UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 138


__ADS_3

Aku tidak mau mengukir kebahagiaan ku di atas pasir pantai. Karena kebahagiaan itu akan berakhir seiring datangnya deburan ombak yang menyapu bersih pasir-pasir halus nan basah itu.


Aku hanya ingin mengukir kebahagian ku di atas batu Pualam. Karena aku yakin, kebahagiaan ku akan abadi di sana.


_____________________________________________



_____________________________________________


Saat Steve, Zico dan Dinda sudah meninggalkan aula besar ini. Johan menutup rapat daun pintu altar. Daun pintu yang besar ini, membuat seisi ruangan menjadi gelap.


Johan terduduk lesu, menyandarkan punggungnya di daun pintu ini. Pistol di tangan yang hendak dia gunakan untuk menembak Steve tadi, kini berubah menjadi sesuatu yang tak berguna.


Justru pistol itu terkatung-katung tak jelas di jari jemarinya.


Jika mengingat masa-masa indah bersama Dinda kala itu. Rasanya Johan tidak mau melupakan semuanya begitu saja. Mereka pernah berjanji akan bersama selamanya. Namun sayang, itu tidak terjadi di kehidupan ini. Itu hanya angan-angan Johan semata, tidak bagi gadis itu.


Dinda. Pada akhirnya usaha ku sia-sia mendapatkan kamu. Aku kira, dengan melakukan semua ini, aku bisa mengikat mu menjadi milik ku. Aku kira, jika kamu ada di sisi ku, aku bisa membahagiakan kamu.


Tapi sayang, takdir benar-benar kejam. Kata lain di ucapkan oleh takdir adalah perpisahan. Kita harus berpisah, dan pada akhirnya aku melihat kamu bahagia bersama orang lain.


Jika pada akhirnya semua harus seperti ini. Biarkan ada orang lain yang terluka. Biarkan ada orang lain yang menjadi korban ke egoisan ini. Maka, aku tidak keberatan jika harus menjadi pihak yang terluka.


Aku bukan korban mu Dinda. Justru aku pelakunya. Pelaku yang sudah menyakiti kamu karena keegoisan ku.


Johan sedikit menitikkan air matanya. Jujur, ini kali pertama bagi Johan harus menangis sesenggukan. Sesekali dia mengusap air matanya itu. Apalah daya, Johan yang keras dan tidak mudah mewek, kini bisa sesenggukan menangis.


Dia manusia biasa, bukan malaikat yang bisa menahan diri dan nafsu untuk memiliki cinta. Hanya saja cinta itu kejam. Johan pada akhir kisahnya harus menjadi orang yang tidak berguna. Walau sesenggukan air mata itu terus menderu di matanya. Johan tetap tidak bisa menahan air itu untuk berhenti. Belum pernah Johan merasakan hal seperti ini sebelumnya, kecuali menangisi kepergian Dinda.


Kadang kala Johan menarik nafas dalam-dalam. Berusaha kuat menahan rasa sakitnya perjuangan yang dia lakukan ini— sia-sia. Namun, itu tidak berguna saat ini. Semua sudah berakhir.


Johan berdiri, dia berjalan menuju ke tengah altar dengan tangisan yang menderu dan pistol ter-ayun di jarinya. Langkahnya agak terseok-seok. Rasanya tulang kaki Johan tak sanggup untuk berjalan.


Dunia memang kejam. Dunia memang tidak pernah berpihak pada ku. Mereka menjauhi ku. Mereka benci pada ku yang malang ini.


Karena aku yang memulai semua ini. Maka aku akan mengakhirinya pula. Aku akan mengakhiri semua penderitaan dan kekacauan yang aku lakukan.


Jika ini yang terbaik. Maka aku harap, tidak ada lagi Johan yang seperti ku. Johan pengecut. Johan munafik. Johan payah, yang selalu kalah dalam pertempuran.


Dunia ku kacau!


Dari saku celana Johan, dia mengeluarkan sebuah remote kecil. Ada satu tombol di permukaan benda bidang itu. Tombol merah itu—


Meskipun ragu Johan ingin menekannya. Tapi, keputusan yang bulat membuat Johan harus pada keputusan yang telah dia ambil.


Sebelum dia menekan tombol itu, Johan menarik nafas dalam-dalam.


"Dinda. Beribu-ribu kali. Aku ingin mengucapkan maaf pada mu. Aku harap, kamu bahagia dengan pria itu. Aku hanya ingin kamu lupakan aku jika kamu sudah bangun dari mimpi buruk mu itu. Dinda...... Aku selalu mencintaimu. Lebih dari apapun."


Sesaat kemudian....... Johan benar-benar menekan tombol itu.


Seketika, ruangan gelap ini di penuhi oleh asap pekat. Asap ini adalah gas beracun yang sudah Johan siapkan sebelumnya.


