UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 74


__ADS_3

"Steve," Dinda merengek. "Aku takut," wajahnya terlihat sayu.


"Tenang saja, ada aku di sini," hibur Steve.


Merek berdua berada di depan rumah orang tua Steve.


Rumah besar dengan daun pintu yang di chat berwarna emas. Hampir menyerupai emas sungguhan dengan ukiran bunga dan naga khas tradisional China.


Steve ingin mengetuk pintu, di pagi hari ini dia merasa rumahnya sangat sepi, tidak seperti biasanya.


Bahkan petugas kebun mereka saja tidak terlihat sepagi ini, juga pembantu penyiram tanaman. Mereka tidak terlihat beraktivitas, biasanya pagi-pagi seperti ini, halaman rumah sudah di datangi beberapa pekerja.


"Kenapa kita harus ke rumah kamu?" tanya Dinda. "Kita kan sedang melakukan perjalanan bisnis."


Steve merunduk, lalu menyentil hidung Dinda pelan. "Sebenarnya aku membohongi kamu," jawab Steve.


"Membohongi aku?"


"Iya," angguk Steve. "Sebenarnya aku membawa kamu ke Shanghai bukan karena ingin mengajak kamu melakukan perjalanan dinas, tapi ingin mengenalkan kamu dengan Papa dan Mama," Steve mengakui kebenaran.


"Jadi ini semua trik kamu, agar aku bisa datang ke Shanghai!" Dinda mulai sewot.


Dinda melepaskan genggamannya pada Steve, Dinda merajuk membalikkan badannya. "Aku nggak mau bicara sama kamu, tolong jangan berkata sedikit pun pada ku."


"Hei," Steve membalik tubuh Dinda. Steve memegang wajah Dinda. "Dengarkan aku," pinta Steve. "Aku membawa kamu ke sini karena Mama ingin kenal dengan kamu, kamu jangan takut. Aku tidak akan membiarkan para tetua ku menyusahkan kamu, jangan khawatirkan apapun," Steve berjanji.


"Kamu yakin," Dinda luluh. "Aku takut, apalagi ini pertama kalinya aku ikut kamu. Dan juga aku kurang memahami kultur budaya Tiongkok. Aku takut culture shock," ujar Dinda.


Steve mengelus lembut wajah Dinda. "Kamu jangan pikirkan yang aneh-aneh, aku jamin kamu akan baik-baik saja," imbuh Steve.


"Kamu janji ya," tuntut Dinda.


"Iya aku janji," jawab Steve meyakinkan.


Dinda mengangguk, Dinda percaya penuh pada Steve.


"Mama ku tidak galak kok seperti di film-film, dia wanita yang baik, sama seperti kamu," Steve memberitahu.


Dinda memanyunkan bibirnya, dia percaya pada semua perkataan Steve. Walau sejujurnya dalam benak Dinda bertolak belakang dengan apa yang ia pikirkan terhadap ibu Steve.


Steve menekan bel listrik rumahnya. Sebenarnya Steve rada ragu dan gugup, namun Steve merasa di semangatkan oleh Dinda yang percaya penuh padanya.


Dari dalam rumah, pintu perlahan membuka. Steve menyunggingkan bibirnya, dia mulai tegang. Dinda yang menggenggam tangan Steve mengusapnya lembut, Dinda merasakan tangan Steve dingin, seperti cuaca yang tengah menderu.


Dari balik pintu, ibu Steve yang menyambut kedatangan mereka. Dia terkejut saat melihat Steve ada di depannya.


"Steve!" teriak sang ibu kegirangan. "Kamu datang!" ucapnya lalu memeluk Steve. "Kamu kenapa nggak mengabari Mama kalau kamu datang ke Shanghai," ibu Steve melihat tubuh anaknya mendetail. "Kamu sehat-sehat saja kan di Jakarta? Mama sangat merindukan putra Mama yang tampan ini," imbuhnya kembali memeluk Steve.


Dinda melepaskan genggaman tangannya, dia merasa tidak enak hati pada ibu Steve karena harus mengambil putranya.


