
Sudah beberapa hari berlalu sejak Vanya menemui Tuan Tama. Namun hingga saat ini, dia belum mendapatkan jawaban apapun atas permintaannya beberapa waktu yang lalu itu.
Hal ini memantik kecemasan, takut saja pria tua itu melupakan permintaan Vanya atau tidak mau membantunya sama sekali.
Vanya kembali mendatangi Tuan Tama. Kali ini Vanya langsung menemuinya di kantor. Jika menemui pria itu di rumahnya, yang ada di nenek sihir itu ikut menyahut. Malas bagi Vanya melihat wajah perempuan itu.
Saat tiba di kantor Tuan Tama, hujan yang memang terus mengguyur bumi saat ini terkadang deras hingga seharian tidak berhenti. Taksi abu-abu yang di tumpangi Vanya menyandarkan kapnya tepat di depan pelataran kantor Tuan Tama. Sudah lama tidak ke kantor ini, rasanya Vanya terasa agak asing.
Di tatapinya bangunan berlantai tingkat ini. Walau tidak ada yang berubah, tapi lama tidak di lihat pasti agak aneh.
Saat masuk ke kantor ini, pikir Vanya tidak ada masalah apapun. Namun tidak seperti biasanya, Vanya kali ini di larang masuk ke kantor sebelum ada jadwal temu janji.
"Pak Tama dan Pak Johan hari ini sangat sibuk. Mereka tidak bisa di ganggu, mohon Nona tidak menerobos masuk," kata salah seorang resepsionis.
"Kalian tahu-kan sedang berhadapan dengan siapa?"
"Kami tahu Nona siapa. Tapi Pak Tama sendiri yang bilang kalau dia tidak mau di ganggu siapa pun termasuk Nona. Pak Tama sangat sibuk, mohon Nona pergi sekarang," jawab resepsionis.
"Nggak mungkin om Tama berpesan seperti itu. Kalian pasti salah paham." Vanya kurang yakin jika Tuan Tama akan melakukan ini. Vanya mengabaikan ucapan kedua resepsionis ini. Tanpa ada rasa takut di depak, Vanya menerobos masuk tanpa izin.
Jelas kedua resepsionis ini langsung menghubungi pihak pengaman agar mencegah masuknya Vanya ke ruangan Johan maupun Tuan Tama.
Vanya di hadang oleh pengaman pintu masuk, pintu kaca otomatis. "Maaf. Anda tidak bisa masuk kedalam sebelum ada izin langsung dari Pak Tama." Di gerbang kecil seperti yang ada di jalur masuk kereta, Vanya di jaga ketat oleh beberapa penjaga.
Vanya tidak bisa masuk, walau dia menerobos, tetap saja dia dilarang. "Apa kalian tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Sentak Vanya pada penjaga pintu folding gate.
"Kami tahu Nona. Kami hanya mengikuti prosedur perintah Pak Tama. Tanpa izinnya, kami tidak bisa membiarkan Anda masuk," jawab pengamanan.
Vanya di usir keluar, tidak peduli siapa dia. Pengamanan di kantor Tuan Tama hari ini aneh, dia di larang masuk. Meskipun Vanya di usir keluar secara paksa, namun dia tetap meronta ingin masuk.
Kebetulan Johan sedang lewat di depan folding gate yang sedang gaduh itu. "Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" Tanya Johan seraya menegur.
"Ini Pak. Nona Vanya ingin menerobos masuk, sesuai perintah Pak Tama, Siapa pun tidak boleh masuk tanpa seizin darinya."
Johan melihat wajah Vanya, ya, memang jelas dia ingin masuk.
Kedatangan Johan agak membuat Vanya senang, dengan cepat dia menghampiri Johan dan merangkul bahunya.
"Kak Johan. Tolong bantu aku bertemu om Tama," katanya merengek.
Johan melepaskan rangkulan Vanya, dia tidak Sudi di sentuh wanita ini. "Jangan harap aku akan melakukannya!" tegas Johan tanpa perasaan.
"Apa maksud kak Johan?"
