
Tak hanya cukup sampai di situ kebahagiaan yang Arka berikan. Setelah menghabiskan beberapa jam bersantai di taman, mereka tak langsung pulang. Pria itu justru kembali memanjakan sang istri dan membawanya disebuah rumah kecantikan.
Diawal gadis itu tak mampu menahan keterkejutan. Ia memang tak pernah datang ketempat seperti ini, tetapi merekalah yang kerap melayaninya di rumah. Setiap dua kali dalam seminggu, Zara rutin melakukan perawatan tubuh di rumah, melalu jasa tangan-tangan profesional yang membuat penampilannya tetap menarik meski dalam keadaan mengandung.
"Sayang, bukankah hal semacam ini sering aku lakukan di rumah?" Protes Zara saat beberapa perempuan hendak melayaninya.
Pria itu tersenyum lebar, gemas mendapati ekspresi sang istri yang kebingungan.
"Bukankah aku sudah berjanji kepadamu, untuk membawamu ketempat mana saja yang bisa membuatmu bahagia. Mungkin dengan berada di tempat ini, kau bisa berinteraksi dengan ibu hamil lainnya, bertukar cerita dan berbagi pengalaman selama menjalani proses kehamilan." Arka mengusap perut sang istri lembut. Merasakan tendangan kedua bayinya di dalam sana.
Lengkung tipis merah muda milik Zara mengembang. Memang benar, spa yang ia datangi memang dikhususkan untuk ibu hamil. Di mana banyak para ibu muda atau pun paruh baya sebagai pelanggannya.
"Baiklah, biarkan mereka melayanimu. Aku akan menunggumu di luar."
Atas ucapan sang suami, gadis itu pun mengangguk setuju. Satu kecupan di kening mendarat sempurna, sebelum meninggalkan istrinya untuk mendapatkan pelayanan dari para pekerja spa.
Di tempat tersebut Zara mendapatkan pelayanan yang terbaik. Segala tritmen dilakukan. Pijatan lembut di punggung yang aman bagi ibu hamil, rupanya membuat tubuhnya benar-benar rileks dan nyaman.
Saat mendapat pijatan di kaki, masuklah seorang perempuan hamil yang duduk dan menerima perawatan di sampingnya. Di ruangan itu hanya ada dua tempat, untuk Zara dan seseorang di sampingnya.
"Hai," sapa perempuan itu lembut.
"Hai juga," jawab Zara sembari tersenyum kearah seseorang tersebut.
Zara menatap gadis itu sejenak. Dari penampilan, bisa dipastikan jika perempuan tersebut dari golongan atas yang bisa melakukan perawatan terbaik di tempat ini.
"Bagaimana kehamilanmu, apakah menyenangkan? Tanya perempuan itu lagi.
Zara tersenyum dengan mengangguk.
"Tentu. Lagi pula ini momen pertamaku menjalani proses kehamilan." Perempuan di samping Zara bahkan mulai menikmati pijatan di kakinya. Ia bahkan mendongak dan sesekali memejamkan mata.
"Sudah bisa ditebak. Jika kulihat, usiamu masih sangat muda. Benar bukan?"
"Benar nyonya. Hendak memasuki sembilan belas tahun." Hingga Zara pun mengingat sesuatu.
Apa? Ini bahkan hari ulang tahunku, tetapi kenapa suamiku justru mengajakku ketempat ini. Apa mungkin dia lupa?
Mood Zara berubah seketika.
"Waw, kau masih sangat muda. Tetapi jangan panggil aku nyonya, panggil saja kakak." Pandangan perempuan itu kini tertuju kearah perut Zara.
"Hei, perutmu terlihat sangat besar. Apakah bayimu sudah mendekati hari kelahiran?"
Gadis itu pun spontan menunduk, menatap kearah perutnya yang tertutup handuk piyama.
"Menurut dokter, bayi yang tengah kukandung kembar, kak. Jadi wajar jika perutku terlihat lebih besar dari pada perempuan hamil lainnya." Kini Zara pun fokus menatap perempuan di sampingnya itu. Meneliti kearah perutnya yang belum terlalu membesar.
"Lalu kakak sendiri, apakah juga sedang mengandung buah hati pertama?"
Perempuan itu tersenyum, kemudian menggeleng.
"Tidak, ini buah hatiku yang kedua. Anak pertamaku berjenis kelamin perempuan dan sudah berumur lima tahun. Kau tentu bisa melihatnya dari wajahku. Lihat." Perempuan itu mencondongkan wajahnya. "Aku tak semuda dirimu. Sudah banyak kerutan dan noda di wajahku." Perempuan itu bahkan tergelak setelah merampungkan kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi aku selalu melakukan perawatan rutin. Ya, supaya suamiku semakin lengket dan cinta kepadaku." Perempuan itu terlihat berbangga diri.
Zara hanya tersenyum sebagai bentuk apresiasi. Memang benar, selama ada biaya, bukankah perawaymtan itu wajib dilakukan. Bukan hanya bermanfaat untuk duri sendiri, tetapi hitung-hitung ibadah untuk menyenangkan hati suami.
"Hei, lihatlah!" Zara terkejut saat perempuan di sampingnya itu berucap cukup keras.
"Lihat kakimu."
Zara pun menatap kearah kakinya yang tengah dipijat.
"Ada apa, ka?"
"Kakimu terlihat sangat bengkak."
Zara menghela nafas lega. Semula ia dibuat was-was dengan ucapan perempuan itu kalau-kalau terjadi sesuatu padanya. Tapi ternyata, ia hanya menunjuk kaki Zara yang membengkak.