"Steve, Mama sudah rindu padamu Nak," ibu Steve dengan dua tangannya menyentuh wajah Steve. Dia membelai putranya, penuh haru. "Sudah lama nggak melihat wajah putra tampan Mama, rasanya baru sekarang Mama ingin menitikkan air mata karena bahagia melihat kamu kembali ke Shanghai."


"Ma, aku baru saja tiba di Shanghai. Bisakah Mama membiarkan aku masuk dahulu," tawar Steve.


"Maaf, Mama terlalu senang karena kamu pulang. Mama melupakan ini," jawab ibu Steve. Dia menyeka air mata yang tengah gugur. "Ayo masuk dulu, kita lanjutkan bicara di dalam."


Steve dan Dinda masuk, tapi ibu Steve mendadak sadar bahwa Steve membawa teman.


"Ini teman kamu?" tunjuk ibu Steve pada Dinda.


Dinda dengan cepat mengambil tangan ibu Steve lalu menciumnya. "Nama saya Dinda Bu," Dinda memperkenalkan dirinya, pertemuan pertama harus di lalui dengan baik. Itu yang Dinda inginkan. "Saya kebetulan sekretaris Pak Steve," jelas Dinda.


"Ouh," ibu Steve terpana. "Indonesia sekali kamu Nak," ujarnya. "Jangan panggil Bu, tapi panggil Mama saja," perintah ibu Steve. "Anggap saja aku sebagai Mama kamu di sini."


Indonesia sekali, merajuk pada kultur budaya Indonesia yang ramah tamah tanpa pamrih langsung mencium tangan orang yang lebih tua.


"Mama?" Dinda agak canggung.


"Iya, panggil saja Mama," ibu Steve meminta. "Mama juga dari Indonesia, jadi jangan sungkan dengan Mama ya sayang," wanita itu berkata ramah. "Jarang-jarang Mama bisa bertemu dengan wanita sesama Indonesia," tukasnya kegirangan.


Keramahan ibu Steve berbeda dengan apa yang Dinda pikirkan selama ini. Jauh meninggalkan ekspektasinya, ibu Steve benar-benar terbuka dan bersahabat.


"Ayo masuk, jangan berdiri di depan pintu saja, cuaca dingin, nanti masuk angin loh," kata ibu Steve mengajak keduanya masuk.


Apalagi Dinda terlihat melamun di pagi hari, tidak baik pikirnya untuk kesehatan.


Di dalam ruangan rumah Steve, Ayahnya yang duduk dengan santai tidak berkata apa-apa, kecuali menyapa Steve. Lalu dia melanjutkan kembali kegiatannya membaca koran pagi.


Michele wong, pria berkaca mata dan beruban putih ini tengah menikmati hari tua yang indah bersama sang istri, Nyonya Diah ayu atau ibu Steve.


"Pa!" Nyonya Diah mengganggu. "Anak kita akhirnya pulang ke Shanghai," ucapnya terharu. "Sambutlah mereka dengan hangat!"


Tuan wong menghentikan kegiatan membacanya sejenak. "Biarkan mereka istirahat, mereka pasti lelah," Tuan wong berdiri lalu menepuk pundak Steve. "Sudah lama tidak jumpa."


Steve mengangkat kedua alisnya. Pikir Steve ada yang aneh dengan pria tua itu.


"Nak Dinda, kamu pasti lelah," Nyonya Diah menyela. "Ayo Mama antarkan kamu ke kamar, pasti semalaman kalian bosan menunggu jemputan. Sopir keluarga semalam tekena musibah, maklum sudah tua!" kata Nyonya Diah berbasa-basi.


"Oh, ya," Dinda tidak tahu harus berkata apa.


Nyonya Diah menggiring Dinda naik ke atas. Wanita itu membawa Dinda masuk kedalam kamar yang nampaknya sudah di siapkan untuk para tamu yang datang.


"Nah, ini kamar kamu," Nyonya Diah memberi tahu. "Jika ada perlu atau membutuhkan sesuatu, hubungi saja asisten rumah ya, jangan sungkan."


"Terima kasih, Bu," jawab Dinda.


"He'em. Mama," Nyonya Diah membetulkan perkataan Dinda. "Jangan lupakan bagian ini," tegasnya.

__ADS_1


"Oh, iya. Mama," Dinda mengulanginya.