Vanya mengernyitkan dahinya, Johan bertindak sangat kasar. Tidak seperti biasanya, pria itu agak garang. "Kenapa kak Johan berkata seperti itu?"
"Jangan pernah datang menemui Papa lagi. Karena kami tidak akan membantu keuangan perusahaan Tuan Heri. Jangan buang-buang waktu menemui grup Tama, karena kamu bukan lagi calon menantu keluarga Tama!" Johan mengatakan sebenarnya. Tidak peduli dia akan sakit hati, Johan akhirnya mengatakan kejujuran ini.
"Maksud kak Johan!"
Johan mendengus. Dia tidak menjawabnya langsung, tapi merapikan pakaiannya. Kemudian berlalu dari Vanya yang termangu menelaah kata-katanya.
Sebelum dia benar-benar pergi, Johan menoleh ke arah Vanya sekilas. Dia tersenyum agak puas di ujung bibir. "Mulai hari ini, kita tidak ada hubungan apapun. Jangan pernah berharap kamu akan menikah dengan ku!" Kata Johan.
Di depan menuju pintu keluar kantor, Johan puas meninggalkan wanita itu dalam keadaan kecewa.
Johan sebenarnya ingin pergi menemui wakil direktur perusahaan shine. Mereka mulai mengembangkan bisnis ke segala macam produk. Karena melihat Vanya di kantornya, Johan merasa tertarik untuk mengerjainya.
Vanya termangu. Mendengar kata-kata Johan tadi membuat batinnya terasa sakit bak teriris oleh sembilu. Vanya menangis, meninggalkan gedung Tama grup.
Hujan yang mengguyur pagi itu ia terobos. Sakit hatinya membuat Vanya tidak menghiraukan dinginnya hujan yang membasahi badan.
Jadi, selama ini.... Mereka hanya memanfaatkan Papa saja. Di bawah hujan, Vanya menangisi nasib dirinya. Dia menyeka air mata, walau hilang di bawa air hujan. Kenapa aku begitu bodoh. Ku pikir selama ini om Tama akan berpihak pada keluarga ku. Tapi, nyatanya dia saja tidak mau membantu keuangan perusahaan Papa. Aku bodoh dengan menjadi budak cinta kak Johan. Aku bodoh. Vanya memukul kepalanya sendiri, menyesali apa yang selama ini dia lakukan.
Kemudian Vanya teringat pada kata-kata Mama dan Papanya. Bahwa keluarga itu memang licik, akhirnya Vanya tahu keburukan keluarga itu.
Semua sudah terjadi, seandainya waktu bisa di putar kembali, Vanya mungkin akan lebih bijak.
*Mana mungkin kertas membungkus api. Penyesalan datang di belakang, seandainya penyesalan datang lebih awal, semua ini mungkin tidak akan terjadi.
__ADS_1
Kekecewaan datang karena harapan, impian dan segala sesuatu yang ingin di capai sangat besar. Tentu kita sudah tahu kalau segala sesuatu yang di harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, pastilah akan muncul kekecewaan. Maka Vanya, dia harus menerima konsekuensinya*.
****
"Dinda, ada berkas yang harus di tandatangani Pak Steve," kata Mira di meja kerja Dinda. Wanita ini menaruh berkas itu di meja Dinda. "Berkas yang pertama penandatanganan perjanjian kerjasama dengan vendor Jepang. Dan yang kedua vendor dari Jerman. Jangan lupa, kalau sudah di tandatangani, langsung serahkan pada bagian keuangan Ya," ujarnya menyuruh.
"Oke," jawab Dinda. "Kalau sudah selesai nanti aku antar. Atau nanti aku akan menghubungi staf keuangan agar mengambil berkas ini di meja ku."
"Siap!" Mira lalu meninggalkan meja kerja Dinda.
Dinda melihat ruangan Steve. Di pintu kaca itu, Steve terlihat masih fokus kerja. Dia memain-mainkan ballpoint di ujung jarinya, di putar-putar seakan dia sedang buntu berpikir.
Dinda menyerahkan dua berkas pemberian Mira tadi, walau Steve masih fokus pada pekerjaan. "Dua berkas yang harus di tandatangani. Bagian keuangan menunggu secepatnya."
