
“Kamu makin cantik saja Dinda!”
Godaan Johan, tidak akan mempan. Dinda bukanlah gadis itu. Yang dulu, dengan mudah bisa terbujuk rayuan Johan.
Dinda memilih tidak menggubris ucapan Johan. Dia menganggap ucapan itu sebagai angin lalu saja.
“Dinda, apakah kamu sekarang sudah memiliki pria penggantiku?”
Lagi-lagi Dinda hanya diam. Tidak menjawab ucapan Johan, adakah jalan yang terbaik. Sikap diam Dinda sungguh membuat Johan makin terobsesi untuk terus menggodanya.
“Selesai!” ucap Dinda bicara, yang sejak tadi diam. “Aku sudah membersihkan jas kak Johan. Dan saat ini jam kerjaku sudah dimulai. Aku harus kembali ke kantor, maafkan tidak bisa menemani Kak Johan berlama-lama di sini.”
Dinda akan pergi, tetapi Johan kembali menarik tangan Dinda erat. Terlebih posisi restoran juga mulai sepi. Hanya ada beberapa karyawan saja, membuat Johan percaya diri ingin mengganggu Dinda.
“Dinda, jauh dari lubuk hatiku. Aku masih mencintaimu. Kembalilah ke sisiku Dinda. Maka aku janji, aku akan memperlakukanmu dengan baik dan akan terus mencintai kamu jauh dari sebelumnya.”
Ucapan Johan tidak membuat hati Dinda luluh seperti dulu lagi. Justru sebaliknya, Dinda menampar wajah Johan, sampai cap tangan Dinda tergambar di pipi pria ini.
“Maaf Kak Johan, aku pikir tidak ada lagi rasa diantara kita. Dan aku ingin kak Johan paham dengan reaksiku tadi!”
Dinda sedikit merasa bersalah karena terlalu berlebihan menanggapi ucapan Johan. Namun Johan bukannya marah atas tindakan anarkis Dinda, malah ia menikmati tamparan hangat itu.
“Sungguh menarik.”
Dengan wajah yang memerah dan sedikit sakit, Johan memegang sisa-sisa tamparan itu dengan tangannya. Sudut bibirnya menyungging tersenyum licik. Tamparan itu membuatnya percaya diri bahwa Dinda masih mencintainya.
Kali ini Johan kembali berulah dengan menarik pinggang Dinda untuk kembali mendekat ke tubuhnya.
“Kak Johan, apa yang Kak Johan ingin lakukan!”
“Apalagi jika bukan ingin merebut kembali milikku yang sudah pernah kubuang!”
“Yang sudah terbuang seharusnya sudah menjadi sampah. Dan sampah itu kini menjadi permata di tanganku. Bahkan saat permata itu sudah mulai berharga lagi, maka Tuannya datang untuk merebutnya kembali. Apakah itu yang di namakan Tuan tak berbalas Budi!”
Steve tiba-tiba datang dari arah belakang Dinda dan entah sejak kapan ia sudah ada di sana.
Kedatangan Steve cukup membuat Dinda terkaget karena dia telah menyaksikan adegan keji Johan. Dengan sikap arogan khas Steve, ia berjalan dengan elegan dengan kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana.
“Siapa kamu?” tanya Johan. “Beraninya kamu mengganggu seenaknya saja!”
“Aku yang harusnya bertanya padamu. Siapa kamu, beraninya menyentuh wanita sembarang di muka umum?”
“Aku ..., aku adalah kekasihnya. Apakah belum cukup untuk untuk di buktikan dengan matamu.”
__ADS_1
“Benarkah begitu?”
“Apakah sikap romantis ini belum cukup untuk membuatmu enyah dari sini!” teriak Johan kesal.
Steve tersenyum miring. Tanpa memberi tahu, Steve melepaskan Dinda dari genggaman Johan yang pemaksa itu.
“Aku adalah tunangan wanita yang kau anggap sampah ini!” jelas Steve. “Kau telah membuang barang milikmu yang tak berharga. Kini barang itu adalah istriku?”
Steve memulai sebuah drama kecil sambil matanya mengedip ke arah Dinda. Gadis ini terdiam sebentar. Serius, dia melakukannya? Steve benar-benar membuat Dinda terkejut.
“Pak Steve bagaimana Pak ....”
“Kamu izin beli makan hanya lima belas menit, tapi kamu tidak kembali setelah lima. Kamu tahu aku sangat khawatir tadi!”
Steve bermanja-manjaan dan bertingkah sok romantis. Yang membuat Johan jijik melihatnya.
“Ehm ..., aku ..., sebenarnya ...!”
“Sudahlah lupakan saja!” potong Steve. “Ss
ebaiknya kita kembali ke kantor sekarang.”
Steve merangkul Dinda, sangat mesra. Melihat tingkah Steve membuat Johan geram bahkan dia mengepalkan tangannya. Seerasa ingin memukul Steve karena telah membuat diri Johan malu.
••••
“Pak Steve maaf atas kelalaianku tadi. Aku sudah membuat makan siang Anda berantakan. Jika Bapak ingin minta kompensasi atas kerugian itu, maka Bapak boleh memotong dari gajiku!”