Johan tahu, masa itu akan tiba. Dimana Steve akan datang, lalu merampas pengantin wanitanya. Semua persiapan yang telah dia lakukan, nyatanya Johan sendiri yang akan menikmatinya.


"Aku gila. Aku gila. Aku gila karena cinta!" teriak Johan menggila. Tangisan itu kadang berbuah jadi tertawa lepas nan bahagia.


Siapa yang akan menyangka, Johan akan bertindak gila. Asap beracun itu dia hisap. Walau sudah memenuhi ruangan, Johan tetap terduduk di tengah altar berkarpet merah.


Selamat jalan dunia.


Papa. Mama. Maafkan Johan jika lari dari tanggung jawab ku. Aku menghindar dari permasalahan ini. Aku bingung, apakah wajah ini ada nyali untuk melihat kalian lagi. Hanya penyesalan yang Johan lakukan saat ini. Maaf, jika selama ini Johan selalu menyusahkan kalian. Johan harus mengakhiri semua drama ini. Terima kasih untuk waktu dan kasih sayang kalian.......


Dari luar bangunan, Steve sudah ada di gazebo. Belum sampai keluar dari gazebo itu, terdengar suara pekikan Johan.


Steve menoleh sebentar. Tak lama kemudian.....

__ADS_1


DOR!!!


Terdengar oleh Steve dan Zico suara tembakan dari dalam aula besar itu. Zico dan Steve saling berpandangan. Mereka berpikir hal yang sama. Johan....... Melakukan sebuah KESALAHAN.


Sedetik kemudian, mereka tak berpikir panjang. Steve lebih dahulu kembali ke aula tadi. "Johan pasti melakukan ide konyolnya," kata Steve pada Zico.


Zico senada dengan Steve. Pria itu pasti melenyapkan dirinya sendiri. Saat tiba di depan pintu aula, Zico menahan Steve. "Ada gas beracun, jangan mendekat," ucapnya memperingati.


Steve menggeleng. Dia tidak habis pikir pada ide Johan ini. "Dia benar-benar nekat."


"Kita tidak bisa masuk sekarang. Sebaiknya, kita biarkan dulu tempat ini, sampai benar-benar gasnya menghilang terbawa angin. Jika kita nekat melakukannya, aku takut kita akan berakhir pada hal yang sama seperti dia." Zico mengingatkan. Jauh lebih baik tidak gegabah.


Steve menuruti kata-kata Zico. Apalagi Dinda terbaring lemah. Steve harus memikirkan Dinda lebih dahulu. Lagi pula pikir Steve, Johan sudah mengakhiri hidupnya sendiri. Sia-sia saja jika menghabiskan waktu untuk menolong Johan.


"Ayo kita pergi," ajak Steve pada Zico. "Biarkan nanti polisi Ethiopia yang mengurusnya."


****


Dalam tidurnya, mimpi itu datang. Dinda yang dulunya tak pernah lagi memikirkan cinta. Kini kembali mengenal cinta pertamanya. Pria itu hadir menjadi sosok yang mengisi hatinya.


Walau itu hanya mimpi semata, dimana dia datang tanpa terduga. Namun rasanya, mimpi itu menjadi nyata. Pria itu, dia.... Kini entah apa yang membuat Dinda yakin kalau mereka selama ini bagai di ikat oleh tali. Sehingga menyatu dan terhubung kemana mereka pergi.


Dua hari berlalu. Kondisi Dinda mulai membaik, saat dia di rawat di rumah sakit Addis Ababa.


Saat mata Dinda terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah sosok tinggi nan perkasa itu. Dia duduk di pinggir tempat tidur Dinda, sambil tangannya yang kekar menggenggam erat tangan Dinda.


"Kamu sudah sadar?" katanya pada Dinda.


Wanita ini tidak kaget. Karena sebelumnya mimpi itu memang terasa nyata. Steve memang ada di sisinya saat ini.


"Apa ini benar-benar kamu?" tanya Dinda padanya. "Apakah mimpi ini nyata?"


Steve tahu kalau Dinda agak meragukan kehadirannya saat itu. Oleh karena itu, demi meyakinkan Dinda, Steve menempelkan tangan Dinda di wajahnya. Steve paham benar, kalau Dinda sangat suka menyentuh bagian wajahnya.


"Ini aku Dinda. Pria yang selama ini kamu nantikan," katanya meyakinkan Dinda.


Entah kenapa, setelah pria itu berkata seperti itu. Dinda menitikkan air mata harunya. Sumpah, hal ini yang dia harapkan. Bisa bertemu dengan prianya.


Steve tersenyum, jari jemarinya itu lama tidak menyapa hidung kecil Dinda yang lancip. "Apakah kamu merindukan aku?"