Steve yang tadi duduk miring ke kanan, melihat dua berkas itu, langsung menegakkan badannya. "Apa jadwal ku hari ini kosong?"
"Kosong. Tidak ada jadwal kemanapun," jawab Dinda. Lalu meninggalkan ruang kerja Steve usai mengantar dua berkas tadi.
Belum hangat Dinda menduduki kursi kerjanya, dia mendapatkan panggilan telepon dari resepsionis.
"Hallo Bu," kata resepsionis. "Ada seorang wanita yang ingin menemui Pak Steve. Dia menerobos masuk walau kami sudah melarangnya. Dia sekarang menuju ke ruangan Pak Steve."
"Kalian tahu siapa dia?" Pikir Dinda siapa. Tidak biasanya, bahkan belum ada wanita yang berani menemui Steve kecuali sang kakak, Stevie.
"Kami tidak tahu siapa. Dia hanya meronta ingin bertemu dengan Pak Steve," jawabnya agak panik.
Dinda tidak berkata apapun. Hanya mematikan panggilan telepon. "Siapa?" pertanyaan mungkin yang umum di ucapakan saat penasaran pada suatu hal.
Dari ujung koridor kantor Dinda melihat seorang wanita yang basah kuyup, berjalan agak terhuyung-huyung. Langkah kakinya berat, seolah sedang melawan angin.
"Vanya?" Dinda tidak menyangka jika yang di maksud oleh resepsionis tadi adalah wanita ini. "Ada dengan dia? Kenapa pakaiannya basah kuyup seperti itu." Dari jauh Dinda melihatnya memicing.
Ada yang aneh dengan wanita itu. Tidak seperti biasanya, Dinda melihat kali ini dia agak perlu di kasihani.
"Kamu kesini ada perlu apa?" tanya Dinda. Vanya baru saja akan menuju ke ruangan Steve, saat Dinda menegurnya, di tidak menggubris.
Jalan Vanya mirip zombie, tak tahu arah. Langkah yang berat, tubuh yang sempoyongan. Dia sangat memprihatinkan, Dinda mengerutkan keningnya. Ada apa dengan Vanya.
"Kamu nggak bisa masuk ke dalam sembarangan. Semua ada prosedurnya."
Vanya mendengus sembari tersenyum memaksa menatap Dinda. "Kamu pikir kamu siapa beraninya berkata seperti itu. Aku hanya mau bertemu dengan dia, kalau kamu nggak mau memanggilnya. Aku akan masuk sendiri," ucap Vanya langsung menerobos masuk.
Dinda menarik lengannya, agar wanita ini tidak berulah. Tapi tekadnya tidak terhalangi, Vanya berhasil masuk bahkan mengganggu Steve yang sedang bekerja.
"Kamu!" Teriak Vanya. "Karena ulah kamu, perusahaan Papa ku hampir bangkrut!"
Steve meliriknya santai, walau agak kaget karena dia tiba-tiba masuk. Belum ada yang pernah melakukan hal seperti ini di ruangannya. "Ada apa kemari. Datang-datang langsung marah. Apa kamu kehabisan uang, sampai-sampai merengek ke kantor ku?"
Steve menopang dagunya di tangan, melirik Vanya dengan tatapan menjengkelkan.
"Jangan banyak omong!" sentak Vanya. Dia menunjuk Steve dengan kasar walau tubuhnya sudah menggigil. "Cepat kembalikan lagi saham-saham yang baru saja kamu ambil dari keluarga ku. Sudah cukup bermain-main dengan ku!"
"Vanya, mohon jangan buat keributan di sini," Dinda menyela. "Maafkan aku. Dia yang memaksa masuk menerobos ke sini."
Steve paham pada situasi ini. Dia mengibaskan tangannya pada Dinda. "Aku tahu. Biarkan, aku ingin melihat dia akan melakukan apa?"
"Katakan? Apa mau mu datang ke kantor ku?" tanya Steve pura-pura tidak tahu.
"Jelas aku datang ke sini karena ingin menuntut mu!"
"Whooo!" Steve menyeringai tertawa. "Dalam hal apa kamu ingin menuntut ku?"