Steve tersenyum bahagia, sebab inilah yang dia inginkan dari seorang Dinda. Yaitu adanya timbal balik atas apa yang telah dia lakukan.
“Aku tidak minta apapun darimu, bahkan tidak akan meminta ganti rugi. Asal kamu mau menemaniku makan malam. Kamu tidak perlu mengganti semua kerugian ini termasuk makan siangku yang telah hancur. Bahkan aku akan menggajimu dua kali lipat dari gaji kantor jika kamu mau menemani ku makan malam. Apakah kamu setuju?”
Steve memberikan sebuah penawaran yang terdengar simpel namun terkesan memaksa. Dinda tidak munafik, maka dia menerimanya tawaran ini, tanpa berpikir dua kali.
“Iya aku setuju!” jawab Dinda
“Oke, pulang dari kantor kita langsung mencari tempat makan yang mahal di kota ini.”
Steve melakukan banyak hal, yang membuat Dinda bingung bagaimana menilai pria ini. Dia mesum, tapi sebenarnya baik. Dia gila, tapi dia waras. Anehnya Dinda, dia harus mengakui kalau Steve benar-benar tipe pria ideal.
“Ehm. Ngomong-ngomong, bagaimana Pak Steve bisa sampai di sana. Bukannya Pak Steve ...!”
“Aku tidak sengaja melintas!” potong Steve. Yang mana pikirannya langsung berputar pada kejadian tadi.
__ADS_1
Steve tidak sabaran menantikan wajah kesal Dinda karena disuruhnya tadi. Mengantri, jujur Steve setiap kali memesan makanan di restoran cepat saji itu, selau mengantri. Itulah kenapa, dia meminta Dinda membelikannya makanan. Karena Steve ingin menguji kesabaran Dinda.
“Dia sangat lama. Apa yang terjadi padanya sehingga selama ini belum kembali ke kantor. Apakah aku harus menemuinya?”
Steve berpikir sejenak. Seharusnya dia ke sana. Tapi ....
“Tidak, tidak, tidak. Bagaimana mungkin seorang bos akan menemui kucing liarnya. Biarkan kucing liar itu datang menemui Tuannya. Seharusnya begitu!”
Rasa kesal Steve menunggu sudah di atas ambang batas. Dia sudah tidak mampu menahan kedatangan Dinda.
“Apakah wanita nakal itu diganggu oleh penjahat seperti di film-film action? Jika benar, apa sebaiknya aku menemui wanita itu agar lebih jelas apa yang terjadi?”
Sempat ragu, akhirnya Steve mengambil langkah menuju ke restoran dengan sejuta pertanyaan di dada. Dia tak mampu menebaknya dengan pasti, namun ia yakin jika wanita nakal itu sedang dalam masalah.
Karena fokusnya sudah teralihkan oleh Dinda, Zico yang berpapasan dengan dirinya tak ia gubris saat teman itu menyapa dengan hangat.
“Hai Steve, mau kemana kau terburu-buru?" tanya Zico. Tapi pertanyaannya tidak di gubris oleh Steve bahkan Steve menganggap Zico tidak terlihat.
Melihat bayangan punggung Steve yang berjalan dengan terburu-buru, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan mendesak sehingga dia tidak peduli pada orang yang menyapanya.
“Setidaknya itulah Steve!” tukas Zico seraya ia melanjutkan langkahnya.
Steve dengan terburu-buru mendatangi restoran yang berdiri tepat di depan kantornya.
Dari luar kaca kafe yang tebal, Steve melihat Dinda dan Johan sedang dalam masa pegangan tangan yang bersifat memaksa.
“Wanita itu diam-diam sedang berpacaran!” ucap Steve kesal.
Dia ingin meninggalkan pemandangan di depan matanya itu dengan sebuah kekecewaan mendalam. Sebab melihat wanita nakalnya sudah memiliki seorang yang dia suka. Tetapi langkah kakinya terhenti setelah mulut gadis itu mengatakan ucapan yang sangat dia benci.
“Jangan sentuh aku kak Johan.”
Kata-kata itu membuat Steve lega. Tahu bahwa Dinda tak menyukai pria yang sedang memeluknya dengan paksa, angin segar untuk Steve. Berkat ucapan itu, dia menjadi semangat dan menghentikan langkahnya untuk meninggalkan Dinda tadi.
Dengan senyum di wajahnya, ia masih memiliki harapan. Tanpa pikir panjang, Steve membalikan tubuhnya kembali menuju kedalam kafe dan berdiri tepat di belakang Dinda.
“Kamu pikir aku sengaja melakukannya, begitu!” ucap Steve sok cuek pada Dinda khas dirinya yang angkuh.
“Benar juga, mana mungkin Pak Steve mau menemuiku di sana.”
Steve tertawa puas melihat tingkah Dinda yang menggemaskan. Kini dirinya masih punya harapan, membuat kucing kecilnya untuk terus berhutang Budi padanya. Dengan begitu dirinya akan membuat Dinda terus berada di sisinya bahkan jika itu kejam.
“Aku akan terus mengikatnya dan terus membuat dirinya berada dekatku. Walau terdengar sangat kejam dan ambisius tetapi dirinya harus paham bahwa dia hanya bisa terus berada bersamaku. Bahkan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil barang pribadiku.”
__ADS_1