
Sesuai janji, kini Anastasya mengarahkan motornya menuju area parkir taman kota tepat jam delapan pagi. Ia sendiri mengenakan pakaian yang cukup santai dan nyaman serta menyerap keringat. Tak lupa mengunakan topi untuk menahan terik sinar mentari yang cukup menyengat pagi ini.
Di mana dia.
Gadis itu menyapu pandangan kesekeliling taman yang cukup ramai pengunjung di akhir pekan, namun belum menemukan seseorang yang memiliki janji temu dengannya.
Saat tatapannya sedang sibuk mencari, tiba-tiba sentuhan tangan di bahu, membuatnya menoleh.
"Apa sudah menunggu lama?" tanya seseorang itu yang tak lain ialah Kenan.
Anastasya yang setengah terkejut itu menyentuh bagian dadanya yang berdetak tak karuan.
"Ti-tidak, tuan. Saya baru saja sampai. Tuan sendiri?" tanya balik Anastasya.
"Sama sepertimu, aku juga baru sampai. Bagaimana jika kita lebih dulu berlari kecil mengitari taman, sebelum mengobrol. Ya, hitung-hitung berolahraga," tawar Ken yang terlihat tampan dengan pakaian santai dan juga topi yang menempel di kepalanya.
Tak menjawab, gadis itu hanya mengangguk tanda sepakat.
Keduanya pun berlari kecil, berbaur dengan pengunjung lain. Banyak pula pengunjung dari berbagai usia, mulai dari lansia, para kaula muda, dan anak-anak yang menghabiskan waktu akhir pekan di taman kota. Baik untuk berolah raga, atau sekedar berjalan-jalan.
Anastasya rasa ada yang berbeda pada sosok Ken kali ini. Jika biasanya mereka bertemu pada malam hari, dengan setelan jas lengkap dan sisi misterius yang pria itu tunjukan. Akan tetapi kali ini sungguh berbeda, Ken terlihat lebih tampan dan santai, dan aura misterius itu cukup tak terlihat.
"Ini untukmu." Ken memberikan sebotol air mineral dingin pada Anastasya sebagai penghilang dahaga selepas aktifitas lari kecil mereka.
Gadis itu pun menerimanya dengan senyum tipis. "Terimakasih, tuan."
"Sama-sama." Ken menatap gadis itu dan membalas senyumanya.
Ya tuhan, benarkah? Rupanya dia bisa tersenyum.
Cukup terkejut, hingga Anastasya merinding dibuatnya.
"Duduklah." Keduanya memilih untuk beristirahat di sebuah kursi panjang yang berada di bawah pohon rindang, yang cukup jsuh dari keramaian. Sengaja dipilih agar obrolan keduanya tak mampu di dengar oleh siapa pun, terkecuali mereka sendiri.
__ADS_1
Sebelum memulai pembicaraan, Ken menatap kearah Anastasya yang menyandarkan punggungnya di kepala kursi dengan titikan peluh yang terlihat di pelipis dan keningnya.
"Kau lelah?" ucap Ken, yang spontan membuat Anastasya terkesiap dan membenarkan posisi duduknya.
"Sedikit, tuan," jawabnya diiringi senyum kikuk.
Huh, aku sangat lelah. Entah kapan terakhir kali aku berolahraga seperti ini.
Ken tersenyum tipis. Untuk sejenak pria itu masih menatap wajah Anastasya seksama. Wajahnya cantik, meski tanpa make up. Hidung lancip dan bibir yang tipis. Sungguh perpaduan yang sempurna. Terlebih senyum di bibirnya yang terlihat sangat manis.
"Tuan!"
Ken mengerjap, segera ia mengalihkan pandangan kesegala arah.
"Bukankah tuan ingin menjawab pertanyaanku semalam? Lalu kenapa masih diam?"
Baiklah.
Anastasya mengangguk cepat.
Pria itu menghela nafas, dan tertunduk dalam.
"Jika di tempat lain aku melakukan itu, maka orang lain akan melihatku seperti orang gila." Ken menjeda ucapannya.
Jangankan orang lain, aku bahkan sudah menganggap kau gila.
