Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Hidup Sederhana, Asal Bahagia.


__ADS_3

Berada di tempat berbeda, seorang gadis yang tengah berkutat dengan wajan pengorengan itu sesekali melirik ponsel yang tergeletak di meja makan, disela aktifitasnya.


Aku kira setelah meminta nomor ponsel, dia akan menelfonku. Tapi nyatanya tidak.


Kiara mendesah malas. Dirinya sempat berharap, tapi adalah daya, itu mungkin hanyalah angan semata.


"Bodoh sekali aku. Kenapa juga harus berharap padanya," gumam kesal Kiara sembari membolalak balik telur dadar yang digorengnya.


Hingga dering ponsel mengejutkannya dan membuatnya mencari keberadaan ponsel miliknya dengan cepat tanpa memperdulikan kompor yang masih menyala.


Lengkung tipis merah jambunya sudah merekah indah saat mendengar notifikasi pesan masuk menyapa indra pendengarannya. Mungkin itu pesan dari Sam, begitu isi fikiran Kiara.


Benda pipih itu sudah tak lagi bersuara. Buru-buru gadis manis itu meraihnya lalu mengusap layar depan dengan penuh semangat.


Apa?

__ADS_1


Senyum di bibirnya luntur seketika. Geram-geram gemas dilemparkannya benda pipih itu kembali ketempatnya.


"Rupanya hanya spam tak jelas." Kiara masih mematung di depan meja makan, hingga aroma aneh yang tak asing lagi diindra penciuman, mengejutkannya.


"Telur dadarku!" pekik Kiara seketika. Asap yang sudah mengepul di pengorengan membuatnya bergerak cepat untuk mematikan kompor.


"Telurku," ucap gadis itu seraya menatap nanar telur buatannya yang sudah berwarna kehitaman dibagian bawah. "Ini telur terakhir yang kumiliki, dan sekarang malah gosong," sambung Kiara memelas.


Gadis penyuka telur itu hanya bisa mengutuki kelalaiannya, terlebih telur yang dimasaknya menjadi gosong akibat harapan semunya semata. Dengan langkah gontai dan perut yang lapar, Kiara berjalan kearah lemari pendingin, lantas membukanya.


Gadis itu hanya menghela nafas, saat menatap isi lemari pendinginnya.


Tetapi lidah ndeso Kiara, rupanya masih belum terbiasa untuk bisa menyantap itu semua.


"Ada daging," tangan gadis itu menyentuh daging kualitas premium itu sembari menimang. "Tapi aku tidak tau cara memasaknya." Mengembalikannya ketempat semula dan mulai menyentuh ikan tuna. "Ini ikan, hanya perlu menggorengnya." Lagi-lagi gadis itu menghela nafas dalam, sebab ia sama sekali tak menyukai ikan. Ditutuplah kembali lemari pendingin itu dengan rasa hampa.

__ADS_1


"Lalu aku makan apa, perutku bahkan sudah sangat lapar." Duduk dilantai dengan punggung bersandar pada lemari pendingin, Kiara mengingat-ingat kembali makanan apa yang masih ia simpan untuk bisa di makan. Jika membeli pun, akan tidak mungkin sebab di luar hujan deras dan waktu sudah menunjukan jam sebelas malam.


Sepasang netranya membola saat mengingat jika dirinya masih mempunyai sebungkus mi instan yang ia simpan di tas kerjanya. Senyumnya pun mengembang sempurna. Tanpa berfikir lama, ia pun bergegas mencari tas tersebut dan berharap cepat menemukan harta karun yang membuat perutnya kenyang hingga dapat tidur nyenyak untuk malam ini.


Kiara memang sering membawa beberapa mie instan di tas kerjanya. Jika ia tak sempat mencari makan siang disela pekerjaan, mie instanlah yang menurutnya menjadi solusi paling tepat untuk penghilang rasa lapar.


Satu bungkus mie instan tanpa toping itu tersaji di meja. Aromanya pun terbilang menggiurkan bagi Kiara yang sudah sering menyantapnya.


"Bukankah mie instan itu enak, tapi kenapa tuan Sam tak menyertakan mie instan sebagai buah tangan? Dan setahuku, bukankan kemasan mie instan yang berwarna merah muda itu ada?" Makan sembari berfikir. Tetapi Kiara juga tak tau apa alasannya. Mungkin saja Sam tak menyertakan mie instan sebagai bahan pokok karna sesuatu hal.


Ponsel di dekatnya kembali berdering, pertanda pesan singkat masuk. Gadis itu tersenyum lembut saat mendapati nama sang ibulah yang tertera di sana. Pesan singkat itu berisikan salam rindu seperti biasanya dari ayah dan adik-adiknya. Kiara pun teringat, jika ini sudah waktu baginya untuk mengirimkan uang untuk keluarganya di kampung.


Kiara bekerja pun sebenarnya mendapat gaji lumayan besar dari toko bunga Zara. Terlebih kini statusnya yang sudah menjadi tangan kanan dan orang kepercayaan Zara. Tetapi untuk hidupnya sendiri, ia tak ingin berlebih-lebihan.


Tinggal di sebuah kontrakan sempit dengan makan apa adanya, baginya itu semua sudah cukup. Ia lebih memilih jika sebagian besar uang gajinya, dikirim untuk biaya pendidikan kedua adik dan hidup keluarganya di kampung. Dan sebagiannya lagi, ia simpan untuk tabungan di masa depan.

__ADS_1


Menurutnya, itu semua lebih baik dari pada bersenang-senang di masa sekarang, namun tak memiliki simpanan yang bisa digunakan untuk di masa mendatang.


Begitulah Kehidupan Kiara. Meski beberapa waktu lalu ia sempat terpedaya oleh bujuk rayu seorang pria bejat yang hanya berniat memanfaatkannya. Tetapi ia tak menyesal, justru ia menjadikannya sebagai sebuah pelajaran agar tak terjatuh kedalam bujuk rayu seorang pria untuk kedua kalinya.


__ADS_2