UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 111


__ADS_3

PERTARUNGAN


Hujan memang agak reda walau masih gerimis. Beberapa pria yang menghadang mobil Steve, memandangi dari ujung sepatu pantofel hitam Steve hingga di ujung kepala. Kemudian menyepit tangan di pinggang, beberapa diantarnya bahkan menepikan tongkat baseball di bahu.


Mereka nampaknya sudah niat ingin mencelakakan Steve dengan menghadang mobilnya. Atau bisa jadi sudah memata-matai segala pergerakan Steve selama ini.


Dari belakang kedua pria berbadan besar, muncul pria codet yang berjalan khas pria pemalas. Mengisap asap rokok yang penuh kenikmatan, kadang-kadang menyedot nafas dalam-dalam. Di ikuti beberapa anak buah yang lainnya lengkap dengan tongkat pemukul seperti yang lainnya.


Melihat pria itu, Steve menyungging tersenyum melicik, lalu mendengus. "Tidak ku sangka. Ternyata putra Herry Kim keluar dari persembunyiannya secepat ini?" kata Steve memulai lebih dahulu basa basi.


"Aku juga tidak menyangka. Tidak bertemu sekian tahun lamanya, putra grup wong makin memikat, bahkan sekarang akan menikah. Sungguh pesona pria yang tidak ada matinya," jawab Pria ini.


Nama aslinya adalah Tony Kim biasanya di panggil dengan sebutan Tuan K.


Steve berdiri gagah di hadapannya. Lama tak bertemu dengan si codet, Steve nampak menantikan penantian balas dendamnya. "Diam-diam anda sudah menjadi seorang penguntit, apakah sudah beralih profesi?"


"Menguntit adalah keahlian ku. Kau jangan meremehkan bakat ku ini."


"Pengusaha kasino ini rupanya sudah lama tidak menghirup udara bebas. Sampai-sampai lupa bagaimana cara menyambut tamu," kata Steve.


"Cih!" Pria itu membuang ludah sembarang di ikuti puntung rokok yang dia injak-injak. "Setelah beberapa tahun tidak bertemu, cecunguk sialan seperti kamu masih beraninya menyombongkan diri. Bocah tengik seperti kamu rupanya lupa siapa Tony Kim."


"Bahkan jika aku tahu siapa Tony Kim. Itu tidak akan merubah pandangan ku pada buronan tiga negara. Tuan pengedar narkotika!" Ledek Steve.


"Dia mulai berulah bos," sahut kedua anak buahnya. Sementara anak buahnya yang lain sudah siap menyambut pertarungan ini. "Apa perlu kita serang Sekarang?"


"Biarkan dia bersenang-senang dahulu. Putra grup wong akan menikmati permainan ini."


Bos-nya saja belum siap menabuh genderang pertempuran. Maka anak buah Tony Kim hanya bisa mengikuti instruksi pria ini.


"Kau! Bocah!"


Steve tersenyum kecut di ujung bibirnya saat pria berusia di atas tiga puluh tahunan itu menunjuknya.


"Sudah aku katakan. Jika aku belum mati, maka aku yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa mu. Tapi jika aku sudah mati, maka dunia mu selamat. Maka, hari ini, berdoalah pada Tuhan mu agar kau di ampuni seluruh dosa yang pernah kau buat."


Steve mendengus. Mendengar kata-kata pria ini dia hampir terkekeh. "Hongkong, Taiwan dan Jerman adalah musuh mu. Karena aku berbaik hati, maka akan aku layani misi balas dendam tua Bangka bau tanah!"


Tony Kim menatapnya penuh amarah saat Steve meledeknya. Dengan segera pria hampir bangkotan ini memerintahkan anak buahnya menyerang Steve. "Bunuh dia," perintahnya berang. "Aku ingin kepalanya menjadi santapan ikan piranha ku!"


Dengan senangnya Steve melayani serangan anak buah si codet. "Sudah lama tangan ku tidak menikmati pukulan-pukulan hangat dari kaki tangan Tony Kim."


Steve mengepal tangannya keras. Hampir semua anak buah Tony Kim dia hajar, jumlahnya sepuluh. Walau mereka banyak, bukan Steve namanya kalau dia gentar.


Gubrak! Bruk! Satu persatu Steve menyikatnya dengan pukulan keras. Bahkan pantofel hitamnya harus kotor karena darah lawan-lawannya itu. Walau bertongkatkan besi tumpul, keberanian Steve tidak berkurang sedikit pun.


Mereka bertarung di pinggir jalan yang sepi. Jiwa emosional Steve seketika membara. Sudah lama pria itu mengincar dirinya, namun baru hari ini dia bisa bertindak setelah menjadi buronan polisi Jerman, Taiwan dan Hongkong.


