
Udara segar pagi hari terasa lembut membelai kulit seorang gadis yang setengah berkeringat selepas berlari. Ini adalah aktifitas rutin pagi harinya semenjak memutuskan tinggal disebuah kompleks perumahan sederhana, sekitar satu bulan lalu.
Di tempat ini lah, kini Anastasya tinggal. Benar-benar meninggalkan kehidupan mewah dan hinggar bingar perkotaan. Dirinya sengaja memilih untuk hidup di pinggiran kota, terutama untuk menjauhi Rangga dan menghapus semua masa lalu pahitnya dan menyongsong hari depan yang lebih indah. Sejauh ini, peribahasa itu masih ia percaya, hingga tanpa lelah, Anastasya terus berusaha untuk menemukan kebahagiaanya sendiri, meski pun itu berat.
Peluh mulai membanjir di seluruh tubuhnya, ia pun lekas menyekanya dengan sebuah handuk yang tersampir di leher. Ini adalah putaran terakhir, begitu kiranya Anastasya membatin. Mengingat waktu terus beranjak siang, ia pun lekas mengakhiri aktifitas lari paginya dan segera membersihkan diri, sebelum berangkat untuk bekerja.
Sebuah rumah cukup nyaman di sebuah kompleka berukuran tak terlalu luas dengan dua kamar tidur dan ruang tamu berukuran sedang itu sengaja Anastasya beli dari uang hasil tabungannya sendiri. Tak ingin bermewah-mewah, ia pun hanya memiliki satu buah motor yang bisa ia gunakan untuk menemani perjalanannya.
Wajah gadis itu terlihat lebih segar selepas membersihkan diri. Tak ada make up tebal yang menemani hari-harinya kini. Hanya pelembab dan bedak tipis beserta lipglos yang ia aplikasikan kewajah, agar lebih segar dan tak membuatnya pucat.
Pakaian mahalnya pun kini berganti dengan celana jins dan sebuah kaos seragam berwarna merah yang berasal dari tempak kerjanya saat ini. Anastasya benar-benar merubah penampilan dan kehidupannya hingga seratus delapan puluh derajat. Dengan begitu, tak ada satu orang pun yang mengenalinya hingga ia bisa bergerak dengan leluasa tanpa adanya hujatan dari orang lain.
Dengan senyum hangat Anastasya memasuki sebuah resto di tempatnya bekerja. Menyapa setiap rekan-rekan ataupun atasan yang tengah berpapasan dengan ucapan hangatnya. Sejatinya Anastasya ialah gadis supel nan menyenangkan, hingga tak terlalu sulit baginya untuk lekas berbaur dengan dunia baru dan orang-orang disekelilingnya.
Ditambah paras Ayunya yang alami dan sikap sopan santun yang dimiliki, membuat tak hanya kaum wanita, namun pria pun banyak mengincarnya. Akan tetapi, gadis itu tetap pada pendiriannya untuk saat ini. Tak ingin gegabah dalam memilih pasangan, jika akhirnya harus kandas ditengah jalan.
Pada saat jam makan siang, atau pun malam, restoran itu akan dipenuhi dengan pelanggan untuk mengisi perut mereka atau pun sekedar minum bersama.
Sebagai seorang pelayan, Anastasya pun harus sigap mencatat pesanan kemudian mengantarnya tepat waktu. Hingga tak ada satu konsumen pun yang mendemo kinerjanya saat bekerja.
Rasa lelah itu tak urung menyergap, sebab ini bukanlah pekerjaan Anastasya yang sesungguhnya. Akan tetapi gadis itu tak pernah menyerah, baginya setiap rupiah yang ia hasilkan dari tetasan peluhnya, akan sangat berharga dari pada mengantongi banyak uang, dari pekerjaan yang tak halal.
"Tas, makan dulu yuk, sebelum pulang," ajak seorang gadis yang merupakan rekan kerja Anastasya sekaligus teman dekatnya.
"Kamu aja yang makan. Aku masih kenyang," tolak Anastasya dengan lembut diiringi senyum tipisnya. Ia benar-benar masih kenyang dan enggan untuk makan.
"Baiklah, kalo kau memang tak lapar." Dengan langkah gontai, gadis itu pun menuju arah dapur, bergabung dengan pekerja lain untuk makan sebelum pulang.
Anastasya menghela nafas dalam sembari menatap pungung Nana, sahabatnya yang menghilang di sudut ruangan. Ia pun lekas meraih lap dan kemoceng, bersiap untuk membersihkan meja sebelum restoran itu tutup.
Rasa kantuk bahkan mulai menyergap, di tatapnya jam yang melekat di dinding, waktu memang menunjukan pukul sebelas malam, dan diwaktu seperti inilah restoran biasanya tutup.
__ADS_1
Karna hanya dirinyalah yang menolak untuk makan, maka ia seorang dirilah yang bergerak membersihkan meja beserta kursi sebelum pekerja lain datang membantu. Namun di saat kesendiriannya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu bertuliskan tutup itu cukup keras, hingga Anastasya pun terlonjak.