"Kamu telah berani mengusik bisnis Papa ku. Dan itu, aku ingin menuntut kamu!" teriak Vanya berang. Dia menunjuk Steve kasar, ulahnya tidak takut menanggung konsekuensi. "Cepat kembali-kan seluruh aset-aset Papa ku. Sudah cukup sampai di sini permainan kamu!"
Steve terkekeh mendengar ancaman Vanya. Dia ingin tertawa lepas dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Steve berdiri, lalu menyandarkan bokongnya di pinggir meja kerja, melipat tangan di dada kemudian bertatap muka dengan Vanya.
"Sudah untung aku tidak membuat keluarga kalian bangkrut. Hanya krisis keuangan saja, itu adalah hak ku sebagai pemegang saham tertinggi. Terserah pada ku mau aku apakan semua aset yang baru saja aku ambil alih dari keluarga Heri. Memangnya siapa kamu beraninya mengatur ku?"
__ADS_1
"Kamu berani melakukan ini pada keluarga ku! Aku benci kamu pria brengse**," pekik Vanya geram.
Dia ingin menyerang Steve, tapi gagal karena beberapa sekuriti masuk langsung menahan Vanya. "Lepaskan! Biarkan aku menghajarnya!" kata Vanya berontak. "Aku ingin mencakar wajahnya itu!"
"Maaf Pak, kami teledor dengan membiarkan dia masuk," kata sekuriti yang bertugas. Melihat wajah garang Steve, para penjaga sudah carut marut dalam ketakutan.
"Lepaskan dia?" perintah Steve. Karena Vanya memancing keributan, Steve mengambil sebuah berkas plastik transparan, lalu melemparnya ke arah Vanya. "Semua aset keluarga Heri sudah masuk dalam grup wong. Jauh sebelum aku melakukannya, perusahaan ayah mu hampir bangkrut. Membeli tanah di panti asuhan dengan harga tinggi di tingkat makelar sudah menguras semua keuangan perusahaan. Ditambah selama beberapa tahun ini produk perusahan mengalami penurunan permintaan pasar. Jadi kamu tidak perlu merengek kesini, semua sudah jelas dalam berkas itu," kata Steve mejelaskan.
"Apa maksud kamu?" tanya Vanya. "Jangan memanipulasi keadaan."
"Cih!" Steve mendengus tertawa masam. "Sudah untung seluruh aset keluarga kamu tidak aku ambil alih semua. Dengan mengatakan aku manipulatif, tidak akan merubah segalanya, bahwa keluarga Heri harus berakhir menjadi keluarga yang akan runtuh dari daftar pebisnis kaya."
Walau Steve menyita seluruh aset keluarga Vanya, namun dia tidak tega harus menyita segalanya. Apalagi mengingat kelakuan keluarga ini yang menjengkelkan, sudah cukup membuat Steve kesal. Steve tidak berniat menyasar perusahaan Ayahnya, tapi Ibu Vanya sendiri yang memaksa.
Saat membuka berkas itu Vanya memang kaget. Seluruh aset milik keluarganya sudah di tangan Steve. Tapi yang membuatnya kaget adalah sebuah berita acara yang ada di dalam berkas itu mengatakan bahwa keuangan perusahaan Ayahnya sudah dalam level bangkrut.
Vanya menangis, tidak percaya atas apa yang baru saja dia lihat. Vanya tertunduk lemas menghadapi semua ini. Seakan dunia ikut runtuh saat Vanya mendapatkan berita buruk mengenai usaha keluarganya.
Bagaimana mungkin selama ini Papa menutupi berita besar ini dari ku. Kenapa Papa tidak mengatakan apapun pada ku.
Vanya teringat saat dia ada di London. Kala itu Ibunya membahas ingin memperkenalkan dirinya dengan Steve. Dia mendengar saat orang tuanya berencana ingin mendapatkan investor besar dari grup wong. Ternyata itulah tujuan ayahnya.
Karena krisis keuangan, pada akhirnya Steve mengambil alih perusahaan yang telah di rintis ayahnya ini.
