting yang sempat Mirah lupakan. Anastasya dan Rangga terkurung dalam satu kamar, dan dirinyalah yang menyimpan kunci kamar tersebut.
"Jangan hilang, jangan hilang. Aku mohon." Mirah merapal kalimat layaknya mantra kala kunci yang dicari belum berhasil ditemukan.
"Nah dapat." Sepasang netra Mirah tampak berbinar saat ia berhasil menemukan kunci yang ia cari. Wanita itu pun lekas mengambil langkah seribu untuk mencari seorang karyawan hotel untuk memberi kunci tersebut dan segera membuka kamar di mana Rangga dan Anastasya masih terkurung.
Perempuan paruh baya itu pun menyerigai lebar. Ternyata, rencana yang ia susun sudah berhasil, ya walaupun ada sedikit kesalahan teknis. Baginya, dengan cara mengurung keduanya dalam satu tempat dengan waktu cukup lama, bisa memberikan waktu pada mereka untuk berbicara dari hati kehati. Saling meluapkan amarah atau pun keluh kesah hingga tercipta suatu jawaban untuk penyelesaian dari masalah rumit yang mereka hadapi.
*****
Rangga hanya bisa memaki dalam hati. Ini sudah melebihi batas waktu yang direncanakan. Tetapi mengapa masih tak ada seorang pun yang membuka pintu kamarnya. Menatap kearah ranjang, ia mendapati Anastasya yang duduk dengan memanyunkan bibirnya. Gadis itu memilih untuk tidak mandi, sebab tak memiliki baju ganti.
Sial, kenapa ponselku juga malah tertinggal.
Ia tidak bisa menghubungi siapa pun sebab ponselnya tertinggal, begitu pun Anastasya. Ia tak membawa apa pun dan justru meninggalkan tasnya pada seorang pelayan.
"Sampai kapan kita akan terkurung di tempat ini," ucap Anastasya setengah geram.
"Entahlah," jawab Rangga sekenanya.
Gadis yang bersamanya hanya bisa menghela nafas dalam. Ia marah, tetapi tak bisa marah mengingat keduanya sama-sama terkunci dari luar.
Hingga tak berapa lama, terdengar suara gaduh dari luar pintu dan pintu kamar pun terbuka seketika. Terlihat dua orang karyawan hotel dan manajer pria berdiri di balik pintu yang terbuka. Mereka semua berwajah pias.
Rangga bangkit dari duduknya dan mendekati ketiganya.
"Apa sebenarnya pekerjaan kalian? Bukankah banyak kamera CCTV yang terpasang di hotel ini? Hingga dari semalam kami terkunci pun kalian sama sekali tak mengetahuinya." Arka sedikit berakting. Ia tak ingin jika Anastasya tahu tentang permainan yang sudah ia buat.
Ketiga pria itu pun menunduk dan memilin tangan masing-masing. Mereka memang ceroboh hingga masalah sebesar ini sama sekali tak terdeteksi.
"Maaf tuan. Dari semalam memang kamera CCTV yang terpasang di ruangan ini mendadak mati dan masih belum sempat untuk melakukan perbaikan. Saya mohon kepada tuan untuk bisa memakluminya." Tubuh sang manager selaku juru bicara tampak bergetar hebat. Ia luar biasa ketakutan. Ia tahu benar siapa pria yang terkurung di kamar tersebut. Beliau adalah sahabat dekat dari pemilik hotel ditempatnya mengais rezeki. Tidak menutup kemungkinan jika karna masalah ini, dirinya bisa didepak dari tempatnya bekerja saat ini.
"Baiklah. Karna suasana hatiku yang sedang baik, maka aku maafkan kesalahan kalian." Tak ingin berlama-lama lagi, Rangga pun lekas menarik tangan Anastasya untuk keluar dari kamar tersebut. Gadis itu pun tak menolak. keduanya saling menggengam sepanjang perjalanan keluar dari hotel. Ranggalah yang merasa paling diuntungkan di sini. Senyum di bibirnya terus mengembang. Seolah dirinya menemukan tempat bersandar kembali setelah sekian lama berlayar tak tentu arah.
__ADS_1
Bersambung..