Ibu Steve membantu Dinda menunjukan seisi ruangan yang bisa dia pakai tanpa ragu. Wanita itu sangat antusias dalam menyambut tamu.


"Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu bekerja di perusahan wong?" tanya Nyonya Diah. Sambil menyibak tirai kamar. "Kamar ini jarang di huni, agak gelap, sinar matahari juga sulit masuk kalau selalu di tutup," wanita itu memberitahu.


"Kira-kira hampir setahun ini Ma," jawab Dinda.


"Ow, hampir setahun," sahut Nyonya Diah. "Itu waktu yang cukup lama, tapi kamu hebat."


"Hebat?" Dinda bingung, kenapa ibu Steve berkata begitu.


"Iya, kamu hebat," ucap nyonya Diah. "Belum genap setahun tapi kamu sudah berhasil menjadi sekretaris Steve. Itu termasuk hebat, karena grup wong sejak dulu memilih sekretaris yang minimal mengabdi pada perusahaan hingga tujuh hingga delapan tahun. Tapi kamu hanya kurang dari setahun bisa menjadi sekretaris, pasti kamu pintar bukan main."


"Aku tidak berpikir seperti itu," Dinda menolak pemikiran Nyonya Diah. "Aku rasa, mungkin faktor keberuntungan yang membuat aku ada di posisi ini," jelas Dinda.


"Kata-kata yang manis," ujar Nyonya Diah tersenyum. "Kalau begitu, sebaiknya aku keluar dulu, kamu perlu istirahat," dia menutup perbincangan dengan meninggalkan Dinda sendiri di kamar.


"Nanti malam turun ke bawah ya, kita akan menjamu makan malam, malam ini," pesan Nyonya Diah dari balik pintu.


Dinda membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala, menyatakan bahwa Dinda akan ikut bagian makan malam ini.


Sementara Steve ada di kamar sebelah tepat di samping kamar Dinda. Mereka ada di lantai atas. Steve merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur yang sudah lama tak ia tumpangi. "Tak ada ubahnya," ujar Steve setelah melihat semua barang-barang masa kecilnya terpampang rapi.


Steve melihat photo masa kecilnya yang ada di atas laci meja hias. Steve memandangi Poto Poto itu dengan kenangan manis di dalamnya, Steve mendengus tertawa, dia mengenang.


Nyonya Diah menghampiri suaminya, Tuan Wong yang kini berada di taman belakang rumah mereka. Dia asik bermain golf di lapangan mini miliknya.


"Sepertinya rencana kita berhasil, Pa," ucap Nyonya Diah berkata pada sang suami. "Akhirnya Steve kembali ke Shanghai setelah sekian lama menolak datang kemari, setiap kali di paksa."


"Setidaknya kita harus menahannya tinggal di Shanghai hingga berminggu-minggu, dengan begitu dia bisa memahami bagaimana rasanya menjadi pria yang bertanggung jawab," Tuan wong membalikan badan. Dia berhenti memainkan stick golf-nya.


Keduanya lalu duduk di kursi sambil meminum secangkir teh hijau masing-masing.


"Nanti malam perlu kah kita memanggil Peni datang kemari," kata Nyonya Diana sambil menyeruput teh hijau beraroma ginseng selagi panas.


"Itu harus, biarkan kita lihat drama apa yang akan terjadi nanti malam. Sekalian buatkan jamuan makan malam yang besar, dan kita umumkan acara pernikahan Peni dan Steve," Tuan wong seperti sedang menyiapkan rencana untuk Steve, entah apa, tapi mereka sangat antusias ingin memberikan kejutan pernikahan ini pada Steve.


"Jangan terlalu terburu-buru, kita undang Peni saja dulu dalam acara makan malam ini," saran Nyonya Diah.


"Terserah Mama, apa yang terbaik," Tuan wong memandangi istrinya, lalu menyeruput tehnya kembali.


Sedangkan Steve yang ada di kamarnya, diam-diam menyelinap masuk kedalam kamar Dinda.


Dinda yang tengah mandi, tidak tahu kedatangan Steve. Dinda lupa mengunci pintu kamarnya.


