
Jakarta, Indonesia. Jam 02: 40 dini hari.
Steve dan Dinda kini telah tiba di Jakarta. Steve mengantar Dinda pulang ke apartemennya.
Malam selarut ini sangat berbahaya, Steve mengkhawatirkan Dinda jika dia tidak mengantarnya hingga ke rumah.
"Terima kasih!" seru Dinda. "Aku masuk dulu." Dinda menutup pintu mobil Steve, dia beranjak meninggalkan parkiran.
"Jangan lupa mimpikan aku," ucap Steve untuk yang terakhir.
Dinda mengangguk sembari melempar senyum hangat pada Steve.
Keduanya berada di parkiran mobil apartemen. Steve mengenakan mobilnya yang berwarna hitam, untung saat itu dia meminta kakaknya memarkirkan mobilnya di parkiran bandara.
Steve tahu, bahwa penerbangan dari Shanghai ke Jakarta pasti akan tiba sangat larut.
Dinda menyeret kopernya, masuk ke apartemen melalui lobby belakang gedung.
Dan seperti biasa, Steve hanya beberapa kali saja mengantarnya hingga di depan pintu apartemen, akan merepotkan bagi Steve jika mengantarkan Dinda hingga ke depan pintu apartemennya.
Di dalam rumahnya, Dinda merasa sangat lelah. Lampu apartemen terang benderang, biasanya Miko dan Niko jika tidur selalu mematikan lampu.
Tapi malam itu, entah kenapa semua lampu menyala. Dinda merasa agak bingung, kenapa mereka tidak mematikannya.
Mungkin lupa, pikir Dinda. Dinda melirik seluruh ruangan, semua lampu menyala tidak ada satu pun yang di matikan. Mungkin hanya apartemen Dinda saja yang terlihat terang di gedung ini, sementara apartemen lainnya terlihat gelap. Dan saat Dinda membuka kamar adik-adiknya, sesuai yang Dinda pikirkan, mereka berdua sudah terlelap. Dinda menggeleng melihat mereka yang melupakan kebiasaan mematikan lampu sebelum tidur.
Dinda menutup pintu, tepat di depan kamar adik-adiknya, dering handphone yang Dinda pegang bergetar.
Dari layar teleponnya, ibu Dinda menghubunginya di tengah malam. Bagi Dinda, ini pertama kalinya sang ibu melakukan panggilan telepon di malam hari. Sebelum-sebelumnya, ibu Dinda tidak pernah menelpon seperti ini kecuali dalam keadaan genting.
"Jam dua malam seperti ini, kenapa ibu menelpon?" Pikir Dinda ada apa. "Di pikir-pikir, sudah lama juga sih tidak menghubungi ibu."
"Iya, halo, Bu," jawab Dinda mengangkat panggilan telepon dari ibunya. "Kenapa ibu menelpon selarut ini?"
Halo, ini dengan Nona Dinda, dari dalam telepon, bukan suara sang ibu yang berbicara, tapi orang lain.
Iya, benar. Dengan saya sendiri, ini siapa ya? tanya Dinda ingin tahu.
Maaf, kami dari rumah sakit Pertamina, ingin mengabarkan pada anda bahwa Ibu Yuri tengah pingsan tak sadarkan diri. Mohon agar segera anda bisa datang ke sini secepatnya. Kami butuh sanak saudara atau kerabat yang bisa mengurus keperluan beliau selama di opname di rumah sakit ini.
Baik-baik, saya akan kesana secepatnya, jawab Dinda panik. Dia ingin lekas pergi menemui ibunya.
Mendengarkan berita yang secara tiba-tiba seperti ini, Dinda langsung shock berat. Sudah lama tidak menghubungi ibu, tahu-tahu dapat kabar yang tidak enak! Dinda sedikit menahan air matanya agar tidak jatuh di situasi seperti ini.
Pikirannya sudah kacau karena terbayang-bayang oleh wajah sang ibu.
Dengan cepat Dinda membangunkan adik-adiknya yang tengah tertidur pulas, Dinda ingin mengajak keduanya menemui sang Ibu.
