
Dinda duduk di kursi meja riasnya. Di depan kaca itu, Dinda menatap wajahnya dengan tatapan serius.
Lalu ia berpaling ke tumpukan makeup yang tertata rapi dan mengambil salah satu di antara make up nya.
Dinda terlihat cantik dengan mengenakan pakaian jenis gaun berwarna kuning yang warnanya tidak terlalu mencolok dan seperti biasanya Dinda memilih detail yang ada renda-renda seperti tali di bagian bawah leher. Karena wanita ini gemar membuat kreasi pita dari renda baju. Gaun yang ia kenakan sangat cantik, panjangnya selutut dan tidak terlalu terbuka. Pantas untuk di gunakan dan sopan untuk di padu dengan tubuhnya.
Rambutnya ia bentuk keriting bergelombang sehingga dengan khas dirinya sendiri Dinda mampu memberikan aura cantik tanpa harus di puji.
"Aku hari ini menggunakan riasan sederhana saja. Lagi pula ini semua untuk pekerjaan, dan mungkin pria itu akan risih jika melihat ku mengenakan riasan yang berlebihan." Dinda berpikir tak ada gunanya berpenampilan menarik, karena ia bukan wanita penggoda yang setiap saat memperhatikan wajah.
Dia tidak ingin ucapan nyonya Diana itu menjadi nyata, jika tidak semua orang akan membenarkan ucapan nyonya Diana. Ucapan yang mengatakan dirinya seorang penggoda pria kaya.
"Ah.... Tidak!" Dinda berteriak kaget.
"Sudah hampir jam enam sore. Aku harus secepatnya menyelesaikan riasan ini, jika tidak pria itu akan memarahi ku terus-terusan apa bila aku terlambat." Dinda melakukan semuanya secepat kilat kala ia melihat jam digital di atas meja riasnya. Jam itu menunjukan pukul enam sore kurang dua menit.
Hal ini memaksa Dinda sedikit memburu pekerjaannya agar bisa sampai di rumah Steve tepat waktu.
Dinda menuju ke rumah Steve sedikit terburu-buru menumpangi taksi online. Ia sudah membayangkan wajah pemarah itu jika mendapati dirinya terlambat walau hanya satu detik.
Bahkan tak sesekali ia meminta sang pengemudi mempercepat laju kendaraannya agar sampai di tujuan dalam waktu yang ia inginkan.
"Pak bisakah anda mengemudi lebih cepat. Aku sedang terburu-buru saat ini!" ucap Dinda sedikit risau.
"Iya Nona, saya sedang melakukannya sebisa saya. Tetapi nona lihat di depan sangat macet, jadi saya tidak bisa melakukan apa yang nona minta!" jawab sopir taksi paruh baya ini. Dia sedikit merasakan apa yang Dinda alami, Karena dinda bukan satu-satunya pelanggan yang meminta di perlakuan seperti itu.
Ia merasakan kekhawatiran Dinda, namun baru pertama kali ini, sopir tua itu merasakan bahwa ada seorang wanita yang begitu berlebihan menanggapi keterlambatan. Ia melihat dari kaca yang menghadap ke kursi penumpang sehingga ia bisa melihat dengan jelas raut wajah cemas itu.
Raut wajah yang penuh tanggung jawab dan seperti sedang menanggung beban dalam dirinya. Entah apa, namun pengemudi ini hanya menebak saja jika ia sedang mengunjungi seseorang kerabatnya yang sakit. Itulah yang ia pikirkan.
Hingga tiba di tujuan, sopir ini mengantar Dinda dengan selamat penuh tanggungjawab.
Ia menurunkan penumpang wanitanya di depan sebuah rumah besar yang terlihat mirip mansion atau hotel bintang tiga.
Sopir ini dengan sopan menerima uang pembayaran yang di berikan oleh Dinda. Ia menerimanya lebih, namun ketika ia mencoba mengembalikannya Dinda menolak kembalian itu. Pikir Dinda ia sudah terbiasa membayar lebih untuk suatu jasa yang bertanggung jawab.
Dinda melangkah keluar dari taksi dan tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada sopir taksi ini karena telah mengantarkannya hingga ke tujuan dengan selamat.