Seharusnya Steve tidak bertanya seperti itu. Steve paham benar kalau Dinda sangat menantikannya. Jauh sebelum dia bertanya, Dinda sangat ingin mengakuinya. Mengakui kalau kerinduan itu sangat besar dan berat untuk di tahan.


"Apa yang kamu lakukan ke aku itu jahat," ucap Dinda sesenggukan. "Kepergian kamu tanpa kabar ini, membuat aku hampir menyerah untuk hidup."


Steve memastikannya kalau itu akan terjadi. Apalagi malam itu, dimana mereka siap merencanakan pernikahan. Hanya saja, ada sesuatu yang harus Steve lakukan. Maka, Dinda harus menerima konsekuensi atas tindakannya ini.


"Aku tahu kalau aku pria egois. Pria yang sudah membuat wanitanya hampir menderita. Tapi saat ini aku sudah kembali. Seharusnya kamu senang."


Dinda sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengomelinya. Semula tubuh yang terbaring lemah itu terbujur. Kini dia memaksa untuk duduk normal.


"Kamu jangan banyak bergerak dulu. Aku takut kondisi kamu belum pulih." Steve mengkhawatirkannya. Walau dia sudah menahan Dinda untuk tidak duduk, namun Dinda masih saja melakukannya.


Terpaksa Steve harus memapahnya duduk seperti biasanya. Oh, lebih baik dari pada tertidur lemah di ranjang, pikir Dinda demikian.


"Aku akan baik-baik saja kalau tahu kamu tidak kenapa-kenapa. Tapi kamu sendiri menyakiti aku dengan menghilang selama tiga bulan ini. Kamu sepertinya mengabaikan perasaan ku."


Ketika Dinda berkata seperti itu, Steve rasanya girang bukan kepalang. Hati kecilnya ingin terkekeh, sebab Dinda kini tak bisa jauh darinya.


"Sudah, sudah, maafkan aku," ucap Steve. Dia tahu Dinda seperti apa. Oleh karena itu, Steve langsung memeluknya. Dia ingin melepaskan kerinduannya selama ini pada Dinda. "Aku sekarang sudah kembali. Kamu jangan menangis lagi. Aku tidak mau kamu menangis karena hal-hal konyol," ucap Steve lagi.


Pelukan hangat itu membuat Dinda nyaman di tengah dirinya sedang haru. Tangan-tangan Steve membelai lembutnya rambut Dinda. Sungguh, aroma itu membuat Steve makin tak berdaya kala harus melepaskannya begitu saja.


"Sekarang kita ada dimana?" tanya Dinda dalam pelukan Steve.


"Kita di masih di Addis Ababa, Ibukota Ethiopia," jawabnya.


Ethiopia. Dinda pikir dia sudah ada di Indonesia. Ternyata— "Sudah berapa lama aku ada di rumah sakit ini. Apakah kamu menungggu ku bangun selama aku tertidur tak sadarkan diri."

__ADS_1


Steve mengangguk, "Selama dua hari kamu tidak bangun. Dan selama itu juga aku menunggu kamu sadar. Tapi itu semua bukan masalah. Yang terpenting kamu baik-baik saja."


"Bagaimana dengan Ibu?" tanya Dinda lagi.


"Mereka baik-baik saja. Kamu jangan khawatir. Aku sudah menghubungi Ibu di Indonesia."


"Steve," rengek Dinda.


"Mm.....," Steve menatapnya, Dinda terlihat seperti menginginkan sesuatu. "Ada apa?" tanya Steve.


"Bisakah kamu mengajak ku keluar," pinta Dinda. "Bosan rasanya kalau terus terpaku di tempat tidur."


Steve berpikir sejenak, seharusnya Dinda tidak boleh keluar. Cuaca di Addis Ababa berbeda dengan negara-negara di Afrika lainnya. Di sini dingin, jika Steve membawanya keluar, di takutkan Dinda kembali jatuh sakit.


"Apa tidak sebaiknya kamu di sini saja. Di luar cuaca sangat dingin. Aku takut kamu kembali sakit," kata Steve memberitahu.


"Tapi aku ingin ke taman sebentar. Aku bosan di sini." Walau Steve melarangnya, Dinda tetap keras kepala. Dia tidak mau mengindahkan kata-kata Steve.


Steve mengerti Dinda. Hanya saja, kemauannya itu tidak bisa di tolak. Terpaksa, Steve harus menuruti kemauannya. "Tapi sebentar saja. Jangan lama-lama."


"Aku janji," sahut Dinda cepat.


Steve menggeleng pada tingkah itu. Namun tangannya tak bisa diam. Parlente hitam Steve, dia lepaskan. Lalu menyandangnya di bahu Dinda.


