UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 142


__ADS_3

Akhir dari sebuah petualangan adalah kisah. Maka, akhir dari kisah ini adalah sebuah kenangan. Dan, kenangan itu sudah berakhir indah.


Semuanya tidak sia-sia. Hanya bersabar menjalaninya. Jalan Tuhan itu beda, caranya pun sulit di takar. Namun tujuannya sama, hasil yang tak terduga.


_____________________________________________



_____________________________________________


Matahari pagi sudah meninggi. Bangun se-siang ini baru kali pertama bagi Steve. Biasanya dia bangun pagi, entah itu ke kantor atau hanya sekedar olahraga pagi.


Tapi ini beda. Dunianya saat ini tidak hanya ada di seputar pekerjaan, lalu melakukan rutinitas lainnya. Dia seorang pengantin baru, bangun siang seperti ini orang-orang di rumah memakluminya.


Pengantin baru, ya wajar kalau mereka menghabiskan waktu semalam agak lelah. Apalagi acara pernikahan seharian di adakan tanpa jeda sedikit pun. Bahkan untuk ke kamar kecil pun Steve sampai lupa. Menyalami banyak tamu yang mengucapkan selamat pada mereka berdua juga tiada henti-hentinya. Ah, acara kemarin rasanya membuat Steve sebal bukan kepalang.


Saat dia membuka matanya, Steve melihat Dinda juga sudah bangun. Baru saja. Belum lama.


Tadi malam Steve dan Dinda ingin melakukan hal itu. Tapi urung, karena ada suatu hal.  Dinda sudah kelelahan, itulah kenapa mereka berdua bangun dengan pakaian mini. Steve memang tengah telanjang dada.  Saat bangun, dia melihat Dinda juga hanya mengenakan bra merah tanpa tali.


Dan itu kontras dengan siluet yang berpanorama indah ini. Perut langsing dan ramping itu menggoda Steve pagi ini. Dia sudah tegang melihat sosok yang berparas cantik natural di pagi hari ini.


“Mau kemana?” Lirih Steve sambil bermalas-malasan. Dia meraih Dinda, lalu menenggelamkannya dalam pelukan hangat.  Bagian kenyal yang tertutup bra tanpa tali berwarna merah itu, Steve genggam dengan intuisi mendalam. “Di sini saja. Pingin pegang ini.”


*****. Enak banget. Rasanya kayak mainin slime. Ngacak-acak puding dan seperti main squish. Kenyal banget, jujur. Milik istri ku memang beda.


Sumpah, ini kali pertama bagi Steve menikmatinya. Seumur hidup dia tidak berani menyentuh bagian dada wanita manapun. Tapi kali ini beda.


Punya istri sendiri, nggak perlu pamrih.


Kan rezeki kalau dapat bagian terindah dari istri. Jangan nolak. Bahagia suami ada di pojok menonjol itu.


Bagian itu putih bersih, Steve memegangnya dengan lapar, seolah ingin meraup seluruh bagian siluet indah ini.


“Aku mau menyiapkan sarapan. Kamu harus kerja pagi ini. Kita bangun kesiangan.”


Karena begitu nakalnya Steve, tidak rela jika istrinya keluar dari selimut walaupun sejengkal.


“Nggak mau. Maunya di rumah saja sama kamu. Tetap di sini. Jangan keluar.”


“Bagaimana dengan pekerjaan.” Dinda membalikkan badannya, di tatapnya wajah yang ingin bermanja-manja di hadapannya ini. “Kamu kan banyak jadwal hari ini.”


“Aku cuti selama seminggu. Ada Zico yang mengurusnya.”


Dinda menahan diri, Steve terus mencium wajahnya. Rasanya merinding saat suaminya memperlakukan tak biasa seperti ini. Dinda hanya bisa kikuk tak meronta.


“Semalam kita nggak jadi melakukan itu. Aku ingin yang semalam, kita tuntaskan pagi ini.”


Steve meminta. Dan memang itu adalah gaya Steve. Dia tidak suka berbasa basi. Steve lebih suka langsung mengatakannya dari pada beringsur mengode.


“Kita baru saja bangun. Biasanya kamu langsung olah raga kalau bangun pagi.”