"Oh tidak. Aku hampir saja terlambat." Dinda sedikit cemas. Ia berdiri sejenak di depan pintu gerbang rumah Steve dan menyaksikan rumah megah itu dari luar.
Lalu tanpa berlama-lama ia masuk kedalam karena pria itu pasti sudah menantikan dirinya. Pikir dinda rancu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana dia akan memarahi ku jika aku datang terlambat." Ujar Dinda mengomel sebal. Dia menebak-nebak pasti Steve sudah menunggunya di dalam dengan wajah licik.
Dinda menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya agar tidak terlalu gugup saat melihat wajahnya yang garang itu.
"Tahan! tahan! aku harus kuat menghadapi sikap angkuhnya." ucap Dinda menenangkan diri. Di depan pintu rumah Steve, Dinda berdiri sejenak karena masih ragu untuk masuk. Namun Dinda berpikir bahwa sudah beberapa kali ia masuk kedalam rumah Steve, jadi tidak ada hal yang perlu ia takutkan dan ragukan.
Dinda memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan siap menghadapi wajah misterius itu.
Tok Tok Tok
Dinda mengetuk pintu rumah Steve, walau ia sudah memasang sikap siap untuk menghadapi steve namun tetap saja baginya tak bisa menahan diri untuk tak bisa tenang.
"Aduh bagaimana jika dia yang membuka pintu. Mampus-lah aku, pasti dia akan mengancam ku lagi!" seru Dinda bicara kecil. Ia membelakangi pintu sambil kedua tangannya ia dekap-kan di dada.
Kriekkk...
Pintu terbuka secara perlahan. Telinga Dinda mendengar suara itu. Seakan dirinya sedang mengetuk pintu kamar raja Mesir yang diktator. Bahkan jika itu adalah raja Firaun yang membuka pintu, mungkin Dinda sudah di penggal karena lancang mengetuk pintu raja yang kejam. Dinda merasa kecemasan makin membumbui kegugupan dirinya.
"Maaf Pak. Aku terlambat karena ada beberapa masalah di jalan!" seru Dinda bicara seraya menundukkan kepala. Ia tak bisa melihat wajah kasar itu, ia akan merasa makin gelisah saat melihatnya.
"Tak masalah, silahkan masuk!" sahut suara yang amat lembut. Suara seorang wanita yang menyambut Dinda di depan pintu.
Ia melihat dari kakinya terlebih dahulu. Kaki itu mulus dan putih terlebih yang empunya tubuh mengenakan pakaian pendek sehingga kakinya nampak jelas bersih bebas bulu. Bahkan beberapa serangga akan terjatuh jika melintas di kaki yang bersih tanpa noda ini. Dinda menyaksikan hal itu dan dapat di pastikan dia seorang wanita.
Dinda melirik mulai dari kaki dan kini menapak hingga wajah.
"Kakak!" seru Dinda kaget.
"Bukankah kakak orang yang membantu ku tadi?" tanya Dinda memastikan hal yang ia lihat ini.
Wanita di hadapannya tersenyum manis saat Dinda kaget melihat dirinya.
Namun Dinda berpikir lain saat wanita itu tersenyum manis. Ia berangan-angan jauh dari ekspektasinya saat wajah itu tersenyum manis.
"Apakah dia tunangannya Pak Steve? sejak kapan dia ada dirumah ini?" Dinda bertanya dalam hatinya dan sedikit penasaran menyelimuti pikirannya.
"Tadi siang kita bertemu di depan restoran Jepang. Dan kita belum berkenalan. Perkenalkan nama ku Stevie." Stevie mengulurkan tangannya tanda ingin berjabat tangan.
"Oh iya Nona. Perkenalkan nama ku dinda dan kebetulan aku bekerja di kantor UOB. Aku disini bekerja extra time di rumah tunangan nona Stevie." Respon Dinda cepat seraya menjabat tangan Stevie.
Malu rasanya bagi Dinda karena tak mengenal seorang gadis yang ada di kehidupan tuannya. Namun bukan masalah, karena Dinda tidak tahu apa pun tentang kehidupan pria ini bahkan wanita yang ada di sisinya pun ia tak tahu.
__ADS_1
"Ternyata benar dugaan ku bahwa Pak Steve adalah pria mesum dan mata keranjang. Dia pasti sengaja melakukannya padaku. Menggoda ku dan mengambil kesucian bibir ku melalui mulutnya yang kotor itu.
