
Zara terbilang sangat menikmati prosesnya menjadi calon ibu. Senam hamil pun dilakukan dengan membawa ahlinya langsung. Tak perlu keluar rumah, Arka bahkan mempersiapkan semuanya agar istrinya itu tak perlu repot-repot melakukan ini dan itu di luar rumah.
Kamar kedua bayinya pun bahkan sudah dipersiapkan meski pun jenis kelamin bayi kembar tersebut masih dirahasiakan. Tak jauh-jauh, kamar bayi itu terletak satu ruangan dengan kamar yang ditempati Arka dan Zara. Keduanya memilih untuk tak memisahkan bayi kembar mereka dan tetap dalam pengawasan hingga usia mereka menginjak dua tahun, maka selepas itu bayi kembar mereka pun baru akan dipindahkan keruangan yang berbeda.
Semua tak terjadi begitu saja. Berkat obrolan panjang di malam hari, barulah ide tersebut terbesit di fikiran.
Malam itu selepas Arka menuntaskan hasratnya, masih dibawah selimut yang sama keduanya saling mendekap menyalurkan kasih sayang. Meski kehamilan Zara semakin membesar, namun Arka tetaplah Arka yang selalu kecanduan untuk menyentuh tubuh istrinya. Sedangkan Zara yang memahaminya pun tak pernah bisa menolak, saat suaminya itu menginginkan dirinya. Bukan tanpa alasan, selama keduanya resmi menikah dan melakukan hubungan badan, Arka terbilang lembut dan memperlakukan istrinya di atas ranjang.
Tubuh mungil nan ringkih Zara ia perlakukan dengan sangat lembut, layaknya barang berharga yang ia sayangi dengan sepenuh hati. Tak ingin membuatnya tersakiti, atau tergores sedikit pun.
Arka mendekap tubuh Zara dari belakang, sementara tangannya mengusap perut buncit sang istri dengan lembutnya.
"Sayang, apa kau memiliki rencana lain untuk bayi-bayi kita," bisik Arka di telinga Zara. Menciuminya bahkan mengigitnya lembut.
"Rencana seperti apa?" Gadis itu mendongak, menatap kearah Arka, dan dengan spontan pria itu justru mencium bibirnya singkat.
"Bukankah kita belum mempersiapkan kamar untuk bayi kembar kita?"
Gadis itu berfikir sejenak, kemudian menganggukan kepala.
"Iya, benar. Kenapa kita justru melupakan hal sepenting ini." Ada rasa sesal dipelupuk netra Zara, bagaimana hal sepenting itu justru terlupakan dari agenda hariannya selama ini.
Menyadari raut muram sang istri, Arka kembali merengkuh tubuh mungil itu untuk ia dekap lebih erat.
__ADS_1
"Hei, kenapa kau bersedih sayang. Bukankah rumah kita masih memiliki ruang kosong yang bisa digunakan untuk bayi-bayi kecil kita."
"Memang benar," sahut Zara cepat.
"Lalu apa lagi yang kau cemaskan?"
Gadis itu menatap lekat netra sang suami. Tetapi bibirnya masih ragu untuk mengucap.
"Katakan, sayang. Ada apa?" Tangan Rka bergerak mengusap bibir ranum Zara yang sedikit membengkak karna ulahnya.
"Aku tidak ingin berada jauh dari anak-anakku," lirih gadis itu berucap.
"Apa? Sesayang itukah kau kepada mereka. Hingga kau tak ingin berada jauh saat bayi-bayi kita lahir nanti?" Berniat menggoda, walau Zara sendiri sudah memanyunkan bibirnya pertanda merajuk.
Pria itu pun tergelak. "Baiklah-baiklah. Aku tau jika kau menyayangi bayi-bayi kita sama dengan kau menyayangiku. Lalu apa keinginanmu selanjutnya, sayang?" Arka bahkan dengan sengaja menggigit tengkuk sang istri hingga menciptakan rasa geli yang membuat Zara spontan tergelak.
"Katakan, apa yang kau inginkan?"
"Hemm, bagaimana jika untuk sementara kita menempatkan bayi-bayi kita di kamar ini saja?"