“Olah raga bisa diganti dengan olah raga ranjang. Aku ingin itu pagi ini. Pokoknya harus pagi ini.” Steve merengek. Ih, jengkel sih kalau meminta seperti anak kecil. Tapi—


“Paman Lu. Bibi Yan. Kak Stevie, Mama dan Papa serta Nenek. Semuanya di bawah menunggu kita bangun sekarang. Aku takut tidak ada waktu untuk berdua.” Ayolah bangun. Jangan meringkuk saja di atas kasur."


“Nggak mau.”


Tidak peduli. Steve tidak menghiraukan mereka. Saat ini yang paling penting adalah bagaimana caranya menjaga hubungan suami istri agar tetap romantis. Hm. Steve belum belajar banyak mengenai bagaimana caranya bereproduksi. Tapi kalau amatiran, Steve akan mencobanya dalam berbagai gaya.


Hihi. Dasar pemula.


“Mereka akan sibuk pagi ini. Jadi kita punya banyak waktu.”


“Stevehm......”


Bodo amat, Dinda mau membantah atau tidak. Steve sudah meraup bibir itu. Steve tidak membiarkan Dinda berkata lagi, malah mengurangi waktu berperang saja.


Steve menjamah leher Dinda. Tubuh Dinda yang semula berbaring sebelahan, sekarang ada di bawah Steve.


Dia ******* habis bibir istrinya, hingga dia tak bisa lagi berkata. Dan Steve dengan gairah yang menggelora melancarkan aksi posesifnya.


Tetapi, ciuman pada sang istri itu tidak berangsur lama. Hanya beberapa menit, Steve sudah mengakhirinya. Sebab Steve hampir kehabisan nafas.


“Aku mau sekarang. Nggak boleh nolak.”


“Agresif sekali.”


“Aku belum berpengalaman. Itulah kenapa aku tidak bisa mengajari kamu cara bermain ala player pro.”


Dinda menahan kekehan saat Steve mengakui sisi lain dirinya. Sambil menahan geli karena Steve menjamah bagian paling menonjol dari dadanya itu. Dinda bisa apa, suaminya implusif bergairah.


“Sekarang. Mulai atau...”


“Yakin kalau stamina pagi ini sudah kuat?”


Steve mengangguk. “Kamu seharusnya yakin. Aku sudah siap.”


Dinda berhenti bicara. Dia membiarkan Steve melakukan hal-hal yang lebih luas lagi padanya. Dinda sekarang milik Steve, semua yang ada di tubuhnya sudah di beli Steve melalui pernikahan ini.


Oh, lebih tepatnya. Steve adalah orang yang berkuasa atas dirinya sekarang. Suaminya itu sangat agresif, jadi Dinda tidak bisa menolak kalau dia merengek.


“Tapi pelan-pelan,” kata Dinda lagi pada Steve yang ada di atasnya.  Dengan polosnya dia berkata seperti itu, justru mengundang Steve untuk tertawa.


“Siapa bilang sakit.”


“Tahu dari kak Stevie.”

__ADS_1


Seketika mata itu membelalak terkejut. “Sial. Sampai segitunya dia mempengaruhi kamu.”


Sebal sih, tapi mau bagaimana lagi. Stevie bak maniak ranjang, bahkan tentang sakit atau tidaknya dia paham mengenai kondisi itu. Seakan Stevie tahu segala hal mengenai wanita.


Memang sih benar kalau Stevie wanita, hanya saja belum pernah ada pria yang mendekati kakaknya itu. Jadi, dari mana dia tahu rasa sakit itu jika dia sendiri belum mencobanya.


"Kamu percaya?” tanya Steve lagi.


Dinda mengangguk. “Dia menakuti-nakuti ku kemarin. Katanya bagian pertama jauh lebih sakit dari pada melahirkan.”


Mendengar Dinda yang sudah di perdayai oleh kakaknya. Steve pada akhirnya mengurungkan niatnya mendapatkan bagian surga dunia itu.


Dia memegang kepalanya, kadang menggaruk kepalanya juga mengacak-acak rambutnya kasar. Kacau.


“Mau kemana?” tanya Dinda. Aneh, Steve tidak jadi melakukannya pagi ini. Malah beranjak menuju ke depan pintu kamar mandi.