Hampir saja aku tertipu oleh wajahnya yang serius mengatakan cinta pada ku. Dasar pria mesum!" Dinda mengumpat Steve dalam lamunan fantasinya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika iya tak menyadari bahwa Steve sudah memiliki seorang wanita. Maka Vanya dan ibunya johan akan mentertawakan dirinya dengan puas. Tanpa sadar Dinda menggeram marah atas perilaku Steve yang mesum.
Sedangkan Stevie terkekeh saat Dinda mengatakan dirinya adalah tunangan steve, dan ia memperhatikan wajah Dinda dengan seksama.
Ia tak pernah berpikir bahwa Dinda akan memikirkan hal itu bahkan jauh dari pemikiran Stevie yang dangkal.
"Nona? ada apa Nona tertawa? apakah ada hal aneh di tubuh ku?" Dinda bertanya penasaran saat melihat Stevie terkekeh.
"Tidak. Aku pikir kamu hanya salah paham saja!"
"Salah paham? apakah aku telah melakukan kesalahan pada tunangan Pak Steve? jika iya mohon maafkan aku nona. Aku tidak akan mengulanginya lagi!" Dinda menunduk meminta maaf dan mengaku salah. Entah salah apa yang ia perbuat Stevie bahkan tak tahu itu.
"Tidak perlu sungkan. Kamu salah mengira kalau aku adalah tunangan steve." Stevie membalas ucapan lelucon Dinda sambil terkekeh untuk kedua kalinya melihat tingkah Dinda yang sedikit lucu.
"Apa maksud dari Nona ini. Apakah dia menampik bahwa dia adalah tunangannya." Dinda bertanya-tanya dalam hati.
"Ataukah dia istri Pak Steve? oh tidak! aku telah menyinggungnya. Dan juga apakah dia tahu jika pak Steve pernah mencium ku. Aku mohon tuhan semoga dia tidak tahu ini, jika tidak maka aku akan di cap sebagai wanita penggoda suami orang. Sudah cukup bagi ku mendengarnya!" untuk sesaat Dinda tertegun dan sedikit melamun masuk dalam alur pikiran yang jauh dari kenyataan.
"Hei Dinda. Kamu baik-baik saja bukan?" Stevie bertanya heran karena tiba-tiba ia melamun.
"Aku tidak apa-apa Nona. Aku hanya sedikit berpikir aneh akhir-akhir ini." Jawab Dinda bicara menipu Stevie.
Siapa yang akan tahu apa yang ia ucapkan dalam hati. Pikir Dinda tidak akan ada yang bisa mendengar isi hatinya.
"Oh begitu. Oh iya jangan panggil aku Nona. Aku masih terlalu muda untuk di sebut nona dan seakan aku merasa seperti seorang tuan putri saja!" Stevie bicara santai seakan mereka sudah cukup dekat.
"Panggil saja aku kakak. Dan aku juga bukan seorang tunangan seperti yang kamu bayangkan. Aku ini masih muda dan belum siap jadi istri seorang CEO. Aku adalah kakak tertua Steve jadi jangan panggil aku dengan sebutan Nona lagi lain kali. Mengerti!"
"Aku mengerti kak!" Dinda menjawab kilat.
"Memang seharusnya aku memanggilnya kakak bukan Nona. Dan syukurlah dia bukan istrinya Pak Steve yang malang. Jika tidak pasti dia tidak akan kuat menahan permainan kasar Pak Steve." untuk sesaat Dinda lega karena yang ia temui adalah wanita cantik yang menolongnya tadi siang. Dan sifatnya jauh berbeda dari Steve.
"Ayo masuk sekarang, tidak enak bicara di depan pintu!" Stevie mempersilahkan wanita itu masuk dengan ramah.
Apa yang dinda pikirkan ternyata berbeda dengan apa yang akan terjadi. Di saat ia berpikir bahwa Steve yang akan membuka pintu untuknya dengan wajah garang, nyatanya ia mendapati seorang wanita cantik di depan pintu rumah Steve.
Dan ketika ia menebak wanita itu adalah nyonya di rumah ini, lagi-lagi ekspektasinya untuk sesaat hilang karena semua itu salah besar. Dinda semakin mengikuti alur kehidupan Steve saat ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1