Saat keluar dari kamar mandi, Dinda yang hanya menutupi tubuhnya dengan handuk putih tersentak kaget.


Steve dengan santainya merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk Dinda.


Steve menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Aku rindu aroma tubuh istri ku," ekspresi wajah Steve kontras dengan kelakuannya, wajah semena-mena.


"Cepat keluar, aku takut bibi dan yang lainnya melihat," pinta Dinda sambil mengusir. Dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi jika orang-orang rumah memergoki berdua di dalam kamar. "Ayo cepat, aku mau ganti pakaian dulu."


Steve tersenyum tipis, bukannya Steve pergi setelah di usir Dinda, justru dia menepuk kasur agar Dinda mendekatinya. Steve mengisyaratkan Dinda mendekatinya dengan kedua alis yang terangkat.


"Nggak usah buat lelucon, nanti bibi masuk ke kamar, mereka nanti akan melihat kamu," Dinda mengusirnya, berharap Steve pergi. "Cepat keluar, aku takut orang-orang salah paham."


Steve bangkit dari rebahan nikmatnya, Dinda pikir dia akan keluar dari kamarnya, tapi nyatanya Steve justru mendekati Dinda.


"Ini di rumah ku, siapa yang berani menolak pesona tuan muda," bisik Steve. Dia berdiri di belakang Dinda sambil memegang bahu Dinda. "Tuan muda setampan diri ku sangatlah berkuasa di rumah ini. Aku bisa melakukan apapun yang ingin aku mau. Jadi jangan berani mengusir ku dari sini," lirih Steve.


"Aku nggak peduli kamu Tuan muda atau Tuan tua, sebaiknya keluar sekarang, aku nggak mau orang-orang di rumah ini melihat kamu sekamar dengan ku. Mereka akan berpikir yang tidak-tidak," Dinda membalikan badannya. Dia menatap Steve dengan tatapan tidak suka. "Atau aku akan melaporkan tingkah kamu pada kak Stevie," ancam Dinda.


Steve mendengus, dengan liciknya Steve malah tersenyum kecil. "Aku suka bagian ini, melihat istri ku marah, dan dia terlihat makin cantik," Steve menggoda.


Tangan nakalnya meraba tubuh Dinda. Dia menyukai kulit putih Dinda juga wajah basah Dinda. "Kamu sangat cantik hari ini, sayang," Steve berulah, dia kembali menggoda.


Dinda menepis tangan Steve. "Nggak usah cari kesempatan deh," ujar Dinda ketus. "Aku akan marah kalau kamu masih ada di kamar ku," Dinda menyewot.


Dia mulai kesal pada Steve. Dinda membalikan badannya, dia ngambek, tidak ingin menatap Steve.


"Oke," Steve mengalah. "Aku nggak mengganggu lagi, tapi aku ingin kamu memandikan aku," Steve memeluk Dinda dari belakang. Dia menempelkan dagunya di pundak Dinda seperti sebelum-sebelumnya. Steve meminta di layani dengan kemanjaan.


"Kamu punya kaki dan tangan, kamu harus mandi sendiri dong," jawab Dinda sewot. "Sekalian mandi di kamar sendiri, jangan di kamar ini."


"Nggak mau," Steve merengek. "Aku nggak mau mandi sendirian, aku mau mandi berdua, minimal di mandikan nggak masalah, asal tangan lembut kamu yang menyentuh rambut ku," Steve ahli dalam menemukan ide memerintah Dinda agar menuruti kemauannya. "Ayo kita mandi bersama."


Dinda menghela nafas beratnya. Lelah bagi Dinda harus terus-menerus ikut alur Steve yang merengek-rengek minta di manja.


"Iya, iya, aku mandiin," Dinda terpaksa menurunkan egonya. "Sana ke kamar mandi, aku ganti baju dulu, baru aku mandiin," perintah Dinda kasar.


"Tapi aku mau mandi berdua," Steve berulah. "Harus berdua!" tegas Steve.


"Ih," Dinda menghardik kelakuan Steve. "Kamu maunya apa sih, udah deh, jangan buat yang aneh-aneh. Ingat, kita ada dimana, ada di rumah orang tua kamu," Dinda bersua ketus.


"Siapa peduli," jawab Steve. "Yang terpenting, ada di dekat pacar ku yang cantik ini, aku akan melupakan dunia ini tanpa manusia lain selain pacarku," Steve mencium rambut harum Dinda. Nikmat, Steve membelainya lembut.


Perilaku Steve terus saja membuat dinda kesal, karena sudah tidak bisa menahan marahnya, Dinda terpaksa bertindak.


Dinda mendorong punggung Steve ke kamar mandi. Tanpa pikir panjang dia langsung memasukan Steve kedalam bathub.


"Kamu seperti anak kecil saja deh, merengek-rengek minta di manja. Aku ingin marah, tapi mulut manis kamu selalu membuat aku tidak berani melakukannya," gerutu Dinda.


Dinda menyiram Steve menggunakan sower yang airnya mengucur deras. Bagai memandikan anak kucing, Dinda memperlakukan Steve lembut tapi mengomelinya.


"Tentu saja kamu nggak akan marah, karena aku tuan muda penuh pesona, semua wanita rela mematahkan tulang rusuk mereka demi Tuan muda mu ini. Tolong jangan cepat menolak pesona ku," Steve berkata narsis.

__ADS_1


Dinda mendengus. "Nggak usah narsis deh, nggak akan mempan, aku sudah biasa menghadapi pria tampan."


"Tunggu," seringai Steve. "Kenapa kamu memandikan aku, tapi tidak membiarkan aku melepaskan baju ku!" Steve menuntut.


"Ih cerewet banget," hardik Dinda. "Yaudah sana, lepasin dulu."


"Nggak mau," Steve menggeleng. "Kamu yang lepasin."


"Huh....." Dinda membuang nafas panjang. "Selalu aku yang mengalah," tukas Dinda sewot untuk kesekian kalinya. "Angkat tangan, aku bantu buka," perintah Dinda.


Steve kegirangan, dia tersenyum sumringah. "Istri ku memang paling pengertian."


Dinda memaksa tersenyum. "Aku memang paling pengertian, lagi pula pesona putri seperti ku siapa yang akan menolaknya," Dinda menirukan gaya bahasa Steve.


"Hei," Steve menggerutu. "Itukan gaya bahasa ku, kenapa kamu meniru gaya ku!"


"Siapa peduli!" timpal Dinda. "Kamu selalu berkata narsis, kenapa aku tidak bisa?"


"WTF," umpat Steve.


Dinda menggosok rambut Steve dengan shampo lalu mengeramasnya.


Steve menikmati semua apa yang Dinda lakukan padanya walau dia sebal.


Steve tersenyum saat Dinda memperlakukannya dengan baik. "Nanti malam kita mandi bersama ya," sela Steve mengatakan pemikiran anehnya pada Dinda.


"Jika ada waktu," jawab Dinda singkat.


Dinda terus saja menggosok rambut Steve, busa melimpah menutupi wajah pria itu.


"Dinda," Steve memegang tangan Dinda yang sedang mengusap rambutnya. "Aku boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


"Cium aku," Steve meminta jatahnya. "Seharian ini kamu tidak mencium ku, sepertinya kamu lupa bagian ini," Steve mengingatnya.


Dinda duduk di pinggir bathtub, dia menghentikan sebentar aktivitas memandikan Steve. "Kamu selalu minta di cium, memangnya ada apa dengan ciuman ku. Apakah ciuman ku ada spesialnya, sampai-sampai kamu selalu meminta begitu?" Dinda bertanya, dia penasaran kenapa Steve ingin selalu di perlakukan seperti itu.


"Jika kamu mencium ku, maka aku merasa sepertinya dunia ku kembali setelah menghilang beribu-ribu tahun," jawab Steve.


Kata-kata Steve membuat Dinda tidak bisa menolak permintaannya. Dinda merasa luluh setiap kali dia meminta ciuman darinya.


Dinda mencium pipi Steve yang basah, ciuman kilat.


"Kamu itu pria yang aneh," Dinda menyentik hidung Steve. "Segala sesuatu harus di ganti dengan ciuman."