Vanya yang sempat tertunduk lemas ini, pada akhirnya meninggalkan ruangan Steve dalam keadaan malu.
Di perusahaan Tama dia di tolak masuk. Di perusahaan Steve dia menerima perlakukan yang mengejutkan ini.
Vanya lebih memilih pergi, sembari memikirkan apa yang baru saja menimpa keluarganya.
Keluarga yang di bangga-banggakan-nya itu mendadak runtuh. Di tengah koridor, jalan Vanya yang sudah terhuyung-huyung sempoyongan, tiba-tiba Vanya menjadi oleng.
Kenapa semua ini bisa terjadi. Kenapa Papa tidak mengatakan ini sejak awal. Keluarga ku pada akhirnya harus runtuh. Ini semua salah ku, aku penyebab segala kekacauan ini.
Dan tak ada angin tak ada hujan Vanya akhirnya tersungkur pingsan. Dinda yang baru saja keluar dari ruangan Steve, melihat wanita itu tak sadarkan diri.
Karena takut kenapa-kenapa, Dinda langsung menghubungi ambulance. Di temani Steve, Dinda kini berada di rumah sakit menunggu kabar wanita itu.
Walau sebenarnya Dinda kesal pada Vanya, tidak menutup kemungkinan baginya bahwa Dinda harus berhati lunak.
BERSAMBUNG
Ekstra part.
Saat di rumah sakit, Vanya diam-diam sudah sadar. Tapi dia malu untuk membuka mata. Terlebih Dinda yang telah menjaganya beberapa saat.
Hingga Dinda pergi, wanita ini barulah memberanikan diri bangun dari pingsannya. Usai Dinda pergi bersama Steve, di bangsal rumah sakit itu, Vanya menangis keras.
Apa yang telah aku lakukan? Menyakiti orang lain, hanya karena cemburu. Bahkan dia sendiri masih berbaik hati menolong ku sampai saat ini. Apakah aku terlahir menjadi wanita yang jahat, yang selalu merendahkan orang lain.
Karena kecemburuan ku, pada akhirnya menutupi kebaikan hati ku.
Vanya mengingat-ingat kejadian saat-saat dia merendahkan Dinda. Secara tidak sadar, karma kembali padanya. Walau semua sudah berlalu, Vanya tidak berani menatap masa depannya lagi. Semua sudah berakhir bersama runtuhnya kekuasaan sang ayah.
Di tengah keputusasaan dirinya yang tanpa arah. Vanya pernah mendengar dan melihat Dinda saat mengajar anak-anak panti. Kata-kata yang di ucapkan Dinda seperti membuatnya menjadi bangkit kembali.
"Walau semua orang menjauh dari kita. Kita perlu berkecil hati. Masih ada tuhan yang berbaik hati menerima rasa penyesalan kita. Songsong hari esok dengan senyum secerah mentari, tatap masa depan yang indah. Dan semua akan kembali baik-baik saja saat kita ikhlas menerimanya."
Kata-kata ini entah kenapa terngiang di ingat Vanya. Kata-kata yang dulu ia benci ini, nyatanya membuat Vanya teringat, bahwa masih ada secercah harapan dalam dirinya.
Ya, benar. Aku harus memulai semuanya dari awal. Tidak ada Vanya yang kaya, tidak ada harta, tidak ada sanak saudara. Semuanya harus aku lakukan sendiri. Melakukan hal-hal dalam kebaikan.
Vanya bertekad, dalam tangisan penyesalan-nya, Vanya tersadar. Terima kasih, terima kasih sudah menjadi seseorang yang membuat aku sadar bahwa harta tidak ada apa-apanya di banding berbagi bersama dalam hal kebaikan.
Di akhir tangisan Vanya, dia menatap matahari yang tenggelam. Kemudian tersenyum lega, dia bertekad akan berubah.
Tuhan masih baik pada ku. Dengan mengirim wanita yang membuat aku sadar. Terima kasih.......... Dinda........
__ADS_1
Hayo, siapa yang berulah kasih bintang satu di novel ini.
Duh, makin sebel dengan jari-jari netizen. Belum juga di baca, eh langsung di kasih bintang satu.