"Hanya segini kemampuan anak buah mu?" Kata Steve memancing emosi. Terlebih, dalam waktu singkat dia sudah melumpuhkan para vandal-vandal tak berguna itu.


"Jangan kamu pikir mereka selemah yang kamu kira," dari jarak beberapa meter, Tony Kim berkata berang. "Kamu akan tahu siapa sebenarnya aku!"


Tony Kim melirik beberapa anak buahnya yang tersungkur. Bahkan ada yang memegang wajahnya karena sakit terkena tendangan sepatu Steve.


Mendapat isyarat begitu, mereka paham apa yang harus di lakukan. Dengan sigap dan cekatan, beberapa anak buah Tony Kim langsung mengunci tangan Steve di belakang. Walau mereka berbadan besar bahkan beberapa kali sering di kalahkan oleh Steve, tidak menutup kemungkinan kalau tenaga mereka cukup kuat.

__ADS_1


Steve memang tidak bisa melepaskan kuncian tangan itu sekuat sebelumnya. Karena kuncian belakang adalah salah satu kelemahan setiap pria. Beberapa vandal itu ingin menghajarnya melalui bagian depan area sensitifnya.


Tapi, kaki jenjang Steve lebih dulu mendarat di perut-perut bak balon para preman sialan itu. Steve berhasil melepaskan kuncian tangannya, lalu Steve kembali bertanding untuk kedua kalinya.


Mematahkan gigi-gigi mereka, merenggut rahang juga membuat yang lainnya terluka hingga berdarah, Steve melakukannya tanpa ampun.


"Tidak semudah itu kalian melumpuhkan aku!" ucap Steve mengerang sambil mem-bogem setiap wajah-wajah cecunguk itu. "Kalian hampir lupa kalau aku yang pernah mematahkan kaki-kaki teman seperjuangan kalian."


Tenaga Steve memang kuat, dia tidak mudah di lawan sama seperti saat dia berusia delapan belas tahun. Saat di mana dia mengalahkan Tony Kim bahkan menjebloskannya di penjara Frankfurt.


Semuanya kembali ke semula. Mereka tetap tumbang menghadapi Steve seorang. "Lain kali jika ingin melawan ku. Belajarlah karate hingga sabuk hitam, baru berkata pamer di hadapan ku." Steve menginjakkan pantopfelnya yang keras pada salah satu wajah preman yang baru saja di lumpuhkan.


Bahkan tanpa perasaan dia menggilasnya bak sedang membersihkan tanah yang menempel di sepatu. "Keluarkan semua petarung terhebat mu. Aku akan melayaninya!" tantang Steve pada Tony Kim.


Pria ini berang sejadi-jadinya, dia kembali di kalahkan oleh bocah tengik ini.


Belum usai Steve menantang, lawan yang ia lumpuhkan tadi mengerang ganas, menyerangnya dari belakang.


Lirikan mata tajamnya membuat Steve peka. Dengan cepat dia menendang bagian ulu hati pria tak berguna itu menggunakan kakinya yang panjang. Untuk kesekian kalinya Steve melumpuhkan lawannya.


Tony Kim yang sudah kesal, dari balik bajunya yang mirip jubah. Di keluarkan sebuah benda tumpul. Benda itu adalah stick yang mengandung listrik dengan daya lumpuh yang lumayan ampuh.


Steve yang membelakangi pria ini, tanpa sadar terkena senjata itu. Muatan listrik tak bisa di toleransi oleh tubuhnya, membuat Steve tumbang. Hanya beberapa detik saja saat pria itu menempelkan stick listrik itu di badannya, Steve jatuh tak berdaya.


"Sudah puas bermain-main dengan ku malam ini. Aku akan mengakhiri hidup mu bocah malang!"


Walau samar-samar penglihatan Steve mulai berkurang. Di ikuti rasa tubuh yang mulai lumpuh di sekitar tubuh, tapi dia melihat sekilas bahwa pria ini menodongkan pistol di hadapannya.


"Kau...... Tidak akan.... Bisa.... Membunuh... Ku," kata Steve terbata-bata.


Dinda yang ada di dalam mobil, tidak bisa keluar karena pintunya terkunci. Dinda tidak tahu cara membuka pintu mobil, bahkan dia tidak pandai menyetir.


"Tidak! Tidak! Tidak! Aku mohon, jangan lukai Steve," di dalam mobil ini, Dinda sangat panik bahkan menangis tak karuan. "Aku mohon jangan lakukan itu."