Di taman, Dinda tadi duduk sendirian. Steve sedang membelikannya teh hangat di cafe seberang jalan untuk Dinda. Tapi kini, Steve sudah kembali. Dia duduk tepat di sebelah Dinda, membawanya sebuah gelas berisi teh hangat.


"Kamu belum menjelaskan kemana kamu pergi selama tiga bulan ini. Apa alasan kamu tidak memberikan kabar pada ku." Dinda menuntut penjelasan, dia ingin tahu alasannya melakukan semua ini.


Sebelum Steve menjelaskan, dia meneguk teh hangatnya. "Itu semua karena aku tidak mau kamu terlibat masalah ini. Itulah kenapa aku harus melakukan semua ini."


"Tapi kenapa harus menghilang selama ini. Tidakkah kamu tahu, setiap saat aku menunggu kamu menghubungi ku."


"Aku tahu itu Dinda." Ah, sial bagi Steve. Wanitanya itu kembali menangis. Steve harus memeluknya. Steve tahu, Dinda pasti kesal padanya. "Maafkan aku yang sudah membuat kamu menderita selama tiga bulan ini. Maafkan atas semua keegoisan ku."


"Aku maafkan. Hanya saja, aku pernah kecewa saat kamu mengirimkan aku surat perpisahan. Aku kira itu benar-benar kamu yang mengirimnya dari Jerman," Dinda memberitahu.


Memang, pada dasarnya surat sialan itu hampir membuat Dinda menyerah menantikan kabarnya. Tapi itu hanya kejadian kemarin, saat ini sudah berbeda.


"Surat perpisahan?" Steve mengulangi ucapan itu. Dia merasa tidak pernah memberikan surat apapun pada Steve. Bahkan menghubunginya pun tidak selama menghilang dalam jangka waktu tiga bulan ini. "Surat apa yang kamu maksud?" tanya Steve.


"Kotak berisi gaun pengantin dan satu buah buket bunga berisi surat perpisahan yang di tulis langsung dari Jerman. Apakah kamu yang menulisnya."


Steve tidak tahu apapun mengenai surat itu. Apalagi menulisnya secara langsung bahkan mengirimnya dari Jerman. Bahkan Steve selama ini juga tidak pernah ke Jerman. Namun ada satu kemungkinan. Yaitu—


"Apakah kamu yakin kalau itu surat dari ku?" tanya Steve.


Dinda mengangguk. "Gaun yang di kirim itu sama dengan gaun yang kita beli di butik malam itu. Itulah kenapa aku sangat percaya kalau kamu yang mengirimkannya untukku."


"Tidak," bantah Steve cepat. "Aku tidak pernah mengirimkan apapun pada kamu. Kecuali—"


"Kecuali apa?" sambar Dinda.


Steve ingat, malam itu dia melihat ada mobil Johan terparkir tidak jauh dari mobilnya. Steve yakin kalau itu mobil hitam milik Johan. Steve tidak menyangkal, kalau sebenarnya itu ide Johan.


"Aku rasa hanya ada satu pelaku yang mengirimkannya untuk kamu. Bisa jadi Johan yang melakukannya." Steve yakin seratus persen. Johan sudah memanipulasi Dinda, dengan mengatasnamakan dirinya. "Dari pada kamu memikirkan tentang surat itu. Sebaiknya kita pikirkan kedepannya. Kita harus pulang, Ibu dan yang lainnya sudah menunggu," ucap Steve lagi. Kali ini dia mengganti pokok pembicaraan.


Dinda mengangguk, dia melipat bibirnya tersenyum kecil. "Aku hanya takut kalau kamu benar-benar melakukannya. Itu yang membuat aku terus memikirkannya."


Walau Steve sudah menjelaskan. Rasa cemas akan kehilangan itu terus menerus ada di pikiran Dinda.


Steve, dia pria yang sangat mengerti Dinda. Dia juga tidak ingin melakukannya. Kehilangan wanitanya, sungguh membuat Steve akan menggila.


"Setelah kamu sembuh, mari kita liburan keliling Uni Afrika. Apa kamu mau menikmati liburan ini bersama ku?" tawar Steve menghibur.


Dinda tidak menolaknya. Justru dia tidak tahu harus menjawab apa untuk tawaran ini. Jalan keliling Afrika, terdengar menarik. "Tapi—"


"Sebelum kita pulang. Aku ingin mengajak kamu liburan ke Petra di Jordania, lalu mengunjungi kuil abu simbel di Mesir dan menikmati perjalanan lainnya. Kamu jangan membantah, aku sudah bertekad bulat." Steve menyambar kata "tapi" itu. —Tapi— menurut Steve ada alasan untuk menolak. Itulah kenapa Steve menyambar lebih dahulu ucapan Dinda.

__ADS_1


"Baiklah."


BERSAMBUNG


__ADS_2