“Mau mandi. Kita harus turun ke bawah. Mereka sudah menunggu untuk sarapan.”


“Yang tadi, nggak jadi.”


Steve menggeleng kasar. “Lain kali kalau aku ingat. Kita lakukan. Kamu pasti belum siap sekarang.”


Selamat. Akhirnya Dinda tidak akan sakit ulah Steve. Syukur deh, akibat kata-kata Stevie itu, Steve akhirnya berhenti bertindak. Tadi Dinda sangat berdebar saat suaminya ingin memulai. Rasa khawatir itu membuat Dinda takut kalau apa yang di katakan oleh Stevie itu adalah nyata.


Ah, Dinda sudah bergidik ngeri membayangkannya. Tuhan, terima kasih atas pertolongan mu.


“Suaminya sudah masuk kamar mandi. Bukannya nyusul, malah diam.”


Melihat Dinda yang tak bereaksi Steve menegurnya.  Suami Dinda sudah masuk kamar mandi tadi, tapi itu urung lantaran Dinda masih di atas tempat tidur. Steve kembali ke ranjang, lalu mengendong Dinda menuju ke kamar mandi.


“Aku bisa jalan sendiri Steve.”


"Panggil aku sayang.” Dengan cepat Steve mengubah panggilan itu. "Kamu harus memanggil ku seperti itu mulai saat ini."


“Belum terbiasa."


“Biasakan mulai saat ini.”


Oke. Dinda harus terbiasa pada panggilan sayang. Tadi menolak untuk di gendong, tapi tangan Dinda malah melingkar di leher Steve sekarang. Suaminya itu menggeleng keras. “Perempuan. Lain di mulut, lain di hati.”


Ya, mereka memang telanjang. Hanya Dinda yang masih menggunakan bra dan CD berwana merah senada. Sementara Steve sudah polos tanpa benang sehelai pun.


Aktifitas menjepit itu urung lantaran Steve tidak mau membuat Dinda cemas. Harus menunggu waktu yang tepat, atau Dinda tidak mau melayaninya nanti.


Di bathtub sudah penuh dengan busa melimpah. Steve menduduki Dinda di atas pangkuannya. Steve sengaja mandi dalam satu tempat. Sensasinya berbeda.


Rasanya seperti mandi di alam terbuka. Hanya ada pepohonan yang menjadi saksi bisu kenakalan keduanya.


“Mau pakai sabun?” tanya Steve.


Dinda mengangguk. “Pakaikan dari punggung dulu.”


Steve juga menganggap itu puding, sebab teksturnya kenyal-kenyal nikmat. Dan, Steve selalu ingin menggigitnya lantaran gemas. Tidak menyangka, kalau istrinya memiliki harta karun semahal ini.


“Aku suka bagian ini,” bisik Steve. Yang mana Dinda agak geli menerima rangsangan nakal orang itu.


“Kamu balas dendam,” sambar Dinda cepat.


Tentu saja Dinda berpikiran begitu. Lagi pula, hanya Dinda yang boleh suka pada bagian dada bidang Steve. Tapi saat pria ini mengakui kalau dia senada, rasanya Dinda menganggap itu aneh.


“Nggak. Memang bagian milik istri ku lebih indah.”


“Maksudnya?” Dinda berdelik. Dia memutar badannya. Sekarang ganti posisi, kini mereka saling menatap masing-masing wajah.


“Dari sekian banyak wanita yang aku temui. Baru milik istri ku lah yang paling indah.”


“Kamu pasti manipulatif. Kamu pasti mencoba merayu ku agar meminta sesuatu dari ku kan.”


Steve menggeleng hingga beberapa kali. Di ikuti senyum mengulu*. “Milik istri ku ada di porsi yang pas. Padat dan menggairahkan. Di padu kulitnya yang putih bersih, rasanya makin menambah kenikmatan setiap belaian. Wanita lain nggak punya itu.”


“Berusaha membandingkan aku?”


Steve kembali menggeleng. “Faktanya aku pria yang paling beruntung bisa  menjamah bagian ini.”


Sumpah. Di depan sana beberapa kali suara asisten rumah tangga mengetuk pintu. Tapi suaminya ini terus bertingkah. Tidak membiarkan Dinda beranjak sedikit pun. Seperti simalakama. Di tinggal dia merajuk, di layani dia meminta lebih.