"Niko, Miko," Dinda memaksa adiknya terbangun. "Niko, Miko, ayo bangun. Cepat bangun, ibu masuk rumah sakit," ujar Dinda panik.
"Apaan sih kak!" Niko memelas, dia memaksa terbangun sambil mengucek matanya yang menempel. "Ganggu tidur saja!" gerutunya menyewot.
"Cepat bangun, ibu masuk rumah sakit!" tegas Dinda sekali lagi. "Ayo bangun, Niko, Miko!" Dinda memukul adik-adiknya pelan agar terbangun.
"Apa? Rumah sakit!" Seketika Niko langsung sadar. "Siapa kak yang masuk rumah sakit? Kakak kapan tiba di rumah?"
"Sudah lupakan kapan kakak tiba di rumah, yang terpenting adalah kita harus pulang menemui ibu. Ibu sekarang sedang di rumah sakit!" ujar Dinda menegang.
__ADS_1
"Ibu masuk rumah sakit!" Niko memastikan. "Kapan kak? Dimana sekarang ibu?" Niko ikutan panik.
"Sudah, jangan dulu bahas yang lain, yang terpenting adalah kita harus pulang. Ibu butuh kita sekarang," sentak Dinda.
"Tapi seingat Niko, ibu nggak punya riwayat penyakit deh," Niko menampik. "Mungkin kakak salah dengar mungkin. Atau bisa jadi, itu nomor salah sambung," dengan wajah setengah sadar, Niko mencoba memahami situasi.
"Nggak," bantah Dinda. "Ini beneran nomor ibu yang telepon, tapi yang bicara pihak rumah sakit. Pokoknya kita sekarang harus berangkat pulang ke Kota Bandar Lampung sekarang juga," perintah Dinda.
"Oke, Niko siap-siap kak," jawab Niko cekatan.
"Bangunkan Kak Miko sekalian, kita harus cepat. Mumpung ada penyebrangan terakhir malam ini," ujar Dinda pergi ingin bergegas bersiap-siap.
"Kenapa nggak naik pesawat aja kak?" Saran Niko. "Kan lebih efisien."
"Penerbangan malam ini nggak ada yang melayani hingga jam dua pagi, hanya ada kapal laut yang masih beroperasi di jam seperti ini," Dinda sambil mengemas pakaiannya, sambil menjelaskan pada Niko.
Niko yang sedang membangunkan Miko, harus bersusah payah. Karena kakaknya itu amat sulit di ajak berkompromi di jam seperti ini.
Beruntungnya bagi Niko, karena Miko tidak begitu terlalu banyak bertanya kenapa membangunkan dirinya. Miko tidak bertanya, hanya menahan kantuk.
Bahkan di sepanjang jalan yang di lalui mereka, Miko tetap tertidur. Kini mereka bertiga tengah naik kapal laut, Dinda sangat panik mengingat-ingat sang ibu.
Pelayaran memakan waktu hingga lebih dari tiga jam. Dinda dan kedua adiknya telah tiba di kota Bandar Lampung pukul tujuh pagi.
Beruntung di rumah sakit ini, para karyawan rumah sakit bertanggung jawab. Mereka menunggu kedatangan Dinda.
"Ibu," teriak Dinda seraya memeluk sang ibu. "Ibu kenapa bisa begini?" Dinda terisak menangis.
Miko dan Niko yang menguntit Dinda, ikutan memeluk sang ibu yang tengah terbaring di bangsal rumah sakit kelas satu A.
Ibu Dinda yang terlihat sadar namun lemah, merasa bahagia pagi ini karena melihat ketiga anak-anaknya kembali menemuinya.
"Jangan tanyakan dari mana Dinda tahu Ibu masuk rumah sakit, yang terpenting adalah ibu tidak apa-apa kan? Katakan kenapa Ibu bisa seperti ini" Dinda mencemaskan ibunya.
Dokter yang merawat sang ibu, masuk ke dalam ruangan lalu menjelaskan tentang kondisi sang ibu.