Dinda masih terus memandangi pria yang sudah siap dengan pelatuknya itu. Sekeras mungkin Dinda menarik handle mobil agar terbuka. Kepanikan ini membawa Dinda berkeringat dingin karena cemas. Dinda sudah menelpon polisi, tapi mereka belum kunjung datang.


Pistol hitam di tangan Tony Kim mulai di acungkan di tubuh Steve. Tony Kim menginjak tubuh lemah Steve sama seperti yang dia lakukan tadi pada anak buahnya. Tony Kim menunduk tepat di wajah Steve, lalu dia mulai membisik. "Katakan. Apakah gadis manis di mobil itu perlu ku lenyapkan bersama mu, atau biarkan dia selamat menikmati hidupnya tanpa diri mu."


Steve tak bisa berbuat banyak. Bahkan dia sendiri sangat lemah untuk bisa bangkit. Seandainya dia bisa bicara, mungkin Steve akan memaki Tony Kim. Namun sayang, listrik tadi melumpuhkan dirinya, Steve tak bisa berbuat banyak.


"Sudahlah. Si tengik tidak bisa berkata apapun," kata Tony Kim mengakhiri bisikannya. Dia berdiri normal, kembali menodongkan senjata di badan Steve. "Katakan permintaan terakhir mu. Aku akan menurutinya, tidak perlu sungkan pada ku."


Bagaimana Steve akan berkata, bahkan listrik itu sudah membuat mulutnya lumpuh untuk bicara.


Dinda yang meronta untuk keluar dari mobil pada akhirnya tahu cara membuka mobil sialan yang sudah menahannya itu.


Tubuh Dinda sudah lemas karena melihat Steve yang terkapar. Walau jalannya terhuyung-huyung, Dinda ingin menghampiri Steve apapun keadaannya.


"Ku mohon jangan sakiti dia," teriak Dinda. Dia berjalan setengah berlari ke arah Tony Kim. "Aku mohon, jangan lukai dia. Aku memohon!"


Langkah kaki Dinda agak terpental-pental. Baru kali ini dia merasakan semua tulangnya serasa tak ada kekuatan untuk berjuang.


Seakan tidak mendengar perkataan Dinda, Tony Kim langsung melepaskan lebih dari sepuluh anak timah panas itu di tubuh Steve. "Maafkan aku, ini sudah takdirnya untuk mati di tangan pria diktator ini," di ujung bicaranya, dia tidak menyesali apa yang dia perbuat.


Dor! Dor! Dor! Dor! Suara bisingnya pistol itu menggema. Peluru-peluru itu menyangsang bagian tubuh Steve berulang kali. Hingga darah keluar sangat banyak dari balik kemeja putihnya itu.

__ADS_1


Deg.......


Seakan dunia ikut berhenti, seketika Steve tak sadarkan diri. Tembakan itu membuat Steve harus berada di fase antara akhirat dan bumi.


Siapa bisa menahan lebih dari puluhan anak peluru yang bersarang di tubuh. Seketika Steve langsung terpejam tak sadarkan diri. Darah segar sudah mengalir, bahkan membasahi aspal.


Tony Kim meniup pelatuknya seolah mengeluarkan asap. Dia menendang tubuh Steve memastikan bahwa anak itu sudah mati.


Dinda yang melihat kekejaman Tony Kim, seketika makin lemas melihat kebrutalannya.


Melihat tembakan yang cukup banyak itu. Jantung Dinda serasa ikut berhenti, tubuh yang semula lemas tak berdaya, kini makin bertambah lemas seolah ada benda berat yang menimpa tubuhnya.


Dinda mempercepat langkahnya meskipun dia sudah sempoyongan. Air mata ikut membanjiri wajahnya, tidak peduli pria itu akan menembaknya juga. Dinda ingin menggapai tangan Steve.


"Nggak! Nggak! Nggak! Kamu nggak boleh mati. Kamu harus selamat. Kamu sudah berjanji akan menikah dengan ku, membuat keluarga kecil yang indah dan bahagia. Kamu nggak boleh mengingkari janji kita."


Dinda memeluknya, menaruh kepala Steve dalam pangkuannya. Lalu mencium wajah Steve berulang kali di ikuti tangisan yang menyedihkan.


"Aku mohon kamu bangun. Kamu nggak boleh meninggalkan aku seperti ini. Kamu harus selamat. Kamu kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini. Berjanjilah pada ku, kamu akan selamat."


Tony Kim yang melihat begitu besarnya cinta gadis di depannya itu pada Steve, tidak tega menembakkan peluru ke tubuh tak berdaya itu. Walau dia sudah menodongkan senjata api yang dia pegang ke punggung Dinda, melihatnya menangis justru membuat Tony Kim terasa luluh.