Gadis itu pun menatap kearah pintu. Di mana seorang pria dengan setelan jas resmi berdiri dan juga menatap kearahnya. Anastasya tak bergerak, ini bahkan sudah malam dan restoran pun tutup. Lalu untuk apa pria itu datang kemari?.
Pria itu mengetuk pintu lagi berulang, hibgga Anastasya kembali terlonjak, namun ia spontan membuka pintu itu agar tak berbuntut keributan.
"Maaf tuan, restoran kami sudah tutup." Anastasya berucap.
"Aku, beserta istri dan anakku ingin makan," balas pria itu dengan cepat.
"Tapi tuan, maaf. Restoran kami benar-benar tutup, dan anda bisa kembali lagi esok hari." Gadis itu coba memberi penjelasan.
Pria itu terlihat muram, terlihat jelas jika dirinya merasa kecewa.
"Kasihan istri dan anakku. Mereka pasti akan kelaparan jika menunggu sampai esok hari."
Anastasya tertegun, mendengar ucapan pria di depannya, hatinya seakan ikut tersayat. Menyapu pandang kearah sekitar, nyatanya gadis itu tak menemukan siapa pun selain pria berpakaian formal itu. Ah, mungkin anak beserta istrinya sedang menunggu di dalam mobil. Begitu isi fikiran Anastasya.
Pria itu pun mengangguk dan tetap berdiri di tempatnya.
******
Akhirnya setelah beberapa lama bernegosiasi dengan koki restoran yang sudah cukup akrab dengannya, Anastasya berhasil menarik tangan koki berusia matang itu untuk menemui pelanggannya.
Namun anehnya, pria itu sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Bahkan tak bergeser seinci pun.
"Tuan, masuklah. Koki kami sudah bersedia untuk memasak pesanan anda." Anastasya membuka lebar pintu dan mempersilahkan pelanggan terakhirnya itu untuk masuk.
"Terimakasih." Pria itu menjawab dengan senyum tipis, kemudian melangkahkan kaki untuk duduk di sebuah kursi yang berada di sudut ruangan.
"Loh, di mana anak dan istrinya? Kenapa mereka belum terlihat. Ah mungkin tuan itu ingin membungkusnya untuk istri dan anaknya yang berada di rumah," gumam Anastasya lirih yang hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Anastasya tak beranjak pergi, dirinya justru berdiri sembari menatap pelanggannya itu dari kejauhan. Benar saja, pria itu memsan tiga menu, namun tak mengatakan jika ingin dibungkus.
Tak butuh waktu lama, makanan itu sudah tersaji di atas meja. Aroma nikmat dan kepulan asap membuat siapa pun tergiur untuk menyantapnya.
Anastasya memutar tubuhnya, dengan menyapu pandang kearah luar. Tetapi tak menemukan siapa pun di sana selain kesunyian. Gadis itu kembali berbalik badan, menatap kearah pria yang sedang menata sendok dan garbunya sebelum akhirnya memanjatkan doa.
"Selamat makan malam, aku tau ini makan kesukaan kalian. Makanlah yang banyak, supaya kalian tidak kelaparan," ucap pria itu seolah sedang berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dengan lahap pria itu pun mulai menyuap makanannya, hingga tandas. Tak sedetik pun Anastasya mengalihkan pandangannya dari arah pria misterius itu, bahkan pada saat pria itu berbicara seorang diri.
Apakah pria itu gila, atau sedang mengalami tekanan mental.
Anastasya coba menebak lewat apa yang ia lihat. Kedua makanan yang dipesan itu sama sekali tak tersentuh.
Lalu apa gunanya memesan makanan sebanyak itu jika tidak dimakan? Bukankah itu mubazir namanya.
Gadis itu hanya bisa berdecak dalam hati. Melihat tingkah aneh pelanggannya. Terlihat jika pria itu menyeka sudut bibirnya dengan tisu, dan bangkit dari posisinya.
"Berapa semuanya," ucap pria itu dengan merogoh dompet di saku jasnya.
Setengah terbata Anastasya menyebutkan nominal angka yang harus dibayar oleh pelanggannya itu.
"Ambil kembaliannya untukmu." Pria itu menyerahkan sejumlah uang kertas dengan jumlah lebih dari angka yang baru saja disebutkan oleh Anastasya.
"Tuan, apa anda tidak berniat membungkus makanan itu untuk istri dan anak tuan." Anastasya sedikit berteriak saat berucap, pasalnya pria itu sudah hendak melewati pintu keluar restoran.
"Tidak perlu. Istri dan anakku mengatakan jika sudah kenyang. Kau tidak perlu repot-repot untuk membungkusnya." Selepas berucap, pria itu benar-benar pergi dan menembus jalanan malam dengan kuda besinya.
"Apa? Istri dan anaknya sudah kenyang? Tetapi kenapa aku tak bisa melihat kehadiran mereka?"
Gadis itu pun mengusap tengkuk, di mana bulu kuduknya terasa berdiri.
__ADS_1
"Sial, kenapa tiba-tiba aku merinding seperti ini?" Merasa dicekam ketakutan, Anastasya memilih untuk langsung berlari menuju arah dapur di mana temannya sedang berkumpul, dari pada membersihkan bekas makan keluarga misterius yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika.