
Malam itu adalah malam yang sulit bagi Dinda. Bagaimana tidak, hujan rintik-rintik itu turun di saat yang tepat. Kenapa dia menerpa bumi, bersamaan dengan Dinda yang akan pulang. Seakan hujan itu menahan dirinya agar terus berada di rumah steve. Jarum jam berganti dari angka tujuh menuju ke angka sebelas malam. Setidaknya malam itu sudah menghabiskan waktu Dinda, sebanyak tiga jam.
Selama ini juga, Dinda harus duduk berdua dengan bosnya itu. Bagi Steve mengurung Dinda, setidaknya bisa membuatnya sedikit terhibur oleh anak kucing yang menggemaskan. Tingkahnya yang canggung, membuat Steve ingin terkekeh geli.
“Hei, bisakah kamu bersikap tenang!” tegur Steve. Dia kesal melihat perilaku Dinda yang gelisah. Ucapan Steve ini terkesan tidak suka melihat wanita itu seperti dikejar waktu. “Kamu telah membuatku tidak fokus. Apa karena hanya ada kita berdua di sini. Sehingga kaum bersikap seakan aku adalah pria mesum seperti yang kamu ucap tadi pagi. Bukankah begitu?”
“Kamu pikir aku sedang memikirkan kamu kah?” balas Dinda ketus. “Seperti tidak ada pekerjaan lain saja selain memikirkan mu!”
“Lalu, jika bukan memikirkanku, siapa lagi yang akan membuatmu heboh seperti itu?” kembali Steve mencecar. “Apakah kamu takut jika aku terkam?”
Kali ini Steve mendekati tubuhnya pada Dinda dan wajah keduanya amat dekat. Dinda mundur, karena tidak sanggup disentuh.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Dinda sambil kedua tangannya menutup dada.
“Apalagi kalau bukan bertindak seperti yang kamu lakukan padaku semalam. Kamu pasti sudah melihat tubuhku bukan? Tentu saja saat dirimu mengganti pakaianku.”
“Jangan bicara sembarangan, aku tak pernah memiliki niat untuk menyentuh tubuhmu. Apalagi melihatnya. Sedikit pun tidak!"
Steve tersenyum miring. Di sudut bibirnya, dia merasa amat tergoda dengan ucapan halus Dinda. Serta wangi tubuhnya telah membangkitkan semangatnya untuk menggoda lebih jauh lagi.
“Benarkah begitu? Lalu, mengapa sekarang kamu amat ketakutan dan gelisah saat menatapku? Bukankah aku pria mesum yang kamu maksud itu? Bagaimana kalau kita main yang nikmat malam ini. Aku rasa ..., ini agak menyenangkan!”
“Maaf Pak Steve, aku rasa pikiran negatifmu itu harus diubah. Aku tidak pernah memikirkan anda sedikit pun saat ini. Yang aku pikirkan adalah hujan yang sedang turun!”
Sekali lagi Steve makin tergoda dengan alibi yang diciptakan oleh Dinda. Hingga memacunya lebih semangat lagi untuk terus menerus menebarkan pesona pada Dinda.
“Memikirkan hujan, segitu pentingnya kah hujan Dimatamu?” lanjut Steve, seraya tangan nakalnya menyentuh dagu Dinda. “Apakah aku terlihat lebih buruk dari hujan yang kamu pikirkan itu? Atau ..., kamu tidak tertarik dengan wajah dan tubuhku yang seksi ini. Atau hujan itu mengingatkan dirimu pada seseorang yang sangat kamu cintai?”
Dinda dibuat bingung oleh perilaku Steve yang kacau itu. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, Dinda merasa bahwa pria dihadapannya ini memang sedang menderita alzheimer akut sehingga tak bisa berpikir positif nan jernih.
“Pak Steve yang tampan, sebenarnya aku tidak memikirkan hujan seperti yang Anda maksudkan. Tetapi, aku sedang memikirkan kenapa hujan tidak segera reda. Karena aku lupa mengangkat pakaianku yang sedang aku jemur di luar indekosku. Jadi bisakah Anda berpikir sedikit positif!"
Mendengar ucapan Dinda sontak Steve langsung dari Dinda. Bagai ditombak oleh panah tajam, Steve merasa sangat sakit. Kenapa godaannya tidak berpengaruh pada Dinda.
“Ehm ..., katakan apakah kamu ingin aku antarkan pulang sekarang atau menunggu hujan semakin deras?"
__ADS_1
“Benarkah Bapak akan mengantarkan aku pulang?”
Steve mengangguk. “Tentu saja!”
Dalam hati Dinda, dia mengumpat Steve. “Mengapa tidak sedari tadi Anda mengantarkan aku pulang. Jika begini, dari tadi aku takkan mungkin di sini selama berjam-jam.”
Begitu bencinya Dinda pada Steve, membuat Dinda harus menahan kesabaran tingkat dewa.
“Sebegitu senangnya kah kamu ingin aku antarkan pulang?”
Dinda mengulum tersenyum. “Tidak Pak,” balasnya kontra. “Aku rasa memang seharusnya Pak Steve bertanggung jawab atas keselamatan karyawan. Mengantarkan aku pulang, bukanlah sesuatu yang harus aku senangi saat ini"
“Oh begitu ya. Bagaimana jika aku tidak mengantarkan kamu pulang? Apakah kamu merasa keberatan?”
Lagi-lagi, Dinda ingin sekali memakinya. Namun Steve bangkit dari duduknya. Lalu melempar jas hitam besar miliknya pada Dinda.
“Pakai ini, cuaca di luar dingin. Nanti kamu masuk angin. Aku tidak mau mengambil resiko apapun.”
“Apakah dia sekarang perhatian padaku?” Dinda menatap punggung indah Steve. Rasanya, tubuh jangkung itu sedikit perhatian.
Keduanya sudah dalam perjalan pulang, mengendarai mobil mewah Steve. Sangat empuk dan nyaman menaiki mobil mewah nan futuristik.
Untuk sesaat Dinda menebak harga mobil Steve hingga harta kekayaan yang dimiliki pria sombong ini.
“Dia kaya diusianya yang masih muda. Kulitnya bahkan sangat putih, mulus dan tidak ada pori-pori sedikit pun. Wajah oriental Asia-nya begitu memukau. Dia tinggi bahkan jauh dua kali lipat tingginya dari diriku yang bertubuh mini ini. Mengapa pria ini amat sempurna. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun dia terlihat berwibawa.”
Tanpa sadar lamunan Dinda disadari oleh Steve.
“Apakah aku cukup berkesan di matamu? Sehingga kamu melamunkan diriku dalam khayalan fantasimu?”
Seketika Dinda sadar, kalau Steve menyinggungnya. “Astaga, mengapa aku malah memikirkan dia?”
Terlalu bodoh, kalau terus memikirkan Steve yang tiada habisnya.
“Jangan bilang kamu masih memikirkan jemuranmu yang konyol itu. Atau kamu sedang memikirkan hutangmu di warung?” sambung Steve, sedikit menebak apa yang ada dilamunan Dinda.
“Ah tidak ada yang aku pikirkan Pak. Hanya sedang berpikir bahwa jalan tol dalam kota ini agak sedikit senggang tidak seperti hari biasanya!”
__ADS_1
Sayangnya, Dinda tanpa sadar bahwa dia tidak bisa menipu Steve dengan mudah. Karena Dinda tidak memperhatikan jam ketika mereka berangkat dari rumah Steve.
“Wanita ini mulai berbohong. Jelas-jelas sudah 30 menit terjebak di dalam tol, apanya yang senggang!”
Satu jam lebih, mereka mengarungi jalan yang lumayan padat. Kini mobil Steve tiba di apartemen Dinda. Kawasan hunian sederhana.
“Terima kasih Pak atas tumpangan mobilnya!” ucap Dinda seraya menutup pintu mobil Steve.
“Aku melakukannya tidak dengan gratis!” jawab Steve singkat.
“Maksudnya, aku harus membayar ongkos mobil Pak Steve, begitu?” tanya Dinda. Gadis ini hanya ingin memastikan perkataan pria itu.
Bagaimana tidak, uangnya cukup untuk menghidupi jutaan manusia terlantar. Tapi mengapa dirinya meminta sesuatu dari gadis miskin sepertinya.
Steve tersenyum miring. Kembali berulah, Steve ingin mencoba trik kotor yang lebih ekstrim lagi.
“Tentu saja tidak, uang yang kamu punya tidak cukup untuk membayar tumpangan mobilku yang mewah. Sebagai gantinya biarkan dirimu melayaniku untuk malam ini. Bagaimana setuju!”
“Dasar pria mesum!” teriak Dinda responsif. “Aku tidak akan pernah Sudi melayani Anda Pak. Bahkan tak akan Sudi aku disentuh olehmu!”
Steve tidak marah atas ucapan kasar Dinda Justru dia menikmati tiap kemarahan yang di lontarkan dari mulut manis Dinda, seakan dirinya adalah seorang psikopat.
“Luar biasa berfikir negatif,” ucap Steve. Menyinggung tersenyum picik.
“Maksud Bapak apa?” tanya Dinda kembali heran. Tiap ucapan yang Steve keluarkan, seakan memiliki teka-teki di dalamnya.
“Aku bukan tipe pria seperti yang kamu maksud. Kamu tahu malam ini amat dingin, setidaknya biarkan tamumu ini makan mie pedas dan sedikit menyeruput capuccino panas di tempatmu. Ya jika kamu merasa memiliki hati untuk membalas kebaikan orang yang telah mengantarkan kamu pulang. Setidaknya berikan mereka sedikit rezekimu.
Itu pun jika kamu merasa keberatan maka aku bisa pulang sekarang?”
Licik sekali. Seakan Steve sedang memojokkan Dinda, bahwa dia adalah wanita yang buruk. Tidak tahu berterima kasih
“Baiklah Pak. Anda boleh ke apartemenku. Ayo, silahkan ikuti aku!” ajak Dinda. Ini keputusan yang buruk.
Steve tersenyum bangga karena usahanya tidak sia-sia. Dia mengekori Dinda dari belakang dengan kebahagian luar biasa karena menaklukan wanita itu hanya dengan mulut manisnya.
“Dasar perut karet!” umpat Dinda kesal.
__ADS_1