Kau beruntung, aku masih mengampuni mu. Entah dia punya hati atau tidak, Tony Kim tidak berniat menembak Dinda.


"Kamu harus bangun. Kamu berjanji akan baik-baik saja. Bangun, aku mohon!"


Tangisan Dinda tidak akan merubah apa yang sudah terjadi. Steve tidak membuka matanya walau Dinda ada di sampingnya. Dinda menggenggam tangan Steve erat, lalu mencium pelipis Steve.


Air mata Dinda berguguran di wajah Steve bagai hujan gerimis yang mengguyur.


Nafas Dinda terasa agak sesak untuk di hirup ketika melihat darah yang mengucur deras itu. Berulang kali Dinda mengecup kening Steve berharap pria itu bangun. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Steve tetap tak bangun, walau begitu nafasnya masih ada.


Tangisan kesedihan Dinda ini seakan membuat alam ikut bersedih. Hujan kembali turun membasahi bumi. Derasnya tak terhingga, seakan ingin menghapus air mata gadis ini. Sekeras apapun bahkan sesedih apapun Dinda menangis, semuanya tidak bisa mengubah keadaan bahwa Steve tak akan membuka matanya lagi.


"Jika dia mati, katakan permintaan maaf ku padanya," kata Tony Kim. "Sepuluh anak peluru ku bersarang di tubuhnya, aku tidak yakin dia akan selamat. Aku harap kau, gadis. Jangan sia-siakan kecantikan mu. Carilah pria lain, hiduplah berbahagia. Lupakan kejadian malam ini, anggap saja kau baru melewati mimpi terburuk yang pernah kau temui."


"Kamu pria paling jahat. Kalian berani menyerang satu orang, kalian pengecut!" Dinda memaki-maki Tony Kim. Dinda muak melihat wajah penuh luka dari Tony Kim itu.


"Karena kami jahat, maka kami di segani oleh orang-orang," balas Tony Kim. Dia membelakangi Dinda, tidak mau menatap wanita yang menyedihkan seperti ini. "Jangan buang-buang waktu menangisi pria tak berguna seperti dia. Gunakan tubuh mu, cari pria kaya lainnya. Jangan menangisi barang yang hampir sekarat itu, kamu akan menyesalinya seumur hidup."


Untuk terakhir kalinya pria itu berkata, lalu pergi meninggalkan Dinda yang meratapi Steve. Sangat tega, dia sudah berencana melakukannya sejak awal. Membunuh Steve adalah sebuah keharusan, dunia kejam.


Bahkan lebih kejam lagi jika dia tidak membalaskan dendamnya pada Steve. Petir menyambar, kilat yang kuat itu membuat pria ini semakin senang sudah menuntaskan misi terakhirnya.


"Ayah, aku sudah membalaskan dendam ayah. Janji ku sudah ku penuhi, dan aku akan kembali memperluas jaringan bisnis yang telah ayah dirikan bertahun-tahun ini. Kita harus kejam, atau aku sendiri yang akan kalah dalam panggung bisnis ini."


Dalam hatinya dia berkata, menuju ke mobil, meninggalkan Dinda bersama Steve. Mobil mereka berlalu, tak ada yang tersisa. Hujan malam itu mengulangi kembali kejadian saat Steve berhasil membuatnya hampir mati kala di Frankfurt.


Tapi kini, dia sudah mengemban misinya itu. Semuanya berbeda, walau pun sama. Luka di masa lalu itu kembali terkorek. Tony Kim tidak bisa melupakan kejadian pahit itu walau hanya sebentar.


"Jika bukan karena dia mirip Ibu ku, mungkin aku akan menembaknya."


Jelas tadi Tony Kim melihat bayangan punggung Ibunya ada di tubuh Dinda. Hal ini yang membuatnya tak berniat melepaskan peluru di tubuh kekasih Steve. "Maafkan aku gadis. Maafkan aku yang telah merenggut kebahagiaan mu. Aku ingin kau bahagia, walau tidak bersama dengan bocah tengik itu."


Sekali lagi dia tidak menyesal atas apa yang baru saja di lakukan. Hanya teringat wajah Dinda, membuat Tony Kim menjadi lunak.

__ADS_1


Dinda yang di tinggalkan bersama pria yang terluka itu, menangis seperti orang gila. Di guncang-guncangnya tubuh Steve agar pria itu bangun. "Kamu nggak boleh begini. Kamu harus kuat. Aku sangat mencintai kamu. Aku mohon, sadarlah.... Demi aku.."


BERSAMBUNG


__ADS_2