"Tidak apa kak, beberapa hari ini memang kaki menjadi sangat bengkak dan juga sakit." Beruntung para terapis memijit dan memperlakukan kakinya dengan hati-hati hingga ia tak merasakan sakit yang berlebihan.
"Aku rasa, tak lama lagi kau akan melahirkan." Ucapan perempuan itu terdengar serius.
Zara tersenyum samar, ia sendiri masih merasa ragu.
"Sepertinya belum kak. Kandunganku baru saja menginjak sembilan bulan. Dan aku rasa masih belum waktunya."
Perempuan itu terlihat menghela nafas dalam.
"Aku sudah pernah melahirkan sebelumnya, makanya aku berucap demikian. Saat melahirkan putri pertamaku, semua ciri-cirinya sama denganmu saat ini. Bukankah kau bilang jika bayimu kembar?"
"Bayi kembar, biasanya akan lahir lebih cepat dari pada kehamilan biasa. Entah kenapa, yang jelas aku juga tidak tau penjelasannya. Aku hanya mendengar dari cerita teman-temanku yang memiliki bayi kembar sepertimu."
Benarkah? Memang pada waktu itu dokter Bram juga pernah menjelaskannya pada kami.
******
Arka menatap kearah arloji yang melingkar di pergelangan tanggannya. Saat ini, mentari sudah terbenam dan mulai menyambut malam.
"Apakah semua persiapan sudah terselesaikan?"
Arka lekas merogoh ponsel di dalam saku celananya. Ia sengaja menjauh dari jangkauan Zara untuk memastikan semua persiapan berjalan sesuai dengan rencananya.
Ia pun menghubungi satu nomor kontak. Panggilan pun terhubung, seseorang di seberang sana tampak menjelaskan semua persiapan dengan seksama.
"Kira-kira akan membutuhkan waktu beberapa lama lagi?" tanya Arka tak sabaran.
"Baiklah. Mungkin aku akan kembali satu jam lagi. Usahakan sebelum aku datang, semua sudah harus beres seperti apa yang kuinginkan."
"Sayang." Suara lembut dari arah belakang yang menyapa indra pendengaran, membuat Arka lekas memutuskan panggilan secara sepihak.
"Menelfon siapa? Kau terlihat sangat emosi?" ucap Zara dengan bersedekap dada, meneliti raut wajah suaminya yang rupanya terkejut akan kedatangannya.
"Hei sayang, bukan siapa-siapa," elak Arka. "Dia hanya salah satu pekerjaku yang sepertinya lalai dalam mengemban tugas hingga membuatku sedikit emosi. Oh ya, apakah sudah selesai?" Arka lekas mengalihkan pembicaraan sebelum bibir mungil sang istri mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya kesulitan untuk menjawab.
"Sudah," jawab Zara singkat, yang mana membuat Arka menghela nafas lega.
__ADS_1
"Baiklah jika sudah selesai. Bagaimana jika kita langsung pulang?"
Gadis itu berubah muram seketika. Sembari tertunduk dan memilin jemarinya, ia pun melempar sebuah tanya.
"Sayang, apa kau tidak melupakan sesuatu?" Sebuah kode. Berharap jika suaminya itu faham dan mengingat jika hari ini adalah hari ulang tahun sang istri.
"Apa?" Arka sudah mengengam tangan istrinya. Pria itu terlihat berfikir sejenak. "Oo.. Mbayar semua tagihan? Tentunya aku sudah membayar semuanya bahkan sebelum kau menyelesaikan perawatan. Jangan khawatir. Ayo kita pulang." Arka bahkan memapah tubuh sang istri untuk bergegas meninggalkan tempat tersebut.
"Tapi sayang, apa kau benar tak mengingat satu hal?" tanya gadis itu lagi.
"Tentu ingat sayang, dan aku sudah membayarnya. Apa aku harus menunjukan jumblah tagihannya padamu hingga kau percaya?"
"Tidak tidak. Bu-bukan itu maksudku."
Aku kira kau ingat. Tetapi kau malah melupakannya.
Hingga mobil yang mereka naiki mulai memecah jalanan pun Zara masih sibuk dengan fikirannya sendiri. Mereka duduk di kursi penumpang dengan dua pengawal di bagian depan. Bertugas mengemudi, dan memantau keadaan sekitar.
"Sayang."
"Iya, sayang."
"Benarkah jika kau tak melupakan satu hal hari ini?"
Arka pura-pura berfikir. Cukup lama dan meyakinkan. Hingga Zara memasang wajah berbinar dengan pandangan penuh harap.
"Tidak ada."
Satu kalimat yang membuat Zara mengertakkan gigi dan menghentakkan kaki.
"Sayang, kau kenapa?" Arka menyentuh bagian kaki Zara dan mengusapnya lembut,namun lekas ditepis oleh gadis tersebut.
"Tidak papa, kakiku hanya kesemutan." Zara bahkan menggeser tubuhnya untuk menjauhi sang suami. Dia benar-benar geram.
Arka tetap bertahan di posisinya. Tidak mendekat, apalagi menenangkan istrinya. Tetapi dalam hati ia tergelak kencang. Tau jika Zara kini tengah marah dan menggerutu padanya.
Hah, kenapa tidak memepetku? Kenapa diam saja di situ. Setidaknya mendekatlah. Peluk aku, cium aku. Setidaknya jika kau lupa hari ulang tahunku, aku masih bisa memaafkanmu.
Zara mencuri pandang dari ekor matanya. Tetapi sialnya, pria itu tak menunjukan pergerakan.
Aku benci padamu!
Ngintip Visualnya Arkana Surya Atmadja yuk. Semoga tepat sama imajinasi pembaca. 😆😆
Visual Zara dan lainnya, entar nyusul ☺☺☺
Bersambung..
__ADS_1