“Steve. Di tunggu sama Mama dan Papa di bawah. Cepat turun!”


“Kamu dengar. Kak Stevie turun tangan,” kata Dinda menunjuk pintu di depan kamar.


Steve menurut. “Oke. Lain kali kita akan bersenang-senang.”


Padahal acara mandi tadi masih seru. Bermain basah-basahan tanpa pakaian. Tapi keburu di ganggu. Steve kembali ke tingkahnya yang semula.


Mandi tanpa pakaian bersama suami. Jujur, Dinda sempat ngeri melihat bagian milik suaminya sendiri. Bukan apa-apa, ini kali pertamanya mata Dinda polos melihat barang pribadi pria. Seumur-umur Dinda, yang namanya barang pribadi milik pria, Dinda tahunya dari cerita orang-orang saja.


Dari mulut emak-emak kalau menggosip mengenai harta milik suami orang. Dinda hanya bisa membayangkannya saja, tapi saat ini seutuhnya dia juga memiliki harta itu.


“Pakai baju yang rapi. Aku tidak akan meninggalkan tanda aneh di leher mu.”


Dinda mengacak asal-asalan lemari pakaian Steve. Memang banyak baju di sana, dia bingung harus mencari yang mana untuk di kenakan suaminya ini. Sementara suaminya hanya duduk di pinggir ranjang, mengenakan handuk selutut. Yang Steve lakukan hanya melihat gerak-gerik istrinya, dia tidak mau bertindak atau melakukan apapun.


Lalu Dinda menoleh sebentar melihat suaminya yang duduk memperhatikannya.


“Kalau sampai meninggalkan tanda. Aku akan marah.”


Steve terkekeh. Sungguh, Steve masih polos mengenai tanda ciuman yang memerah itu. Dia belum ahli membuat gambar gambar-gambar abstrak  di sana.

__ADS_1


“Istri ku galak juga rupanya.”


****


Steve bersama Dinda menuruni anak tangga. Tadi Dinda membantunya memilih baju. Steve mengenakan celana biasa, dan memakai Hoodie hitam kebiru-biruan. Sementara Dinda, dia menggunakan gaun yang panjangnya hingga menutupi mata anak kaki.


Gaun itu di beli Steve kala itu. Dinda memakainya, itu sesuai kalau di padukan dengan baju yang di pakai suaminya ini.


“Mama dan Papa hari ini mau pulang ke Shanghai. Kamu lupa sepertinya. Makanya bangun kesiangan.”


Stevie mengingatkan. Dia lebih dahulu bicara saat pengantin baru duduk di kursi mereka masing-masing.


“Secepat ini.” Steve memutar bola matanya. Tak berubah, reaksi itu memandang Ibu dan Ayah yang kini duduk di depannya.


“Besok Papa dan Mama ada acara menghadiri acara pernikahan saudara jauh Papa di Heinan. Makanya Papa dan Mama ingin pulang lebih cepat dari jadwal.” Mamanya menyahut, sambil mengoles selai di roti panggang suaminya.


“Hanya Papa dan Mama saja?” Steve membalas. Dinda sibuk dengan selai dan roti untuk suaminya.


“Nenek ikut. Paman Lu, bibi Yan. Mereka mulai hari ini kembali bekerja di Shanghai,” sahut sang Ayah menjawab.


Oh iya. Steve lupa, selama tiga bulan dia menghilang tanpa kabar. Sebenarnya Steve ada di Shanghai. Di sana di sedang berusaha mengelola bisnis di kantor pusat.


Papanya itu membuatnya berputar mengingat kejadian saat itu.


“Ehm..... Lalu kak Stevie?”


“Aku akan ke New York. Aku ingin meraih cita-cita ku di sana. Dan kamu tidak perlu khawatir pada ku.”


Seharusnya dia tidak menyahut cepat. Tapi mulutnya tak bisa di rem. Pelumasnya bocor. Steve harus banyak bersabar mulai saat ini kalau menghadapi wanita pemarah.


Dinda menyikut Steve. Dan suaminya itu memberikan senyum tipis. “Sudah ku duga. Dinda sudah menyadarinya,” ucap Steve pelan.