"Nyonya Yuri hanya mengalami patah kaki dan tulang di persendiannya bergeser. Jadi butuh beberapa hari untuk Nyonya Yuri agar bisa sembuh kembali, mengingat patah tulang ini agak serius," ucapnya.
"Tapi nggak perlu operasi kan dok?" Dinda memastikan.
"Nggak perlu," jawab dokter. "Aku sudah menanganinya. Jadi tidak perlu operasi atau amputasi segala. Hanya patah tulang saja, walau berbahaya, tingkat resiko kaki membusuknya jauh di atas rata-rata. Untuk berjalan, ibu Yuri harus di bantu oleh tongkat atau kursi roda. Sedikit kesulitan bagi pasien yang mengalami kecelakaan semacam ini," dokter mendetail ceritanya.
"Oh, gitu ya dok," Dinda lega. "Syukurlah, aku pikir akan di operasi segala seperti di TV."
"Nggak perlu kok," dokter tertawa. "Apa yang di tampilkan di tv terlalu mendramatisir, hanya luka ringan nggak sampai harus operasi segala," dokter paruh baya setengah tua ini membual di tengah situasi yang sedang haru. "Kalau begitu, sebaiknya saya keluar dulu. Mohon di selesaikan biaya administrasi. Dan Nyonya Diah di jadwalkan akan keluar dari rumah sakit paling lambat dua Minggu," dokter memberitahu.
Dinda mengangguk. Dia mengerti kebijakan rumah sakit.
Kaki ibu Dinda yang di perban dengan kardus dan di balut dengan kain kasa berwarna putih ini, amat menyedihkan. Di usia renta-nya, dia harus terkena kecelakaan yang di bilang lumayan fatal.
Bahkan kepalanya saja di perban, Dinda menduga bahwa ibunya kurang hati-hati.
"Ibu kenapa bisa seperti ini sih?" tanya Dinda. "Ibu kalau sudah nggak bisa ngapa-ngapain, mendingan ikut Dinda ke Jakarta saja deh. Dinda dalam waktu dekat akan pindah rumah."
Nyonya Yuri memegang tangan Dinda lalu mengusap punggung tangan putrinya itu. Dia mengangguk sambil tersenyum saat Dinda berkata begitu.
"Ibu beneran mau tinggal di Jakarta?" Dinda memastikan.
__ADS_1
Ibunya mengangguk sekali lagi, dia menyetujui kata-kata Dinda.
"Kalau begitu, selesai Ibu keluar dari rumah sakit nanti, kita akan packing terus pindah ke rumah baru. Dinda akan menjual apartemen sempit Dinda. Kita sudah membeli rumah baru di tengah kota. Rumahnya bagus, Dinda menyukainya karena terletak di dalam komplek bebas banjir," jelas Dinda.
"Iya Bu," sahut Niko. "Jadi kita nggak perlu repot-repot mikirin ibu yang ada di seberang pulau."
Melihat kedua putranya sudah tumbuh besar, ibu Yuri mengelus wajah tampan Miko dan Niko. "Si kembar Ibu sudah makin dewasa."
"Kalau kita tidak dewasa, lalu siapa yang akan mendidik kita agar dewasa Bu," sahut Miko. Dia berdiri di sebelah Niko.
"Kalian putra-putra ibu yang paling pengertian," puji Nyonya Yuri.
"Makanya itu, ibu harus cepat sembuh. Dan kita tinggalkan kota ini, pindah ke Jakarta lebih baik dari pada Ibu terlunta-lunta hidup sendirian!" Miko bersabda sok bijak.
Ibunya hanya manggut-manggut saja, anak-anaknya terus mengomelinya dan mendesaknya meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Nyonya Yuri yang terus memegang tangan Dinda, kini menatapnya sayu.
"Dinda," panggil Nyonya Yuri. "Sebenarnya panti asuhan milik ayah sudah di jual."
"Dinda tahu kok Bu!" jawab Dinda.