Steve membalas tangan jahil Dinda, dia mengelus bibir gadis itu. "Aku aneh karena kamu," Steve berkata. "Semua dunia ku sudah kamu rebut. Jadi kamu harus mempertanggung jawabkan semua yang telah kamu renggut dari ku," Steve menuntut.


Dinda tertawa. "Itu menggombal?"


"Bukan," balas Steve. "Tapi itu kenyataan-nya bahwa kamu telah mencuri semua dunia ku."


"Kamu memberi tahu ku kalau aku adalah penjahat?" Dinda terkekeh. "Yang mencuri dunia pak CEO yang galak."


"Bahkan jika kamu penjahat, mungkin kamu adalah penjahat yang paling jahat di antara semua penjahat," Steve berkata. "Karena kamu mencuri dunia dan juga cinta orang lain."


"Apa kejahatan itu termasuk pelanggaran," Dinda kembali tertawa mendengar kata-kata Steve.


Kata-kata seorang pria yang nampak ahli bersyair. "Jika itu iya, maka apa hukuman yang setimpal yang harus di berikan pada sang penjahat," Dinda ingin tahu jawaban gombal Steve.


"Menikahinya," jawab Steve. "Itulah hukuman yang pantas untuk penjahat seperti kamu yang telah mencuri dunia ku dan menggantinya menjadi taman bunga."


"Sejak kapan kamu pandai menggombal," Dinda tidak bisa menahan tawanya karena ulah Steve yang puitis.


"Sejak kamu memasuki dunia ku, itulah kenapa aku makin gila setiap melihat kamu," pungkas Steve yang diam-diam pandai menggoda.


Steve mengambil tangan Dinda, lalu menempelkan tangannya di perut Steve. "Kamu adalah wanita bahkan satu-satunya wanita yang berani menyentuh tubuh ku. Kamu berbeda dari wanita-wanita lainnya."


"Itu karena kamu juga pria yang spesial," Dinda berkata sehati. "kamu memperlakukan aku dingin dengan sifat pemarah, namun diam-diam memperhatikan aku. Kamu satu-satunya pria yang bertingkah emosional secara terang-terangan, tapi di balik itu semua kamu tetap memperhatikan aku walau kamu kecewa," Dinda mengakui semua isi perasaannya. "Terima kasih Steve. Terima kasih telah hadir dalam hidup ku."


"Aku juga ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah hadir di dalam hidup ku. Mengisi dunia ku dengan senyum mu, aku sangat mencintai mu," Steve juga mengungkapkan perasaannya.


Dinda menopang dagunya pada tangan yang di sandar di pinggir bathtub. Dinda menyaksikan wajah Steve sepuasnya.


"Kamu tahu," ucap Dinda. "Sejak kali pertama kamu mengatakan cinta pada ku, entah kenapa sikap jahil kamu selalu membayangi setiap pikiran ku."


"Itu karena kamu sudah mulai gila," sahut Steve.


"Gila!" Dinda bingung.


"Iya, gila," jawab Steve. "Gila karena terus memikirkan aku!"


"Kamu selalu membuat aku tersenyum dengan gombalan kamu yang bodoh ini," Dinda tertawa. "Aku tidak mengerti, bagaimana bisa, kamu yang dahulu introver, sekarang malah menjadi romantis begini. Seperti ada dua sisi dalam diri kamu."


Steve mengelus wajah Dinda. "Kamu mau tahu jawabannya," Steve bergurau.


Dinda mengangguk, dia ingin tahu jawaban itu. "Itu karena kamu wanita yang paling aku cintai," ungkap Steve.


"Aku bahkan rela berjalan mengarungi jalan dari apartemen kamu ke parkiran."


"Loh, kok cuma segitu!" Dinda tertawa geli pada kata-kata Steve yang satu ini. "Pengorbanan macam apa itu?"


"Karena aku nggak mau membuat pengorbanan yang panjang, tapi tidak ada hasil. Aku hanya ingin berkorban singkat tapi kita bisa melaluinya bersama. Itulah makna, kenapa aku tidak suka melewati hari-hari yang indah bersama mu seorang diri."


Dinda hari itu tidak bisa menahan gelak tawanya. Kata-kata Steve sangat puitis, sampai-sampai Dinda merasa sedang dalam mengikuti acara reality show kesukaannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2