"Tetapi jika aku makan di tempat Wisnu, aku pasti akan melakukan hal semacam itu. Memesan makanan untuk tiga orang. Mereka pasti tidak akan memandangku sebagai orang gila, sebab semua orang yang bekerja pada Wisnu tau akan sebabnya, terkecuali dirimu."
Memang benar, Anastasya terhitung sebagai karyawan restoran yang paling baru di restoran milik Wisnu. Sebab itulah dirinya masih tak mengerti tentang Ken.
Pantas saja mereka tidak pernah mempermasalahkannya. Bahkan saat restoran nyata-nyata tutup pun, koki yang hendak bersiap pulang, masih mau memasak untuknya.
"Maaf, tuan. Saya memang belum tau, dan tak pernah menanyakannya pada karyawan lain tentang anda." Apa aku bersalah, karna sudah penasaran dengannya dan mencari tau tentangnya.
__ADS_1
"Anastasya, setiap manusia mungkin punya masa lalu kelam yang tak bisa ia bagi dengan siapa pun. Entah apa alasan yang melandasinya, tetapi mungkin bagi sebagian orang, akan lebih nyaman jika masa lalu itu hanya tersimpan untuk dirinya sendiri."
*****
"Benarkah," gumam Anastasya lirih dengan bulir bening yang terus mengalir dari sudut netranya.
"Jika aku saja yang mendengarnya merasa sakit, apalagi dia yang merasakannya."
Semua kisah masa lalu Ken masih terngiang-ngiang di ingatan. Saat pria itu justru membagi kisah masalalunya pada Anastasya, gadis yang baru beberapa hari ini ia kenal. Saat pria misterius itu tak kuasa menahan bulir bening dari pelupuk netra. Tertumpah ruah, di hadapan Anastasya.
Beberapa tahun lalu hidup pria itu masih terlihat normal dan baik-baik saja. Ken bahkan memiliki istri yang teramat ia cinta dan seorang putri kecil berusia empat tahun sebagai buah cinta mereka.
Sebagai pebisnis kontraktor, dirinya harus rela berpindah tempat dan terpisah jauh dari istri dan putrinya. Tetapi itu semua tak menyurutkan cinta keduanya.
Hingga pada suatu hari, lebih tepatnya pada hari jadi pernikahan mereka yang kelima, Istri Ken memiliki rencana untuk membuat kejutan bagi suaminya.
Pada saat itu, Ken tengah menyelesaikan proyek besar di negara XX yang sudah berjalan selama berbulan-bulan.
Ken sendiri tak tau jika Istri dan putrinya berniat menyusul, namun tanpa sepengetahuannya. Saat keberangkatan mereka pun hanya diketahui oleh keluarga sang istri, yang sebenarnya tak menyetujui keinginan putri mereka itu. Tetapi istri Ken tetap kekeh dan tak mampu ditahan.
Hingga pada hari keberangkatan itu menjadi hari kelam bagi seluruh keluarga, terlebih lagi Ken yang memang tak tau apa-apa.
Pesawat yang ibu dan anak itu tumpangi terjatuh bahkan beberapa jam sebelum sampai di bandara tujuan. Jenazah keduanya pun sampai kini tak diketemukan, sebab pesawat terjatuh dan meledak seketika. Tak ada satu korban pun yang berhasil teridentifikasi apa lagi diselamatkan. Hal itulah yang membuat Ken syok dan nyaris gila.
Ken langsung ambruk tak sadarkan diri begitu kabar buruk itu sampai ketelinga. Bahkan keluarga sang istri yang sejatinya menguatkan Ken, justru bersikap sebaliknya. Mereka justru menyalahkan Ken dan memojokkan menantunya itu atas kecelakaan yang menimpa Anak dan cucu mereka.
Hancur sudah hidup Ken. Taka ada lagi istri yang selalu menemani, tak ada lagi putri kecil yang bergelanyut manja digendongannya. Yang ada hanyalah kesedihan dan kehancuran.
Maka pada saat dirinya makan, disitu lah dia memesan makanan untuk tiga orang. Untuk dirinya sendiri, almarhumah istri dan juga putrinya. Wisnu dan para pekerjanya tahu benar itu, maka tidak ada yang mempermasalahkannya.
Bagi Ken, istri dan putrinya masih tetap hidup. Bukan di dunia, tetapi di sanubarinya.
Bersambung
__ADS_1