Tapi pertanyaannya Dinda urung, ada nenek yang mentertawakan tingkah Dinda dan Steve.


“Hassan dan Dinda. Memang pasangan yang sempurna.”


Kalau tidak sempurna, manalah mungkin mereka jadi suami istri Nek. Tapi nenek membual, Steve membuat bola matanya menjengah sebab nenek seharusnya tidak berkata. Oh, kenapa orang-orang tua ini menatapnya agak aneh sekarang.


“Nenek akan tinggal di luar negeri. Apa nenek tidak takut akan merindukan kota kelahiran nenek di solo.”


“Kalau nenek tidak ikut Ibu mu. Lalu dengan siapa nenek akan tinggal. Dengan Ibunya Alianor?”


“Tidak harus mereka. Aku masih di Indonesia untuk beberapa bulan kedepan. Seharusnya nenek tinggal di sini saja bersama kami.”


“Itu mengganggu waktu terbaik penetrasi pasangan pengantin. Nenek tetap ikut Papa dan Mama ke Shanghai.” Mamanya menyahut.


Selalu di singgung seperti itu, rasanya Steve malu. Ingin dia membuang wajah, sebab cap pengantin baru masih terjadi sehari ini. Belum berubah panggilan itu dari image orang-orang ini.


Tuan Michele Wong menyambar berkata. Mengakhiri delik percakapan ini.


“Sekarang jam sepuluh. Satu jam lagi pesawat akan berangkat. Waktu kita tidak banyak.”


****


Pesawat sudah lepas landas dari pacuannya. Di parkiran bandara, Steve duduk di kap mobilnya sambil meminum segelas kopi dingin yang dia beli di dalam bandara.


“Akhirnya hanya kita berdua saja di rumah. Semua orang sudah pergi.” Di perhatikannya pesawat yang baru saja melintas di atas kepalanya itu.


Dinda melihat jakun yang sedang mendongak ke atas ini. Pikiran mesum suaminya sudah berulah.


“Kenapa kamu nggak bilang kalau setelah menikah kita akan pindah ke Shanghai.”


Steve memutar lehernya. Mulailah, wajah itu sudah ngambek padanya. Istri yang menggemaskan.  “Maaf.”


“Seharusnya kamu bilang dulu pada ku.”


“Waktunya nggak pas.”


“Karena sibuk memikirkan pernikahan!”


Steve mengangguk, sambil mengulu* tersenyum. “Karena sangking bahagianya. Aku sampai lupa memberitahu prihal ini  pada istri ku.”


Entahlah. Dinda rasanya ingin marah kala Steve akan memboyongnya ke Shanghai.  Namun itu berakhir karena percuma dia mengeluh. Saat ini, pepatah “Nasib sudah jadi bubur” kian berlaku untuk Dinda. Dia tidak mungkin menolak ajakan suaminya itu untuk bergolak ke Shanghai.


“Tapi kalau kamu nggak suka Shanghai. Kamu bisa kok request minta tinggal di tempat lain. Misal Korea. Beijing. Atau....”


“Nggak perlu,” sambar Dinda lebih dahulu. "Tetap Shanghai. Kamu pasti sudah janji ke Papa kalau kita akan tinggal di sana."


Steve terus mengangguk. Meskipun tadi dia takut Dinda marah padanya. Namun itu sudah berlalu.


“Jadi tidak marah lagi.”


“Nggak perlu marah. Sudah terjadi pun.”


Ah. Kesalahan  apa yang telah dia perbuat. Steve harus membujuk Dinda, agar tidak terus ngambek. Atau nanti malam....... “No. Itu nggak boleh terjadi. Nanti malam rumah sepi. Harus bisa membujuk Dinda.”


“Kita tinggal di Indonesia sampai delapan bulan kedepan. Waktu kita lumayan banyak.”


“Berangkat besok juga tidak Masalah,” balas Dinda pasrah. “Kapan pun aku siap.”


“Tuhkan. Istri jelek ku masih marah.”


“Nggak,” tandas Dinda cepat.


Dinda tidak marah. Hanya saja, dia sebal kalau Steve tidak memberitahunya lebih dahulu mengenai rencana ini.


“Ayo pulang saja. Aku lelah hari ini.”

__ADS_1


°°°°°°°°°


__ADS_2