"Baguslah kalau kamu sudah tahu," ucap Nyonya Yuri lega. "Ibu sekarang tidak perlu merasa bersalah lagi karena meninggalkan anak-anak."
Dinda mengusap tangan Ibunya. "Ibu tidak perlu bersalah. Ibu sudah melakukan yang terbaik dengan mengurus anak-anak panti asuhan," Hibur Dinda. "Lalu bagaimana dengan mereka? Apakah dari panti asuhan lain mengadopsi mereka?"
"Sebagian anak-anak panti sudah di relokasi ke panti asuhan milik negara. Tanah yang di tumpangi oleh bangunan gedung panti sudah di ambil alih oleh bank lokal. Pemerintah mendesak agar ibu melepaskan anak-anak supaya tinggal di panti pemerintahan," Nyonya Yuri memberitahu. "Kedepannya, mungkin kita akan merindukan anak-anak itu."
Dinda mengusap wajah sang Ibu yang terlihat kian tua. "Ibu nggak perlu khawatir," Dinda menenangkan. "Selagi orang-orang pemerintahan nggak melayangkan gugatan karena ibu menahan anak panti, Dinda merasa lega."
"Terima kasih Nak. Terima kasih kamu sudah mengerti permasalahan ini," wajah Nyonya Yuri amat sedih, namun dia berusaha tegar. "Kalau begitu, beban ibu selama ini sudah terbebaskan. Dan ibu bisa dengan tenang bisa berkumpul bersama putra dan putri ibu."
"Iya Bu. Selepas keluar dari rumah sakit, ibu nggak perlu lagi tinggal di sini. Sudah tidak ada sanak saudara kita di sini, jadi tidak ada yang bisa menahan ibu untuk pergi," ujar Dinda mendamaikan keluh kesah sang ibu. "Ngomong-ngomong, kenapa ibu bisa sampai seperti ini?" Dinda penasaran.
Nyonya Yuri menarik nafas panjang. "Sebenarnya, semalam ibu tidak sengaja terpeleset di tangga," kenang Nyonya Yuri. "Karena semalam hujan deras, ibu lupa memasukan jemuran di luar. Karena tidak melihat ada genangan air di atas tangga, akhirnya sendal ibu yang licin membuat kaki ibu terpeleset," jelasnya. "Tapi jangan khawatir, ibu baik-baik saja."
Dinda menggeleng. "Kebiasaan Ibu, selalu ceroboh," Dinda lalu memeluk Ibunya lagi.
"Ngomong-ngomong, rumah kita sudah terjual. Bersamaan dengan tanah panti yang di tarik bank lokal," Nyonya Yuri beralih. "Rumah masa kecil kalian sudah menjadi milik orang lain sekarang."
"Ibu nggak usah pikirkan itu," sahut Miko. "Dengan di jualnya rumah itu, jadi ibu nggak ada alasan untuk menahan diri agar tinggal di Jakarta!" Miko sok bijak.
"Benar itu Bu, apa yang di bilang kak Miko!" Seru Niko senada. "Jadi ibu nggak perlu deh repot-repot ngapain saja, kan sekarang sudah ada Niko dan kak Miko yang bisa menjaga ibu."
Ibu Yuri tersenyum hangat. "Ibu bangga pada kalian yang sudah dewasa."
Nyonya Yuri mengelus wajah kedua putranya. Dia merasa sangat bahagia karena anaknya bisa menemuinya.
"Ibu sudah makan belum?" Dinda menyela.
"Belum," jawab Nyonya Yuri. "Ibu kan sulit bergerak, mana mungkin ibu bisa makan."
"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya Dinda cari makanan dulu deh buat sarapan Ibu. Pasti Ibu sudah lapar sekarang," Dinda berinisiatif.
Dinda ingin membeli makanan di luar, tapi Miko mendadak menghentikannya. "Biarkan Miko saja kak," sambar Miko. "Kakak tunggu saja di sini, nanti Miko yang mencari makan untuk ibu."
Miko memaksa, dia berinisiatif menggantikan kakaknya pergi membeli makanan.
__ADS_1
BERSAMBUNG