"Maksudmu, satu kamar dengan kita?" tanya Arka tak mengerti.
Zara pun spontan mengangguk, kemudian membalikkan tubuh yang semula memunggungi, menjadi berhadapan. "Iya. Lagi pula kamar ini terlalu luas untuk kita berdua. Jadi tidak apa-apakan jikakan sementara waktu, mereka akan tidur bersama kita?" Bola mata bening gadis itu menatap penuh harap.
__ADS_1
Arka menghela nafas dalam. Jujur ia sendiri cukup ragu. Pasalnya Zara berkeinginan untuk mengurus bayi kembar itu sendirian, hanya akan ada dua perawat yang membantu jika dia sendiri yang menginginkan. Sedangkan menurut dokter, bayi yang akan ia lahirkan dua sekaligus. Sudah dibayangkan akan selelah apa istrinya itu nanti. Ditambah dengan kamar bayi yang menyatu dengan kamarnya, bukankah itu sudah bisa dipastikan jika sepanjang malam Zara sendirilah yang akan mengurus bayi-bayinya ketika kehausan atau pun menganti popok yang basah.
"Sayang, tetapi apa kau yakin dengan keputusanmu?"
"Tentu saja, lagi pula tidak ada hal yang membuatku tak yakin," jawab Zara tegas.
Arka tersenyum lembut. Ia menyelipkan beberapa anak rambut yang menutup sebagian wajah istrinya.
"Tetapi aku justru mengkhawatirkan kesehatanmu sendiri, sayang. Aku tau, jika tak mudah untuk mengurus bayi-bayi kita kelak. Butuh tenaga ekstra, dan pastinya akan menguras habis tenagamu."
Pandangan teduh yang Arka tunjukan jelas membuat gadis itu yakin, jika pria itu sangat mengkhawatirkannya. Sebenarnya, bukan tanpa alasan dirinya menginginkan hal ini. Sebagai calon ibu yang diberkahi untuk bisa mengandung dan melahirkan buah hati untuk pertama kalinya, tentu ini tak ingin Zara sia-siakan begitu saja.
Bahkan pada saat kehamilan itu baru diketahuinya, Zara seakan memiliki ikatan batin pada kedua bayinya, hingga ikatan itu kian megust seiring perutnya yang semakin membesar.
"Sayang, aku tau jika itu semua pastinya sangat melelahkan dan tak mudah. Tetapi bukankah itu sudah menjadi fitrah bagi setiap perempuan yang memiliki gelar sebagai ibu, untuk merawat dan membesarkan buah hati yang sudah mereka lahirkan dengan penuh perjuangan bahkan bertaruh nyawa. Sebab, aku sendiri tak ingin melewatkan tumbuh kembang bayi-bayiku dari hari kehari. Karna momen seperti itu terbilang langka dan istimewa, sayang. Kau pun pasti tak ingin melewatkan itu semua dengan begitu saja."
Bagaikan ribuan kelopak mawar yang merekah bersamaan, Arka seolah mendapatkan keindahan sekaligus kebahagiaan dari ucapan istrinya.
Entah mengapa hanya dengan membayangkanya saja sudah membuat hatinya meluap bahagian, terlebih lagi merasakannya.
"Sayang, aku tau. Apa yang ada di dirimu dan fikiranmu sungguh luar biasa. Aku sungguh bahagia bisa mendapatkan istri sepertimu." Uyel-uyel gemas di puncak hidung sang istri hingga gadis itu kesulitan untuk bernafas.
"Sayang, hentikan! Kenapa baru sekarang kau menyadarinya jika istrimu ini masuk dalam katagori spesial dan diciptakan dalam stok yang terbatas," tersungging senyum puas di bibir Zara yang mana membuat Arka tergelak kencang.
__ADS_1
"Dan kau juga menggemaskan. Bukan hanya stok yang terbatas, tetapi kau hanya diciptakan satu-satunya dan hanya menjadi miliku. Titik."
Keduanya pun tergelak. Malam sudah semakin larut namun keduanya masih engan untuk terlelap dan lebih tertarik untuk mencurahkan keinginan satu sama lain di malam dingin nan syahdu.